Sunday, December 15, 2019

Yang Mulus dan Bikin Kangen dari Saumlaki


Laut Pulau Matakus, sekitar 1 jam dari kota Saumlaki

Saumlaki adalah sebuah pulau yang jauh. Ya, begitulah bayangan saya. Walaupun saya juga berasal dari negeri yang jauh, di utara Pulau Halmahera, tapi saya merasa Saumlaki ini lebih jauh. Bukan apa-apa, lokasinya itu kayak terpencil dari Indonesia.

Tapi, saya beruntung bisa datang ke Saumlaki, sebuah negeri yang awalnya jauh tapi setelah didatangi rupanya dekat-dekat saja. Di kota itu saya menghabiskan waktu sekitar 4 hari untuk sebuah tugas kantor. Menginap di sebuah hotel di atas laut, mengingatkan saya akan kampung halaman.

Rumah saya, di tahun 1980-an itu berada di atas laut. Seiring dengan "pendaratan" (maksudnya, penimbunan laut jadi daratan), rumah saya jadi sebagian saya yang di laut. Kini, bahkan sudah darat semua karena sudah tertimbun menjadi darat. Mereka yang mau ke Pulau Morotai lewat speed boat, pasti lewatin rumah saya. Ada Guest House juga, lho!

Perjalanan 

Dari Jakarta perjalanan kita tempuh ke Ambon. Tiba pagi. Tidak langsung ke Saumlaki, tapi harus transit dulu sekitar 7 jam. Saya manfaatkan untuk bertemu beberapa kawan. Ya, apalagi kalau bukan sharing dan diskusi. Saya memang senang dua hal itu, sambil foto-foto di tempat yang indah-indah atau bersejarah.

Di sana, saya berbagi tentang menulis. Itu materi paling klasik dan kontinyu dalam karier saya selama 20 tahun terakhir. Saya senang sekali jika bisa berbagi ide kepada teman-teman dalam menulis. Kenapa menulis? Karena dengan menulis mereka akan bisa mendapatkan banyak hal.

Sebagai contoh saya sendiri. Saya bisa dapat program ke Australia itu salah satunya dari menulis. Aplikasi saya penuh dengan karya tulis, walaupun tidak semua di koran atau media terkenal. Banyak tulisan saya yang dimuat di Radar Halmahera, media yang tidak dibaca orang Jakarta. Tapi, saya konsisten menulis di situ untuk pembaca di kampung saya.

Jadi, bagi yang mau menulis sebaiknya jangan mikir ribet harus di media terkenal. Tulis di media apa saja yang mau muat. Tidak dapat honor tidak apa. Jadikan itu sebagai stepping stone alias batu loncatan untuk melangkah ke depan. Nah saya sendiri banyak dapat hikmah dari situ. Setidaknya ketika saya bisa ke Australia dan Amerika, itu tidak lepas dari menulis.

Setelah sharing, saya berangkat ke Saumlaki siangnya. Perjalanan sekitar 1.5jam. Tiba di sana, dijemput oleh Pak Pius, seorang kawan baik yang mengelola pembelajaran untuk komunitas adat. Selama beberapa hari itu, saya mendapatkan banyak informasi tentang perkembangan pendidikan di sana. Juga, budaya Tanimbar.
Teripang yang sedang dijemur untuk dikirim ke Surabaya dan luar negeri. Sekilo harganya bisa 2.5juta, bahkan lebih. Di luar negeri (kayak Taiwan, Korea, dll) teripang itu makanan khas yang bikin sehat

Kota Pantai Saumlaki dari kamar hotel yang saya tempati


Penjual ikan di Pantai Saumlaki, dekat Pelabuhan Saumlaki

Matakus


Dari Saumlaki saya ke Pulau Matakus, naik perahu tanpa semang-semang (tidak ada kiri dan kanannya). Satu tim kita ke sana. Di sana, kami diterima secara adat. Senang bisa diterima di sana. Di sana kami pun beri sambutan dan wawancara dengan beberapa tutor dan siswa. Intinya soal pendidikan keaksaraan di kawasan tersebut.

Desa Matakus terletak di Pulau Matakus. Pantainya indah. Pasirnya itu lembut. Selain Kuta Bali, saya kira Pantai Matakuslah yang terbaik pantainya. Enak buat duduk-duduk. Jika bisa dikelola, pantai ini bisa jadi terkenal banget.
Bersama seorang anak di Pantai Desa Matakus

Plang Desa Matakus


Saya juga menikmati makan kepala ikan segar. Ini paling saya suka. Maklum, saya orang lain dan senang dengan yang laut-laut. Beberapa kepala saya makan, sungguh lezat. Karena cintanya saya pada kepala ikan sampai semalam menjelang balik ke Jakarta, Pak Pius menghidangkan saya kepala ikan yang lebih besar. Luar biasa. Terima kasih Pak Pius.

