Type something and hit enter

author photo
By On
Margaret Mead

Margaret Mead (1901-1978) adalah salah seorang ahli antropologi yang masyhur namanya sampai sekarang. Pernah waktu saya memperkenalkan diri sebagai PhD student dalam antropologi, seorang kolega dari Australia menyebut nama: Margaret Mead.

Boleh dikata, nyaris tidak ada antropolog yang buku-bukunya laris seperti buku Margaret Mead. C.P. Kottak dalam tulisannya "Presenting Anthropology to Diverse Audiences" yang dimuat dalam buku Handbook of Methods in Cultural Anthropology (H. Russell Barnard, ed.) menulis, "No cultural anthropologist has dominated the trade market as did Mead." Satu alasannya, lanjut Kottak, karena Mead menggunakan berbagai media untuk mentransformasikan pengetahuan antropologinya seperti lewat buku, artikel, majalah, dan saluran televisi, radio, dan kuliah umum (p. 738-739).

Pagi ini saya membaca buku biografi Mead yang ditulis oleh Jane Howard. Judulnya Margaret Mead: A Life. Diterbitkan oleh Ballantine Books tahun 1984. Buku ini ditulis model novel yang mengalir dengan bab-bab dengan judul yang menarik. Beberapa diantaranya adalah di part 1: "like a family of refugees", "be lazy go crazy"; part 2: "climbing at forty thousand feet", "in the center of the planning"; part 3: "you only saw a fragment of the iceberg", "Bishops may not, but Anthropologist do"; dan part 4: "elder statescreature", dan "but this is different."

Sekilas, jika belum baca isinya kita jadi bertanya-tanya, apa maksud dari judul bab tersebut. Sebagai sebuah karya populer, buku ini memang berusaha untuk "melintasi zaman dan waktu" dengan cara menyajikan hal-hal menarik, individual, dan khas dari seorang Margaret Mead.

Mead dilahirkan dari keluarga yang rasional, dan sekular-agnostik, yaitu tidak percaya agama yang juga sekular--memisahkan antara agama dan negara/dunia dan akhirat. Walaupun tidak beragama, keluarga mereka punya satu motto--berasal dari kakek Mead--yang bunyinya seperti ini: "do good because it is right to do good." Kerjakanlah yang baik, karena sebuah kebaikan jika bisa mengerjakan yang baik. Bapaknya adalah seorang professor, sedangkan ibunya seorang aktivis sosial.

Ketika besar dan aktif sebagai antropolog, dia berkawan dekat dengan seniornya bernama Ruth Fulton Benedict (biasa disingkat Ruth Benedict). Untuk Benedict, Mead menulis buku An Anthropologist at Work, semacam persembahan kepada seorang kawannya yang telah menjadi instruktur dalam antropologi selama lima belas tahun.

Salah satu penelitian Mead yang terkenal adalah penelitiannya di Samoa, salah satu kepulauan milik Amerika. Perjalanan sejauh 9000 mile itu ditempuh Mead dengan tujuan agar "menambah informasi etnologis terkait dengan kebudayaan perempuan primitif." Tidak banyak antropolog perempuan yang dapat melakukan itu. Akan tetapi Mead melakukan penelitian secara serius soal "reaksi perempuan dan partisipasi mereka dalam kebudayaan setempat."

Buku berjudul Coming of Age in Samoa karangan Mead adalah buku rujukan dalam mata kuliah etnografi. "Menjadi Dewasa di Samoa", begitu terjemahannya. Di UI misalnya, kita mempelajari buku ini bersama dengan buku-buku klasik lainnya seperti The Nuer karya Evans-Pritchard, Patterns of Culture karya Ruth Benedict, Religion of Java karya Geertz, dan lain sebagainya.

Keterkenalan Mead sampai saat ini--seperti yang ditulis C.P. Kottak dalam salah satu tulisannya--rupanya pernah juga diungkapkan oleh Ruth Benedict. "Sebenarnya," kata Benedict, "Mead tidak berencana untuk menjadi the best anthropologist, akan tetapi dia berencana untuk menjadi orang yang terkenal." Proses untuk "to be the most famous" tidak terlepas dari minat Mead terhadap antropologi, dan bagaimana dia memanfaatkan--dalam bahasa kita sekarang "mengkapitalisasi"--segenap resources yang ada untuk keterkenalan tersebut.

