Saturday, December 28, 2019

Kata Pengantar Buku La Ode Mu'jizat

La Ode Mu'jizat dan bukunya

Dalam dunia yang serba instant ini tidak mudah untuk serius menjadi penulis. Orang masih lebih senang berbicara, atau kalaupun menulis mereka lebih senang menulis yang singkat-singkat seperti dalam bentuk status pendek. Namun, langkah La Ode Mu’jizat yang mengumpulkan tulisannya menjadi buku patut diacungi jempol. Tidak semua orang bisa, dan lelaki dari tenggara Pulau Sulawesi beranak dua tersebut membuktikan bahwa dia bisa.

Setidaknya, ada empat hal penting yang disorot oleh La Ode Mu’jizat dalam buku Cinta Delapan Musim ini. Pertama, soal budaya Buton. Dalam baris-baris tulisannya, Mu’jizat membahas secara populer budaya Buton yang ia lihat, dengar, dan rasakan dan dikaitkan dalam berbagai hal di masyarakat. Upaya untuk mengangkat local wisdom—jika bisa disebut seperti itu—termasuk jarang dilakukan para penulis kita. Dalam konteks ini, langkah Mu’jizat patut diacungi jempol karena hendak menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Nusantara kita di era modern ini.

Kedua, kaitan tokoh besar dengan diri kita. Ada banyak tokoh besar yang diangkat oleh Mu’jizat dalam tulisan-tulisannya, sebutlah seperti Ken Arok, Ibnu Batutah, Albert Einstein, Michael Jordan, Valentino Rossi, dan juga tokoh “serba bisa” doraemon. Lantas, apa makna mengenal para tokoh itu buat diri kita?

Dalam buku ini, Mu’jizat mencoba mengaitkan mereka-mereka dengan sejarah, budaya, dan dengan dirinya sendiri. Ada kesan bahwa Mu’jizat tidak ingin sekedar tahu siapa mereka, tapi dia ingin membawa para tokoh tersebut ke dalam—mengutip judul buku Leonard Y. Andaya, The World of Maluku—“the world of Mu’jizat” atau “dunia La Ode Mu’jizat.”

Bagaimanakah “dunia La Ode Mu’jizat” tersebut? Tentu saja yang paling tahu adalah diri Mas La Ode. Akan tetapi, aktivitasnya sebagai trainer, motivator, dan pegiat pendidikan dapat menjadi fakta bahwa dia memiliki dunianya sendiri dan sepertinya ingin mengembangkan sebuah formula hidup berdasarkan lembar-lembar perjalanan hidupnya. Buku ini, kendati kumpulan tulisan, akan tetapi dapat menjelaskan tentang sosok sang penulis.

Ketiga, implementasi nilai-nilai Islam dalam keseharian. Penulis buku ini memiliki keyakinan yang utuh bahwa Islam adalah solusi, dan olehnya itu ia mencoba membawa Islam dalam perspektifnya. Tentu saja ini hal yang menarik di tengah dinamika antara “agama” dan “negara” di negeri kita, ada kelompok tertentu yang tidak senang jika Islam terlalu dibawa-bawa dalam urusan duniawi—sebutlah negara. Akan tetapi, kelompok lain tidak menafikan bahwa Islam sebagai sebuah sistem hidup dapat diaplikasikan oleh manusia dalam berbagai segi kehidupannya.

Keempat, cinta dan nasihat. Mu’jizat juga senang berbicara cinta. Dalam buku ini ia kumpulkan beberapa tulisannya—yang tersebar di jagad laman dan sosmed tersebut—dalam sebuah kesatuan tentang cinta. Seorang trainer memang sudah selayaknya tahu dan bisa berbicara tentang cinta. Dalam buku ini, sang penulis tidak ingin ketinggalan mengekspresikan bagaimana cinta dalam pandangan subyektifnya.

Sebagai karya kreatif, saya mengucapkan selamat kepada Mas La Ode Mu’jizat atas terbitnya buku ini. Tentu saja proses belajar—dalam banyak hal, termasuk menulis—harus terus digeluti untuk menghasilkan hasil olahan pikiran yang bermakna dalam teknik menulis dan juga olahan data-data dalam tulisan. Untuk itu, buku rujukan yang dipakai sebagainya menggunakan yang lebih primer seperti buku-buku utama dalam bidang-bidang yang hendak ditulis.

Kehadiran La Ode Mu’jizat di Agupena cukup membantu publikasi laman agupena.or.id yang digawangi oleh saya dan Pak Sawali Tuhusetya. Di laman ini, secara serius kami memublikasikan karya-karya teman-teman penulis—terutama anggota Agupena—untuk mendukung persebaran publikasi yang luas di laman tersebut. Kendati sampai hari ini nama saya masih di urutan satu sebagai penulis produktif di laman tersebut, saya berharap ke depannya Mas La Ode Mu’jizat dapat lebih produktif dari saya, dan itu harus betul-betul diperjuangkan oleh Mas Mu’jizat.

Buku yang ditulis dengan bahasa yang ringan ini dapat menjadi inspirasi dan panduan untuk hidup damai dan bahagia dengan tak melupakan kearifan Nusantara. Buku ini sekali lagi menjadi bukti bahwa kendati beraktivitas jauh dari ibukota Jakarta, tapi seseorang bisa tetap kreatif menulis buku. Artinya, tempat—dimanapun kita mukim—bukanlah masalah untuk menulis selama ada kemauan yang terjaga. Selamat untuk Mas La Ode Mu’jizat.
Depok, 4 Juni 2017
Yanuardi Syukur
Mahasiswa Program Doktor Antropologi FISIP UI/Pengurus Pusat Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena)


Kata Pengantar Buku Rosaria Indah



Kata Pengantar
Belajar dari Tekad Anak Indonesia di Australia
Oleh Yanuardi Syukur

Indonesia kaya dengan nilai-nilai positif yang sangat membantu anak bangsanya untuk menggapai cita-cita. Pepatah seperti “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, atau “siapa bersungguh-sungguh, dia dapat,” dan lain sebagainya, menjadi semacam “mantera” yang sangat ajaib dan mengubah orang biasa menjadi luar biasa, orang pinggiran (periphery) menjadi orang pusat (center).

Dari sekian banyak anak bangsa yang belajar di luar negeri, salah satu di antaranya adalah dokter Rosaria Indah yang saat ini tengah bergelut menuntaskan pendidikan doktoralnya dalam bidang pendidikan profesi kesehatan di University of Sydney, Australia. Rosaria adalah tipikal “anak daerah” (Aceh) yang punya semangat tinggi untuk belajar dan tidak tanggung-tanggung, ia menuntaskan pendidikan sarjana dari Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), kemudian master dari Maastricht University (Belanda), dan sedang program doktor di University of Sydney (Australia). Pengalaman belajar di tiga kampus tersebut tentu saja tidak mudah, tapi bagi seorang Rosaria—yang biasa disapa Ocha—ia bisa menuntaskan itu dengan semangat yang tinggi dan dibarengi dengan doa.

Rawat Motivasi Belajar

Hal pertama yang dapat kita petik dari buku karya Rosaria ini adalah soal motivasi belajar. Jika melihat ke belakang, para tokoh bangsa kita punya memiliki semangat belajar dan pergerakan yang tinggi. Bung Karno misalnya, ia belajar di THS (sekarang ITB), dan menjadi insinyur dari kampus tersebut. Bung Hatta menyelesaikan doktorandus dari Belanda dan terlibat dalam perdebatan wacana kebangsaan di berbagai surat kabar. Kedua tokoh besar ini—yang satu belajar di dalam negeri dan satu lagi di luar negeri—sama-sama memiliki semangat belajar yang tinggi, semangat berjuang yang luar biasa, serta semangat untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sangat diversitas ini.

Apa yang membuat Bung Karno dan Hatta bersemangat belajar? Besar kemungkinan adalah kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa. Melihat ketimpangan yang melanda masyarakat Indonesia, keduanya kemudian turun tangan dan ambil bagian dalam upaya untuk membawa bangsa ini merdeka, berdaulat, dan sejahtera. Semangat keduanya tentu saja sangat penting untuk diketahui, dipahami, dan dihayati oleh pemuda Indonesia, bahwa ketika mereka mendapatkan kesempatan belajar—di dalam atau luar negeri—sesungguhnya mereka mengemban amanat rakyat untuk belajar sebaik-baiknya, serta pada saatnya nanti memberikan sebanyak-banyaknya untuk kebangkitan bangsa.

Dalam buku ini, dokter Ocha telah berupaya untuk itu, menunjukkan bahwa: man jadda wajada! Siapa bersungguh-sungguh, dia dapat. Siapa belajar bahasa Inggris secara serius, dia besar kemungkinan bisa kuliah di negeri berbahasa Inggris. Perjuangan dokter Ocha sejak memutuskan untuk lanjut kuliah di Belanda dan Australia menjadi sangat inspiratif bagi para pemuda Indonesia, bahwa mereka semua memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kuliah di dalam maupun luar negeri. Seberapa besar peluang yang hadir sangatlah dipengaruhi oleh seberapa besar usaha yang dikeluarkan.

Membudayakan Menulis

Dalam buku ini, dokter Ocha telah memberikan teladan dalam hal menulis. Pengalaman berkuliah di luar negeri tentu saja tidak gampang, dan pastinya ada banyak hal yang tidak ditemukan di Indonesia, dan itu menarik untuk dibagi kepada sesama. Seseorang yang belajar di Australia misalnya, dapat menuliskan bagaimana pengalamannya ketika baru tiba di benua kangguru tersebut, bagaimana berdialog dengan orang Australia—yang memiliki bahasa Inggris yang khas—dan juga bagaimana menjalani kehidupan perkuliahan baik saat sendiri atau bersama keluarga. Menyekolahkan anak di negara tersebut juga sangat menarik untuk dibagi, seperti juga pengalaman mengumpulkan receh-receh dollar Australia saat bekerja di sana.

Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh dokter Ocha kemudian ia tuliskan dalam buku ini. Secara umum, dalam buku ini ia menulis soal perjalanannya sebagai pembelajar, pengejar beasiswa, pemimpin, tips-tips menjalani kuliah PhD, serta berbagai isu yang ia minati ketika kuliah. Saya banyak teman yang kuliah di berbagai negara akan tetapi tidak semua bisa—dan berhasil—menuliskan ide-idenya dalam bait-bait halaman. Entah apa kesulitan yang dihadapi oleh pelajar lainnya sampai terasa sulit menuliskan pengalamannya sendiri, akan tetapi jika seseorang berkonsentrasi untuk menulis pengalamannya yang dikaitkan dengan isu-isu kontemporer, rasanya akan lebih mudah ia tuntaskan tulisannya tersebut.

Ada banyak buku yang beredar di toko dan rak-rak buku terkait pengalaman belajar. Ada yang menulis pengalaman kuliah, pengalaman ikut short course, pengalaman travelling, atau sekedar kajian pustaka tentang negara tertentu kendati mereka tidak pernah berkunjung ke negara tersebut. Publikasi pengalaman ini tentu saja sangat penting untuk memperkaya khazanah budaya literasi kita yang jika dibandingkan dengan negara-negara besar lainnya kita masih rendah. Maka, jika para pelajar membiasakan menulis—entah itu pengalaman atau ide-ide dan hasil risetnya—pastinya akan bermanfaat untuk akselerasi budaya literasi kita, apalagi saat ini kita tidak kekurangan bahan dengan hadirnya google yang setia membantu data apa yang kita butuhkan.

Namun, walaupun banyak buku pengalaman belajar telah ditulis, buku karya dokter Rosaria Indah ini menarik paling tidak dalam beberapa hal. Pertama, sebagai motivasi buat anak bangsa bahwa mereka bisa menggapai cita-cita setinggi mungkin. Ocha yang orang Aceh—jauh dari pusat kota Jakarta—saja bisa melanjutkan pendidikan tinggi dan terus berprestasi, kenapa anak bangsa lainnya tidak bisa? Kedua, “pengalaman adalah guru terbaik” masih relevan dalam konteks berbagai cerita nyata yang telah dialami untuk menjadi teladan, hikmah, bahkan pengingat (reminder) bagi orang lain. Apa yang ditulis dalam buku ini merupakan kisah nyata, cerita real yang dialami oleh seorang dokter yang berjuang bersama suami dan anaknya untuk bisa struggle for life di negeri orang. Hal ini tentu saja sangat menginspirasi secara umum untuk mereka yang sedang berjuang untuk kuliah di luar negeri, khususnya bagi mereka yang akan kuliah di Australia.

Kembali Menguatkan Cita-Cita

Cita-cita ibarat roda; kadang di atas kadang di bawah. Kadang cita-cita itu kuat tapi sering juga dia lemah. Cita-cita bisa kuat manakala kita mendapatkan penguat dari dalam diri atau supporting dari lingkungan sekitar. Bagi mereka yang sedang down, membaca buku ini mereka bisa mendapatkan suntikan semangat bahwa dunia belum berakhir, dan selama nafas masih ada yang namanya kesempatan itu selalu ada. Bahkan, jika satu kesempatan tertutup mereka masih punya kesempatan lainnya. Sedangkan bagi mereka yang sedang bersemangat menggapai cita-cita, membaca buku ini dapat menjadi penguat semangat mereka untuk berbagi cerita kepada publik. Ilmu dan pengalaman yang mereka punya mungkin terasa biasa-biasa saja—apalagi jika membandingkan diri dengan yang lebih hebat—tapi jika dituliskan pasti ada saja orang yang merasa, “wah, pengalaman ini penting sekali untuk saya”, atau “buku ini sangat berguna buat saya dalam menggapai cita-cita.”

Apa yang telah ditulis oleh dokter Rosaria Indah dalam buku ini diharapkan dapat kita ambil berbagai hikmah di dalamnya. Kita berharap dokter Ocha dapat terus berbagai ilmu dan pengalamannya untuk masyarakat Indonesia secara khusus, dengan terus meningkatkan kapasitasnya sebagai seorang dokter, pendidik, dan juga inspirator bagi masyarakat Indonesia. Ada banyak dokter yang telah berbagi dan jadi inspirasi bagi kita, namun jumlah itu masih sedikit dibanding banyaknya masyarakat kita yang membutuhkan teladan dan inspirasi. Selamat untuk dokter Rosaria Indah atas terbitnya buku ini. Mari kita ambil yang terbaik dari cerita-cerita ringan dokter Ocha, dan kita sebarkan inspirasi tersebut untuk kebangkitan bangsa Indonesia.
Jakarta, 18 Agustus 2017


Sedikit Pengantar tentang Bagaimana Menulis Artikel

Ilustrasi Tempo Institute

TIDAK ADA MANUSIA yang terlahir langsung bisa menulis. Semua berproses, semua belajar. Semua penulis baik yang telah tiada atau yang masih ada pasti pernah mengalami semua proses kepenulisan. Mereka memulai dengan minat, kemudian mencoba-coba. Gagal. Mereka coba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya, pada titik tertentu dari proses itu, mereka melahirkan sesuatu yang menurut orang lain sangatlah inspiratif dan luar biasa.

Mencari Inspirasi

Ada yang bilang, inspirasi tidak perlu dicari. Ada betulnya. Tapi tidak sepenuhnya betul. Bagi orang tertentu, inspirasi bisa datang sendiri. Tak perlu dicari-cari. Akan tetapi bagi orang lain, inspirasi haruslah dicari. Mereka mencari dengan cara baca buku, diskusi, baca status atau tweet orang di Facebook atau Twitter, dan seterusnya. Tidak ada yang salah dari mereka yang mencari inspirasi atau mereka yang menunggu inspirasi.

Sebagai penulis pemula, saya mencari inspirasi dengan beberapa cara. Pertama, jalan-jalan. Saya termasuk lelaki yang suka jalan-jalan. Sejak kecil, saya yang dibesarkan di pinggir pantai terbiasa berjalan dari rumah ke sebuah tanjung untuk mencari ikan, atau kepiting. Tak jarang, saat jalan-jalan di pantai itu kaki saya terkena duri babi, sebuah binatang laut berduri yang kalau kena kaki harus—maaf, dikencingi—agar bisa sembuh. Pengalaman di pantai itu selanjutnya berpengaruh pada saya ketika harus merantau di usia 11 tahun ke Jakarta dan mengenal seluk-beluk ibukota yang segala hal ada.

Suatu ketika saya lihat buku bekas yang murah. Saya beli, dan hasilnya adalah saya membuat buku baru dengan topik dengan mengambil intisari penting dari buku itu kemudian saya mengolah dengan data-data tambahan. Itu karena jalan-jalan. Tak jarang juga saya menulis sebuah artikel di koran setelah mendapatkan inspirasi dari jalan-jalan ke kota lain, atau sekedar di tempat-tempat tertentu yang sepi. Sepi kadang menakutkan, tapi kadang juga memberanikan.

Kedua, waktu di Jakarta saya hobi baca-baca di Gramedia Blok M. Paling tidak satu bulan sekali saya ke toko buku tersebut untuk membaca 30 Kisah Teladan karya KH. Abdurrahman Arroisi atau Asterix. Sesekali saya juga baca buku-buku politik yang sedang hangat diperbincangkan orang. Ketika membaca saya semaksimal mungkin selain menghibur diri juga berupaya menangkap apa inspirasi atau hikmah yang dapat diambil—paling tidak untuk diriku sendiri. Kisah-kisah teladan sangat berpengaruh bagi kepribadian saya di masa-masa remaja dan rasanya sampai sekarang.

Ketika kuliah di Makassar, saya juga menjadwalkan diri ke toko buku. Gramedia Mal Ratu Indah adalah salah satu tujuan saya untuk baca buku disamping beberapa toko buku tua lainnya yang menjual buku-buku dengan harga murah. Saat baru dapat beasiswa saya biasanya ke tokoh buku murah untuk beli buku seharga Rp.2.000 sampai Rp.20.000. Di atas harga itu biasanya saya memilih untuk berpikir dua kali, atau saya coba baca dan rekam apa intisari dari buku ‘mahal’ tersebut. Kalau lagi kosong, saya juga membiasakan diri ke Perpustakaan Unhas. Saya suka berlama-lama di lantai buku referensi yang jarang disinggahi mahasiswa yang membuat buku-buku itu berdebu, bahkan beberapa di antaranya jadi santapan rayap.

Memulai Menulis

Apa cara terbaik untuk jadi penulis? Setelah membaca, cara selanjutnya adalah menulis. Semua penulis menjadikan menulis adalah bagian dari kehidupan mereka. Memulai menulis memang susah-susah gampang. Kadang saat lagi semangat tiba-tiba mood menulis jadi hilang karena terganggu sesuatu hal. Gangguan dalam menulis memang banyak, akan tetapi semua itu harus kita tepis dengan berkomitmen pada tulisan.

Secara pribadi, saya menguatkan komitmen saya dalam menulis untuk berdakwah. Saya meyakini bahwa menulis adalah bagian dari sarana dakwah yang efektif di dunia modern. Saat ini seiring dengan bertambahnya minat baca masyarakat, semakin bertambah pula kebutuhan bacaan yang baik dan menginspirasi. Walaupun kadang saya rasa buku-buku saya ‘tidak begitu baik’, akan tetapi saya selalu merasa bahwa dakwah lewat tulisan ini harus terus ditekuni, lepas dari apakah buku itu laku atau tidak lalu, best seller atau tidak, dapat penghargaan atau tidak, dan seterusnya.

