Type something and hit enter

author photo
By On
Salah satu sesi yang dibawakan utusan Indonesia, Desi Hanara

Sejak kecil nama "Bangkok" hanya saya kenal lewat ayam peliharaan saya. Ayam itu sangat pintar, kadang dia bangunkan saya di waktu subuh dengan mendekat ke pintu rumah. Ayamnya juga kuat. Cuma sayangnya dia dicuri orang setelah saya pindah ke Jakarta melanjutkan sekolah menengah pertama.

Perjalanan ke Bangkok kali ini merupakan yang kedua. Pertama kalinya dua tahun lalu. Sama-sama diundang oleh World Learning, sebuah lembaga berbasis di Washington, D.C. yang mengelola program dari U.S. Department of State alias Kementerian Luar Negeri.

Jika tahun 2017 saya hadir dalam kegiatan "Asia Pacific Think Tank Forum", kali ini di 2019 saya hadir dalam kegiatan "Tolerance & Coexistence 2.0". Kegiatannya hampir sama dengan dua tahun lalu; ada seminar besar, kemudian seminar kecil alias workshop, dan penutupannya di atas kapal yang menyusuri sungai Cao Praya selama sekitar dua jam.

Utusan Indonesia

Dalam catatan saya, orang Indonesia yang hadir dalam kegiatan ini ada 12 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Amal Hasan, Wiwin Siti Aminah, Nur Kafid, Fransiska Widyawati, Anita Wahid, Zainal Anwar, Desi Hanara, Ikfina Maufuriyah, Dicky Sofjan, Anna Christi Suwandi, dan Atina Rosydiana. Secara umum, pesertanya dari tiga kalangan, yaitu alumni Professional Fellows on Demand, pembicara seminar, dan peserta. Yang menjadi pembicara dari Indonesia adalah Desi Hanara dan Anita Wahid.

Bertemu sesama Indonesia di negeri orang memang sesuatu. Kita bisa bercerita tentang banyak hal, mulai dari tema acara ini, kesan tentang negara tersebut, hingga berbagai hal terkait Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, saya banyak bercerita dengan Dicky Sofjan, seorang associate professor di UGM. Misalnya, dalam perjalanan--yang macet itu--dari hotel ke sungai Cao Praya, kami bercerita tentang dunia akademik Indonesia, problem kalangan intelektual publik yang kesulitan beradaptasi dengan dunia akademik, serta berbagai topik keislaman dan keindonesiaan.

Salah satu masalah intelektual publik di dunia akademik adalah dalam menulis paper akademik. Mereka yang sudah dikenal sebagai "tokoh publik", adakalanya menulis begitu saja, mengalir, dan tidak begitu ketat dalam urusan referensi. Problemnya datang ketika mereka melanjutkan pendidikan tinggi, dan kebiasaan menulis populer itu terbawa-bawa. Akhirnya, hasil tulisannya pun ditemukan plagiarisme yang di atas batas kompromi. Mungkin tidak plagiat secara langsung, akan tetapi jika tidak ditulis referensi dari bacaan yang ada, bisa jadi akan terkena delik sebagai plagiat.

Itu hanya satu bagian dari obrolan saya dengan beliau. Kami juga bercerita tentang kampus Islam Internasional yang sementara dibangun. Belum banyak orang yang mau pindah ke situ karena belum jelasnya statusnya. Para dosen yang diajak ke situ masih berpikir, apakah kampus tersebut akan berlanjut terus--misalnya jika mereka harus melepas kampus namanya--ataukah tidak. Ketidakpastian itu membuat beberapa dosen yang diajak menjadi dosen tetap di kampus internasional tersebut masih maju mundur. Tapi prinsipnya kita setuju dengan adanya kampus tersebut.

"Core of the Core"


Bagi kita yang hidup dunia akademik, seminar sudah biasa. Tapi kadang saking sudah biasanya banyak yang tidak mencatat poin penting dari seminar tersebut dengan alasan mungkin karena sudah tahu, sudah paham, atau memang lagi malas aja mencatat. Karena toh bisa direkam juga. Karena toh bisa dilihat juga jika ada yang live. Tapi kegiatan kemarin tidak live, maka tidak banyak yang dapat dirujuk di media sosial, misalnya.

