Type something and hit enter

author photo
By On
Foto bersama Dubes Australia H.E. Gary Quinlan dan Boyd Whalan di sela-sela istirahat siang

Saat istirahat siang, saya bertemu dengan Mr Boyld Whalan, diplomat muda yang menjadi PIC program tersebut. Di dekatnya ada Dubes Australia H.E. Gary Quinlan. Ia kemudian memperkenalkan saya (kembali) dengan Pak Dubes.

Saya sudah kenal dengan Dubes, akan tetapi seperti biasa seseorang tetap perlu diperkenalkan, jangan-jangan ada lupa. Kepada Pak Dubes saya mengucapkan terima kasih telah mengundang saya dalam kegiatan yang sangat baik ini. Kegiatan ini sangat penting dalam upaya untuk mendekatkan relasi antaragama sekaligus kemitraan antaragama yang signifikan dalam masyarakat.

Baik Indonesia maupun Australia, sama-sama meyakini bahwa para tokoh agama adalah salah satu pilar penting dalam demokratisasi. Indonesia sebagai negara yang besar tidak bisa memandang sebelah mata peran tokoh agama. Di pundak mereka umat menggantungkan harapan, dan kepada mereka juga umat atau jemaat bertanya soal mana yang boleh dan mana yang terlarang; mana halal mana haram. Mereka sangat penting peranannya.

Sejak 2002, Pemerintah Australia misalnya membuat program pertukaran tokoh muda muslim antarkedua negara. Australia meyakini bahwa kontak antarpemimpin muda berbasis keyakinan keagamaan sangat penting peranannya. Bom Bali adalah contoh jelas bagaimana terorisme menjadi jalan pintas bagi segelintir orang untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai "musuh dekat".

Membaca berbagai tulisan yang ditulis oleh pelaku teroris kita menemukan bahwa mereka mendasarkan aksinya pada ajaran keagamaan. Memang, dalam agama (Islam) ada ayat-ayat tentang perang, akan tetapi ayat-ayat tersebut sifatnya kontekstual, dan tidak bisa dimaknai semua hal sebagai perang. Kondisi Indonesia saat ini bukanlah kondisi perang, maka tak boleh ada pemikiran bahwa aparat keamanan di Indonesia (berikut orang asing) harus diperangi.

Lewat pertukaran tokoh muda muslim, Pemerintah Australia juga mengirimkan orang Australia ke Indonesia. Para tokoh muda itu dikirim untuk berdialog dan melihat langsung bagaimana Islam dipraktikkan di Indonesia agar mendapatkan gambaran yang jelas dan dari jelas. Terkadang ya kita itu suka tidak suka kepada orang lain karena kita melihat dari tempat yang jauh. Padahal, apa yang terlihat dari jauh belum tentu tepat untuk merekam apa yang terjadi di lapangan dari dekat.

Pertukaran tokoh berbasis keagamaan tidak hanya dilakukan oleh Australia tapi juga Amerika. Saya tidak tahu persis sejak kapan program pertukaran yang Amerika, akan tetapi program seperti IVLP sangat baik untuk mengajak para tokoh muda Indonesia melihat Amerika dari dekat. Namun, program tokoh muda Amerika ke Indonesia saya belum mendengarnya, kecuali misalnya dari Dubes Sonny Bowoleksono yang bercerita ke saya bahwa ia biasa membawa para diplomat Amerika untuk berkunjung ke pesantren. Hal itu, kata Dubes Sonny yang pernah lima tahun berkantor di Washington DC. bertujuan agar diplomat Amerika mengenal Islam Indonesia lebih dekat. Varian Islam Indonesia memang agak berbeda dari segi kultur, akan tetapi dari segi doktrin keagamaan seperti arkanul iman, arkanul islam, tetaplah sama.

Dari segi mazhab, Indonesia sepertinya agak dekat dengan Mesir. Sama-sama negara yang mayoritas penduduknya mengikuti Sunni. Negaranya juga multikultur. Mesir pernah dipimpin oleh pemerintah yang diktator seperti Husni Mubarok, sedangkan Indonesia juga pernah. Jadi, ada kesamaan.

Apa yang ditulis oleh antropolog Amerika Saba Mahmood dalam bukunya Politics of Piety, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Dalam buku itu, Mahmood meneliti pengajian perempuan yang ada di beberapa masjid di Kairo. Pengajiannya sama dengan kita, di sana dimensi-dimensi kesalehah diajarkan, bahkan diaplikasikan.

Kembali pada pertemuan dengan Dubes Australia. Saya mengatakan kepada beliau bahwa kegiatan seperti ini bagus untuk dilanjutkan tiap tahunnya, dan kalau perlu yang kedua diadakan di Australia dengan mengajak tokoh muslim Indonesia ke sana. Pada acara perdana ini, tokoh agama dari Australia juga hadir ke Bandung semata untuk acara tersebut.

Saat makan siang saya ngobrol dengan Dr Pradana Boy yang saat ini aktif sebagai asisten staf khusus Presiden RI. 
Menurut cerita seorang kolega saya di AIMEP, Subhan Setowara, sejak lama Mas Pradana diminta ke Jakarta untuk jadi staf kepresidenan yang waktu itu di bawah Prof Din Syamsuddin, utusan khusus Presiden RI, akan tetapi baru saat ini ia bisa menetap di Jakarta dan bertugas sebagai asisten khusus staf presiden.
Makan siang bersama Mas Pradana dan dua biksu Australia

Ketika makan siang, saya juga berdialog agak lama dengan master Buddha yang 35 tahun membangun kuil di Canberra. Quang Ba Thich, namanya. Kami ngobrol mulai dari yang berat seperti masalah di Myanmar hingga hal-hal sederhana seperti kehidupan monk (para biksu) yang tidak menikah dan kenapa tidak memelihara rambut. 
Ketika saya bertanya soal rambut, ia menjawab, "Itu untuk menjaga hidup sederhana."

Mereka tidak menikah karena mencintai lawan jenis adalah sebentuk penderitaan. Mereka tidak ingin menderita, maka tidak menikah.


Gantian, beliau juga bertanya balik ke saya. "Kenapa perempuan muslim menutup kepala?" Saya jawab, "Perempuan mengenakan hijab/jilbab itu karena ada perintah dari Tuhan kepada Nabi Muhammad swt agar kaum muslim menutup auratnya." Jadi, itu berdasarkan perintah Allah. Jika tidak ada perintah maka tidak mungkin kaum muslimah akan melakukannya. 

Tapi, di beberapa negara ada yang jilbabnya besar seperti di Iran, dan juga ada yg pendek dan sedikit terbuka. Itu bagaimana? tanya beliau.

"Fakta itu sangat bergantung pada tafsir atas ajaran agama yang bisa berbeda antara satu dan lainnya," jawab saya secara singkat. Merujuk pada pendapat M. Quraish Shihab, tafsir atas ayat jilbab memang bermacam-macam. Beliau sendiri berpendapat bahwa jilbab itu berkaitan dengan pakaian yang sopan, maka ia tidak mewajibkan bagi anaknya berjilbab. Pendapat beliau tentu saja tidak disetujui oleh banyak orang, akan tetapi ada juga ulama yang berpendapat demikian.

Saya pribadi lebih mengikuti pendapat bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Itu sebagai tanda kemuslimahan seseorang. Adapun jika ada yang belum berjilbab maka itu dilihat sebagai prosesnya dalam beragama. Akan tetapi, jika ada yang berjilbab tapi terlihat rambutnya, saya kira itu juga sesuatu yang perlu kita hargai karena mereka juga melakukannya dengan dalil yang diyakini kebenarannya. *

Click to comment