Soal pengakuan manusia, hemat saya adalah konsekuensi logis dari usaha. Kita tidak perlu berharap pengakuan dari orang lain bahwa kita penulis hebat. Cukup kita berusaha menulis dengan sebaik-baiknya, dan diikuti dengan semangat untuk terus belajar dan menjauhi sifat tinggi hati, itu sudah cukup untuk berproses jadi penulis. Semua penulis di saat yang sama adalah pembelajar. Maka mereka juga harus tetap membuka hati dan pikiran untuk menampung masukan-masukan dari berbagai pihak. Rasa puas dalam belajar sebaiknya diminimalisir, agar jiwa kita senantiasa tertanam sifat fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Dakwah lewat menulis adalah kebaikan, maka baik sekali jika kita meniatkan setiap tulisan kita untuk meraih keridhaan Allah.

Jika semangat sudah ada, maka segeralah menulis. Jangan tunda lama-lama. Jika telepon genggam yang kita pakai bisa untuk menulis note, maka menulis di situ juga bisa. Atau, menulis di laptop juga bisa. Dulu waktu belum punya laptop, saya terbiasa menulis tiap kali online di warnet. Tulisan-tulisan itu kemudian saya posting ke beberapa milis dan teman di jejaring Friendster. Ada yang memberikan tanggapan ada juga yang tidak. Tapi saya selalu merasa senang manakala sebuah tulisan selasai dan dapat dibagi ke orang lain.

Memperkaya Tulisan

Tulisan yang sudah jadi haruslah diperkaya dengan berbagai sumber. Para motivator kepenulisan biasa menasihati, “tulis dengan hati, edit dengan kepala.” Maksudnya, tulislah segala sesuatu secara mengalir dari hati. Jangan pedulikan dulu apakah diksinya bagus atau tidak dan datanya sudah valid atau belum. Tulis saja sampai selesai! Jika sudah selesai, baru tulisan itu diedit lagi atau diperkaya dengan berbagai bahan.

Jika menulis artikel di koran, sebaliknya jangan cuma pendapat pribadi. Sertakan juga pendapat para ahli, hasil penelitian dari berbagai jurnal, atau kutipan-kutipan dari buku. Sumber dari media massa juga bisa, akan tetapi sebaiknya pilihlah media massa (cetak atau online) yang terpercaya. Adapun sumber-sumber dari blog, sebaiknya diminimalisir, kecuali yang ditulis oleh penulis yang benar-benar ahli di bidangnya dan blog tersebut memang otoriatatif miliknya. Hemat saya, untuk memperkaya tulisan opini, tiap orang baik sekali untuk mengutamakan jurnal ilmiah yang paling mutakhir, buku teks, atau media massa. Jadi, urutannya mulai dari yang berat-berat dulu, selanjutnya yang ringan.

Jika bisa berbahasa asing, tentu kualitas tulisannya akan lebih baik. Memang tidak ada jaminan bahwa tulisan orang asing (atau yang berbahasa asing) lebih baik akan tetapi biasanya tulisan di jurnal internasional (sebagai contoh) telah melewati berbagai seleksi ilmiah yang sangat ketat. Olehnya itu maka kemampuan berbahasa asing juga pergi bagi tiap penulis yang sangat berguna untuk mempelajari pemikiran penulis di negara lain, atau untuk mengikuti berbagai event internasional. Umumnya di Indonesia, pembelajaran menulis kita dimulai dari organisasi lokal, kemudian nasional, regional dan internasional. Misalnya di FLP, kita ikut perekrutan anggota yang di situ diajarkan segala sesuatu tentang FLP dan cara menulis. Kemudian kita ikut berbagai event nasional seperti pelatihan menulis untuk jenjang andal yang dibawakan oleh beberapa penulis masyhur. Atau, kegiatan regional seperti Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang pesertanya dari beberapa negara serumpun Melayu. Selanjutnya, event-event internasional juga banyak diadakan, baik di Jakarta, Bali, atau Makassar. Program menulis di International Writing Program di University of Iowa Amerika adalah berkelas untuk diikuti. Tentu saja, ini membutuhkan kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Mengakhiri Tulisan

Kapan sebuah tulisan dianggap selesai? Dalam hal ini tiap orang bisa berbeda. Ada orang cepat menganggap tulisannya selesai dan tuntas, serta siap untuk dikirim. On the other hand, ada juga yang selalu merasa belum puas, dan cenderung bersifat perfeksionis. Saya punya kenalan, ia pernah menulis sebuah artikel ke koran nasional dan langsung diterima. Padahal ketika itu ia belumlah bisa dianggap ‘penulis lokal’ di daerah. Kenapa bisa diterima? Ternyata karena apa yang ditulisnya sangat pas dengan kebutuhan redaksi, jadi diterima. Saat itu, ia menulis tidak dalam waktu lama, kemudian ia memutuskan untuk kirim ke redaksi. Tapi ada juga yang berhari-hari menulis artikel—dihapus atas-bawah—tapi tidak juga dimuat ketika tulisan terkirim. Dalam hal ini, kita perlu menyadari bersama, bahwa tiap tulisan punya takdirnya masing-masing.

Paling tidak, sebelum mengakhiri tulisan, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal ini. Pertama, baca kembali judulnya. Apakah judul tulisan sudah bagus, mudah dipahami, relevan dengan isi atau tidak. Soal bagaimana membuat judul yang baik kita bisa belajar dari banyak penulis. Emha Ainun Nadjib sangat terkenal dengan judul yang menarik. Juga Mohamad Sobary, esais yang ‘rada mirip’ dengan Emha: kerap menampilkan budaya Jawa dalam tulisan-tulisannya. Judul-judul Goenawan Mohamad juga bagus; kadang singkat-singkat tapi ia diakui sebagai esai hebat. Selebihnya, para penulis fiksi biasanya punya kosakata yang unik yang baik untuk kita pelajari ketika menulis non-fiksi. Untuk itu, maka tetap membaca fiksi adalah penting selain membaca tulisan-tulisan dari penulis non-fiksi seperti Adian Husaini, Anis Matta, Yudi Latief, Radar Panca Dahana, atau Yusran Darmawan.

Kedua, baca kembali lead-nya. Lead atau kepala tulisan adalah tulisan pada paragraf pertama. Kita bisa memulai dengan berbagai macam lead seperti lead sejarah, kutipan, atau ayat suci. Menulis dengan lead sejarah berarti kita memulai paragraf pertama dengan cerita sejarah tentang obyek yang hendak ditulis. Lead kutipan bisa diambil dari kutipan seorang tokoh, ahli, atau individu tertentu yang relevan sebagai preambule sebuah tulisan. Lead dari kitab suci juga bisa. Akan tetapi, saya sarankan agar ketika memulai dengan kutipan ayat kitab suci disertakan juga tafsir singkat dari mufassirin tentang ayat tersebut. Bisa mengutip dari kitab Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Jalalain, Sayyid Qutb, atau mufassirin Indonesia seperti Prof. Dr. Mahmud Yunus, Prof. Dr. Hamka, Ahmad Hassan, atau Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Dalam menulis lead, kita juga bisa belajar dari model academic writing bahasa Inggris yang memulai dengan kontradiksi; setelah menjelaskan pendapat pertama (sebutlah itu tesis), selanjutnya pendapat yang berbeda dengannya (sebutlah itu antithesis). Dengan demikian, pembaca mendapatkan pencerahan bahwa ada dua pendapat terkait subyek yang hendak dibahas.

Membaca konten adalah hal ketiga yang sangat penting. Sebuah tulisan tidak ada gunanya juga tidak ada kontennya. Agar lebih mudah, konten sebuah tulisan berisi tiga ide utama. Misalnya, ketika membahas pentingnya melanjutkan pendidikan pascasarjana, kita memberikan tiga alasan. Contohnya: alasan pertama, karena persaingan masa depan adalah persaingan pengetahuan; kedua, kebutuhan relasi yang menunjang karir di masa depan; dan ketiga agar melatih cara berpikir yang rasional dan realistis. Ketiga hal ini merupakan inti dari pemikiran kita terkait lanjut studi S2 atau S3. Inti dari ketiga hal itu harus dikuatkan dengan berbagai data penunjang yang membuat kenapa tiga hal itu penting untuk diperhatikan.

Keempat, menutup tulisan. Tulisan yang telah jadi haruslah ditutup dengan sesuatu yang menarik. Ada yang menutup tulisan dengan kutipan, ada juga yang menutup dengan pertanyaan retoris (yang tidak perlu dijawab), atau ada juga yang menutup tulisannya dengan cerita. Pada dasarnya, menutup tulisan dengan memulai bisa saling mengisi satu sama lain. Untuk tulisan artikel yang hanya 3 atau 4 halaman, kita harus benar-benar bisa menampilkan tulisan yang koheren atau tersambung satu sama lainnya.

Menghadapi Penolakan

Bagi seorang pejuang, cinta ditolak itu biasa, apalagi tulisan yang ditolak. Cinta saja—yang notabene sangat asasi dalam hidup—mereka bisa hadapi dengan tegar, apalagi sekedar tulisan beberapa lembar yang tidak mendapatkan respon atau singkatnya ditolak. Saya teringat ketika pertama kali mengirimkan naskah ke sebuah penerbit di Jakarta. Waktu itu saya kirim 4 naskah buku. Setelah sebulan menunggu, naskah itu ditolak (saya lupa apakah ada suratnya atau tidak). Tapi, walau ditolak, saya tidak putus asa. Penolakan itu membuat saya terus bersemangat untuk menulis.

