Type something and hit enter

author photo
By On
Nasyid Brothers
Menulis soal nasyid, jenis "lagu islami"--sebutlah seperti itu-saat ini tidak menarik (kira-kira seperti itu) karena beberapa faktor. Pertama, orang sudah mulai meninggalkan nasyid dan efeknya kemudian adalah hadirnya "kegamangan" dalam mencari jenis musik yang islami. Kedua, tidak adanya terobosan dari para munsyid untuk menghadirkan konten-konten kreatif yang dapat adaptif dengan perkembangan zaman.

Memang, di beberapa daerah masih ada nasyid disenandungkan, akan tetapi sudah tidak familiar. Dulu di berbagai kegiatan Islam nasyid selalu diputar, tapi kita sudah tidak ada, at least sudah jarang, kecuali untuk acara-acara seperti pengumpulan dana umat dan sejenisnya. Kawan-kawan saya yang dulunya munsyid juga saat ini sudah tidak kedengaran lagi; ada yang jadi politisi, ada yang konsen ngumpulin dollar lewat berbagai digital marketing, ada yang jadi desainer, dan ada juga yang memilih karier di perbankan.

Sebagai orang yang dipengaruhi oleh nasyid, saya melihat bahwa nasyid ini bagus sekali peranannya. Bagusnya adalah, syair-syairnya itu dalam, menyentuh kalbu, dan bisa menggerakkan orang. Malam ini misalnya, saya mendengarkan nasyid lama yang dulu biasa saya dengar saat masih rada "proletar" (walaupun sekarang belum [dan tidak berpretensi akan] "borjuis").

Waktu itu saya masih mahasiswa di Unhas. Saya tinggal pindah beberapa kos. Salah satu tempat yang saya sempat singgahi adalah Masjid Salman Al-Farisi yang terletak di pintu dua kampus Unhas. Waktu itu saya tinggal bareng Mas Johan Wakhyudin, seorang kawan sesama aktivis Forum Kajian Insani. Johan adalah ketua FKI sebelum saya.

Ketika tinggal di masjid itu, tepatnya sih saya numpang di atas, karena Johan yang punya "otoritas" tinggal, saya biasa mendengarkan nasyid Brothers. Ada banyak syair Brothers yang enak-enak, seperti soal menikah. Waktu itu memang lagi rame di kampus, terutama di kalangan aktivis mushalla/masjid, untuk menikah muda. Kawan saya, satu tingkat di atas saya, M. Nurhidayat Kaban, bahkan menikah duluan dengan kawan seangkatan saya, Maryam Nurfatkhanni, yang satu angkatan dengan kawanku yang baik Achmad Abdi Amsir.

Hari-hari mendengarkan nasyid Brothers itu adalah hari-hari perjuangan betul dalam hidup saya. Kadang saya nggak ada uang tapi harus ke kampus. Bingung juga. Beasiswa kadang sudah habis. Atas kebaikan hati Johan, saya sering dapat makanan gratis di "Warung Sabili" yang ia dirikan di samping kios Keadilan milik Ustad Umar Qosim.

Kadang, kalau lagi ngga ada uang, saya juga minta ke Mas Johan. Baik betul kawanku yang itu. Ia satu tingkat di atas saya, tapi ia sangat baik. Ketika ke Makassar kadang saya ingin bertemu Johan, tapi kadang juga ngga sempat. Waktu itu, ia telah pindah kios di depan kampus UIM Makassar. Saya sempat bertemu. Dari Depok saya berdoa semoga kawanku Mas Johan dan keluarganya mendapatkan rezeki yang terbaik dari Allah swt atas kebaikannya yang begitu tak terlupakan oleh saya.

Saya ingat, waktu itu Johan bercerita bahwa ia menjual sawah di Jawa untuk usaha rumah makan tersebut. Luar biasa. Saya waktu itu hanya bisa aktif sebagai fungsionaris organisasi tanpa mendatangkan uang. Ya, kalaupun ada kadang uangnya lebih banyak dari proposal yang ditujukan untuk kegiatan organisasi. Tapi, itu juga berkesan banget. Saya kadang ingat masa-masa ketika rapat di Mushalla Khairunnisa, Mushalla Ibnu Khaldun, Masjid Kampus, dan di berbagai tempat lainnya. Berkesan juga ya masa-masa hidup di kampus ketika perut kita masih rada langsing dikit :)

Lagu-lagu Brothers itu menemani saya. Saya ingat salah satu lagunya berjudul "Teman Sejati." Teman sejati itu menceritakan kayak harapan para lelaki muslim untuk mendapatkan pasangan hidup yang saleh. Mahasiswa yang jadi aktivis dakwah kampus itu sebenarnya ngga soleh-soleh amat, tapi mereka itu punya semangat untuk menjadi soleh. Itu aja sih. Memang, mereka kadang agak membatasi pergaulan tapi itu bagian dari cara mereka untuk hidup yang islami.

Yang mereka idamkan adalah dapet akhwat yang dapat menemani mereka dalam berjuang:

Selama ini kumencari-cari
teman yang sejati
buat menemani perjuangan suci

Bersyukur kini

pada-Mu ilahi
teman yang dicari 

selama ini
telah kutemui


Sebagai orang yang pernah aktif di dunia tersebut, saya memahami betul bagaimana perjuangan mahasiswa aktivis tersebut untuk menjadi muslim di tengah berbagai gejolak hidup. Mereka ingin betul jadi orang saleh. Tentu saja ya tidak sepenuhnya tepat karena mereka juga dianggap tertutup. Tapi, saya kira itu soal perspektif saja. Mereka orang-orang yang baik, ingin terus berbuat baik, dan butuh untuk diajak oleh siapa saja dalam berbagai amal-amal positif. Seperti juga para aktivis nasionalis lainnya yang juga punya kelebihan dan kekurangan. Masing-masing ada plus minusnya, yang paling penting adalah sama-sama bertujuan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dan tanpa kekerasan.

Kembali lagi nasyid. Saya tuh kadang teringat aja dengan nasyid. Walaupun nggak bisa menyanyikan nasyid itu dengan baik, tapi saya menyenanginya. Kadang, kalau lagi sendiri saya mendengarkan nasyid, ganti-gantian dengan mendengarkan lagu-lagu dari Slank, Dewa 19, hingga Guns n Roses. Kombinasi yang cukup aneh; peminat nasyid Brothers sekaligus GnR. Gimana tuh ya? :) Saya juga bingung.

Rupanya nasyid itu hanya bagian kecil dari jenis seni yang ada dalam dunia ini. Banyak betul jenis seni yang telah dihasilkan manusia sepanjang peradaban. Kita tinggal memilih mana yang berguna buat kita; dalam artian dapat membangunkan kita saat tertidur atau dapat membangkitkan saat kita sedang lemah. Gunanya seni kira-kira sih seperti itu, dalam pandangan saya yang awam ini. Oya, bagi teman-teman yang senang nasyid, selamat menikmati (kembali) nasyid yang dulu pernah dinikmati, bahkan memberikan pengaruh dalam hidupnya masing-masing. *

Depok, 23 Juni 2019

Click to comment