Sunday, June 23, 2019

Orang Kampung Jadi Narasumber Televisi


Narasumber soal terorisme di CNN TV (2019)
Waktu kecil, saya ngga pernah terlintas masuk tivi. Maksudnya, jadi narasumber di televisi. Waktu itu, kehidupan kami seperti anak-anak pelabuhan lainnya; pergi ke sekolah setelah minum teh manis dan sebuah kue apang, belajar, main bola, dan pulang. Pulang ke rumah, ganti baju, turun ke laut bawa jubi-jubi buat tangkap ikan atau kepiting. Siang sampai sore di laut itu menyenangkan buat saya.

Ketika hijah ke Jakarta, saya juga belum pernah berpikir suatu saat akan masuk tivi. Saya menjalani hidup sebagai santri dengan apa adanya, tapi tetap semangat belajar saya cukup baik. Gimana ngga baik, saya sudah jauh-jauh dari kampung, berhari-hari di lautan, muntah-muntah lagi. Kalau ngga berhasil, apa ngga rugi?

Ketika saya kuliah di Makassar, saya juga ngga pernah terbayang masuk tivi. Waktu itu kita hanya nonton berita. Biasanya sih kita nonton liputan6 yang saat itu lagi keren-kerennya. Saat ini sudah banyak kanal berita lainnya, bahkan yang online-online juga tak kalah bagusnya.
Narasumber TV One bersama Juru Bicara Kepala BIN, Wawan Purwanto (2019) 
Jadi narasumber di CelebesTV tentang tawuran mahasiswa di Makassar (2011)
Narasumber soal terorisme terkait dengan debat pilpres soal pertahanan keamanan, di INews, Jakarta (2019)

Bersama Pak Ansyad Mbai dan Reinhard Sirait di CNN TV (2019)


Nah, saat jadi dosen itulah mula pertama saya jadi narasumber tivi. Awalnya saya jadi narasumber untuk acara di GamalamaTV. Saya ceramah beberapa menit, setelah itu ada tanya-jawab dengan audiens ibu-ibu. Ya, kayak di tivi nasional, akan tetapi ini skala daerah. Waktu itu lokasinya di Hotel Bela International yang sekarang sudah berganti nama. Selain itu, saya juga memberikan ceramah sendirian untuk beberapa episode itu.

Bersama Pak Ansyad Mbai dan Mas Sheito CNN TV (2019)
Kadang, menjelang sore saya lihat video itu di tivi kosan saya. Malu juga sih ngeliatin diri sendiri. Sampai sekarang saya tuh sering merasa malu kalau melihat rekaman yang ada saya. Nah, video yang di GamalamaTV itu sempat diputar beberapa kali, sampai ada beberapa kawan yang bilang, "paak saya sering lihat bapak di tivi tuh." Saya hanya jawab, "ah, masa sih?"
Narasumber "Keteguhan Tauhid Istri Fir'aun" di GamalamaTV (2013). Ini judul dari salah satu buku saya yang juga jadi bahan skripsi salah seorang mahasiswa di Jawa Timur

Narasumber buat pengajian ibu-ibu di GamalamaTV, Ternate (2013)
Itu di Ternate. Waktu di Makassar juga pernah beberapa kali saya rekaman ceramah. Lokasinya di pinggir danau Unhas. Pernah dalam beberapa jam langsung rekaman 3 ceramah. Dari rumah saya sudah bawa 3 baju untuk itu. Saya selalu berusaha kalaupun rekamannya diulang, maka ngga lebih dari 2 kali. Dan, itu saya jaga sampai sekarang. Maksudnya, kalau saya direkam selalu saya usahakan satu kali rekaman langsung oke, atau setidaknya 2 kali.

Di Makassar itu selain rekaman video ceramah juga pernah jadi narasumber bersama salah seorang professor Unhas terkait anak buah kapal Indonesia yang ditawan oleh kelompok Abu Sayyaf Filipina. Sebagai lulusan cumlaude--hehe, senang juga kita dapat cumlaude walaupun hanya di transkrip, ngga maju saat wisuda; itu sudah cukup senang--saya merasa harus mengembangkan tesis saya dalam kajian-kajian serius selanjutnya. Sejak itu sebenarnya label "pengamat terorisme" sudah ada bagi diri saya, tapi memang tidak familiar gitu (sampai sekarang juga belum familiar sih). Selain itu, saya juga pernah jadi narasumber terkait tawuran mahasiswa Makassar bersama Pak Alwy Rachman di CelebesTV.