Belakangan hari, beberapa naskah saya dengan mudah diterima oleh penerbit. Ada yang saya kerjakan selama dua bulan, ada yang satu bulan, bahkan ada yang selesai dua minggu, satu minggu, bahkan kurang dari satu minggu. Untuk naskah-naskah yang saya minati, dan datanya mudah didapat, saya biasanya tepat waktu. Misalnya, saya bilang, “naskah ini insya Allah selesai dalam dua minggu.” Biasanya, kalau bilang begitu berarti saya bisa menyelesaikan kurang dari 14 hari. Jadi, sehari atau dua hari sebelumnya saya yakin naskahnya kelar.

Tapi, walau sering diterbitkan, tidak semua naskah bernasib sama. Setiap naskah punya takdir yang berbeda-beda. Saya meyakini itu. Pernah ada naskah yang saya rasa isinya biasa saja, akan tetapi diterbitkan. Tapi ada juga yang saya rasa sudah oke, tapi nyatanya tidak diterbitkan. Bahkan, sampai sekarang naskah saya pernah mengalami nasib sudah diterima oleh penerbit (tentu saja senang) akan tetapi pada akhirnya batal terbit dengan berbagai alasan. Maka, kalau naskah kita diterima oleh penerbit, baiknya jangan terlalu gembira dulu, karena masih ada proses selanjutnya. Kecuali kalau naskahnya sudah ada surat perjanjian, ada kavernya, atau sudah ada di toko buku, barulah ‘lebih enak’ kita tulis di status Facebook, “Alhamdulillah, naskah saya terbit, dst..”, atau kirim pesan di Whatsapp, “Akhirnya, naskah saya diterima sama penerbit.” Itu belum tentu terbit. Jangan senang dulu. Kecuali, naskahnya sudah jadi buku dan dipajang di toko buku.

Akhirnya, tiap orang punya sisi lebih dan sisi kurang. Ada yang pintar di judul tapi lemah di isi. Tugas kita adalah bagaimana mencari titik terkuat kita—apakah di judul, lead, isi, atau penutup—dan terus belajar. Ya, terus belajar adalah baik. Karena tiap pelajar punya masa depan yang berbeda-beda, seperti juga tiap penulis naskah punya nasib yang berbeda-beda pula.

Maros, 20 April 2016

Agama, Pendidikan, dan Apresiasi


Apresiasi 

Beberapa waktu yang lalu, aksi
walk out dilakukan oleh pianis terkenal Ananda Sukarlan ketika Gubernur DKI Anies Baswedan berpidato, telah mengundang pro dan kontra. Para pendukung Ananda berdalih bahwa itu merupakan sikap yang berani terhadap seseorang yang menang tapi lewat cara-cara politisasi agama dan rasis, sementara kelompok yang kontra berpendapat bahwa sikap lulusan Kolese Kanisius tersebut tidak menghormati tamu yang diundang secara resmi oleh almamaternya sendiri.

Sebagai orang Indonesia, kita perlu merenungkan dan berefleksi, apakah langkah walk out tersebut sudah sesuai dengan karakter kita atau bukan. Terlepas dari perbedaan yang ada, seharusnya kita tetap membudayakan sikap saling menghormati, saling mengangkat, saling membantu; bukan saling menjatuhkan dan saling menghinakan.

Agama Menghormati Tamu

Kita meyakini bahwa semua agama mengajarkan sikap penghormatan terhadap tamu. Siapapun yang bertamu harus dihargai, apalagi tamu tersebut diundang secara resmi oleh almamater kita. Secara sederhana, dalam kasus Ananda ini kita melihat bahwa pihak Kolese Kanisius tentu saja telah mempertimbangkan dengan mata mengapa mengundang Anies Baswedan yang seorang gubernur.

Kendati pun gubernur yang hadir itu adalah orang yang berbeda paham dan pilihan dengan kita itu tidak berarti bahwa kita tidak menghormatinya. Apalagi ini berada dalam konteks institusi pendidikan yang telah hampir satu abad menunjukkan dedikasinya untuk menciptakan orang Indonesia yang berbudi pekerti.

Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan dalam hal ini sama-sama tamu yang diundang oleh Kanisius. Indikasi sebagai tamu terlihat dari posisi kursi. Jika Ananda hadir sebagai alumni yang biasa-biasa saja maka mungkin ia tidak akan diberikan kursi VIP. Akan tetapi, karena kiprahnya yang mengharumkan nama bangsa di berbagai kancah internasional dalam bidang kemanusiaan dan musik, maka Ananda diberikan kursi terhormat. Pun demikian dengan Anies, yang kalau bukan gubernur tentu saja belum tentu akan diundang.

Pada poin ini, sebagai orang yang beragama dan tahu etika, maka penghargaan terhadap tamu haruslah diutamakan dan diperhatikan.

Pendidikan Mengajarkan Nilai

Amanat pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didiknya cerdas secara intelektual, akan tetapi punya kecerdasan secara spiritual dan emosional. Hal ini akan tercermin dalam bagaimana seseorang bersikap. Orang yang memiliki pendidikan tinggi seharusnya berkorelasi dengan ketinggian budi. Tanpa ketinggian budi seseorang akan menjadi arogan, egois, dan hanya mau menang sendiri.

Di Indonesia ini kita diajarkan untuk memilika nilai, etika, adab, sopan-santun atau tata krama. Hal ini terlihat begitu jelas dalam syair lagu Indonesia Raya karangan Wage Rudolf Supratman (1903-1938) yang mendahulukan “jiwa” ketimbang “badan”: “…bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya.” Artinya, jika kita meyakini bahwa pemilihan syair Indonesia Raya itu bukan sesuatu yang asal-asalan, maka kepedulian pada jiwa/moralitas/akhlak/adab haruslah tidak terlupakan sebagai jati diri orang Indonesia.

Orang Indonesia dalam konteks ini adalah orang yang memiliki budi luhur, etika, penghormatan kepada orang lain, dan memiliki daya saing. Maka kita butuh sekali dengan pribadi-pribadi yang berdaya saing tinggi namun tidak melupakan karakter dan etika kita sebagai orang Indonesia yang memiliki penghormatan terhadap tamu.

Hidupkan Budaya Apresiasi

Mau tidak mau saat ini kita hidup di dunia yang multikultur. Kita hidup di tengah berbagai macam manusia yang punya orientasi hidup berbeda, pilihan berbeda, bahkan juga gaya hidup yang berbeda. Sebagai perkembangan dari teknologi, informasi, dan mobilitas masyarakat modern, saat ini kita tidak bisa lagi mau hidup sendiri, menang sendiri, atau hebat sendirian. Singkatnya, kita hidup di tengah sekian banyak orang yang berbeda dengan kita, di dunia maya maupun dunia nyata.

Maka, mengapresiasi terhadap pilihan, karya, gaya hidup orang lain adalah penting perannya. Komentar Gubernur Anies yang mengapresiasi sikap Ananda yang walk out tersebut adalah bagian dari sikap bijaksana seorang pemimpin kepada orang lain. Seorang pemimpin yang baik tentu saja tidak cukup hanya bisa mengelola dirinya, akan tetapi dia harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya secara bijaksana.

Saat ini nilai-nilai apresiasi tampaknya sudah mulai lentur. Di media sosial misalnya, ketika ada yang berbeda, tak lama kemudian langsung diserang dengan sekian banyak cacian, makian, dan sumpah serapah yang gampang-gampang saja dilontarkan kepada orang lain. Mungkin, itu disebabkan kemudahan dalam berpendapat, tapi tidak disaring mana yang layak keluar dan mana yang sebaiknya ditahan.

Saat ini, rasanya kita memang harus menumbuhkan kembali budaya apresiasi terhadap orang lain. Kalaupun ada yang berbeda, jangan hinakan, sebaliknya angkat derajatnya. Jika ada yang bersalah maka taatlah pada sistem dan menahan diri adalah sikap terbaik. Kepada tamu, sejauh apapun perbedaan kita dengannya, tentu saja kita harus memberikan apresiasi dengan mendengarkannya, berdialog dengannya, dan berkolaborasi. Bukankah tujuan kita beraktivitas sama-sama untuk mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia? *   

Tulisan ini telah lama saya tulis namun baru diposting di website ini. 
Foto ilustrasi: masterpendidikan.com

Friday, December 27, 2019

Beberapa Jawaban Mahasiswa S3 Saat Ditanya Kapan Selesai

Tim Penguji disertasi Sri Alem Br. Sembiring yang diketuai oleh Prof Iwan Gardono Sujatmiko dengan penguji Dr Suryo Wiyono, Dr Mia Siscawati, Dr Prihandoko Sanjatmiko, Dr Dian Sulistiawati Syamsir, Dr Semiarto Aji Purwanto (ko-promotor) dan Prof Yunita Triwardani Winarto (promotor)

Setelah menunaikan ibadah salat jumat di Masjid Kampus UI, saya bertemu seorang kawan yang angkatannya empat tahun sebelum saya. Setelah berbasa-basi, saya bertanya "udah sampai dimana?" Beliau menjawab, "belum sampai dimana-mana" sambil hendak pamitan bertemu kawannya yang lain.

Saya dengar kabar, kawan kita yang tadi sepertinya memang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan S3-nya karena banyak faktor. Tapi sebagai kawan, saya tetap berharap beliau dapat melanjutkan hingga tuntas.

