Senin, 13 November 2017

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh

Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak ikut Munas I FLP hingga ke-4 ini saya selalu tak melewatkan pertemuan dengan delegasi Aceh.

Kenapa? Saya merasa ada kedekatan dengan Aceh. Mungkin karena sama-sama orang jauh: jauh dari Jakarta. Atau mungkin juga saya senang pada "orang-orang yang pernah dizalimi": Aceh pernah sekian lama mendapatkan kebijakan diskriminatif dari Pemerintah Pusat. Atau, bisa juga karena memang saya sudah lama ingin berkunjung ke Aceh tapi belum jadi-jadi.

Mungkin itu beberapa alasan, tapi sepertinya tak ada alasan yang diperlukan ketika kita memang ingin berbagi. Sebelum bertemu delegasi Aceh ini, saya juga sudah sharing sedikit dengan kolega saya di Aceh, Cut Januarita yang begitu baik pada saya, dan banyak sekali membantu saya.

Sebagai sama-sama orang yang dari luar Jawa, saya (pernah di Makasar, Ternate, dan Tobelo) adalah orang yang dekat dengan Aceh. Bayangkan, daerah Aceh dan Makassar pernah memberontak dari Pemerintah Pusat. Selain itu, Kesultanan Ternate juga masih eksis sampai sekarang, dan di Aceh eksis pula peraturan daerah yang pro kepada syariat Islam. Sekali lagi, itu mungkin sekedar alasan atau pendapat saya saja, tapi memang saya senang berbagi dengan orang Aceh.

Dalam kesempatan berbagi tersebut--saya ditemani anak ketiga saya, Fikri Ihsani--saya bercerita tentang pentingnya kita membuat karya besar. "Walaupun kita berasal dari kampung, tapi kita harus membuat karya-karya besar!" kata saya.

Karya besar itu bisa dimulai dari sekarang ketika kita bergabung di FLP. Jangan sampai kehadiran kita di FLP tidak membesarkan lembaga ini, malah membuat lembaga ini loyo, dan mati. Jangan! Pantang orang rantau tidak berguna. Harus berguna!

Sebagai orang jauh, kita ini adalah perantau yang berani keluar dari kampung untuk belajar, mencari rezeki, dan lain sebagainya. Mentalitas sebagai perantau itu harus kita punya, kita hayati, dan kita jaga erat-erat. Jangan jadi perantau yang biasa-biasa saja. Jadilah perantau yang hebat, yang luar biasa, yang berpengaruh!

Almarhum paman saya (suku Koto) pernah menyampaikan sebuah kalimat bijak orang Minang, bahwa saya diharapkan untuk "menegakkan batang terendam." Maksudnya, menegakkan marwah keluarga yang sedang di bawah. Saya mencoba hayati itu. Sebelumnya mendengarkan kalimat itu, ayahku telah pergi untuk selamanya, dan tak lama setelah kalimat itu saya dengar, pamanku juga pergi untuk selamanya.

Kalimat "menegakkan batang terendam" itu bisa dipakai untuk siapa saja. Mereka yang ingin menjadi yang terbaik harus punya visi hidup dan misi yang mereka jalani secara sungguh-sungguh. Mereka tidak boleh hanya puas dengan urutan terakhir, atau di tengah, atau di belakang. Sebaliknya, mereka harus berada di depan, terdepan, dan menjadi yang paling berguna, paling kontributif.

Jika mereka masuk dalam organisasi, maka mereka memasukinya dengan sepenuhnya, tidak setengah-setengah. Mereka yakin bahwa mereka bisa memberikan yang terbaik dengan loyalitas sepenuh hati.

Mungkin, loyalitas itulah yang membuat sehingga para tokoh bangsa kita dapat bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Saya merasa salut dengan Bung Karno--kendati dia tidak sepenuhnya disenangi dalam kebijakannya terhadap orang Aceh--tapi dia orang yang sederhana. Patriotismenya teruji, dan pengorbanannya maksimal untuk orang banyak.

Demikian juga sesungguhnya dengan para pejuang terdahulu kita dimanapun mereka berada. Kendati mereka pas-pasan tapi mereka punya marwah, punya semangat, punya visi, dan punya tekad besar untuk berbuat yang terbaik. Mental mereka lebih kuat dari baja, dan semangat mereka lebih menggelegar dari kilat yang menyambar-nyambar.