Di Saumlaki saya dan Intan, wartawan muda, hadir dalam kegiatan keaksaraan. Tulisan Intan nantinya akan dipublikasi di medianya, juga akan dimuat dalam buku yang akan diterbitkan. Buku itu nanti akan saya edit juga sebelum cetaknya, agar sinkron dengan tulisan-tulisan lainnya.

Menanti tenggelamnya matahari yang indah di Saumlaki
Kadang, di Depok ini saya jadi teringat dengan Saumlaki. Saat sore menjelang, saya duduk di luar kamar hotel sambil memandang ke laut. Matahari sudah mau turun, tapi saya masih duduk dan sedikit merenung. Mulai dari disertasiku yang belum kelar, hingga berbagai capaian hidup yang belum juga terlihat.

Tapi, sore di pantai Saumlaki mengajarkan saya untuk bersabar. Ya, bersabar seperti bersabarnya matahari yang harus turun di ufuk barat agar di malam nanti terlihatlah bulan. Bersabar adalah kunci, itu yang saya dapat sore itu. Tanpa kesabaran, semua akan sia-sia. Sehebat-hebatnya manusia jika sabar dia tak punya, dia akan jadi sembrono, dan kelak akan menyesal.

Mungkin, kesabaran seperti matahari ini perlu ada dalam tiap kita. Betapa dalam hari-hari yang kita jalani, kita sering diperhadapkan pada kecepatan. Cepat, cepat, dan cepat. Kita pun jadi kayak robot. Padahal, apa susahnya sih sedikit lebih santai, dan menikmati proses hidup ini? Bukankah cepat atau lambat juga sore akan tetap berakhir, malam akan tiba, dan pagi akan menjelang? Semua sudah begitu hukum alamnya.

Namun yang pasti, kesabaran haruslah menjadi perisai diri kita masing-masing. Siapa yang ingin dirinya kuat dan tahan lama--dalam semua geliat kehidupan--maka dia harus mampu bersabar, walaupun kadang ketergesaan sering menggoda dia untuk menjadi pilihannya dalam menjalani hidup. Bersabarlah, kawan. Yakinlah bahwa matahari akan tenggelam juga di sore hari, malam akan tiba, dan pagi akan datang.

Penumpang kapal di malam hari. Nggak keliatan, tapi ada kan ya?

Malam-malam Menerjang Laut


Setelah program kelar di Matakus, kami balik ke Saumlaki. Hari sudah magrib. Satu jam di laut yang gelap. Seorang nahkoda bercerita dengan seorang kawan kami. Dia bilang bahwa dia sebagai nahkoda perahu itu sudah biasa di laut tapi kalau ada penumpang yang takut-takut apalagi teriak-teriak kalau di laut, dia mau tak mau juga terpengaruh.

Oh, berarti seorang nahkoda itu terpengaruh juga oleh kondisi penumpangnya. Jika dibawa ke kehidupan nyata, itu berarti bahwa seorang pemimpin--seberani apapun dia--tetapi dia juga manusia biasa yang sedikit banyak akan terpengaruh dari anak buahnya. Jika anak buahnya pemberani, dia akan makin berani, tapi sebaliknya jika anak buahnya penakut, dia juga bisa-bisa jadi penakut.

Sebagai penumpang, kita percaya dengan nahkoda kapal. Pelampung tidak ada. Tapi, harapan dan kepercayaan kami ada. Memang berat di laut yang jauh dari ibukota. Apa-apa yang ideal kadang tidak ada di sini. Kehidupan di pulau yang jauh dari ibukota ini lebih berdasar pada intuisi. Jika nahkoda perahu--enaknya sih nyebutnya nahkoda kapal ya--yakin bahwa laut tidak ada masalah, dia akan jalan. Jika feeling dia kurang sedap, maka dia akan urung.

Dalam hidup juga begitu. Kita semua adalah nahkoda bagi "kapal" diri kita masing-masing. Maka, janganlah menakut-nakuti diri dengan hal-hal yang sepele. Sebaliknya kuat-kuatkanlah diri menghadapi berbagai tantangan hidup. Semakin yakin, semakin kuatlah kita. Begitu kira-kira, pesan yang bisa kita ambil dari laut Saumlaki. *

No comments:

Post a Comment

Bergembira di Teko Literasi

Saya beruntung berkawan dengan banyak orang dan komunitas. Salah satunya adalah Teko Literasi, sebuah kumpulan anak muda Indonesia dari be...