Tadi di sela-sala menunggu pengumuman kelulusan Dr Sri Alem Br Sembiring, bertempat di Auditorium Komunikasi FISIP UI (27/12/2019), saya ngobrol juga dengan seorang staf akademik di jurusan kami. Dia bercerita, bahwa ada juga mahasiswa yang sudah ujian pra-promosi tapi tidak lulus.

Penasaran, saya bertanya kepada beberapa kawan perihal "apa sebab kawan kita yang senior itu tidak lulus?" Seorang kawan menjawab, "kayaknya memang waktu ujian hasil sudah tidak memuaskan, tapi kemudian tetap dipaksakan untuk lanjut." (Secara pribadi, saya masih berharap beliau bisa lanjut hingga lulus).

Sejenak saya berefleksi dalam diri. Bahwa ternyata, orang kalau sudah masuk di UI belum tentu bisa keluar dari UI dengan "selamat." Masuk UI itu susah, susahnya lagi keluarnya. Begitu kata orang, dan saya mengamini saja.

Sri Alem saat menyampaikan paparannya. Ia sempat sakit beberapa waktu. Tapi tamat 7 tahun dengan predikat Sangat Memuaskan, IPK 3,94

Beberapa tahun lalu saya pernah bertanya kepada seorang yang sedang kuliah di UGM. Kenapa belum selesai? Ia malah marah-marah, dan bertanya balik, "kenapa sih tanya-tanya?" Padahal, niat kita hanya bertanya, ya sekedar untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi seorang mahasiswa S3, apalagi waktu itu kita juga ingin melanjutkan S3.

Seorang dosen saya di Unhas menamatkan pendidikan S3-nya 7 tahun. Padahal, beliau dikenal salah seorang dosen pinter, bahkan beberapa tulisannya juga dirujuk oleh banyak orang. Rupanya, berapa lama orang tamat kuliah itu tidak bergantung pada pintar atau tidak pintar, tapi karena banyak hal: bisa karena belum dapat novelty atau kebaruan, bisa karena tidak ada waktu (sibuk kerja), bisa juga karena tidak ada waktu bertemu pembimbing, dan banyak lagi.

Awalnya, saya sering melihat orang S3 dengan kacamata, intinya S3 itu 4 tahun bisa kelar. Tapi setelah dilewati tidak juga. Saya sendiri sekarang baru di tahun ketiga, dan sudah setahun ini saya masih berkutat pada ragangan atau outline.

Menurut pembimbing saya, ragangan yang sukses (sekitar 4 halaman saja), itu sudah 50 persen keberhasilan disertasi. Soal menulis itu gampang, katanya. Yang susah ini mencari novelty, kebaruan, yang akan berkontribusi pada bidang studi kita. Intinya sih, apa yang kita teliti itu hasilnya akan berdampak pada ilmu pengetahuan di bidang kita.

Mungkin di situlah bedanya studi S3 dan studi S2 atau S1. Mencari novelty yang harus betul-betul khas, berbeda, dan berkontribusi untuk bidang ilmu kita. Kalau hanya mengutip, itu gampang, tapi bagaimana mempertahankan ide kita yang bersumber dari hasil riset, itulah yang tidak gampang.

Seorang kawan lainnya tadi diminta oleh Mas Irwan Hidayana (Ketua Program Pascasarjana Antropologi UI) untuk semester depan ujian hasil penelitian. Ia hanya tersenyum. Saat makan, saya ngobrol dengannya. Dia bercerita bahwa suaminya dapat tugas kerja di Taipei, dan anak-anaknya ingin sekolah di sana. Mau tak mau ia harus cuti demi anak-anaknya yang ingin sekolah di sana. "Berbahasa Mandarin, sekolahnya, dan itu juga kan nggak gampang," katanya.

Konsekuensinya, kuliah dia agak tertunda. Ditambah lagi dengan info bahwa ia kena sakit autoimun yang memaksanya untuk harus realistis dalam mengerjakan disertai. Tidak bisa terlalu cepat. Ia harus mempertimbangkan betul kapan kerja dan kapan istirahat.

"Jadi, kalau saya bisa tamat S3, alhamdulillah, tapi kalau tidak juga saya sudah bersyukur bisa S2 yang itu nanti jadi inspirasi buat anak-anak saya," ceritanya ke saya.

"Tapi, saya yakin mbak bisa menyelesaikan itu," kata saya menyakinkannya.

Ia merasa senang karena ada yang memberikan sugesti positif baginya. Yah, sesama pejuang S3 kita memang harus saling support.

Oya, sebelum ujian promosi Sri Alem, seorang kawan sempat bertanya ke saya, "kapan ujian promosi?" Saya jawab, "masih berusaha nih." Masih berusaha itu berarti, saya harus membuat ragangan alias outline sebaik mungkin, kemudian menyusun isi disertasi itu, kemudian ujian hasil penelitian. Setelah itu saya harus terbitkan artikel di jurnal internasional, dan ujian tertutup serta terbuka.

Yah, masih lumayan. Saya sendiri menyadari bahwa beasiswa LPDP saya berakhir pertengahan tahun depan. Berarti, saya dapat kesempatan 1 semester lagi dari LPDP. Jika kelak saya harus lanjut dengan biaya sendiri, itu saya harus usahakan sebaik mungkin bagaimana caranya membayar uang kuliah, uang sehari-hari, dan tunjangan yang dari LPDP--yang tidak saya dapatkan lagi.

Artinya, apa yang tidak saya dapatkan lagi dari LPDP harus saya usahakan dari sumber-sumber lainnya. Apalagi anak-anak saya juga sudah bersekolah dengan biaya yang tidak murah. Tapi saya selalu yakin dan percaya bahwa rezeki tiap orang sudah ada dari Allah, dan kita sebagai kepala keluarga tinggal berusaha semaksimal mungkin untuk menjemput rezeki itu sambil berpikir dan berusaha menyelesaikan disertasi.

Ringkasan Disertasi Sri Alem. Judulnya bagus, diambil dari filosofi orang Karo. Judul tersebut diperoleh setelah ujian pra-promosi. 

Soal waktu selesai memang tiap orang beda-beda. Ada yang kuliah 2 tahun, kemudian ujian dan cumlaude seperti Ustad Abdul Somad, di Sudan. Di Indonesia juga ada yang kuliah 2.5 tahun dan doktor. Ada juga yang 3 tahun, 4 tahun, bahkan 7 tahun. Bahkan ada juga yang kuliah S3-nya itu 10 tahun karena harus berhenti kuliah kemudian test UI lagi sebagai mahasiswa baru.

Waktu ikut pelatihan singkat menulis statement of intent bagi yang berminat kuliah di Amerika di Kedubes Amerika yang diadakan oleh EducationUSA, saya teringat ucapan seseorang. Dia bilang begini, "Kuliah di Amerika itu lama, tapi worth it-lah hasilnya." Saya lihat, memang sih yang S3 di Amerika itu pada lama, tapi hasilnya luar biasa. Beberapa orang Indonesia memang ada yang tidak tamat S3 di sana, tapi itu kasuistik. Mereka yang tamat dari sana, memang bagus.

Tapi, saya lihat, S3 itu sebenarnya halte saja dari perjalanan karier intelektual kita. Kita bisa tamat dari mana saja, tapi yang penting dari itu adalah apa kontribusi yang bisa kita berikan untuk ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Itu paling utama.

Foto bersama Prof Yunita, Dr Mia Siscawati, dan kawan-kawan Pascasarjana Antropologi UI. Setelah foto ini, saya konsultasi disertasi dengan Prof Yunita bersama Burhan Gala dan Nina

Sebagai antropolog, kita harus meneliti sesuai penelitian antropologi. Tidak mudah, dan butuh kecerdasan tertentu. Penelitian etnografi yang sangat khas dalam antropologi itu juga harus mendalam. Tidak bisa hanya mengandalkan riset pustaka. Harus ada immersion dengan subyek penelitian. Kita harus bisa menggali apa yang ada dari lapangan, kemudian mengaitkannya dalam perdebatan teoritis dalam bidang kita.

Selain itu, kesulitan lainnya bagi seorang mahasiswa S3--setidaknya mulai angkatan saya, 2016--adalah harus publikasi jurnal terindeks Scopus minimal Q3. Soal publikasi ini juga nggak gampang. Biasanya dari kita kirim (submitted) sampai terbit (published) itu minimal satu tahun yang diselingi dengan sekian banyak revisi.

Katanya, kewajiban publikasi Scopus itu tidak wajib published, tapi bisa juga berstatus diterima (accepted) untuk diterbitkan (published). Tapi, itu baru qola wa qila, "katanya." Terlepas dari itu semua, saya pribadi tetap berusaha untuk bisa tamat kuliah dengan baik dan sehat.

Kenapa harus baik? Karena saya dosen, saya harus bisa menghasilkan riset yang baik. Kenapa harus sehat? Karena buat apa saya tamat doktor tapi saya malah sakit-sakitan setelah itu? Dari salah satu sudut di Perpustakaan UI, saya berdoa semoga kawan-kawan yang sedang S3 dimana pun itu dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik, dan khususon buat saya dapat menuntaskan tugas ini dengan baik dan sehat. *

Wednesday, December 25, 2019

In Memoriam: Inayah, Ko Ipul, dan Pak Muhsin

Beberapa waktu ini saya mendengarkan info duka cita dari beberapa orang yang saya kenal. Inayah Mangkulla adalah yunior saya di FLP Sulsel. Waktu saya bentuk FLP Unhas, ia salah seorang yang bergiat di situ. Beberapa tulisannya telah terbit, terutama puisi dan cerpen.

