Tuesday, May 25, 2021

Anre Gurutta KH. Sanusi Baco, Tokoh Perekat Masyarakat

"Almarhum adalah ulama yang sangat luas ilmunya dan lembut penampilannya." --Mahfud MD

Tokoh agama Sulsel KH. Sanusi Baco yang juga Mustasyar PBNU, meninggal di usia 84 tahun pada Sabtu 15 Mei 2021. Ia meninggal karena sakit kolik Abdomen, penyakit nyeri hebat pada perut yang sifatnya hilang dan timbul.
Beliau adalah kawan dari alm Gus Dur dalam kapal dari Indonesia menuju Mesir untuk belajar di Al-Azhar, Kairo.
"Anregurutta Sanusi Baco bersahabat dg #GusDur sejak bersama naik kapal menuju Kairo sebagai penerima beasiswa kuliah di Al-Azhar Kairo. Naik kapal barang 28 hari, kata beliau hiburannya hanya joke2 GusDur. Banyak kenangan di antara mereka. Semoga nanti berkumpul bersama lagi." Demikian tulis Alissa Wahid di Twitter.
Beliau lahir pada 4 April 1937 di Maros, Sulsel dan memulai pendidikan dengan belajar kepada beberapa guru di desanya. Dikutip dari laman Laduni NU, beliau kemudian mondok di Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Barru, selama 8 tahun.
Sanusi Baco menyelesaikan pendidikan sarjana muda di Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang kemudian mendapat beasiswa dari Departemen Agama (kini Kementerian Agama) untuk kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Setelah kembali ke Makassar, aktivitasnya antara lain mengajar di UMI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Ghazali (UIM) dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Ghazali Cabang STAI Al Ghazali di Makassar. Beliau juga dikenal sebagai Dosen Tetap di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar.
Selain berwawasan luas, sosok "ulama besar kharismatik yang tak lelah membimbing umat"--mengutip frasa dari Ust Surya Darma, Lc, tokoh Islam Sulsel, juga dikenal sebagai perekat umat beragama dan bermasyarakat. Tokoh perekat seperti beliau sangat dibutuhkan oleh umat dan bangsa.
Kata "Anre Gurutta", yang dilekatkan pada namanya adalah istilah yang ditujukan kepada tokoh Ulama yang telah menempati status sosial yang sangat tinggi dan telah mendapat tempat dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis-Makassar.
Laman NU Online (2015) menulis: "Anre Gurutta Haji Sanusi Baco adalah ulama kharismatik, pemimpin spiritual masyarakat di Sulawesi Selatan, selain menjadi Rais Syuriyah, Gurutta juga dipercaya sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar serta mengasuh pesantren Nahdlatul Ulum, salah satu Pesantren milik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Maros."
Selain mengabdikan dirinya di Universitas Islam Makassar, beliau aktif berdakwah dan memberikan nasehat kepada masyarakat Sulawesi Selatan. Pada tahun 2012 beliau dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam atau fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
KH. Sanusi Baco yang dari NU juga kerap dipersepsikan sebagai menara kembar, bersama dengan KH. Jamaluddin Amin dari Muhammadiyah, yang menyinarkan umat Islam di manapun berada. Demikian tulis buku "Menara Kembar Ummat: Kumpulan ceramah KH Jamaluddin Amien dan AGH Dr Sanusi Baco Lc.
Terakhir bertemu beliau saat soft launching buku saya, "KH. M. Arif Marzuki: Segulung Cerita dari Maccopa" yang saya tulis dan diterbitkan Tinta Medina, imprint Tiga Serangkai. Acaranya digelar di Gowa. Kiai Sanusi hadir dan menjadi magnet perhatian banyak orang.
Kharismanya luar biasa. Sangat mungkin kharisma itu terlahir dari kedekatannya kepada Allah. Orang-orang yang dekat kepada Allah, mereka dikaruniai dgn berbagai keutamaan yang langka.
Kita berdoa semoga alm mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan selanjutnya akan lahir para ulama besar sepeninggalnya.
Patah tumbuh hilang berganti. Perjuangan beliau menjadi teladan bagi generasi sesudahnya. Kisahnya menjadi "lisana shidqin fil akhirin", buah tutur yang baik bagi orang2 (yang datang) kemudian, sebagaimana doa Nabi Ibrahim as:
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
"dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (QS. Asy-Syuara: 84) *

No comments:

Post a Comment

Untuk Pencela Donasi Palestina

Ada saja orang yang tidak senang dengan donasi masyarakat Indonesia untuk Palestina dengan jumlah yang miliaran. Dalam ayat ini, karakter ti...