Saya pribadi membiasakan diri untuk mencatat, karena saya sadar ingatan saya tidak begitu kuat. Saya sering lupa nama orang, bahkan kadang juga lupa wajah orang. Parah banget. Pernah saya ketemu seorang keluarga besar saya, dan saya lupa apakah beliau yang saya maksud atau bukan. Ternyata, beliau masih ingat saya. Padahal usianya sudah 70-an.

Jadi, berkaca pada hal itu, maka saya mencatat. Ada banyak yang saya catat, tapi tidak semuanya bisa saya catat. Saya mencatat beberapa poin penting dari Robert Post, Pornpen (kawan saya sesama alumni U.S.), Mohamed Elsanousi, Michael Bak, Jonah Blank, dan sebagainya. Poin dari Post misalnya membahas tentang pentingnya "embracing diversity" sebagai sarat penting dalam kehidupan koeksistensi di media internet--dan dunia nyata juga sih. Juga, "mutual understanding" sangat penting, karena kalau tidak ada saling paham maka yang ada adalah saling tidak paham. 

Dari kawan saya, Pornpen, saya ingat dia bahas tentang "limitation of freedom" atau pembatasan kebebasan di beberapa negara. Tidak semua negara bisa bebas-bebas orang bicara, apalagi dalam isu religious freedom. Ada yang harus sembunyi-sembunyi karena sensitif. Dia juga membahas tentang "opennes in education system in Southeast Asia", yaitu pentingnya keterbukaan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara. Nah, ini juga tidak semuanya sama karena masing-masing negara punya hal-hal yang terbuka dan hal-hal yang tertutup. Tapi, dalam hal toleransi, pendidikan haruslah menanamkan toleransi sejak dini.

Salah satu materi dari kawan saya, Napan tentang pentingnya lovespeech ketimbang hatespeech

Materi lainnya dibawakan oleh Mohamed Elsanousi dari Amerika. Sambil dengarkan materinya, saya japrian dengan Imam Shamsi Ali. Ternyata, Elsanousi adalah adik kelas Imam Shamsi di Pakistan yang kini aktif dalam berbagai acara interfaith di Amerika. Elsanousi berbicara tentang anti-semitisme yang meningkat di beberapa negara (saya sempat hadir dalam panel tentang ini di U.S. Department of State), penyerangan terhadap Islam dan Kristen yang juga menimpa beberapa negara. Singkatnya, penyerangan kepada umat beragama itu terjadi di mana-mana, tak pilih-pilih agama. 

Elsanousi kemudian memberi solusi pentingnya respek kepada sesama dan promosi pluralisme, membangun kurikulum yang mengampresiasi pluralisme, membuat space dimana manusia dapat saling berinteraksi, melakukan dialog antarkeyakinan, menciptakan kultur perdamaian dan dialog, dan pentingnya deklarasi antar tokoh agama untuk perdamaian.

Pemateri lainnya, Jonah Blank dari RAND, termasuk yang saya sukai. Paparannya menarik minat saya. Blank bercerita tentang white supremacy di berbagai negara seperti di Amerika dan New Zealand, dan peran jurnalis yang sangat penting dalam menciptakan berita. Jika jurnalis salah buat berita, cepat sekali pengaruh buruk melanda netizen. Itulah kenapa kata dia, penting bagi jurnalis untuk menampilkan good news ketimbang bad news. 

Saat ini problemnya banyak orang menjadi media sosial sebagai referensi. Padahal, kata dia, medsos itu bukanlah referensi, bahkan bukan sumber berita. Sumber berita harusnya dari orangnya langsung. Banyak sekali berita yang simpang siur dari media sosial yang kemudian menjadi bahan berita. Akhirnya kita disuguhi hal-hal yang tidak pasti, bahkan banyak berita bohong yang tersebar bersumber dari medsos. Untuk itu, maka jurnalis harus betul-betul verifikasi sumbernya agar tidak menyebarkan berita yang negatif. 

