Wednesday, September 16, 2020

Merawat Keinginan di Masa Pandemi

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Dua paragraf ini adalah petikan dari lagu Iwan Fals 'seperti matahari.' Saat lagi sendiri saya mendengarkan lagu ini--lupa, dan entah kapan; mungkin saat di kereta dari Jakarta ke Jawa, atau perjalanan suatu siang dari Palembang ke Lampung. Saat lagi sendiri di malam hari (dulu saya kalau kerja tugas di malam hari), saya kadang dengerin lagu ini. 

Kenapa saya suka lagu ini? Karena lagu ini menyadarkan saya--mungkin kita, para pembaca esai ini--bahwa keinginan adalah sumber penderitaan. Apalagi di masa kayak sekarang. Ingin ini dan ingin itu, tapi nggak bisa, karena ada pembatasan sosial entah itu yang berskala besar atau berskala komunitas. 

Ingin berlama-lama kita di tempat ngopi--agar bisa menyelesaikan target dalam satu kali duduk, seperti yang lalu-lalu--jadi tidak bisa. Jika dulu kita biasa duduk dari siang sampai sore, dan berlanjut malam di sudut meja sambil mendengarkan lagu yang diputar di kafe di Margonda, kini tidak bisa. Hanya bisa sampai jam 18.00 sore. Terbatas. 

Padahal, kadang ide-ide bernas itu keluarnya di sore. Saat ide lagi mengalir deras, kemudian dihentikan oleh 'maaf bapak apa ada lagi yang mau dipesan? kami sebentar lagi akan tutup', kita mau tak mau harus mengurut dada. Yah, mau gimana lagi. Protokolnya memang udah begitu--harus tutup jam 6 sore. 

Tapi, teringat lagu Iwan di atas, kita jadi sadar juga bahwa 'kita hidup mencari bahagia'. Bahwa apa yang kita lakukan sekarang--apakah itu berdiri dari ujung ke ujung saat naik kereta Jakarta-Bogor, atau untuk menyelesaikan tugas belajar--semua tujuannya adalah agar kita bahagia. Jika bahagia, maka kita akan bisa lakukan banyak hal. Dengan begitu, maka klausul 'awardee harus memberi dampak' dapat kita lakukan, yakni dengan memberi makna kepada masyarakat atau komunitas sebagai konsekuensi dari kita belajar di perguruan tinggi. 

Bahan bakar hidup ini, merujuk ke Iwan, adalah budi pekerti. Betul sekali. Kendati tiap orang mungkin punya takaran yang berbeda terkait budi pekerti, tapi umumnya semua itu terkait dengan satu kata: apresiasi. Itulah kenapa beberapa waktu lalu dalam sebuah seminar di zoom, saya bilang bahwa buku rujukan kita di antropologi ini--salah satunya adalah buku C.P. Kottak--yang sub judulnya "appreciating cultural diversity." 

Saya yakin, pengajar dari Universitas Michigan itu tidak iseng atau kebetulan dalam menulis sub-judul tersebut. Dia menyadari bahwa kehidupan global kita yang sangat diverse (beragam) ini hanya bisa harmoni jika ada apresiasi terhadap keragaman tersebut. Apresiasi bisa kita terjemahkan salah satunya dengan budi pekerti, atau adab, atau akhlak, atau etika--istilah yang rada-rada mirip. 

Di zaman kayak sekarang, banyak sekali sesungguhnya yang kita ingin. Kadang, ingin kita ngumpul banyak orang, makan-makan, atau nonton film terbaru yang pastinya lebih seru ketimbang nonton di laptop sendirian. Kita ingin jalan bersama anak-istri di awal bulan untuk sekedar 'menikmati hidup', tapi mustahil. Anak kita yang bayi juga tidak bisa dibawa jauh--walau dulu waktu anak baru satu kita bawa jauh juga di usianya yang 1 bulan (dari Mandai ke Panakkukang).

Kini, kita juga ingin bisa berlama-lama baca buku di perpustakaan. Maklum, kita ini lebih senang baca buku hard copy. Kita senang bisa nyentuh kertasnya, mengambil inti-inti, serta merenungkannya sekali duduk. Tapi kini, perpustakaan juga tutup. Ada yang buka, tapi situasinya jadi berbeda. Kita jalan pun berada dalam lingkaran kekhawatiran akan virus yang membuntuti. Maka saban hari, baik saat di ojek online atau saat tiba di lokasi, kita berdoa semoga dijauhkan dari virus. Betul-betul kita jadi makin religius. 

Di masa yang tidak menentu kayak sekarang, pada akhirnya kita harus berkompromi. Harus beradaptasi. Tapi, dalam kondisi begini kita tetap harus ingat nasihat lagu di atas yang bilang begini:

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi 

Kita harus terus berbagi, walau terkendala tidak bisa ketemu. Tapi kebahagiaan itu harus terus dibagikan, dan jangan terkendala oleh virus. Berbahagia dalam berbagai bentuknya--apakah itu tanya kabar kawan di WA, atau ngobrol dengan kawan tentang aktivitasnya, atau membagikan info positif kepada kawan-kawan. Semua itu adalah bagian dari upaya untuk memberi demi terangnya hati. 

Dalam kondisi begini, kita memang harus betul-betul ikut protokol. Jangan lagi berkata "virusnya nggak keliatan". Apakah semua penyakit harus kelihatan? Tidak juga, kan? Ada banyak hal yang berbahaya dalam bentuk dan sifatnya yang tidak terlihat. 

Situasi sekarang mungkin seperti ini:

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Yah, banyak betul kita punya keinginan. Tadi seorang keluarga di Sumatera bertanya, "kapan main ke Bukittinggi?" Pengen juga kita ke sana, untuk melihat rumah keluarga yang sekarang telah dijual menjadi sebuah hotel bagus (ah, kenapa harus dijual ya?) Pun, tadi pagi seorang kawan di Tasikmalaya, mengajak untuk berkunjung ke tempat dimana ia mengabdi (sambil mengirimkan foto dimana ia mengajar anak-anak). 

Begitu banyak ya yang kita ingin. Tapi, kita harus ikuti protokol kesehatan dan semaksimal mungkin membatasi keluar rumah. Maka, merawat keinginan dengan harapan semoga suatu saat ada kesempatan untuk itu adalah tindakan yang bijaksana. *

Depok, 16 Sept 2020

Ilustrasi: Amalfi Italia (britannica.com)


No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...