Ceramah "Hakikat Hidup Manusia" di CakrawalaTV, Makassar (2015)

Narasumber tentang Islam di CakrawalaTV (sekarang: Net.TV Makassar) tahun 2015
Ceramah "Menjadi Muslim Produktif" di CakrawalaTV (2015)

Ketika saya kursus bahasa di ITB, saya juga sempat ada satu rekaman video yang sampai sekarang masih ada di Youtube. Waktu itu, saya hanya sekali ambil gambar terus selesai. Manajemen SalmanTV yang bagus cukup membantu untuk itu. Saya cerita soal pentingnya menciptakan toilet bersih karena toilet bersih itu berkaitan erat dengan masa depan. Saya teringat itu kalimat dari salah seorang mantan menteri yang menurut saya, itu betul.


Acara Kultube SalmanTV Masjid Salman ITB (2015)
Ketika di Jakarta, tepatnya saat S3, saya pernah diwawancari untuk salah satu stasiun televisi Korea Selatan. Mereka mau buat semacam video dokumenter tentang Kepulauan Rempah-rempah. Setelah dapet nama saya waktu saya bawa materi di Kota Tua, mereka kontak saya, dan kita syuting gitu di UI. Saya menjelaskan tentang penjelajahan samudera oleh Portugis dan Spanyol yang ujungnya itu mencari Maluku. Waktu bawa materi di Museum Gajah, saya juga sempat cerita tentang itu panjang lebar yang dikaitkan dengan perkembangan di dunia Islam dan global.

Rekaman untuk salah satu film dokumenter tivi Korea Selatan (2017)


Sebagai Analis terorisme di TVOne (2019)

Bersama Dr Hidayat Nurwahid di TVOne (2019)

Sebagai Analis Terorisme di TV One (2019)
Nah, tahun ini merupakan tahun ketika saya mulai masuk tivi nasional sebagai pengamat/analis terorisme. Setidaknya, saya pernah jadi narasumber di INews TV, CNN, TVOne, dan Trans7. Di beberapa televisi itu saya pernah dipanel dengan Dave Laksono (Komisi I DPR), Ansyad Mbai (Mantan Ketua BNPT RI), M. Hidayat Nurwahid (Komisi I DPR), dan Wawan Purwanto (Jubir Ketua BIN). Menjadi narasumber di tivi itu memang beda sama di tempat lain karena kita harus straight to the point dan harus bisa mengaitkan berbagai peristiwa yang kita amati.

Dalam kajian terorisme, saya beruntung kenal dengan Al Chaidar. Beliau tidak hanya kawan seangkatan saya di S3 UI, tapi juga sama-sama murid dari almarhum Prof Achmad Fedyani Saifuddin. Bahkan, saat Prof Afid wafat, saya segera dari Kukusan naik grab motor ke rumah sakit, dan saya kontak Al Chaidar serta Adri Febrianto--dua kawan sesama S3--untuk bareng-bareng kita jemput jenazah Prof Afid--guru kita bersama--untuk membantu keluarganya di RS dan menemani kebutuhan selama di rumah. Di rumah almarhum, kami juga menyiapkan beberapa kebutuhan terkait seperti bunga (kita beli dini hari di Jakarta Timur), dan lainnya.

Al Chaidar adalah pribadi yang punya solidaritas sangat baik kepada kawan. Saya sangat berutang budi kepadanya, termasuk rekomendasinya untuk saya jadi narasumber di televisi. Oya, selain itu saya juga pernah jadi narasumber di Kementerian Pertahanan, itu juga rekomendasi dari beliau. Saya berdoa semoga Bang Al Chaidar senantiasa sehat, dan dapat terus memberikan perspektifnya kepada bangsa kita khususon dalam masalah terorisme.

Sejak masuk di tivi nasional beberapa kawan menganggap saya sudah jadi tokoh nasional yang jadwalnya pasti super sibuk. Padahal, faktanya sih sama saja; ngga sibuk, dan tetap masih rajin komen-komen di medsos. Nyaris tidak ada yang berubah, atau berbeda sebelum dan sesudah masuk tivi. Tivi adalah salah satu media saja tempat kita bisa menyuarakan ide. Dalam hal pergaulan tetap sama sih. Saya banyak belajar dari Al Chaidar soal ini.

Kayaknya cukup dulu untuk soal masuk tivi. *

Depok, 23 Juni 2019  

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...