Di Facebook saya menulis:

"Turut berduka atas wafatnya Inayah Mangkulla, salah seorang kawan saya di Makassar. Bisa disebut bahwa Inayah adalah salah seorang perempuan penulis dari kota Makassar. Ia menyenangi puisi dan juga cerpen. Dalam kegiatan FLP Sulsel, Inayah termasuk yg rajin jadi panitia. Waktu FLP Unhas terbentuk, Inayah termasuk yg mula-mula bergiat di situ. Saya berdoa semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt, diampuni segala dosa, dan keluarga diberi kesabaran."
Lukisan Harir untuk Inayah beberapa waktu lalu. Saya japri Harir di IG terkait hal itu
Salah satu buku antologi puisi yang ada puisi Inayah Mangkulla

Orang kedua adalah Saiful Syaman, anggota DPRD Halmahera Utara yang juga tetangga saya di Rawajaya, Tobelo.

Di Facebook saya menulis dalam perjalanan Jakarta-Cirebon:

Turut berduka atas wafatnya tetangga kami di Desa Rawajaya, Tobelo, Bpk Syaiful Saman. Rumah keluarganya persis di samping tanah kami di Rawajaya. Waktu kecil hingga dewasa saya kenal pribadinya dari orang lain. Waktu saya nyantri di Darunnajah, ia masih aktif di Brimob Kelapa Dua. Orang Malut kadang datang ke rumah om saya, H. Yos Amini Kotto, di Srengseng Sawah, walau tidak semua saya kenal. Di tanah kami, samping rumah ayahnya Ko Ipul, saya dulu pernah pelihara ayam, ikut gali-gali tanah buat bikin empang (sayangnya ayam kami dimakan soa-soa--sejenis kadal dan ikannya juga nggak menghasilkan). Saya kadang duduk di atas pohon lihat ikan-ikan di bawah (skr agak susah manjat pohon). Saya juga tanam pohon alpukat di situ. Kayaknya udah ditebang. Tanah yg bersebelahan dg kali dan sekolahan tsb skr diteruskan ke adik saya yg baik. Atas nama keluargaku di Depok dan keluarga alm Rasyidin Syukur, kami turut berduka atas wafatnya Ko Ipul (kabarnya wafat di Jakarta saat Munas Hanura). Semoga alm mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan keluarga diberi kesabaran.

Syaiful Saman setelah pelantikan sebagai anggota dewan

Orang ketiga adalah Pak Muhsin, seorang tetangga saya di Pesantren Darul Istiqamah, Maros. Saya lihat beliau orang yang sabar, dan bijaksana. Bicaranya tidak kencang, santun. Saya sering bertemunya di masjid. Beberapa tahun terakhir, beliau memang dikabarkan sakit, agak kurusan.

Andi Muhsin Badiu dengan istri
Andi Muhsin Badiu bersama para pelaksana amanah Darul Istiqamah

Kepada tiga kenalan yang telah pergi duluan, saya berdoa semoga Allah swt mengampuni segala dosa, menempatkan di tempat terbaik, dan keluarga diberi kesabaran.

Jadi Pembicara Launching Buku Birokrat Menulis 3



Saya beruntung menjadi salah seorang pembicara dalam bedah buku karya Pak Adrinal Tanjung di Tangerang beberapa waktu yang lalu. Judulnya "Birokrat Menulis 3."

Saya salut dengan produktivitas beliau. Sibuk tapi bisa menulis. Ini sangat bagus untuk dicontoh.

Beliau bercerita bahwa di sela-sela waktunya ia sempatkan untuk menulis. Ketika menunggu pesawat, ia menulis.

Menulis jadi semacam kebutuhan hidupnya. Sekaligus jalan baginya untuk hidup sehat. Selamat buat Pak Adrinal. Ayo yang belum menulis buku, menyusul.

* Foto kolase dari FB Pak Adrinal.

Menghadiri Diskusi Jalur Rempah di Kantor Pusat PDIP

Menerima kenang-kenangan dari Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

Sudah lama saya ingin berkunjung ke kantor DPP PDIP, tapi tak kunjung terlaksana. Sejak sekolah dulu, saya biasa lewatin kantor PDIP yang di Lenteng Agung. Saya pikir di situlah kantor pusatnya, tapi ternyata itu bukan kantor utama. Yang utamanya adalah di Jalan Diponegoro. Sejenak saya teringat kembali. "Oh ya, dulu kan peristiwa Kudatuli terjadi di Jalan Diponegoro, kantor PDI."

Kedatangan saya ke PDIP dalam rangka mewakili Yayasan Negeri Rempah yang diundang untuk diskusi terkait jalur rempah. Tempatnya di Lantai 5, Kantor DPP PDIP. Acaranya di Senin, 23 Desember 2019.

Secara umum, PDIP mengangkat jalur rempah sebagai salah satu bahasan dalam Mukernas nanti dlm konteks bgmn mewujudkan kejayaan kembali Indonesia lewat jalur rempah.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ketika Bung Karno merumuskan Pancasila, itu juga berpijak pada hidup-mati sebuah bangsa, dari kebudayaan Indonesia yang tak terlepas dari rempah.

"Mengangkat jalur rempah adalah bagian dari politik gagasan untuk Indonesia sekaligus jalan kebudayaan," kata Hasto.

Di tengah OBOR Cina, Indonesia perlu mengangkat jalur rempah sebagai jalan kemakmuran, sebuah jalan peradaban yang bertumpu pada "apa yang kita punya". Sangat menarik kalimat "apa yang kita punya" itu. Ada semangat berdikari yang kuat bertenaga di situ.

Sela-sela makan siang, saya juga diskusi dengan Pak Djarot Saiful Hidayat yang mengatakan bahwa ia tertarik untuk membahas terkait jalur rempah dengan yayasan. Bahkan, jika ada ide atau konten dari yayasan, dapat didiskusikan, atau dicetak oleh PDIP yang nanti jadi panduan bagi seluruh petugas partai.

Sekjen PDIP juga ingin mendapatkan buku yang ditulis oleh yayasan kami. Dalam waktu dekat, kami akan bawakan 2 eksemplar sekaligus bertemu di kantor bersama beberapa kawan dari Yayasan Negeri Rempah.

Ngopi dulu saat acara baru dimulai

Foto bersama Pak Djarot Saiful Hidayat, Mas Fadly Rahman dari Unpad, dan Mas Cahyadi setelah diskusi

Isu jalur rempah menurut saya cukup bagus untuk diangkat dalam konteks upaya untuk memajukan Indonesia dari jalur kebudayaan.

Oya, setelah acara berakhir, saya juga menerima kenang-kenangan buku dari Sekjen Hasto tentang Ibu Mega dan PDIP. Sebelumnya, saya juga aktif memberikan masukan kepada beliau dan forum. Setelah diskusi, saya juga diwawancarai oleh wartawan Tribun, tanggapan terhadap ide yang diangkat oleh PDIP.

Di forum, sebagai penanggap pertama, saya beri masukan terkait pentingnya jalur rempah diangkat dlm RPJMN, dukungan terhadap usulan jalur rempah kepada UNESCO sebagai world heritage, pentingnya mengangkat komoditas rempah sekaligus kebudayaan manusia Indonesia, inspirasi kepada rumah ibadah agar membuat tanaman obat keluarga atau tanaman yang disebutkan dalam kitab suci (inspirasinya waktu saya berkunjung salah satu rumah ibadah di Pittsburgh), dan pentingnya membuat pusat-pusat kajian rempah selain Sriwijaya Center yang cukup penting sebagai salah satu basis dari kejayaan masa lalu Indonesia.

*Terima kasih kepada PDIP yang telah mengundang Yayasan Negeri Rempah, dan terima kasih kepada Mas Bram dan Mbak Ratih yang telah mengirimkan saya dan Pinpin Cahyadi sebagai peserta mewakili yayasan.

Sunday, December 15, 2019

Yang Mulus dan Bikin Kangen dari Saumlaki


Laut Pulau Matakus, sekitar 1 jam dari kota Saumlaki

Saumlaki adalah sebuah pulau yang jauh. Ya, begitulah bayangan saya. Walaupun saya juga berasal dari negeri yang jauh, di utara Pulau Halmahera, tapi saya merasa Saumlaki ini lebih jauh. Bukan apa-apa, lokasinya itu kayak terpencil dari Indonesia.

Tapi, saya beruntung bisa datang ke Saumlaki, sebuah negeri yang awalnya jauh tapi setelah didatangi rupanya dekat-dekat saja. Di kota itu saya menghabiskan waktu sekitar 4 hari untuk sebuah tugas kantor. Menginap di sebuah hotel di atas laut, mengingatkan saya akan kampung halaman.

Rumah saya, di tahun 1980-an itu berada di atas laut. Seiring dengan "pendaratan" (maksudnya, penimbunan laut jadi daratan), rumah saya jadi sebagian saya yang di laut. Kini, bahkan sudah darat semua karena sudah tertimbun menjadi darat. Mereka yang mau ke Pulau Morotai lewat speed boat, pasti lewatin rumah saya. Ada Guest House juga, lho!

Perjalanan 

Dari Jakarta perjalanan kita tempuh ke Ambon. Tiba pagi. Tidak langsung ke Saumlaki, tapi harus transit dulu sekitar 7 jam. Saya manfaatkan untuk bertemu beberapa kawan. Ya, apalagi kalau bukan sharing dan diskusi. Saya memang senang dua hal itu, sambil foto-foto di tempat yang indah-indah atau bersejarah.

Di sana, saya berbagi tentang menulis. Itu materi paling klasik dan kontinyu dalam karier saya selama 20 tahun terakhir. Saya senang sekali jika bisa berbagi ide kepada teman-teman dalam menulis. Kenapa menulis? Karena dengan menulis mereka akan bisa mendapatkan banyak hal.

