Type something and hit enter

author photo
By On
Saat tiba di Semanggi
Dalam perjalanan dari Stasiun Manggarai ke Kemendikbud kemarin (5/12/2018), saya sempat bercerita dengan seorang sopir Grab Bike.

Dia bercerita bahwa sering dia mengajukan lamaran kerja di kantor, tapi selalu tidak ada panggilan. Dia melamar sebagai Office Boy (OB).

Orang yang di kantor bertanya, "Bapak ada yang bawa nggak?"

Maksudnya, ada "orang dalam" tidak di sini. Jawab bapak itu, "nggak ada mbak."

"Kalau begitu, nanti tunggu dipanggil aja ya pak," kata orang kantor.

Berkali-kali si bapak memasukkan lamaran sebagai OB, tapi tak kunjung juga ada panggilan.

Sementara itu, dia punya dua tanggungan. Anaknya sudah mau masuk TK. Bayaran sudah mulai ada. Kemudian, dia juga harus bayar kontrakan. Istrinya tidak bekerja.

Mendengar cerita itu, saya jadi empati.

"Ini juga saya bawa map terus, pak," kata dia lagi.

Saya lihat di depan kakinya ada map yang agak usang. Mungkin karena sudah lama dibawa-bawa dan bercampur debu dan panas sehingga bentuknya tidak begitu bagus lagi.

Fenomena pencari kerja di Jakarta yang menunggu panggilan kayaknya bukan cuma bapak itu. Masih banyak lagi masyarakat kita yang memasukkan lamaran, kemudian menunggu sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kapan dipanggilnya? Itu juga tidak jelas. Sementara, bayaran kontrakan tetap harus jalan.

Motor yang dia pakai terlihat sudah butut. Helm-nya juga begitu. Agak rusak di beberapa bagian. Saya ingin komplain, tapi nggak tega. Saya ingin beri masukan, tapi nggak enak.

Semua orang pasti punya masalahnya sendiri-sendiri. Mulai dari masalah keuangan hingga masalah personal lainnya yang mungkin hanya dia yang tahu.

Hidup di ibukota ini memang harus kuat. Kalau nggak kuat, cepat sekali akan dilindas. Orang bilang, Jakarta memang kejam. Tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Karena ada juga orang yang mendapatkan peluang dari Jakarta.

Terlepas dari soal rezeki, kata saya, tiap kita harus berusaha keras. Jangan putus asa. Itu kuncinya. Selama kita mau berusaha, insya Allah selalu ada saja yang akan terbuka.

Mungkin saat ini rezeki dalam bentuk materi memang belum dibuka oleh-Nya, akan tetapi rezeki dalam bentuk lain bisa jadi sudah ada. Misalnya, rezeki kesehatan. Punya istri yang sehat, dan punya anak-anak yang sehat serta lucu juga bagian dari rezeki.

Lihatlah, banyak orang yang punya rezeki materi berlebih tapi mereka tidak bahagia dengan pasangannya. Lihatlah banyak orang yang punya anak yang pintar, tapi mereka tidak bahagia juga. Tak jarang kita baca dan dengar di berita bahwa banyak orang kota yang sudah makmur menjadi stress, kemudian konsumsi narkoba, kemudian terlibat dalam berbagai kejahatan. Mereka sudah berpunya, tapi jiwanya kosong dan akhirnya kekosongan itu menjadi mereka menjauh dari kedamaian.

Saya mendengar sambil merenung kalimat-kalimat yang keluar dari bapak tersebut. Terasa begitu sulit. "Kadang saya dapatnya 50 ribu sehari, Pak," kata dia. Sekarang ini, driver semakin banyak. Dulu, mungkin banyak pemasukan tapi kini jadi jarang.

Saya juga pernah dengar cerita dari seorang sopir lainnya di dekat Universitas Pancasila. Namanya Maul. Lengkapnya Asmaul Husna. Dia bercerita bahwa dalam beberapa jam ini dia belum juga dapat orderan. Entah kenapa. Dia bingung. Saya bilang begini, "mungkin harus coba cari daerah lain mas yang bisa jadi lebih cepat dapat orderan."

Memang betul sih. Kata dia, di daerah tertentu ada yang agak susah dapat orderan, tapi ada juga yang mudah. Dia lihat beberapa temannya sering dapat, tapi dia agak susah dapatnya.

Saya bertanya, "Mas, itu namanya bagus banget ya."

Kata dia, "Iya, mas. Waktu ibu saya hamil 4 bulan, bapak saya udah niatin kasi nama Asmaul Husna."

"Oh, gitu ya."

"Kalo yang lahir perempuan, panggilannya Husna. Kalo laki-laki, panggilannya Maul," kata dia saat kami melewati sebuah pekuburan di belakang kampus.

Oalah, begitu to ceritanya. Oke deh, sukses Mas Maul!

Di sisi lain saya juga sering dapat sopir yang udah dapat orderan, tapi dia batalkan. Alasannya, karena lokasi yang saya tuju itu jauh. Jadi, soal jauh ini jadi alasan untuk menolak rezeki. Padahal, sejauh perjalanan saya naik grab biasanya tidak jauh-jauh amat. Paling jauh mungkin 20 kilometer. Artinya, masih bisa dijalani.

Ada juga yang menolak dengan alasan capek, atau lagi makan. Kalau soal capek memang sih baiknya istirahat. Atau ketika makan. Sebaiknya, para sopir ojek online mematikan aplikasinya saat dia tidak bisa antar, karena bisa jadi saat mereka makan kemudian masuk pesanan. Karena mereka nggak bisa, maka kita pun membatalkan. Tapi entah kenapa kadang ketika membatalkan itu--karena driver-nya tidak mau ambil, misalnya--pulsa OVO kita jadi berkurang. Kita nggak naik, tapi pulsa kita terpotong.

Yah, begitulah. Banyak macam orang di Jakarta yang mencari rezeki. Ada yang berkali-kali melamar tapi tidak dapat, tapi ada juga yang sudah dapat penumpang tapi tak juga diambilnya. Untuk yang kedua ini, ada baiknya untuk mereka mengingat pesan seorang driver yang pernah saya dengar. Dia bilang begini, "saya itu mas, kalau ada penumpang, walau dekat tetap saya ambil, karena saya yakin itu rezeki juga." Luar biasa, driver tersebut.

Menjelang turun dari ojek online tadi, saya kemudian berinisiatif untuk memberikan sesuatu kepada anak-anaknya bapak driver tadi. "Buat anaknya, pak," kata saya. Perasaan senang pun hadir dalam diri saya, ketika saya bisa berbagi kepada orang lain, walau tidak seberapa.

Ya Allah, condongkanlah hati kami selalu kepada kebaikan, selalu kepada kebaikan.
*

Click to comment