Monday, June 24, 2019

Catatan Australia-Indonesia Interfaith Dialogue (2)

Moderator yang sangat menarik, ringan, dan lucu

Diskusi panel sesi kedua membahas tentang "Freedom of Expression: Spreading peaceful messages and combatting misuse of media" yang dipandu oleh Mr Dya Singh dengan pembicara Mrs Zulfiani Lubis (IDN Times) dan Mr Umesh Chandra.

Di Australia, kata Dya Singh, familiar sebuah lagu untuk toleransi, yaitu:


"We are one,
We are many,
I am, you are, one family."

(Kita satu,
Kita ramai, Kita saudara).

Dalam materinya, Zulfiani Lubis menceritakan bahwa terkait kartun Nabi Muhammad saw di Jyllands-Posten, Menlu Hassan Wirajuda telah menfasilitasi dialog media terkait hal tersebut. 
Australia juga telah mensponsori para jurnalis dalam membangun understanding antar kedua negara yang sangat penting. 

Media punya peran penting bagi kedua negara. Ada 3000 jurnalis di Indonesia yg butuh journalist training dan juga bagaimana membahas isu agama. Tantangannya: bagaima menyajikan berita tentang agama yang lebih baik dan tidak dangkal.

Selain itu, kaum milenial sangat signifikan bagi masa depan Indonesia. Milenial yg pro-khilafah tidak banyak yang tahu tentang persepsi soal negara khilafah. Beberapa 
persen Milenial juga menolak pemimpin non Muslim seperti dalam kasus penolakan terhadap Ahok.

Televisi dan media digital (internet, medsos) berpengaruh terhadap milenial. Maka, editorial media sangat penting dan berpengaruh bagi mereka. Mereka juga lebih percaya pada Whatsapp grup atau kadang disebut "grup sebelah." WA alumni berpengaruh bagi netizen dalam cara berpikir mereka yang akan disebarkan kepada orang terdekatnya. Maka, jika ada hoax yg masuk ke WA, itu sangat berbahaya.
Lagu pemersatu



Materi Zulfiani Lubis

Materi Umesh Chandra
Milenial juga ada yang cenderung jadi golput dalam pilpres karena mereka bosan dengan debat-debat politik, sementara yang mereka pikirkan adalah bagaimana dapat pekerjaan bagi hidup mereka. Saat ini banyak media online. Bagaimana cara menanganinya dengan interfaith dialogue agar media tidak menyebarkan hoax? Ada 800 media yg menyebarkan hoax di Indonesia.

Diskusi politik kita banyak terbawa pada diskusi agama. Para jurnalis jangan sampai menyebarkan miss information karena berpengaruh kepada publik. Media harus terbiasa dengan verifikasi agar tidak menyajikan informasi yang salah. Di Tenggulun, kampung dari Bali Bomber, dibuat yayasan perdamaian yang dibuat untuk menyebarkan semangat perdamaian, deradikalisasi, dan empowering ex combatant.

Umesh Chandra dari Hindu Chaplain, University of Queensland menjelaskan bahwa dialog seperti ini sangat penting di zaman sekarang. 
Promosi social harmony and diversity sangat penting dalam interfaith community. Selama 16 tahun ia mendirikan organisasi People of Indian Origin sebagai promosi religious harmony lewat majalah, radio, dan televisi (Australian Indian Radio).

Dalam sesi pertanyaan tentang hoax dan media, Zulfiani menjelaskan bahwa seluruh konten harus diverifikasi agar tidak menyebarkan hoax yg bakal disebar oleh publik di medsos. 
"Lazy journalist" banyak yang tidak memikirkan efek dari konten yg mereka sebar. Ini jadi tantangan tersendiri.

Umesh menjawab, bahwa newspaper journalist punya deadline yang harus mereka tepati. Tapi mereka juga harus mempraktikkan checks and balances dalam kontennya. Jika ada berita yang salah, maka mereka kemudian publikasi info yg baru, baik dari media atau surat dari pembaca. Kutipan menarik dari moderator Sigh menutup sesi ini, "If you don't see god in all, you don't see god at all." *

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...