Kenapa Menulis buku Buya Hamka?

Tiga pilihan cover buku yang saya upload di Facebook

Jika tak ada aral melintang, insya Allah pada Desember 2017 buku baru saya tentang Buya Hamka akan terbit di Tinta Media, imprint Tiga Serangkai, Solo. Buku ini saya tulis bersama dengan Arlen Ara Guci yang ditulis di Jakarta dan Pekanbaru.

Buku Hamka sudah banyak, kenapa masih mau nulis tentang beliau? Bagi saya, Hamka adalah fenomena dan inspirasi. Pendidikannya rendah akan tetapi karyanya tinggi. Dia seperti kata peribahasa Arab, yang diibaratkan seperti bintang, "...jika dilihat dari atas air, terlihat rendah--padahal dia tinggi."

Buya Hamka bukan orang sempurna, tapi dia melakukan banyak hal secara sempurna. Dia menulis dengan sempurna, di tengah "ketidaksempurnaan" konteks sosial-politik yang ada. Dia dijebloskan ke penjara, tapi pikirannya tidak. Dia seperti Sayyid Qutub yang tidak terkekang oleh terali besi, malahan menulis buku di hotel prodeo tersebut.

Dalam buku ini, saya dan Arlen menjelaskan sosok Buya Hamka dari periode penjara: sebelum dipenjara, saat dipenjara, dan setelah dipenjara. Tiga bagian hidup beliau ini jarang dibahas oleh penulis lain, dan itulah kenapa kami merasa penting untuk menjelaskannya. Tentu saja, tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa Hamka adalah seorang yang buat kesalahan besar sehingga dia di penjara. Hamka dipenjara karena faktor perbedaan politik antara dirinya dengan Bung Karno, kawa dekatnya yang kemudian menjadi lawannya, dan belakangan menjadi orang yang dekat kembali dengannya saat Bung besar memintanya untuk menyalatkan jika Bung Besar wafat.

Kendati Bung Karno punya salah, tapi kata Hamka, Bung Karno tetaplah orang besar karena dia berjasa dalam proklamasi kemerdekaan. Hamka menyadari bahwa tidak mudah menjadi tokoh sekaliber Bung Karno di tengah himpitan dan tekanan dari Jepang dan Sekutu yang mau tetap mengangkangi negeri ini.

Buku Hamka yang saya dan Arlen tuliskan tersebut berupaya untuk mengangkat kembali salah satu figur penting dalam keislaman kita dan juga kepenulisan kita di tanah air.

Belajar dari Kolega MEP

Foto bersama kolega MEP dengan Malcolm Brailey setelah pertemuan dengan alumni program Women Leaders di Kedubes Australia

Sejak mengikuti program MEP ke Australia saya mendapatkan banyak keberkahan terutama dalam relasi dan perspektif. Selain berteman dengan kolega dari Australia, saya juga terhubung dengan kolega-kolega dari Indonesia yang sampai saat ini hubungannya terus intensif baik di facebook maupun Whatsapp.

Hal menarik dari program yang saya ikuti adalah adanya undangan kegiatan dari Kedubes Australia. Secara berkala ketika ada kegiatan, kami sebagai alumni diundang untuk hadir dalam resepsi, diskusi, atau sekedar makan siang bersama Dubes, menteri, atau pejabat terkait dari Australia.

Mungkin, ini bagian dari upaya Australia untuk merawat hubungan baik dengan Indonesia. Di negara lain, mungkin hal ini juga dilakukan oleh para Dubes Indonesia di luar negeri. Artinya, untuk merawat kerjasama, maka para tokoh perlu diundang secara berkala dalam berbagai kegiatan agar kemitraan yang telah terbangun dapat terus dijaga.

Sejak tahun 2015 ikut MEP, saya memang merasakan banyak hal baik dan menarik terkait dengan relasi. Saya menginisiasi buku MEP yang ditulis--pada akhirnya oleh 77 alumni--yang diterbitkan di Gramedia dengan judul "Hidup Damai di Negeri Multikultur." Buku tebal ini juga yang mengantarkan saya untuk dekat dengan berbagai orang, dan sekaligus menjadikan saya semakin yakin dan percaya bahwa kalau kita ada niat baik yang terus dirawat dan dikembangkan maka berbagai keajaiban akan selalu hadir.

