Friday, June 12, 2020

Menulis Membuatku Bahagia

Satu hal yang--mungkin--dikenali orang tentang saya adalah penulis. Dua puluh tahun terakhir, kurang lebih, saya memang banyak sekali menulis; artikel, buku, hingga status di media sosial. Orang-orang mengenalku sebagai penulis.

Di usia dua puluhan, saya belajar menulis mati-matian. Siang dan malam. Tapi di usia tiga puluhan tangan kanan saya rasa sakit. Kadang kalau terlalu lama mengetik--kayak sekarang ini--tangan kanan saya agak rasa nyeri.

Nyeri itu ditambah lagi dengan jari-jari yang terasa kayak keram. Itu nggak biasa saya rasakan di usia dua puluhan, tapi di tiga puluhan hal itu terasa sekali.

Kata istriku, saya harus batasi jam bekerja. Jam bekerja itu pagi sampai sore. "Malam itu untuk keluarga," begitu katanya. Saya mengangguk. Benar juga sih.

Dia usia kayak sekarang malam saya banyak di rumah. Dulu jarang saya di rumah di waktu sore atau awal malam. Saya mulai pulang saat malam sudah larut. Karena saya ingin dapat apa yang saya niatkan untuk keluar rumah. Tekadku begitu kuat.

Kini, di tengah kebingungan menulis disertasi--yang belum tuntas-tuntas--saya kadang menengok website saya ini. Saya kasihan jika dia tidak ditengok. Dia harus disuplai terus dengan tulisan--terlepas orang baca atau tidak.

Menulis jadi semacam "pelarian" untuk menemukan kebahagiaan.

Saya ingat waktu kepalaku pusing saat pelatihan di ITB, saya kemudian pergi ke perpustakaan. Di sana, saya buka laptop dan menulis. Saya tulis saja apa yang saya rasakan. Entah orang baca atau tidak, yang penting saya menulis apa yang ada di kepala dan hati saya.

Kadang, saat menulis itu air mata saya menetes. Menetes karena melihat diriku, "kenapa diriku tidak maju?" Saya merasa berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan. Setelah itu saya ke masjid. Di situ saya duduk sambil merenungi masa lalu dan memikirkan masa depan yang mau saya capai.

Sebagian orang mungkin bilang, bahwa saya beruntung dapat banyak kesempatan--sebutlah menulis buku, masuk televisi, lanjut kuliah doktor, hingga punya anak-anak yang baik dan gratis ke luar negeri. Itu benar. Namun kadang saya merasa perlu menuntaskan berbagai cita-cita hidup agar jadi orang yang benar-benar berguna.

Saya kadang suka merenung sendiri. Apa yang telah saya raih yang saya lihat belum seberapa. Saya merasa masih baru memulai perjalanan menuju hidup yang bermanfaat. Dalam proses itu saya sendiri menyendiri, dan dalam menyendiri itu saya memilih tulisan sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan.

Mungkin teman-teman lain punya kebiasaan yang sama juga?

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...