Langsung ke konten utama

Postingan

Nasib Blogger di Tengah Perubahan

Saat ini teknologi terus merevolusi diri. Apa yang kita anggap baik dan nyaman di masa lalu bisa jadi berubah di masa depan. Seperti budaya menulis di blog. Dulunya kita anggap sangat familiar di kalangan muda tapi belakangan menurun juga.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin karena faktor lahirnya platform baru yang memudahkan orang untuk menulis.

Belakangan ini saya bergabung dengan UC News. Saya merasa lebih nyaman menulis di situ karena dengan menulis di situ saya harus membaca beberapa berita terbaru sekaligus disajikan dengan bahasa yang ringan dan singkat.

Tapi walau menulis di UC, saya juga tetap "rindu" dengan blog ini. Bagaimanapun blog ini saya terus rawat dari pergantian tahun setelah sebelumnya blog di multiply hangus, dan blog di blogger juga tidak terurus.

Menurutku, blog yang dot.com ini memang harus dijaga. Walaupun tidak banyak tulisan tapi eksistensinya berguna untuk sharing dan membaca perjalanan pemikiran dan perasaan yang telah tertuang di sini.
Postingan terbaru

Ramadhan, Inspirasi Mendidik Anak

Cara Membagi Waktu
Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S3 di Dept Antropologi FISIP UI. Pekerjaan sebagai mahasiswa S3 tidak mudah tentu saja akan tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa dijalani. Untuk itu diperlukan manajemen waktu antara pekerjaan (kuliah dan aktivitas lainnya) dengan keluarga.
Di pagi hari saya biasakan mengantar anak ke sekolah. Anak pertama dan kedua sekolah di SD Muhammadiyah 2 Kukusan Depok, sedangkan anak ketiga masih TK di Tadika Rafah Jakarta. Semua saya lakukan dengan jalan kaki. Perjalanan sekitar 15 menit atau lebih selain membuat badan dan pikiran lebih sehat, juga membuat saya lebih dekat karena bisa bercerita dengan anak-anak di perjalanan.
Setelah itu saya bersiap ke kampus. Kadang saya jalan ke pintu Kukusan Teknik UI, tapi seringnya naik ojek online. Di kampus saya belajar dan selalu berusaha duduk di paling depan karena selain lebih mudah menangkap penjelasan dosen juga untuk membiasakan diri di depan. Dulunya saya selalu milih di belakang tapi say…

Memilih Takdir Kepemimpinan

Memilih Takdir Kepemimpinan
(Taushiyah Ustad Anis Matta pada Rakernas KA-KAMMI) Oleh Yanuardi Syukur* Dalam Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Nasional Keluarga Alumni KAMMI dengan tema “kaum muda Indonesia memimpin perubahan dunia”, di Hotel Diradja, Jakarta (21 Januari 2017), Ust HM. Anis Matta, Lc menyampaikan empat hal penting terkait persiapan yang harus dilakukan oleh pemuda muslim Indonesia dalam upaya berkontribusi untuk peradaban dunia. Berikut adalah empat hal penting tersebut. 1. Korelasi Kalimat Pertama dengan Debut Kepemimpinan Ketika Umar bin Abdul Aziz hendak dilantik, ia berbisik kepada Imam Az-Zuhri, “inni akhafunnar” (saya takut kepada neraka). Itu kalimat pertama yang ia ucapkan ketika dilantik. Apa korelasi kalimat itu dengan pencapaian seseorang dalam memulai debut kepemimpinan? Kalimat ini berarti bahwa beliau memulai dari akhir bahwa akhir dari semua ini adalah kematian dan hidup setelah kematian hanya mempunyai dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Ulama mengata…

Menulis di Jalan Tuhan

Selain menulis buku untuk beberapa penerbit, saya juga senang menulis buku yg diterbitkan dgn biaya sendiri yg bertujuan untuk mendokumentasikan sedikit dari hasil olah pikir dan rasa dan dibagi kepada teman dan beberapa perpustakaan. Buku "Menulis di Jalan Tuhan" ini merupakan sedikit dari pendapat, pandangan, dan aktivitas belajar menulis selama 17 tahun. 
Awalnya, pada 2006 buku ini ditulis sebagai pijakan dasar yg mungkin perlu dipertimbangkan oleh aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) yg semakin hari semakin berkembang, kemudian saya terus revisi agar lebih "sedikit sistematis" pada 2012 dan 2017 agar bisa jadi panduan dalam menulis dan beraktivitas dalam dunia kepenulisan.