Maksudnya, sejak 2002 hingga 2015 belum ada alumni yang menuliskan buku tentang MEP. Akan tetapi saya memulai dengan niat yang ikhlas, tulus, dan semangat untuk menjaga hubungan baik antara kedua negara lewat buku. Saya menamakannya sebagai diplomasi buku.

Buku pun terbit, diluncurkan, dan dibedah di Jakarta dan Makassar (insya Allah di akhir November 2017). Sejak terbitnya buku ini, hubungan sesama alumni pun makin erat. Kami pun mengesahkan Forum Alumni MEP Australia-Indonesia yang saat ini diketuai oleh saya.

Tentu saja di MEP ini semua orang adalah tokoh hebat di bidangnya. Saya banyak belajar dari teman-teman sekalian lewat diskusi, dan pertemuan dengan teman-teman MEP. Sebagai pribadi pembelajar saya harus terus memosisikan diri sebagai pembelajar yang dapat mengambil berbagai hikmah dari siapa saja. Dan, MEP adalah salah satu sarana pembelajaran yang sangat penting dalam kehidupan saya.

Minggu, 12 November 2017

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan

Bersama Professor Nader Habibie di LIPI

Apa yang hendak dicari dari aktivitas bernama kuliah? Sejak ikut program sarjana hingga doktor ini saya memaknai kuliah sebagai kesempatan belajar dan mereguk hikmah. Karena orientasinya belajar dan mencari hikmah maka saya kadang lalai atau abai dengan kehadiran. Tapi tidak demikian dengan perkuliahan doktor yang saya mau tak mau harus peduli dengan kehadiran.

Saya memaknai kuliah sebagai sebuah fase dimana saya bisa belajar dari para dosen, kolega, dan dari rujukan yang sempat saya baca. Memang terasa beda antara kuliah sarjana dengan doktor. Kalau sarjana kita hanya melihat, di master kita melihat dan menjelaskan, tapi di doktor kita melihat, memikirkan dan menjelaskan sebuah temuan dari olahraga nalar secara bertahap. 

Saat kuliah doktor ini saya bawa keluarga. Anak saya tiga, tapi setahun menjalani kuliah, lahir anak keempat. Beberapa kawan tidak bawa istri dan anak. "Agak berat, karena doktor butuh konsentrasi," kata seorang kawan. Mungkin betul, dan memang betul. Tapi saya tidak takut dengan kehilangan konsentrasi. Bagi saya, tinggal bersama atau tidak sama dengan keluarga sama-sama punya risiko. Yang paling nggak enak adalah risiko merasa bersalah. Ini paling nggak enak. 

Saya juga tetap bekerja. Kendati off sementara sebagai pengajar tetap di Unkhair, tapi saya tetap mengajar: mengisi materi, membawakan ceramah, menjadi konsultan, dan juga mengajar di kampus. Beberapa bulan terakhir saya mengajar di UI pada mata kuliah "Pengantar Antropologi" untuk mahasiswa semester awal. 

Kuliah dan kerja pada dasarnya harus berujung pada kebahagiaan. Rasanya percaya kamu kuliah dan kerja tapi kamu nggak bahagia. Trust me! Percaya sama saya. Inti dari bercapek-capek kuliah, atau berletih-letih kerja adalah untuk bahagia. 

Terkadang kamu bisa jadi yang paling berprestasi di kuliah atau paling sukses di tempat kerja, akan tetapi bahagia belum tentu kamu raih kalau tak ada semangatnya untuk itu. Maka kebahagiaan juga harus kamu ikhtiarkan, kamu kejar, dan kamu targetkan setiap bangun tidur, "aku harus bahagia! aku harus bahagia, dan aku harus bahagia!"

Saya melihat ada saja orang yang sudah dapat kedua hal tersebut--prestasi dan harta--tapi tak juga ia bahagia. Masalahnya di mana? Mungkin karena dia tidak memaknai proses itu sebagai pembelajaran. Logika sederhananya, kalau kamu maknai segala yang datang padamu sebagai proses belajar maka kamu tak perlu sedih, stress, atau apapun itu karena hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendakmu.

Maka, giatlah kuliah, semangatlah bekerja, tapi jangan lupa untuk tetap bahagia!

