Monday, June 24, 2019

Australia-Indonesia Interfaith Dialogue (4)

Materi Sr Elizabeth Vagg pada sesi ketiga

Setelah istirahat, kita memasuki sesi ketiga dengan tema "Adressing the problems: Strengthening cooperation and advocating policy towards inclusive society" yang dipandu oleh moderator Robert Oloan Rajagukguk, PhD.

Salah seorang pembicara, Dr Saefudin Syafi'i membawakan materi soal pendirian Kemenag dan perkembangan keagamaan di Indonesia. Wacana Islam di Indonesia terus berkembang hingga saat ini terlihat dalam dua bentuk, yaitu Islam berkemajuan Muhammadiyah dan Islam Nusantara Nahdlatul Ulama.

Di Indonesia, msh tabu jika orang menyebut dirinya atheis, berbeda dengan negara lain. Sifat tabu itu terkait juga dengan adanya resistensi dari masyarakat terhadap atheisme. Di Indonesia umumnya orang berpikir bahwa beragama adalah kewajiban. Jika tidak beragama, bisa-bisa disebut sebagai komunis (walaupun komunis juga ada yang beragama).

Islam menempatkan keadilan sebagai poin pertama seperti dalam ayat "innalla ya'murukum bil adli wal ihsan" akan tetapi sayangnya banyak yang tidur saat salat jumat. Padahal keadilan itu penting sekali.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Mr. K. S. Arsana, head of Prajaniti Hindu Indonesia. Arsana mencontohkan kata move forward dan move to me. Beberapa peserta yang berpegang melingkar diberi instruksi move forward. Maka masing-masing bergerak ke depan.

Materi dan simulasi menarik dari K.S. Arsana
Sesi penutupan
Siapa yang menang? Tidak ada. Kemudian masing-masing diberi perintah move to me. Akhirnya, mereka sama-sama ke arah Mr Arsana. Artinya, jika masing-masing kita berkeras maka tak ada yang menang. Tapi jika tujuannya sama, maka yang menang juga sama-sama.

Manusia punya dua sisi, spiritual dan fisik. Orang Hindu berhati-hati dengan pikiran karena pikiran dapat berpengaruh pada sikap. Jika pikiran buruk, maka dapat berimplikasi pada sikap yg buruk. Apa yang disebut sebagai social inclusiveness perlu dipromosikan di sekolah. Juga, inclusive economy, yaitu empowering manusia agar mandiri. Kita juga perlu untuk respect to local wisdom. Itu penting. Menjaga nature juga sangat penting karena kita bagian dari nature.

Materi ketiga dibawakan oleh Sr. Elizabeth Vagg, seorang pendeta Katolik dari Australian Maritime College Australia. Beliau membahas soal inclusive society, yaitu masyarakat inklusif. Untuk menciptakan itu maka kita harus membangun jembatan, bukan dinding. Let us build bridges, not walls, kata Vagg. Sangat menarik kutipan tersebut.

Materi Dr Zuleyha Keskin yang dipandu Quang Ba Thich

Tabloid Diplomasi milik Kemlu yang dibagikan pada hari kedua
Scene film da'wah

Rev Johannes membahas film da'wah. Jika ada waktu, sebenarnya bagus juga ada pembedah dari kalangan Islam yang dapat menjelaskan terkait dunia pesantren
Setelah tiga sesi kelar, acara kemudian ditutup. Closing remarks disampaikan oleh Dirjen Cecep Herawan yang mengatakan bahwa kita  perlu meningkatkan media literacy khususnya untuk kalangan muda terkait interfaith dialogue. Juga, perlu meningkatkan kapasitas perempuan dalam isu ini. Kita juga perlu promosi tolerance, social harmony, mutual trust dalam masyarakat. Ide ini perlu diturunkan ke level grass roots, ke akar rumput.

Esok harinya, acara dilanjutkan di kampus Universitas Kristen Maranatha. Di sana ada materi yang dibawakan oleh Dr Zuleyha Keskin, course director & senior lecturer Center for Islamic Studies and Civilization Charles Sturt University, Australia.
Dalam materinya, Keskin menjelaskan soal pentingnya menyebarkan yang positif di media sosial. Apa yang kita sebarkan bisa menjadi kebiasaan di medsos. Moderator pagi ini oleh Quang Ba Thich. Saat ini kita perlu bijak dlm menggunakan medsos. Lebih bagus menyebarkan peace ketimbang warApa yang kita posting terkait dengan circle dan influence yang mengelingi kita. Kita perlu sekali memilih apa saja konten yang akan diposting dan bertanggungjawab dengan apa yang telah diposting.

Juga ada sesi nonton film da'wah. Film ini cukup bagus menurut saya. Kata seorang kawan saya, Naeli Fitria, staf khusus Dubes Inggris H.E. Moazzam Malik, di Kedubes Inggris, film tersebut juga sempat diputar di acara Kedubes Inggris. 


Film ini dibuat oleh Italo Spinelli. 
Filmnya menceritakan kehidupan sehari-hari santri di pondok pesantren. Dimulai dengan bagian keamanan yang membangunkan santri salat subuh dan salat subuh berjamaah. Scene salat diambil hampir secara. Jadi, kita bisa melihat salat dalam video yang komplit.Santri yang diwawancarai bercerita bahwa selesai salat ia baca wirid kemudian ada juga pengajiannya yg disebut Halaqah Hadrami. Setelah salat, santri senam pagi di lapangan.

Kemudian pengajian berjudul "da'wah". Makna umumnya mengajak, atau mengajak pada agama, pada kebaikan. Juga dijelaskan oleh ustad dalam film tersebut soal tidak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan. Di sini juga ada bahasan tentang pentingnya jihadul akbar melawan hawa nafsu dan jihadul ashgar dalam pertempuran. Boleh dikata, film ini bisa jadi kampanye positif bahwa Islam bukan agama perang, dan kekerasan. Para santri juga tidak hanya tahu Islam tapi juga tahu klub sepakbola dunia, bahkan pembalap Valentino Rossi.

Selain materi dari Zuleyha, juga ada diskusi film da'wah yang dibawakan oleh Rev Johannes, seorang pastur asal Jawa. Ia memberi komentar bahwa film ini dpt berguna untuk melawan terorisme atas nama agama. 
Salah satu sebab dlm konflik Islam-Kristen adalah pada tafsiran terkait Isa Al Masih

Kemudian, setelah makan siang kami berkunjung ke beberapa rumah ibadah di Bandung seperti Masjid Lautze dan lorong toleransi yang di situ berdekatan lokasi gereja, masjid, dan pura. Di sesi ini saya juga berkenalan dengan Dirjen Cecep Hernawan, beberapa pejabat Kemlu, dan juga anak muda yang mengikuti program ke Australia dan sempat bertemu Presiden Jokowi di negeri Kangguru tersebut. *

No comments:

Post a Comment

Bahagia di Tengah Pandemi

Semua kita perlu mencari cara-cara bahagia di tengah pandemi yang belum menunjukkan kapan selesainya. Mendengarkan lagu lawas adalah cara sa...