Desi Hanara dari Indonesia bercerita soal peran parlemen dalam isu freedom of religion or belief. Ia banyak cerita bagaimana parlemen ASEAN yang sangat aktif untuk itu. Bahkan, pihaknya juga menyediakan beberapa bahan yang diperlukan oleh anggota dewan dalam isu terkait. Dalam isu ini, Desi sudah sangat berpengalaman terbang dan berbicara kemana-mana. 

Anita Wahid, salah seorang putri Gusdur, juga bercerita tentang perkembangan politik Indonesia khususnya pasca kasus Al-Maidah 51 yang diucapkan Ahok. Kata Anita, imbas dari kejadian tersebut adalah terbelahnya masyarakat pada "us" versus "them", kita versus mereka, atau yang kadang disebut sebagai "pro government" versus "pro opposition." Solusi untuk itu, salah satunya kata Anita dengan membuat pendidikan publik lewat berbagai cara seperti yang telah ia lakukan di beberapa tempat di Indonesia. 

Selain itu, ada banyak lagi peserta lain yang berbicara yang masih luput untuk dicatat. Tapi, semua pembicara umumnya bersepakat bahwa isu toleransi dan koeksistensi atau hidup bersama itu sangatlah penting saat ini di media sosial. Medsos kita banyak yang gaduh karena berbeda ini dan itu, padahal jika kita lebih tenang, banyak hal dapat terselesaikan agar keakraban sebagai warga negara dapat hadir di semua sisi.

Saya di depan Dosa King

"Dosa King"

Salah satu yang menarik selama di Bangkok adalah saya dan kolega saya dari Maros, Amal Hasan, mencari makan di hari pertama. Kami jalan kaki dan cari-cari tempat makan yang halal. Bukan apa-apa, kami ingin dapat kepastian saja soal makanan, karena biar gimana pun, yang namanya makanan halal itu akan berpengaruh pada diri kita juga.

Kami pun dapat makanan halal itu. Setidaknya ada tulisan HALAL berbahasa Arab di situ. Kami makan nasi basmati dengan ayam. Rasanya enak. Di depannya itu ada restoran "Dosa King" yang kalau diterjemahkan itu artinya raja dosa. Saya sempat berfoto di situ. Belum sempat masuk. Mungkin suatu saat bisa mampir juga menikmati makanan Punjab versi vegetarian tersebut.

Satu lagi yang mungkin orang akan bertanya terkait Bangkok adalah soal lady boy atau "laki-laki cantik." Tahun 2017 saya sempat berfoto dengan lady boy itu saat mereka selesai tampil di atas kapal, tapi kemarin tidak ada saya lihat. Ada sih yang tampil tapi saya kurang tahu apakah mereka betul-betul perempuan atau laki-laki. Karena sudah kemaleman juga, dan sudah kali kedua naik di kapal itu, saya jadi rasa biasa saja.

Tapi di malam itu, perjalanan ke restoran itu saya lihat banyak orang cantik di pinggir jalan. Mungkin sedang menunggu temannya untuk menikmati malam, atau bisa jadi sedang melepas lelah dengan berdiri di depan hotel. Tak jauh dari keramaian itu ada beberapa penjual obat kuat merek Levitra, Sidegra, Viagra, Cialis, dan Vimax. Entah ada korelasi antara fenomena itu atau tidak, saya kurang tahu juga. Yang jelas, Bangkok termasuk kota yang bercahaya, dan banyak jadi destinasi para pelancong.

Oya, waktu di Ternate, saya pernah ketemu seorang lelaki di mal. Ia bercerita, katanya ia sedang menabung sampai 300 juta agar bisa pergi ke Bangkok. "Buat apa emang?" tanya saya. "Gini, saya itu ingin operasi," jawab dia sambil menunjukkan bagian tubuh yang ingin dia permak abis. Saya hanya bisa merenung kenapa laki-laki itu bisa berpikir ingin mengubah dirinya menjadi wanita. Bisa jadi, karena sebuah alasan yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu, "...saya itu sebenarnya perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki." *

PS. Terima kasih full buat World Learning team di Washington, D.C. yang luar biasa, para staf Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, teman-teman alumni Professional Fellows dan alumni Bangkok 2019.

Click to comment