Jumat, 27 Oktober 2017

Setelah Lama Tidak Menulis


Buku pertamaku yang kutulis enam hari di sebuah rental di Tamalanrea

Sudah lama saya tidak buka laman ini. Entah kenapa. Mungkin karena saya sedang sibuk kuliah, sedang malas, atau mungkin saya hendak berhenti sejenak dari dunia publikasi. Tapi jika melihat facebook-ku yang selalu up to date, itu berarti bahwa saya belum akan berhenti dalam dunia kepenulisan dan publikasi.

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Tapi malam ini saya coba menulis. Ya, menulis apa saja yang hendak keluar dari kepala. Tidak ada konsep, tidak ada cari data. Hanya mengalir, dan mengalir begitu saja.

Selama beberapa tahun terakhir saya merasakan banyak progressivitas dalam diriku. Saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan mendapatkan berbagai pengalaman penting yang berguna untuk hidupku. Tapi saya juga kadang merasa ada yang kurang dalam hidupku. Mungkin saya kurang bersyukur dan terlalu banyak target dalam hidup.

Ketika menulis esai--kalau bisa dibilang esai ya--ini saya sementara juga mendengarkan beberapa lagu lama saat saya mulai menulis di Tamalanrea, Makassar. Waktu itu belum ada naskah bukuku yang terbit. Bahkan, waktu itu empat naskah ditolak. Tapi kini naskahnya selalu terbit. Ini progressivitas yang luar biasa saya rasakan.

Mungkin tiap orang juga akan dilanda berbagai rasa kosong. Imam Al-Ghazali saja yang hujjatul Islam itu pernah merasakan kekosongan itu, dan kemudian dia merenung, menyepi, dan menemukan kembali dirinya.

Saya pernah baca juga, katanya Ibnu Khaldun juga pernah merasakan hal yang sama. Ketika ia lama bergelut dalam kekuasaan, lama-lama kelamaan ia merasa ada yang kurang dan menyepi. Saat menyepi itulah ia menulis buku Ibar yang pengantarnya menjadi sangat terkenal berjudul Muqaddimah.

Saya tidak ingin bilang bahwa diriku sama dengan kedua tokoh itu, tapi sebagai manusia yang juga dibekali akal pikiran, keinginan, dan karunia, saya merasakan bahwa tiap manusia itu khas dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Artinya, kita tidak bisa menjatuhkan dirinya atas orang lain, atau tidak bisa kita melebih-lebihkan diri dari orang lain.

Ketika melihat orang lain kita haruslah belajar. Jangan menjadikan orang lain sebagai saingan. Karena saingan akan membuatmu tertutup dalam mencari ilmu. Jadikanlah semua orang sebagai guru dimana engkau bisa mengambil intisari penting untuk kebaikan hidupmu.

Malam ini semakin larut. Tetanggaku juga sudah pada tidur. Termasuk keluargaku. Sudah pada terlelap. Tapi saya memang kadang merasa ada inspirasi di malam-malam seperti ini. Malam yang rada dingin, hening, sambil mendengarkan musik-musik ringan yang dapat membuatku teringat masa lalu, semakin insaf, dan tumbuh rasa ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Rabu, 28 Juni 2017

Nasib Blogger di Tengah Perubahan

Saat ini teknologi terus merevolusi diri. Apa yang kita anggap baik dan nyaman di masa lalu bisa jadi berubah di masa depan. Seperti budaya menulis di blog. Dulunya kita anggap sangat familiar di kalangan muda tapi belakangan menurun juga.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin karena faktor lahirnya platform baru yang memudahkan orang untuk menulis.

Belakangan ini saya bergabung dengan UC News. Saya merasa lebih nyaman menulis di situ karena dengan menulis di situ saya harus membaca beberapa berita terbaru sekaligus disajikan dengan bahasa yang ringan dan singkat.

Tapi walau menulis di UC, saya juga tetap "rindu" dengan blog ini. Bagaimanapun blog ini saya terus rawat dari pergantian tahun setelah sebelumnya blog di multiply hangus, dan blog di blogger juga tidak terurus.

Menurutku, blog yang dot.com ini memang harus dijaga. Walaupun tidak banyak tulisan tapi eksistensinya berguna untuk sharing dan membaca perjalanan pemikiran dan perasaan yang telah tertuang di sini.

