Wednesday, September 16, 2020

Hidup di Tengah Pandemi

Di awal pandemi masuk ke Indonesia (Maret, 2020) saya sangat rajin membaca, menulis, dan berbicara terkait pandemi. Sumber yang saya pelajari dari website resmi pemerintah, kanal dalam dan luar negeri, status-status media sosial, hingga broadcast dari WA ke WA, menjadi sesuatu yang diburu untuk satu hal: mengenal pandemi lebih jauh. 

Mulai dari konspirasi bahwa virus ini tersebar dari sebuah laboratorium yang berjarak sekitar 30 KM dari pasar di Wuhan sampai pada kemungkinan bahwa ini merupakan konspirasi al-Masih Dajjal dari 'alam sebelah' yang menguji keimanan manusia apakah tetap taat pada-Nya atau tidak. 

Dari 'kepo' ke proteksi

Awalnya kita bersikap kepo, "kepingin info" alias ingin tahu apa sih yang dimaksud dengan virus corona hingga bagaimana cara melawannya. Di awal-awal orang banyak yang berkata 'lawan covid-19', tapi kemudian perlawanan itu menjadi surut seiring dengan 'buka-tutup' kebijakan pemerintah atas sirkulasi manusia dari dan ke kota-kota berzona merah. 

Dari sikap kepo saya kemudian mengubah pemikiran pada proteksi, penjagaan. Memang, kita tidak akan bisa menjaga sesuatu jika kita sendiri tidak tahu sesuatu itu. Apa yang kita tahu dari sifat makhluk kecil itu hingga petunjuk dari otoritas kesehatan agar ikuti protokol kita coba ikuti--semaksimal mungkin. 

Pada semester pertama (bulan ke-6) masuknya virus ke Indonesia ini kita harus beralih sikap dari terlalu kepo kepada proteksi maksimal. Memproteksi diri agar dilakukan dengan cara pakai masker yang agak tebal (bukan yang scuba), jaga jarak, serta tidak berkerumun. 

Saat naik kereta misalnya, pilihlah posisi yang agak sudut, atau yang tidak berdekatan langsung dengan wajah orang. Dikhawatirkan orang tidak sengaja bersin dan dropletnya keluar. Atau ketika antri di minimarket agar menjaga jarak. Jangan terlalu dekat. Setidaknya satu meter--walau terasa agak jauh--tapi itu perlu dijalani. Ketika masuk ke mal, usahakan betul-betul cuci tangan, dan ketika di dalamnya tidak berdekat-dekatan dengan orang lain. 

Proteksi Info

"Saat ini kita betul-betul lagi tsunami informasi," kata kawan saya saat makan pagi di Bogor. Mulai dari info yang benar sampai yang sesat tersedia di ponsel kita. Yang disayangkan, terkadang orang asal menyebarkan info yang unverified (belum terverifikasi) kepada orang lain. Orang yang baca akhirnya jadi tersesatkan, jadi misleading dengan info yang ada. Akhirnya, terciptalah lingkaran setan info sesat tersebut. 

Saat ini, kita harus bisa proteksi informasi. Jika bergabung dalam grup WA yang tidak produktif, atau bahkan selalu bikin pening, pusing, atau sarat dengan berita hoax, tak ada salahnya untuk tidak membacanya, atau segera clear chat. Jika mau lebih jauh, bisa izin left group agar info yang masuk ke kepala kita itu lebih banyak yang positif, bukan hoax. 

Proteksi diri dari info sesat baik sekali dilakukan mulai dari lingkaran terdekat, apakah itu keluarga, teman, atau komunitas. Dalam komunitas tersebut kita bisa saling mengingatkan agar sama-sama tidak tergoda menyebarkan berita yang unverified tadi, alias yang masih samar-samar, apalagi yang sudah jelas tidak masuk akal dan menyesatkan. 

Proteksi diri dengan Do'a

Do'a ada sebagai mekanisme penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, Allah. Dia-lah pemilik semua ini, mulai dari makhluk yang gede seperti gugusan planet, matahari, bulan, bintang, hingga partikel atom yang paling kecil. Semua itu milik-Nya, Dia yang menciptakan, dan dia juga yang paling tahu kenapa semua itu diciptakan. 

Segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan dalam bentuk yang paling baik. Firman-Nya dalam As-Sajdah: 7, "...Yang membuat segala sesuatu yang Dia Ciptakan sebaik-baiknya." Alladzi ahsana kulla syai'in khalqahu. Dia-lah yang menyempurnakan segala ciptaan-Nya, sebaik-baiknya dan semua ciptaan-Nya itu dibuat dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan--walaupun di mata manusia makhluk tersebut bentuk dan rupanya tidak begitu bagus. 

Dalam konteks itu, jika dibawa pada virus corona, maka sesungguhnya virus kecil yang invisible (tidak terlihat) itu, adalah makhluk Allah yang mungkin di mata manusia tidak sempurna. Akan tetapi, kenapa dia hadir dan mengakibatkan 'global damage' di atas planet bumi ini? 

Terkait ini, kita diingatkan bahwa "Mungkin saja kamu membenci sesuatu, sementara itu baik bagimu, dan mungkin saja kamu mencintai sesuatu sementara itu buruk bagiku" (QS. Al-Baqarah: 216). Di akhir ayat itu, ada pesan Allah yang penting dan sangat kontekstual bagi pertanyaan manusia 'kenapa corona ini ada', yaitu "...dan Allah lebih tahu, sedangkan kamu tidak tahu." 

Kadang kalau bawa materi, saya suka menjelaskan tiga hal: apa yang kita tahu, apa yang kita tidak tahu, dan apa yang kita harapkan. Kita tahu sedikit tentang virus corona hingga variasi satu dan lainnya. Tapi, sepanjang beberapa bulan ini kita tidak (atau belum) tahu apa vaksin yang tepat untuk melawannya. Pun, kita tidak tahu kapan dia akan betul-betul habis. "Butuh waktu 50 tahun," kata teman saya, agar virus ini habis. Maksud dia, sama seperti penyakit lainnya yang tidak habis total, yakni masih ada akan tetapi sudah bisa dikendalikan. 

Satu hal lagi, apa yang kita harapkan di masa-masa seperti sekarang? Semua kita pasti berharap agar vaksin segera ditemukan, dengan demikian kita bisa melawan virus itu. Akan tetapi, perlombaan membuat vaksin masih berstatus progress semua, belum sampai pada final decision bahwa "ini dia!" vaksin yang kita tunggu. Kita berharap semoga bisa selesai setidaknya di awal atau tengah tahun depan--dengan asumsi setahunan waktu untuk menemukan vaksin tersebut. 

Di zaman kayak sekarang, memang susah untuk menyalahkan sesuatu. Di masa ketika kemampuan kita terkendala dengan virus sikap terbaik kita adalah mengikuti protokol kesehatan. Kenapa? Karena inilah "mekanisme perlawanan" paling baik agar terhindar dari virus itu. 

Selain itu, kita juga perlu tiap hari (pagi dan petang) berdoa khusus kepada Tuhan agar dijaga dan diberikan keselamatan bagi diri, bagi keluarga (di mana pun berada), bagi teman, bagi rekan kerja, dan bagi semua manusia yang ada di bumi ini. Berdoa dengan penuh kerendahan bahwa Tuhan, Engkaulah penguasa alam ini, Engkau Maha Kuasa atas segala makhluk yang ada di alam ini. Berikanlah jalan keluar bagi permasalahan virus corona yang sampai sekarang masih menjangkiti manusia. 

Sesungguhnya, selain melakukan proteksi semaksimal mungkin kita juga butuh doa sebagai mekanisme proteksi diri agar Dia Yang Maha Kuasa mengabulkan doa kita agar menghindarkan diri kita dari virus corona. Kita berdoa semoga virus itu kembali saja kepada habitat dimana dia bisa hidup berkembang tanpa harus menyerang kehidupan manusia. Maka, hanya kepada Allah saja kita terus berdoa di malam dan pagi kita. *

Depok, 16 Sept 2020

Ilustrasi: Apartemen The Copan, di Sao Paolo, Amerika Latin dengan 5000 residents (nationalgeographic.com)

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...