Sebagai contoh saya sendiri. Saya bisa dapat program ke Australia itu salah satunya dari menulis. Aplikasi saya penuh dengan karya tulis, walaupun tidak semua di koran atau media terkenal. Banyak tulisan saya yang dimuat di Radar Halmahera, media yang tidak dibaca orang Jakarta. Tapi, saya konsisten menulis di situ untuk pembaca di kampung saya.

Jadi, bagi yang mau menulis sebaiknya jangan mikir ribet harus di media terkenal. Tulis di media apa saja yang mau muat. Tidak dapat honor tidak apa. Jadikan itu sebagai stepping stone alias batu loncatan untuk melangkah ke depan. Nah saya sendiri banyak dapat hikmah dari situ. Setidaknya ketika saya bisa ke Australia dan Amerika, itu tidak lepas dari menulis.

Setelah sharing, saya berangkat ke Saumlaki siangnya. Perjalanan sekitar 1.5jam. Tiba di sana, dijemput oleh Pak Pius, seorang kawan baik yang mengelola pembelajaran untuk komunitas adat. Selama beberapa hari itu, saya mendapatkan banyak informasi tentang perkembangan pendidikan di sana. Juga, budaya Tanimbar.
Teripang yang sedang dijemur untuk dikirim ke Surabaya dan luar negeri. Sekilo harganya bisa 2.5juta, bahkan lebih. Di luar negeri (kayak Taiwan, Korea, dll) teripang itu makanan khas yang bikin sehat

Kota Pantai Saumlaki dari kamar hotel yang saya tempati


Penjual ikan di Pantai Saumlaki, dekat Pelabuhan Saumlaki

Matakus


Dari Saumlaki saya ke Pulau Matakus, naik perahu tanpa semang-semang (tidak ada kiri dan kanannya). Satu tim kita ke sana. Di sana, kami diterima secara adat. Senang bisa diterima di sana. Di sana kami pun beri sambutan dan wawancara dengan beberapa tutor dan siswa. Intinya soal pendidikan keaksaraan di kawasan tersebut.

Desa Matakus terletak di Pulau Matakus. Pantainya indah. Pasirnya itu lembut. Selain Kuta Bali, saya kira Pantai Matakuslah yang terbaik pantainya. Enak buat duduk-duduk. Jika bisa dikelola, pantai ini bisa jadi terkenal banget.
Bersama seorang anak di Pantai Desa Matakus

Plang Desa Matakus


Saya juga menikmati makan kepala ikan segar. Ini paling saya suka. Maklum, saya orang lain dan senang dengan yang laut-laut. Beberapa kepala saya makan, sungguh lezat. Karena cintanya saya pada kepala ikan sampai semalam menjelang balik ke Jakarta, Pak Pius menghidangkan saya kepala ikan yang lebih besar. Luar biasa. Terima kasih Pak Pius.

Di Saumlaki saya dan Intan, wartawan muda, hadir dalam kegiatan keaksaraan. Tulisan Intan nantinya akan dipublikasi di medianya, juga akan dimuat dalam buku yang akan diterbitkan. Buku itu nanti akan saya edit juga sebelum cetaknya, agar sinkron dengan tulisan-tulisan lainnya.

Menanti tenggelamnya matahari yang indah di Saumlaki
Kadang, di Depok ini saya jadi teringat dengan Saumlaki. Saat sore menjelang, saya duduk di luar kamar hotel sambil memandang ke laut. Matahari sudah mau turun, tapi saya masih duduk dan sedikit merenung. Mulai dari disertasiku yang belum kelar, hingga berbagai capaian hidup yang belum juga terlihat.

Tapi, sore di pantai Saumlaki mengajarkan saya untuk bersabar. Ya, bersabar seperti bersabarnya matahari yang harus turun di ufuk barat agar di malam nanti terlihatlah bulan. Bersabar adalah kunci, itu yang saya dapat sore itu. Tanpa kesabaran, semua akan sia-sia. Sehebat-hebatnya manusia jika sabar dia tak punya, dia akan jadi sembrono, dan kelak akan menyesal.

Mungkin, kesabaran seperti matahari ini perlu ada dalam tiap kita. Betapa dalam hari-hari yang kita jalani, kita sering diperhadapkan pada kecepatan. Cepat, cepat, dan cepat. Kita pun jadi kayak robot. Padahal, apa susahnya sih sedikit lebih santai, dan menikmati proses hidup ini? Bukankah cepat atau lambat juga sore akan tetap berakhir, malam akan tiba, dan pagi akan menjelang? Semua sudah begitu hukum alamnya.

Namun yang pasti, kesabaran haruslah menjadi perisai diri kita masing-masing. Siapa yang ingin dirinya kuat dan tahan lama--dalam semua geliat kehidupan--maka dia harus mampu bersabar, walaupun kadang ketergesaan sering menggoda dia untuk menjadi pilihannya dalam menjalani hidup. Bersabarlah, kawan. Yakinlah bahwa matahari akan tenggelam juga di sore hari, malam akan tiba, dan pagi akan datang.

Penumpang kapal di malam hari. Nggak keliatan, tapi ada kan ya?

Malam-malam Menerjang Laut


Setelah program kelar di Matakus, kami balik ke Saumlaki. Hari sudah magrib. Satu jam di laut yang gelap. Seorang nahkoda bercerita dengan seorang kawan kami. Dia bilang bahwa dia sebagai nahkoda perahu itu sudah biasa di laut tapi kalau ada penumpang yang takut-takut apalagi teriak-teriak kalau di laut, dia mau tak mau juga terpengaruh.

Oh, berarti seorang nahkoda itu terpengaruh juga oleh kondisi penumpangnya. Jika dibawa ke kehidupan nyata, itu berarti bahwa seorang pemimpin--seberani apapun dia--tetapi dia juga manusia biasa yang sedikit banyak akan terpengaruh dari anak buahnya. Jika anak buahnya pemberani, dia akan makin berani, tapi sebaliknya jika anak buahnya penakut, dia juga bisa-bisa jadi penakut.

Sebagai penumpang, kita percaya dengan nahkoda kapal. Pelampung tidak ada. Tapi, harapan dan kepercayaan kami ada. Memang berat di laut yang jauh dari ibukota. Apa-apa yang ideal kadang tidak ada di sini. Kehidupan di pulau yang jauh dari ibukota ini lebih berdasar pada intuisi. Jika nahkoda perahu--enaknya sih nyebutnya nahkoda kapal ya--yakin bahwa laut tidak ada masalah, dia akan jalan. Jika feeling dia kurang sedap, maka dia akan urung.

Dalam hidup juga begitu. Kita semua adalah nahkoda bagi "kapal" diri kita masing-masing. Maka, janganlah menakut-nakuti diri dengan hal-hal yang sepele. Sebaliknya kuat-kuatkanlah diri menghadapi berbagai tantangan hidup. Semakin yakin, semakin kuatlah kita. Begitu kira-kira, pesan yang bisa kita ambil dari laut Saumlaki. *

Toleransi dan Koeksistensi di Dunia Digital: Catatan Super Ringan dari Bangkok

Salah satu sesi yang dibawakan utusan Indonesia, Desi Hanara

Sejak kecil nama "Bangkok" hanya saya kenal lewat ayam peliharaan saya. Ayam itu sangat pintar, kadang dia bangunkan saya di waktu subuh dengan mendekat ke pintu rumah. Ayamnya juga kuat. Cuma sayangnya dia dicuri orang setelah saya pindah ke Jakarta melanjutkan sekolah menengah pertama.

Perjalanan ke Bangkok kali ini merupakan yang kedua. Pertama kalinya dua tahun lalu. Sama-sama diundang oleh World Learning, sebuah lembaga berbasis di Washington, D.C. yang mengelola program dari U.S. Department of State alias Kementerian Luar Negeri.

Jika tahun 2017 saya hadir dalam kegiatan "Asia Pacific Think Tank Forum", kali ini di 2019 saya hadir dalam kegiatan "Tolerance & Coexistence 2.0". Kegiatannya hampir sama dengan dua tahun lalu; ada seminar besar, kemudian seminar kecil alias workshop, dan penutupannya di atas kapal yang menyusuri sungai Cao Praya selama sekitar dua jam.

Utusan Indonesia

Dalam catatan saya, orang Indonesia yang hadir dalam kegiatan ini ada 12 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Amal Hasan, Wiwin Siti Aminah, Nur Kafid, Fransiska Widyawati, Anita Wahid, Zainal Anwar, Desi Hanara, Ikfina Maufuriyah, Dicky Sofjan, Anna Christi Suwandi, dan Atina Rosydiana. Secara umum, pesertanya dari tiga kalangan, yaitu alumni Professional Fellows on Demand, pembicara seminar, dan peserta. Yang menjadi pembicara dari Indonesia adalah Desi Hanara dan Anita Wahid.

Bertemu sesama Indonesia di negeri orang memang sesuatu. Kita bisa bercerita tentang banyak hal, mulai dari tema acara ini, kesan tentang negara tersebut, hingga berbagai hal terkait Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, saya banyak bercerita dengan Dicky Sofjan, seorang associate professor di UGM. Misalnya, dalam perjalanan--yang macet itu--dari hotel ke sungai Cao Praya, kami bercerita tentang dunia akademik Indonesia, problem kalangan intelektual publik yang kesulitan beradaptasi dengan dunia akademik, serta berbagai topik keislaman dan keindonesiaan.