Minggu, 11 Juni 2017

Ramadhan, Inspirasi Mendidik Anak


Cara Membagi Waktu
Ilustrasi
ummi-online

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S3 di Dept Antropologi FISIP UI. Pekerjaan sebagai mahasiswa S3 tidak mudah tentu saja akan tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa dijalani. Untuk itu diperlukan manajemen waktu antara pekerjaan (kuliah dan aktivitas lainnya) dengan keluarga.

Di pagi hari saya biasakan mengantar anak ke sekolah. Anak pertama dan kedua sekolah di SD Muhammadiyah 2 Kukusan Depok, sedangkan anak ketiga masih TK di Tadika Rafah Jakarta. Semua saya lakukan dengan jalan kaki. Perjalanan sekitar 15 menit atau lebih selain membuat badan dan pikiran lebih sehat, juga membuat saya lebih dekat karena bisa bercerita dengan anak-anak di perjalanan.

Setelah itu saya bersiap ke kampus. Kadang saya jalan ke pintu Kukusan Teknik UI, tapi seringnya naik ojek online. Di kampus saya belajar dan selalu berusaha duduk di paling depan karena selain lebih mudah menangkap penjelasan dosen juga untuk membiasakan diri di depan. Dulunya saya selalu milih di belakang tapi saya sadar, tiap orang beda-beda cara belajarnya. Saya lebih bisa menangkap materi jika berada di depan.

Setelah kuliah saya selalu tidak lepas dari tugas, baik itu tugas kuliah atau tugas lainnya seperti menulis buku, mengedit buku, atau menghadiri berbagai undangan. Jika ada acara yang tidak bertabrakan dengan kuliah, saya hadir seperti undangan dari Kedubes Australia yang secara rutin saya terima—dan hadiri juga—dan juga berbagai acara seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan lain sebagainya. Saya berusaha setiap hari harus ada yang baru. Jangan sampai hari ini sama dengan hari kemarin.

Tugas kuliah juga banyak. Akan tetapi saya jalani saya dengan baik. Review buku etnografi berbahasa Inggris misalnya, itu tidak mudah, akan tetapi jika dijalani lama-lama bisa juga. Sebagai bukan penutur bahasa Inggris sebagai bahasa pertama, kita butuh kamus. Dalam hal ini, google translate sangat membantu untuk memahami bahan-bahan kuliah dari buku atau berbagai jurnal. Setelah saya terjemahkan beberapa kata di tool tersebut, saya kemudian memikirkan kembali apakah sudah cocok terjemahannya atau belum. Kemudian, saya kaitkan dengan materi-materi lainnya agar bacaan yang ada terkoneksi dengan bacaan lainnya.

Biasanya saya pulang ke rumah sore, tapi kadang juga malam. Kalau pulang sore, saya sama-sama anak-anak ke masjid dekat rumah. Kadang juga salat jamaah di rumah. Setelah salat saya membiasakan memberikan wejangan kepada anak-anak baik dari buku atau dari pengalaman pribadi. Saya membelikan anak-anak buku kisah para nabi, dan tafsir Al-Qur’an yang untuk anak-anak. Jadi, berurutan saya jelaskan dari surat An-Nas, Al-Falaq, dan seterusnya. Kadang sambil jelaskan materi, saya juga beri contoh yang pernah saya alami, atau kita alami. Dengan begitu mereka jadi merasa ringan untuk mengkaji dan mencintai Al-Qur’an. Sebelumnya, anak-anak memang pernah menghafal Al-Qur’an waktu tinggal di Maros, Sulsel.

Kadang, saya juga cerita pengalaman saya sendiri. Misalnya, waktu saya diundang jadi pembicara di Paris, saya cerita ke anak-anak. Mereka juga berpesan agar dibawakan oleh-oleh dari sana. Ketika waktunya saya ternyata tidak jadi berangkat, saya cerita juga ke mereka bahwa saya sudah berusaha akan tetapi memang tidak bisa. Jadi, anak-anak mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan itu terjadi. Ini membuat mereka realistis dalam hidup, dan tidak terlalu memaksakan keinginan. Ketika sudah berusaha, kita bertawakkal kepada Allah.

Hikmah tidak jadi ke Paris itu, saya diundang untuk jadi pembicara bedah buku karya Nils Bubandt, Professor Antropologi asal Aarhus University Denmark yang digelar di FISIP UI serta diundang sebagai pembicara di acara “Kita dan Rempah” di Kota Tua, Jakarta. Jadi, selalu ada hikmah di balik sesuatu.

