Type something and hit enter

author photo
By On
Foto bersama setelah pertemuan alumni KAMMI yang bersepakat untuk membentuk Keluarga Alumni di Bandung. Waktu itu saya sementara kursus bahasa di ITB, jadi saya terbantu untuk hadir dalam kegiatan tersebut.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah salah satu organisasi yang berpengaruh besar dalam diri saya terutama berkaitan dengan leadership dan upaya untuk menjadi muslim negarawan--sebuah istilah yang menjadi brand organisasi.

Di KAMMI, saya berlatih memimpin. Walaupun tidak menjadi pemimpin tertinggi, tapi saya belajar banyak dari KAMMI. Selain KAMMI, saya juga menyerap berbagai kearifan dari berbagai organisasi, misalnya dulu pernah singgah sebentar di HMI, PMII, dan lain sebagainya. Sejak dulu saya berpatokan bahwa kebaikan itu hadir di mana-mana, maka jangan pernah membatasi diri untuk mendapatkan kebaikan dari satu komunitas.

"Karier" saya di KAMMI tidak sampai pengurus pusat. Hanya pernah sebagai pengurus KAMMI Komisariat FIS Unhas, kemudian jadi Koordinator Kastrat KAMMI Komisariat Unhas, dan selanjutnya paling tinggi sebagai Koordinator Kastrat KAMMI Daerah Sulsel.
Bersama teman-teman alumni KAMMI
Foto bersama teman-teman alumni KAMMI
Para peserta. Saya di bagian ujung