Salah satu masalah intelektual publik di dunia akademik adalah dalam menulis paper akademik. Mereka yang sudah dikenal sebagai "tokoh publik", adakalanya menulis begitu saja, mengalir, dan tidak begitu ketat dalam urusan referensi. Problemnya datang ketika mereka melanjutkan pendidikan tinggi, dan kebiasaan menulis populer itu terbawa-bawa. Akhirnya, hasil tulisannya pun ditemukan plagiarisme yang di atas batas kompromi. Mungkin tidak plagiat secara langsung, akan tetapi jika tidak ditulis referensi dari bacaan yang ada, bisa jadi akan terkena delik sebagai plagiat.

Itu hanya satu bagian dari obrolan saya dengan beliau. Kami juga bercerita tentang kampus Islam Internasional yang sementara dibangun. Belum banyak orang yang mau pindah ke situ karena belum jelasnya statusnya. Para dosen yang diajak ke situ masih berpikir, apakah kampus tersebut akan berlanjut terus--misalnya jika mereka harus melepas kampus namanya--ataukah tidak. Ketidakpastian itu membuat beberapa dosen yang diajak menjadi dosen tetap di kampus internasional tersebut masih maju mundur. Tapi prinsipnya kita setuju dengan adanya kampus tersebut.

"Core of the Core"


Bagi kita yang hidup dunia akademik, seminar sudah biasa. Tapi kadang saking sudah biasanya banyak yang tidak mencatat poin penting dari seminar tersebut dengan alasan mungkin karena sudah tahu, sudah paham, atau memang lagi malas aja mencatat. Karena toh bisa direkam juga. Karena toh bisa dilihat juga jika ada yang live. Tapi kegiatan kemarin tidak live, maka tidak banyak yang dapat dirujuk di media sosial, misalnya.

Saya pribadi membiasakan diri untuk mencatat, karena saya sadar ingatan saya tidak begitu kuat. Saya sering lupa nama orang, bahkan kadang juga lupa wajah orang. Parah banget. Pernah saya ketemu seorang keluarga besar saya, dan saya lupa apakah beliau yang saya maksud atau bukan. Ternyata, beliau masih ingat saya. Padahal usianya sudah 70-an.

Jadi, berkaca pada hal itu, maka saya mencatat. Ada banyak yang saya catat, tapi tidak semuanya bisa saya catat. Saya mencatat beberapa poin penting dari Robert Post, Pornpen (kawan saya sesama alumni U.S.), Mohamed Elsanousi, Michael Bak, Jonah Blank, dan sebagainya. Poin dari Post misalnya membahas tentang pentingnya "embracing diversity" sebagai sarat penting dalam kehidupan koeksistensi di media internet--dan dunia nyata juga sih. Juga, "mutual understanding" sangat penting, karena kalau tidak ada saling paham maka yang ada adalah saling tidak paham. 

Dari kawan saya, Pornpen, saya ingat dia bahas tentang "limitation of freedom" atau pembatasan kebebasan di beberapa negara. Tidak semua negara bisa bebas-bebas orang bicara, apalagi dalam isu religious freedom. Ada yang harus sembunyi-sembunyi karena sensitif. Dia juga membahas tentang "opennes in education system in Southeast Asia", yaitu pentingnya keterbukaan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara. Nah, ini juga tidak semuanya sama karena masing-masing negara punya hal-hal yang terbuka dan hal-hal yang tertutup. Tapi, dalam hal toleransi, pendidikan haruslah menanamkan toleransi sejak dini.

Salah satu materi dari kawan saya, Napan tentang pentingnya lovespeech ketimbang hatespeech

Materi lainnya dibawakan oleh Mohamed Elsanousi dari Amerika. Sambil dengarkan materinya, saya japrian dengan Imam Shamsi Ali. Ternyata, Elsanousi adalah adik kelas Imam Shamsi di Pakistan yang kini aktif dalam berbagai acara interfaith di Amerika. Elsanousi berbicara tentang anti-semitisme yang meningkat di beberapa negara (saya sempat hadir dalam panel tentang ini di U.S. Department of State), penyerangan terhadap Islam dan Kristen yang juga menimpa beberapa negara. Singkatnya, penyerangan kepada umat beragama itu terjadi di mana-mana, tak pilih-pilih agama. 

Elsanousi kemudian memberi solusi pentingnya respek kepada sesama dan promosi pluralisme, membangun kurikulum yang mengampresiasi pluralisme, membuat space dimana manusia dapat saling berinteraksi, melakukan dialog antarkeyakinan, menciptakan kultur perdamaian dan dialog, dan pentingnya deklarasi antar tokoh agama untuk perdamaian.

Pemateri lainnya, Jonah Blank dari RAND, termasuk yang saya sukai. Paparannya menarik minat saya. Blank bercerita tentang white supremacy di berbagai negara seperti di Amerika dan New Zealand, dan peran jurnalis yang sangat penting dalam menciptakan berita. Jika jurnalis salah buat berita, cepat sekali pengaruh buruk melanda netizen. Itulah kenapa kata dia, penting bagi jurnalis untuk menampilkan good news ketimbang bad news. 

Saat ini problemnya banyak orang menjadi media sosial sebagai referensi. Padahal, kata dia, medsos itu bukanlah referensi, bahkan bukan sumber berita. Sumber berita harusnya dari orangnya langsung. Banyak sekali berita yang simpang siur dari media sosial yang kemudian menjadi bahan berita. Akhirnya kita disuguhi hal-hal yang tidak pasti, bahkan banyak berita bohong yang tersebar bersumber dari medsos. Untuk itu, maka jurnalis harus betul-betul verifikasi sumbernya agar tidak menyebarkan berita yang negatif. 

Desi Hanara dari Indonesia bercerita soal peran parlemen dalam isu freedom of religion or belief. Ia banyak cerita bagaimana parlemen ASEAN yang sangat aktif untuk itu. Bahkan, pihaknya juga menyediakan beberapa bahan yang diperlukan oleh anggota dewan dalam isu terkait. Dalam isu ini, Desi sudah sangat berpengalaman terbang dan berbicara kemana-mana. 

Anita Wahid, salah seorang putri Gusdur, juga bercerita tentang perkembangan politik Indonesia khususnya pasca kasus Al-Maidah 51 yang diucapkan Ahok. Kata Anita, imbas dari kejadian tersebut adalah terbelahnya masyarakat pada "us" versus "them", kita versus mereka, atau yang kadang disebut sebagai "pro government" versus "pro opposition." Solusi untuk itu, salah satunya kata Anita dengan membuat pendidikan publik lewat berbagai cara seperti yang telah ia lakukan di beberapa tempat di Indonesia. 

Selain itu, ada banyak lagi peserta lain yang berbicara yang masih luput untuk dicatat. Tapi, semua pembicara umumnya bersepakat bahwa isu toleransi dan koeksistensi atau hidup bersama itu sangatlah penting saat ini di media sosial. Medsos kita banyak yang gaduh karena berbeda ini dan itu, padahal jika kita lebih tenang, banyak hal dapat terselesaikan agar keakraban sebagai warga negara dapat hadir di semua sisi.

Saya di depan Dosa King

"Dosa King"

Salah satu yang menarik selama di Bangkok adalah saya dan kolega saya dari Maros, Amal Hasan, mencari makan di hari pertama. Kami jalan kaki dan cari-cari tempat makan yang halal. Bukan apa-apa, kami ingin dapat kepastian saja soal makanan, karena biar gimana pun, yang namanya makanan halal itu akan berpengaruh pada diri kita juga.

Kami pun dapat makanan halal itu. Setidaknya ada tulisan HALAL berbahasa Arab di situ. Kami makan nasi basmati dengan ayam. Rasanya enak. Di depannya itu ada restoran "Dosa King" yang kalau diterjemahkan itu artinya raja dosa. Saya sempat berfoto di situ. Belum sempat masuk. Mungkin suatu saat bisa mampir juga menikmati makanan Punjab versi vegetarian tersebut.

Satu lagi yang mungkin orang akan bertanya terkait Bangkok adalah soal lady boy atau "laki-laki cantik." Tahun 2017 saya sempat berfoto dengan lady boy itu saat mereka selesai tampil di atas kapal, tapi kemarin tidak ada saya lihat. Ada sih yang tampil tapi saya kurang tahu apakah mereka betul-betul perempuan atau laki-laki. Karena sudah kemaleman juga, dan sudah kali kedua naik di kapal itu, saya jadi rasa biasa saja.

Tapi di malam itu, perjalanan ke restoran itu saya lihat banyak orang cantik di pinggir jalan. Mungkin sedang menunggu temannya untuk menikmati malam, atau bisa jadi sedang melepas lelah dengan berdiri di depan hotel. Tak jauh dari keramaian itu ada beberapa penjual obat kuat merek Levitra, Sidegra, Viagra, Cialis, dan Vimax. Entah ada korelasi antara fenomena itu atau tidak, saya kurang tahu juga. Yang jelas, Bangkok termasuk kota yang bercahaya, dan banyak jadi destinasi para pelancong.

Oya, waktu di Ternate, saya pernah ketemu seorang lelaki di mal. Ia bercerita, katanya ia sedang menabung sampai 300 juta agar bisa pergi ke Bangkok. "Buat apa emang?" tanya saya. "Gini, saya itu ingin operasi," jawab dia sambil menunjukkan bagian tubuh yang ingin dia permak abis. Saya hanya bisa merenung kenapa laki-laki itu bisa berpikir ingin mengubah dirinya menjadi wanita. Bisa jadi, karena sebuah alasan yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu, "...saya itu sebenarnya perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki." *

PS. Terima kasih full buat World Learning team di Washington, D.C. yang luar biasa, para staf Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, teman-teman alumni Professional Fellows dan alumni Bangkok 2019.

Manfaat Belajar Bahasa Asing

Sesuatu yang asing sering kali ditakuti atau dikhawatirkan oleh masyarakat, baik itu orang asing atau bahasa asing. Orang asing kadang ditak...