Monday, June 24, 2019

Perjuangan Menemukan Kebahagiaan

Ilustrasi kebahagiaan dan kebebasan. Source: timsr.ca

Sebelum menulis esai ini saya melihat sebuah artikel Foreign Affairs (6/5) berjudul "The Battle for India's Soul", perjuangan untuk jiwa India yang juga sedang bergejolak pasca sekularisme.
Saya agak ngantuk, sebenarnya. Untuk baca tulisan itu secara utuh, harus pula subscribe dengan bayar sekian dollar, sesuatu yang nggak biasa dilakukan bagi seorang yang tak punya kartu kredit.
Seperti juga tulisan lainnya dari Foreign Affairs, saya hanya baca judulnya, kecuali jika ada yang gratisan yang tulisannya agak full. Kadang saya baca detail demi detail untuk menangkap apa sih maunya si penulis.
Membaca Foreign Affairs, saya kadang teringat dengan salah seorang dosen saya--yang sudah almarhum--yang dulunya tinggal di Pasar Minggu. Lelaki lulusan PhD dari Inggris itu orangnya baik, bersemangat, dan senang sekali berbagi.
Dalam salah satu perkuliahan, beliau menganjurkan agar kita membaca majalah Foreign Affairs, berikut dengan the Economist yang waktu itu saya dapat gratisan di lantai 1 gedung Pascasarjana UI Salemba, serta harus baca buku "War Without End: The Rise of Islamist Terrorism and Global Response" (2002), sebuah buku bagus karya jurnalis asal India yang berusia 119 tahun, Dilip Hiro.
Barusan, saya lihat di Google, Dilip Hiro menulis banyak sekali buku, seperti soal perang dingin dalam dunia Islam, konflik militer Iran-Irak, kamus Timur Tengah, Dunia Apocaliptik jihadis di Asia Selatan, Darah Bumi, dan lain sebagainya. Secara umum, buku dia membahas soal yang panas-panas dalam relasi antar negara, komunitas, dan juga peradaban.
Pada esai ini saya sebenarnya tidak ingin membahas itu. Saya ingin menulis hal yang lain, yaitu soal menemukan kebahagiaan. Kalau dengar kata menemukan kebenaran biasanya kita tertuju pada "pursuit of happiness" yang menjadi salah satu landasan pemikiran orang Amerika, bahwa semua orang berhak untuk mengejar kebahagiaannya masing-masing.
Pada faktanya, memang benar sih; semua orang, bahkan semua komunitas atau negara sekalipun ingin mengejar bahagianya masing-masing. Lagu-lagu mellow misalnya, biasanya bercerita soal "aku hanya ingin bahagia", atau sebuah impian ingin hidup bahagia.
Lagunya Andmesh Kamaleng, seorang penyanyi 22 tahun asal Pulau Alor, NTT, yang berjudul "Cinta Luar Biasa" (2018) juga sebenarnya bercerita soal keinginan untuk bahagia. Lihatlah sedikit liriknya yang bilang begini:
"Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu."
Dalam skala besar, komunitas, negara, bahkan peradaban umat manusia, juga berpikir, bertindak, dan memproteksi sedemikian rupa warganya agar mereka bahagia, dan tercapai kepentingan nasionalnya.
Dalam upaya mencari bahagia itu, terkadang orang terjebak dalam keinginan mencari kebahagiaan tapi melupakaan kebahagiaan orang lain. Maksudnya begini: kadang kita berjuang habis-habisan agar bahagia tapi kita abai dengan hak orang lain untuk bahagia juga. Yang pengen bahagia sebenarnya bukan cuma satu orang, semua orang juga ingin bahagia.
Makanya, karena semua orang ingin bahagia, maka dibuatlah hukum yang membolehkan serta melarang, membatasi serta mempersilakan. Kita diberi rambu-rambu, "ini lho yang boleh, tapi yang sana itu nggak boleh." Jangan dekati yang ini, tapi yang sana itu boleh. Semata-mata hukum itu dibuat agar kita dapat bahagia, dan orang lain juga dapat bahagia.
Dalam konteks berbangsa juga begitu. Komunitas A ingin bahagia yang mereka perjuangkan kebahagiaan itu lewat berbagai ideologi, tapi kelompok B, C, dan D juga ingin bahagia lewat ideologi mereka masing-masing. Kalau masing-masing berkuat-kuatan harus memenangkan "kebahagiaan ideologis" mereka, maka yang terjadi bisa jadi konflik, baik itu terbuka atau tertutup.
Apa yang terjadi di bangsa kita belakangan ini kemungkinan tidak jauh dari konflik soal kebahagiaan ideologis itu. Ketika 32 tahun sebuah rezim berkuasa, bisa jadi yang bahagia cuma satu ideologi, tapi ideologi lainnya jadi sengsara. Setelah reformasi, semua ideologi pun memunculkan diri untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka.
Sama-sama ingin bahagia sebenarnya, akan tetapi kebahagiaan itu tidak akan mewujud baik kalau tidak ada komunikasi yang baik serta sikap saling-percaya. Kita bisa diceritakan bahwa si politisi A sering ngopi dengan politisi B; mereka beda ideologi. Bahkan, mereka biasa pulang bareng naik motor setelah sebelumnya bersengit-sengit lidah di parlemen. Di dalam mereka bergelut tapi di luar mereka berkawan.
Sekarang, kenapa ya orang jadi sensitif banget dengan perbedaan? Padahal, yang namanya perbedaan itu sudah inheren, udah begitu dari sananya. Manusia dulunya dari umat yang satu, dulunya dari satu asal kemudian terpecah dalam berbagai keluarga, suku/kabilah-kabilah, hingga negara. Tujuannya apa? Agar saling-mengenal.
Kita tidak akan bisa saling-mengenal lebih dalam jika kita tidak ada komunikasi yang baik. Pun, kita tidak akan bekerjasama kalau tidak ada sikap saling-percaya. Dua hal itu perlu ada dulu dalam diri kita masing-masing. Termasuk, di media sosial kita juga perlu saling kenal siapa kawan kita, bagaimana karakternya, dan kecenderungannya. Ketika berbeda, tak perlu baper, tak perlu sakit hati, karena bisa jadi apa yang tertulis di medsos itu berbeda diametral dengan apa yang ada ketika bertemu langsung.
Balik lagi kita soal kebahagiaan. Semua kita pastinya ingin bahagia. Akan tetapi, kebahagiaan kita sebaiknya tidak melupakan kebahagiaan orang lain. Hukum juga telah dibuat, kita sepakati saja hukum itu yang bisa menjadi penengah dari berbagai konflik kebahagiaan ideologis, kebahagiaan elektoral, dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. *
Depok, 6 Mei 2019

Tulisan ini pertama kali saya posting di wall Facebook Yanuardi Syukur dan di-republish di Facebook Forum Lingkar Pena Maluku.

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...