Selama di KAMMI, kita tidak hanya bergelut dengan diskusi, tapi juga aksi lapangan. Mungkin itulah yang membuat saya harus selesai sarjana di tahun ke-7. Selama di KAMMI saya dapatkan banyak hal. Dapat teman tentu saja sudah pasti. Yang cukup penting adalah dapat pengalaman ikut terlibat dalam berbagai momentum penting negeri ini lewat diskusi dan demonstrasi. KAMMI punya motto "Aksi kuat, ibadah taat, prestasi hebat." Jadi, kader-kadernya itu tidak hanya kuat dalam aksi lapangan, tapi juga harus kuat ruhiyah, tapi prestasinya juga tidak dilupakan.
Yang cukup berkesan di saya, adalah ketika saya menjadi ketua KAMMI Komisariat Unhas. Ketika itu, saya mengambil terobosan baru dengan mengangkat beberapa kader muda--bukan angkatan saya, 1999--untuk menjadi koordinator. Waktu itu, saya prediksi, kedua kader ini akan jadi orang ke depannya. Maka perlu ada akselerasi, percepatan-percepatan. Munawir Razak (HI 2001) yang pernah menjadi salah seorang koordinator aktif membuat website KAMMI Unhas, dan buletin. Ketika kerja, Munawir menjadi salah seorang "tangan kanan" Menristek.
Sosok lainnya, adalah Rahmad M. Arsyad (Komunikasi 2002). Ia adalah salah seorang koordinator saat saya ketua komisariat. Kini, Rahmad telah menamatkan doktornya, lebih cepat dari saya, menjadi konsultan politik, serta pengajar di BINUS, salah satu kampus favorit di ibukota. Pelajaran pentingnya adalah, terkadang kita harus berani mengangkat yang muda untuk akselerasi organisasi. Mungkin, itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Presiden Jokowi ketika ia mengangkat Komjen Tito Karnavian sebagai Kapolri melewati empat angkatan di atasnya.
Salah satu cara saya untuk berkontribusi di KAMMI adalah dengan menulis buku. Skripsi saya berfokus tentang KAMMI. Belum diterbitkan memang, akan tetapi saya adalah pribadi yang senang untuk "berterima kasih" pada orang-orang/komunitas yang telah membentuk saya, lewat menulis artikel atau buku--yang tidak selalu kutulis dalam kata pengantar.
Skripsi saya berjudul "Paradigma Gerakan KAMMI dalam Membangun Citra Kampus Sosio-Religius." File-nya sudah hilang, dan versi cetaknya sudah dimakan rayap. Semoga di kampus masih ada skripsi tersebut.
Judul "kampus sosio-religius" itu tidak lepas dari aktivitas saya ketika itu yang selain aktif di KAMMI, juga aktif di Forum Kajian Insani SEMA FISIP Unhas (belakangan menjadi SEMA menjadi BEM). Di FKI, saya pernah menjadi ketua umum yang ketika itu atas anjuran senior saya, Andi Muhammad Akram, saya kemudian ikut perekrutan anggota baru PMII di Kantor PW NU Sulsel, Gerakan Pemuda Islam (GPI) Sulsel, serta terlibat dalam Kongres Umat Islam Sulsel I dan II yang dikenal selanjutnya dengan nama Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) dengan ketua Ust Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar dan sekjen Pak Aswar Hasan.
Di Kongres Umat Islam Sulsel I, saya jadi bagian perlengkapan. Ikut rapat di Masjid Alauddin, sebagai pusat kegiatan, yang waktu itu ketuanya Pak Kalmuddin. Pada sebuah sore, saya ingat waktu itu saya bersama Ust Said Abdul Samad naik motor ke wilayah Panakkukang. Di Kongres Umat Islam I itu, namanya juga bagian perlengkapan, saya membantu dalam pembuatan sekitar 1500 sertifikat peserta. Bersama kawan, kita naik motor dari Asrama Haji Sudiang ke salah satu percetakan di depan Mal Ratu Indah.
Pada Kongres Umat Islam II, saya gabung pada seksi acara. Pidato Pak Jusuf Kalla ketika itu tidak begitu memuaskan peserta yang mayoritas untuk agar beliau mendukung semacam otonomi khusus syariat Islam di Sulsel. Sebagai seksi acara, saya berdiri mengarahkan peserta, sambil menyimak pidato Pak JK.
Pada tahun-tahun aktif di KAMMI dan beberapa organisasi Islam tersebut, saya juga hadir dalam diskusi bersama Mantan KABAKIN Letjen (purn) Z.A. Maulani. Ketika itu beliau banyak bercerita soal bangsa kita dan pentingnya tanggungjawab umat Islam untuk terus memperjuangkan bangsa kita. Beberapa materinya sudah ada dalam bukunya seperti "Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia."
Dalam masa-masa itu juga saya mengenal Ali Muchtar Ngabalin. Pak Mansyur Semma sangat dekat dengan Ngabalin. Tautannya mungkin pada PII, organisasi yang Pak Maulani, Pak Ngabalin, dan Pak Mansyur pernah terlibat aktif di dalamnya. Hingga kini, saya masih simpan kartu nama Ngabalin, jauh sebelum ia familiar sebagai salah seorang tenaga ahli di KSP.
Hari-hari sebagai aktivis--kira-kira seperti itu--adalah hari-hari yang membuka banyak simpul perkawanan, relasi, pengetahuan, sekaligus pengalaman.
Kita balik ke KAMMI. Jadi, saya jadi ketua komisariat Unhas itu tidak lama, hanya beberapa bulan. Waktu saya ingin menikah dan mundur dari ketua, beberapa kawan tidak setuju. Waktu itu kita rapat di Mushalla Khairunnisa (MKN). Tapi, saya tetap mundur, dan menikah. Setahun kemudian, saya jadi koordinator Kastrat KAMMI Sulsel.
Di KAMMI ada banyak kenangan yang masih teringat dalam benak saya. Semuanya memberi pengaruh luas biasa hingga sekarang ini. Tapi, saya merasakan ada perubahan sedikit demi sedikit. Sepertinya itu wajar, seiring dengan berjalannya waktu. Maka, setelah aktif di KAMMI, saya pun aktif di KA-KAMMI. Pada pertemuan di Bandung--waktu itu saya lagi kursus bahasa di ITB--para alumni bersepakat untuk membentuk satu wadah sebagaimana adanya KAHMI, dst. Bang Fahri Hamzah, sebagai deklarator KAMMI pada 1998 tidak hadir.
Selanjutnya, di KA-KAMMI juga terbelah dua: Kongres Jakarta dan Kongres Bandung. Pembelahan ini tidak terlihat secara kentara di publik. Saya gabung di kongres Jakarta, ketuanya Bang Fahri, sekretariatnya di Bendungan Hilir. Di publik, aktivitas KA-KAMMI kongres Jakarta lebih bergema, bahkan dihadiri oleh Wapres Jusuf Kalla. Selain itu, nama besar bang Fahri dan posisinya sebagai Wakil Ketua DPR cukup berpengaruh untuk itu.
Pada Mukernas KA-KAMMI di Kuningan, tagline yang diangkat adalah "Arah Baru Indonesia" dengan pembicara kunci Anis Matta. Tidak banyak orasi Anis Matta ketika itu, akan tetapi menjadi panduan bagi kader KAMMI, sekaligus mereka yang bertanya-tanya, "kemana Anis Matta?" setelah tak menjabat presiden partai. Belakangan, "Arah Baru Indonesia" itu mengerucut menjadi gerakan bernama GARBI: Gerakan Arah Baru Indonesia. Tidak ada relasi hegemonik antara KA-KAMMI dan GARBI, akan tetapi terlihat sebagai salah satu upaya untuk berserikat dan berkumpul dengan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai 5 besar dunia.
Bagaimana konsepnya? Saya sendiri belum tahu konsep itu secara jelas. Sepertinya memang sedang disiapkan secara matang oleh The Future Institute. Waktu bertemu Anis Matta di kantor TFI, ia bercerita bahwa ide-idenya diperoleh dari berbagai pertemuan dan diskusi, terutama yang diadakan oleh lembaga think-tank-nya, TFI. *

Tulisan ini pernah saya posting di Facebook. Sekedar untuk mendokumentasikan jejak perjalanan menuju dewasa. 

Click to comment