Soal membagi waktu ini memang saya kadang tidak konsisten, akan tetapi saya berusaha untuk menyeimbangkan kuliah dengan urusan keluarga.

Cara Berkomunikasi dengan Anak

Sejak kecil saya dengan istri membiasakan berkata yang baik kepada anak-anak. Saya tidak pernah mengatakan kata-kata kasar seperti bodoh, bego, tolol, dan seterusnya yang kira-kira dapat menjatuhkan mentalnya. Makanya, mereka terlihat percaya diri saja misalnya saat di kelas atau di luar kelas. Anisah misalnya, di kelas pernah jadi juara 1 dan 2 di sekolah yang berpindah-pindah dari Tobelo, Ternate, Maros, dan Depok.

Afifah juga begitu, ia bahkan dipercaya sebagai ketua kelas dan selalu pagi-pagi datang ke sekolah. Afifah pernah memimpin sebuah hafalan Al-Qur’an untuk anak-anak di depan para orang tua. Sedangkan Fikri, ia juga terlihat rasa percaya dirinya saat di kelas, bahkan sering ia menyapu kelasnya tanpa disuruh oleh ibu gurunya. Fikri waktu berumur sekitar 3 tahun pernah digendong oleh Mas Anies Baswedan di Ternate saat saya memberikan sebuah kaver buku “Anies Baswedan Mendidik Indonesia” kepada Mas Anies di sela-sela acara HMI Ternate.

Saat itu, Mas Anies langsung reflex menggendong Fikri karena waktu itu saya bawa Fikri ke depan. Fikri juga saya bawa dalam berbagai acara, termasuk waktu ketemu Habiburrahman El Shirazy, kawan saya di FLP. Saya kenalkan Fikri kepada Kang Abik dan beliau mendoakan semoga Fikri menjadi anak yang saleh dan jadi penulis.

Jadi, berkata yang baik kepada anak-anak itu penting. Namun harus dimulai dari komunikasi orangtua. Orangtua harus saling berkomunikasi yang baik. Jangan ada kata-kata kasar dan sebagainya. Ketika anak-anak gagal sesuatu, saya menyampaikan agar mereka sabar. Jadi, prinsipnya berusaha sebaik-baiknya dan tawakkal.

Arti Keluarga

Pada tahun 2015 saya mendapatkan beasiswa PhD dari LPDP untuk skema luar negeri. Rencana saya melanjutkan ke PhD The Australian National University (ANU) Canberra, akan tetapi tidak jadi. Saya juga menjalin kontak dengan berbagai kampus (institusi, personal) seperti di Amerika (Boston University), Eropa (Leiden University, Radboud Nijmegen University, Vrije University, Edinburgh University), Australia (Deakin University), Malaysia (Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia), Korea, Thailand, dan beberapa lainnya.

Saya sudah dapat professor di Deakin University, Australia, bahkan telah berkunjung ke sana di sela-sela program MEP 2015, akan tetapi tidak jadi. Faktor bahasa Inggris memang perlu pendalaman yang lebih. Mereka minta IELTS 7, sedangkan saya baru sampai 5.5 dan belum pernah berlatih lagi. Saya juga sudah kontak ke Radboud University Belanda. Professornya bersedia menerima dengan IELTS 6, akan tetapi tidak jadi. Ke Malaysia juga sudah, tapi tidak jadi.

Saya berpikir, apakah jika saya di luar negeri, anak-anak saya bisa sekolah mengingat LPDP hanya memberikan tunjangan 2 orang (istri satu dan anak satu)? Sementara anak saya ada 3. Berarti 2 anak saya tidak ada tunjangannya. Sebagai PhD student pasti agak susah dengan kondisi itu. Maka saya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ke luar negeri. Saya pilih UI. Tes UI saya gagal, dan baru lulus pada tes kedua. Akhirnya saya membawa anak-anak ke Depok untuk sekolah.

Kata lagu, “harta yang paling berharga adalah keluarga” saya setuju. Saya teringat pendiri Apple  Steve Jobs pernah ingin anaknya kuliah dekat Jobs akan tetapi anaknya tidak mau. Ia jadi sedih. Saya tidak mau jika saya sukses banget tapi anak-anak saya jauh dari saya. Padahal, kedekatan dengan anak adalah rezeki besar bagi kita.