Dalam buku biografi ini, banyak sekali hal-hal baru dan personal yang ditulis oleh Jane Howard, sarjana lulusan University of Michigan tersebut. Kalau selama ini kita membaca Mead hanya dari teorinya soal perempuan Samoa, maka buku ini menawarkan suatu pendekatan yang lebih intim bersama Mead. Kita jadi tahu siapa dia, dari mana dia berasal, apa yang melatarbelakangi dia melakukan sesuatu, dan bagaimana seorang antropolog dituliskan kisah hidupnya.

Sebagai "antropolog perintis", Mead telah menghasilkan banyak publikasi penting. Selain Coming of Age in Samoa (1928), dia juga menulis Growing Up in New Guinea (1930), The Changing Culture of an Indian Tribe (1932), Sex and Temperament in Three Primitive Societies (1935), Male and Female (1949), New Lives for Old: Cultural Transformation in Manus (1956), People and Places (1959), Continuities in Cultural Evolution (1964), Culture and Commitment (1970) dan sebuah biografi tentang masa mudanya berjudul Blackberry Winter (1972). Dari beberapa buku itu, yang paling dibahas di Indonesia setidaknya dua buku, yaitu Coming of Age in Samoa dan buku Sex and Temperament in Three Primitive Societies. Di Pascaarjana Antropologi UI, buku "Sex and Temperament" dibahas oleh Prof. Meutia Hatta.


Biografi Mead karya Jane Howard

Lantas, apa temuan Mead selama di Samoa?

Selama penelitiannya, Mead hendak melihat gangguan-gangguan yang dialami remaja di Samoa dan korelasinya dengan kebudayaan setempat. Dia peneliti sekitar 68 orang perempuan berusia 9 hingga 20 tahun dan menyimpulkan bahwa masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa--saya menyebutnya "dewasa muda"--tidak ditandai dengan adanya keresahan emosional maupun psikologis seperti rasa cemas dan kebingungan seperti yang dialami remaja di Amerika Serikat.

Hal yang cukup mengagetkan adalah temuan Mead bahwa perempuan muda Samoa menunda pernikahannya selama bertahun-tahun--sementara di saat yang sama melakukan hubungan seksual--kemudian menikah, dan mengasuh anaknya sendirian.

Temuan Mead ini mengundang perdebatan selanjutnya. Setidaknya, pada tahun 1982 (lima tahun setelah Mead wafat), Derek Freeman mengeritik penelitian Mead dalam sebuah tulisannya Margaret Mead and Samoa: The Making and Unmaking of an Anthropological Myth. Dalam buku itu dia menguliti abis data-data Mead, yang salah satunya adalah pengakuan perempuan Samoa bahwa pada masa muda mereka tidak pernah terlibat dalam seks-bebas. Informan perempuan itu juga mengaku bahwa mereka telah berbohong kepada Mead. Nah, lho!

Jadi, yang benarnya mana?

Saya kira perlu ada penelitian lanjutan. Bagi mereka yang hendak meneruskan legacy Mead dan Freeman, mungkin bisa ke Samoa untuk itu. Tapi, seperti antropolog tahun 1980-an juga sepertinya ada yang telah melanjutkan kajian "peralihan usia" di perempuan Samoa tersebut.

Satu hal yang cukup penting kita pelajari dari etos kerja Margaret Mead adalah motto yang dia pegang sehingga dengan motto itu dia selalu menampilkan yang terbaik. Siapa malas, maka dia akan gila. Be lazy, go crazy. Mungkin ada semacam "sebab-akibat" di situ. Siapa yang malas-malasan maka dia tidak akan bahagia, tidak akan dapat apa yang dia mau, dan secara umum itu berarti: gila. Komparasi dengan motto dalam bahasa Arab, akibat dari malas adalah menyesal, seperti yang kita ambil maknanya dari mahfuzhat, "ijhad wa la taksal wa la takun ghafilan, fanadamatul 'uqba liman yatakasal." Artinya, bersungguh-sungguhnya, dan jangan malas karena penyesalan adalah akibat dari bermalas-malasan. So, jangan malas, karena malas dapat membuatmu menyesal; malas dapat membuatmu jadi gila!

Click to comment