Wednesday, July 8, 2020

Lelaki, Rumah Panggung, dan 7 Samudera

Yanuardi Syukur
Ayah saya punya intuisi. Semacam kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Bukan indra keenam, tapi semacam "visi" yang kadang dia dapatkan dari mimpi, olah pikiran, atau bahkan dari perkiraan.

Ayah saya pernah bercerita bahwa ketika saya lahir di Bandar Jaya, yang sangat jauh dari Tobelo, dia bermimpi ada anak kecil bermain di atas kepalanya. Saat bangun dia tersadar, anaknya telah lahir.

Ketika saya menikah, dia juga pernah bermimpi. Katanya, waktu itu dia melihat saya terjatuh dalam jurang. Jurangnya sangat dalam. Tapi kemudian ternyata saya "diselamatkan" dalam sebuah rumah yang berada di bawah jurang. Aneh bin ajaib. Cerita ini hanya diceritakan kepada istriku, tidak kepada saya, dan saudaraku lainnya.

Saat itu, saya sedang pusing dengan dilema. Menikah atau tidak? Maka saya memutuskan untuk menikah. Pernikahan saya itu bisa dilihat sebagai visi bahwa dengan menikah saya "terselamatkan". Saya mengerti diri saya--kelebihan dan kekurangan--maka dari itu saya menikah.

Ayah saya pernah bercerita juga soal Jenderal Besar dari Amerika Serikat. McArthur namanya. Waktu dia punya tekad untuk menaklukkan Jepang--"saudara tua Asia" yang ingin mengangkangi kawasan--dia melakukan lompatan katak dari Papua sampai Halmahera, Filipina, dan dampak akhirnya membuat runtuh dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Setelah itu, Jepang takluk.

Ketika mendarat di Morotai, ayah saya bercerita bahwa di sana mereka bangun beberapa landasan pacu yang sekali terbang bisa beberapa pesawat. Dulunya Jepang berkuasa di situ, tapi direbut sama sekutu. Peralatan canggih sisa perang dunia kedua juga banyak tergeletak di darat dan laut Halmahera. Banyak yang kemudian diolah jadi besi putih oleh masyarakat setempat.

Sejak mengenal nama "McArthur", saya jadi mulai punya visi global. Mulai ada keinginan untuk mengenal yang luas-luas, tidak sekedar laut tempatku bermain di masa kecil untuk mencari ikan, kepiting, udang, menangkap cacing yang dijadikan umpan untuk hobby memancing di malam hari di belakang rumah.

Ketika dewasa, saya mulai sadar bahwa cerita McArthur itu punya pengaruh luar biasa. Saya jadi bangga bahwa ayahku tahu dunia global, walau bukan sejarawan, tapi dia mengerti apa yang terjadi pada masa ketika dia kecil--Perang Dunia II. Maka, ketika saya berkunjung ke Amerika Serikat, saya jadi paham bahwa semangat untuk terus belajar, mengambil hikmah, dan berkawan hingga sampai ke Amerika itu ada karena sejak kecil ayahku bercerita tentang itu.

Di kali lain, ayahku juga cerita soal bagaimana dia menyelamatkan sertifikat tanah peninggalan ayahnya yang berlokasi persis di samping benteng Fort de Kock. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada 1825 di masa Merkus de Kock jadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Benteng itu dibuat sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau, terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837.

Tanah kakek kami, di samping benteng itu, dulunya disewa oleh tentara waktu terjadi ramai-ramai soal (kalau tidak salah) PRRI/Permesta. Sertifikat tanah itu diselamatkan oleh ayahku agar tidak hilang di masa-masa krisis seperti itu. Belakangan, ketika sudah reda, sertifikat itu jadi sangat berguna untuk keluarga besar--walau selanjutnya pada awal 1990an dijual oleh keluarga. Padahal, tanah tersebut dibuat sebenarnya sebagai transit keluarga dari Maninjau ke Padang, atau dari Padang atau perantauan (seperti di Halmahera) sebelum turun kelok ampe-ampe (44) ke rumah keluarga besar.

Pada 1999 ketika terjadi kerusuhan di Halmahera, saya yang berusia 17 tahun ditugaskan untuk menyelamatkan sertifikat tanah. Waktu itu saya pikir, "nyawa lebih berharga" dan olehnya itu "kita harus segera mengungsi." Saat itu, yang mengungsi duluan hanya ibu dan adik saya yang perempuan. Sedangkan saya, ayah saya, dan kakakku tetap berjaga di rumah.

Saya juga selamatkan album foto, karena itu sangat penting untuk masa depan. Setelah kerusuhan, banyak orang tidak mau balik ke Tobelo, karena trauma. Banyak godaan agar ayahku menjual tanah, dan kita pindah saya; tinggal di Jakarta atau Lampung. Tapi, ayahku bersikeras tidak. Dia tetap ingin tinggal di rumah panggung yang telah dia bangun sedikit-sedikit, dan toko di Jalan Kemakmuran--peninggalan dari ayahnya--yang harus dia jaga.

Setelah damai, tanah-tanah kami tetap ada. Sertifikatnya juga ada. Tidak ada yang dijual. Sekarang, kita jadi tahu bahwa visi beliau yang mau tetap tinggal di Tobelo adalah berkah bagi keluarga kami. Dia yakin, bahwa konflik horizontal ini akan segera berakhir juga, dan semua orang akan kembali damai.

Ayahku biasa cerita, bahwa dia dekat dengan banyak orang dari latar agama, etnik, status sosial. Dia senang bercerita dengan orang-orang biasa. Mungkin, karena dia tidak senang basa-basi, atau "kemunafikan" (beda di depan beda di belakang). Maka, temannya itu banyak dari orang biasa. Dari situ, saya jadi senang juga punya kawan dari orang biasa, orang yang tidak terkenal, bahkan mungkin masuk dalam kalangan periferi, bukan centernya perhatian.