Untuk mengimbangi tidak jadi ke luar negeri, saya menjalin hubungan baik dengan berbagai kolega dan membiasakan bahasa Inggris. Saya mengedit buku yang ditulis peserta MEP Indonesia dan Australia dari 2002 sampai 2017. Saya belajar dari teman-teman Australia bagaimana mereka menulis, juga dari teman-teman Indonesia. Ada banyak orang hebat dalam program MEP ini. Minimal lewat baca pengalaman mereka saya dapat hikmah buat diri saya.

Pola Pendidikan Anak

Sebagai muslim saya belajar dari nasihat Lukmanul Hakim kepada anak-anaknya agar tidak berlaku syirik kepada Allah. Saya selalu ingin memastikan bahwa anak-anak saya memiliki tauhid yang benar. Ini dasar utama yang sangat penting.

Saat cerita setelah magrib, saya selalu ingin pastikan itu. Kadang saya bertanya ke anak-anak tentang Allah, ayat-ayat, dan berbagai cerita dalam Islam yang mereka dapatkan dari sekolah. Mereka bersemangat karena diapresiasi.

Saya juga rajin mendokumentasikan foto-foto mereka agar jadi inspirasi dan pengingat di masa depan. Foto memang penting sekali untuk merawat kenangan.

Selain itu, anak-anak juga saya biasakan untuk menulis. Di antara mereka ada yang sudah mulai menulis di laptop dan bukunya.

Soal internet, saya juga mengajarkan mereka mencari data di google, akan tetapi saya sering ingatkan bahwa ada saja hal-hal tidak baik yang mereka harus hindari.

Peranan Istri

Pendidikan anak adalah tugas ayah dan ibu. Maka kedua orangtua harus bisa membagi waktunya untuk mendidik anak-anak mereka. Selama ini ada anggapan bahwa urusan rumah tangga itu urusan istri sedangkan ayah mencari nafkah. Awalnya saya berpikir begitu, tapi setelah mengikuti berbagai acara parenting dan melihat beberapa kisah orang saya jadi meyakini bahwa ternyata pendidikan anak itu tugas berdua, bukan hanya istri.

Kata orang, kalau kita ingin mencetak anak-anak yang baik maka kita harus memulai dari mencari calon ibunya, dan untuk mencari calon ibu kita harus memulai dari diri kita sendiri. Artinya, pilihan tiap orang sangat bergantung pada bagaimana orientasi hidup dan bagaimana cara dia memandang kehidupan ini.

Maka, buat mereka yang saat ini masih sendiri ada baiknya untuk senantiasa memperbaiki diri terus-menerus. Jangan pernah bosan perbaikan diri, refleksi, dan muhasabah terhadap diri sendiri. Kemudian, jika sudah ada niat untuk menikah maka mulailah dengan berdoa kepada Allah swt agar diberikan pasangan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat. Semakin serius kita berdoa dan berusaha, akan semakin maksimal hasil akan kita dapatkan.

Inspirasi Ramadhan

Ramadhan adalah bulan mulia. Banyak sekali keutamaan di dalamnya, seperti bulan pemaafan, bulan rahmah, bulan turunnya Al-Qur’an, bulan lailatul qadar (yang lebih baik dari seribu bulan), dan lain sebagainya.

Pada bulan Ramadhan saya dan istri juga terbiasa mengajak anak-anak untuk berpuasa. Biasanya kalau usianya masih di bawah 5 tahun anak-anak saya latih untuk berpuasa sampai zuhur dan setelah buka puasa di zuhur melanjutkan kembali puasanya sampai sore. Terkadang mereka kuat tapi sering juga tidak kuat, tapi sebagai pelatihan untuk berpuasa itu cukup baik.

Pada Ramadhan tahun 2017 ini saya melatih anak-anak untuk menulis beberapa ide penting dari kultum yang mereka hadiri di masjid. Jika tidak banyak yang dapat ditulis, maka saya meminta mereka untuk menulis cerita berbasis dari pengalaman sehari-hari mereka seperti waktu ikut saya ke Masjid Ukhuwah Islamiyah UI dan lain sebagainya.


Selain itu, anak-anak juga dilatih untuk mengaji setiap hari. Walau kadang mereka malas-malasan, akan tetapi dorongan agar mereka terus mengaji, belajar, menulis, dan yang cukup penting juga adalah bersedekah secara rutin cukup baik untuk melatih mental mereka. *

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...