Pengalaman Berislam di Amerika

Diskusi tentang Islam di Amerika bersama Imam Shamsi Ali, Ahmad Jamil dan Daden Sukendar. Beberapa petikan pentingnya kemarin saya mention di Twitter AtAmerica, Rabu 25 Januari 2017. Menurut Imam Shamsi, dakwah di Amerika bukan mengislamkan orang Amerika tapi untuk menyampaikan Islam kepada orang Amerika. Pada 2001, ada sekitar 5-7 juta muslim di Amerika dan saat ini (naik 4 kali lipat) minimal ada sekitar 8-9 juta muslim di Paman Sam yang berasal dari kalangan terdidik, muda, professional, dan kaya. Aksi Bela Islam 212 menurut Imam Shamsi adalah kebanggaan sejarah yang perlu dicatat karena dalam aksi tsb berkumpul banyak manusia yg tdk setuju dgn pemerintah tapi mereka tidak merusak. Imam Shamsi bahkan menyampaikan kepada Dubes AS agar memutar video aksi 212 di PBB sebagai bukti bahwa muslim dgn massa yg banyak berdemonstrasi tapi tdk merusak. Sementara itu, Daden Sukendar dan Ahmad Jamil yg pernah ikut program IVLP menyampaikan pentingnya memperbanyak ruang dialog dan ruang perjump…

Lengkong

Pada tengah tahun 2002, dalam sebuah acara silaturahmi FLP di Jakarta, saya bertemu Naijan yang berasal dari Lengkong, sebuah kampung di selatan kota Tangerang. Ngobrol sejenak, saya kemudian menyimpan kartu namanya hingga sekarang. Belakangan saya tahu. Naijan Lengkong berfokus pada penulisan skenario sinetron. Hingga sekarang, telah seribu episode sinetron yang dibuatnya. Saya bertemu Naijan kembali dalam forum Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena), sebuah forum yang didirikan oleh para pemenang lomba menulis buku yang difasilitasi oleh Wakil Menteri Pendidikan Prof. Fasli Jalal yang beranggotakan para guru, dosen, dan tenaga kependidikan. Walau banyak membuat skenario seperti 'Si Entong', 'Gerhana', dst, Naijan merasa kurang. Karena ia belum banyak melahirkan buku. Kini, Naijan sedang menyelesaikan disertasinya tentang PDRI Sumatera Barat di Kampus UNJ. Dari sekian banyak pertemuan, saya banyak belajar dari Naijan tentang kesederhanaan, rendah hati, komitmen, da…

Susanto

Paling tidak, saya punya tiga kenalan sekaligus yang namanya pakai Susanto. Pertama, Pak Susanto, seorang direktur di Jakarta yang pada 1997 memberikan kartu namanya ke saya setelah ngobrol-ngobrol waktu menjadi pengurus Bagian Penerimaan Tamu (Bapenta) OSDN. Di Darunnajah, kita memang dilatih bagaimana menjamu tamu sebaik-baiknya, dan itu kita coba praktikkan di Bapenta. Kedua, Dodik Susanto. Kawanku yang alumni Gontor ini paling pintar bahasa Inggris dan Arab. Kendati ia angkatan 2000 di Unhas dan saya setahun lebih tua, tapi dalam banyak hal ia menjadi teladan yang luar biasa. Paling tidak, hal itu terlihat saat kita sama-sama satu rumah di BTN Wesabbe, Tamalanrea. Lulusan Hubungan Internasional Unhas ini termasuk kawan yang berhati lembut. Ketiga, yang ada di foto ini: Hadi Susanto. Lelaki ini termasuk orang jenius di bidangnya. Dari Bandung, ia lanjut ke Enschede (Belanda) dan kini jadi Associate Professor di University of Essex, UK. Novel Kang Abik yang 'Ayat-Ayat Cinta'…