Friday, June 12, 2020

Menulis Disertasi di Tengah Aktivisme dan Pandemi

Tidak muda untuk menulis disertasi di tengah aktivitas yang datang silih-berganti, yang ditambah dengan pandemi global gegara virus corona. Aktivisme yang sudah "mendarah-daging" dalam diriku memang sulit untuk ditunda.

Selalu ingin aktif, selalu ingin berbuat. Sementara itu, pandemi ini juga membuat saya tidak bisa keluar bebas untuk sekedar merenung ringan di cafe sambil menikmati kesendirian sambil mendengarkan beberapa musik yang saya senangi.

Tidak mudah memang. Saya diminta untuk nonaktif dari organisasi. Sebagian sudah tapi sebagian yang lain belum. Rasanya, jiwa aktivisme itu hadir terus. Serasa stress kepala kita jika tidak ada aktivitas. Mungkin itu karena dua puluh tahun terakhir hari-hariku tidak lepas dari aktivitas organisasi.

Tapi saya juga harus realistis. Bahwa disertasi saya harus selesai. Saya harus bangkit dari kemalasan personal yang membuat saya menunda-nunda disertasi ini. Kadang, saya ingin sekali membaca lebih banyak tapi kadang juga ada saja godaan untuk beraktivitas yang lain. Saya sadari, saya tidak fokus. Itu betul. Orang-orang menasihati seperti itu.

Di masa pandemi ini saya kembali berusaha untuk membaca lagi berkas-berkas untuk menemukan novelty, "kebaruan" disertasi saya. Menulis buku populer itu gampang, tapi menulis disertasi itu tidak mudah. Saya bisa menulis 10 buku dalam setahun, tapi saya belum tentu bisa menuntaskan 1 disertasi dalam 1 tahun. Itu fakta. Saya sadari itu.

Kadang, ketika diajak untuk jadi pembicara di sebuah forum, saya ingin menolak. Tapi, hati kecil saya kadang merasa tidak enak. Saya orangnya suka tidak enakan. Ketika orang butuh kepada saya, saya merasa itu juga kesempatan saya untuk berbagi kepada orang tersebut, kepada komunitas tersebut. Itu membuat saya bahagia.

Ada perasaan senang jika tiap hari itu ada saja yang dibagi.

Saya juga harus memikirkan keluarga. Anak-anakku yang harus tetap tercukupi, dan bagaimana mereka bisa bersekolah dengan baik. Tentu saja, tak terkecuali dengan memperhatikan istriku yang sementara mengandung di bulan keenam.

Semua hal harus kita jalani; keluarga, kuliah, dan aktivitas. Saya ingin semuanya lancar dan berjaya.

Kini, saya harus kembali lagi menguatkan semangat. Menuntaskan apa yang telah saya mulai pada 2016. Saya ke Depok adalah demi kuliah. Saya dikirim universitas saya untuk belajar, dan jika tamat kembali ke kampung untuk mengajar. Mungkin, hidup sebagai dosen di kampung itu menyenangkan. Tapi, apa bisa?

Soal bisa atau tidak bisa, itu urusan nanti. Tapi, saat ini mendesak untuk saya selesaikan ragangan dua lembar yang diminta oleh supervisor saya. Sudah setahunan lebih saya mencari-cari, bongkar kiri-kanan, dan belum ketemu. Saya merasa, sudah dekat lagi ini barang saya temukan. Saya yakin. Tapi kadang ada rasa malas, ada rasa capek, ada rasa ingin menunda-nunda.

Itu sikap yang tidak bijaksana pastinya. Saya sadari itu. Maka, saya harus berubah. Saya segera menyelesaikan ragangan dua halaman itu, agar bisa melangkah menulis isi disertasi berdasarkan pada ragangan tersebut.

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...