Tapi jalan hidup ayah dan anak tidak selalu saya. Jika ayahku tidak bermain di wilayah publik yang luas, saya bermainnya di kedua wilayah itu. Saya senang berkawan dengan orang-orang biasa, sekaligus saya bangun relasi dengan mereka yang di atas. Bisa jadi, inilah yang diinginkan oleh ayahku.

Waktu kecil saya sering pukul lengan ayahku--karena anak kecil memang senang dengan itu. Ayahku biasa bilang, "jangan pukul-pukul begitu..kalau sudah sarjana, baru bisa." Maknanya, kalau masih lemah kayak begini harus banyak belajar sampai sarjana. Ayahku tidak sarjana. Dia ingin anaknya sarjana. Saya menangkap itu, maka saya selesaikan sarjana (waktu kerusuhan saya sempat ingin putuskan tidak lanjut kuliah), lanjut master hingga ikut program doktor.

Ayahku kini sudah tidak ada; terkubur di Galela, di samping makam ayahnya. Cerita-ceritanya masih lekat tergiang di benak saya. Lain waktu, saya akan cerita juga cerita dan kasih sayang dari ibu saya yang sangat luar bisa dan membentuk saya hingga saat ini. Suatu waktu, saat pesawat landing di Cengkareng, saya teringat "oh, ini mungkin yang diinginkan ayahku." Yaitu, seorang anak yang bisa terbang kemana-mana, tamat sarjana, dan menjadi manusia terbaik di bidangnya.

Ketika duduk di sebuah apartemen di Sydney, saya sempat memandang ke luar. Banyak gedung, lalu-lalang orang, mobil, dan landskap kota yang begitu indah. Saya jadi teringat ayahku. Tak lama setelah itu, saya dapat kabar: undangan jadi presenter di Kuala Lumpur. Saya berpikir, "mungkin ini yang diinginkan ayahku sejak saya kecil." Sesuatu yang dia tidak jalani--seperti jarang naik pesawat, tidak menulis buku, tidak sarjana--tapi dia persiapkan itu buat anaknya, sekaligus buat cucu-cucunya.

Ayahku orangnya pendiam. Dia suka merenung. Itu juga yang turun ke saya. Saya orangnya pendiam. Kadang senang menyendiri. Dia kadang bermimpi bertemu ayahnya. Agak ajaib memang. Waktu beliau sakit stroke dan dirawat di rumah sakit, saya dengan segera izin kepada rektor (waktu itu sebagai sekretaris rektor) untuk pulang. Diantar oleh mobil dinas rektor, saya segera ke Tobelo.

Pada sebuah malam, saya baca Al-Qur'an. Tidak lama kemudian ayahku bangun dan tanya, "Tadi abis baca apa?" Dia melihat banyak makhluk yang lari tunggang-langgang, dan mereka bertanya itu suara apa. Mereka ketakutan. Saya bilang, tadi baca Al-Qur'an. Oh, saya jadi sadar bahwa memang ayat Al-Qur'an itu bisa mengusir setan. Orang Islam percaya itu. Saya juga percaya. Mungkin di kamar pasien tersebut jarang orang bacakan Al-Qur'an. Mungkin.

Saat ini, sambil memikirkan disertasi saya, saya bekerja di salah satu lembaga riset di Jakarta dan beberapa kali melihat dunia luas; berkawan dengan orang dari segenap penjuru. Tak jauh dari sini ada rumahnya Pak Habibie, mantan presiden, Kedubes Australia yang kadang saya diundang ke situ, dan rumah serta kantor terkenal. Di sini saya kembali teringat ayahku. Sembilan tahun yang lalu, waktu kerja Jalan Thamrin, saya juga sering teringat ayahku. Saya suka ingat bagaimana ayahku ingin saya jadi manusia seutuhnya yang berguna buat banyak orang.

Ibuku, di sisi lain sangat mendukung apa yang saya lakukan. Bisa dikatakan, ayah dan ibuku adalah tipikal orang yang sangat demokratis akan pilihan anaknya. Tapi, di masa kecil mereka begitu ketat dalam nilai kebaikan. Kita tidak boleh berkata kotor, memaki, dan seterusnya. Kita dimasukkan ke tempat mengaji, dibawa ke pesantren, dan disupport segala sesuatunya.

Walau keluarga kami bukan orang kaya, tapi dari atas rumah panggung di atas laut, kami diajarkan prinsip hidup. Jangan menggantung nasib kepada orang, karena orang lain bisa jatuh. Tapi, gantungkanlah hidup pada karakter dan sifat baik. Orang yang karakternya buruk, cepat atau lambat kesuksesannya akan "memakan dirinya sendiri", tapi orang yang menjaga karakter baik--walau mereka juga pasti tidak lepas dari salah--cepat atau lambat mereka akan raih sukses. Karena kesuksesan itu erat sekali dengan kebaikan, dan bisa dikata tidak ada kesuksesan sejati tanpa adanya komitmen pada kebaikan setiap hari.

Kebaikan itu dari mana? Salah satunya, berasal dari internalisasi nilai dari orang tua yang ditanamkan lewat cerita-cerita ringan, inspiratif, yang mungkin waktu itu kita sekedar tahu tapi belum memaknainya. Umumnya, kita baru sadar makna cerita orang tua jika telah melewati terminal waktu dan telah menempuh ribuan perjalanan panjang.

Jakarta, 3 Juli 2020

YANUARDI SYUKUR, Presiden DPP Rumah Produktif Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...