Type something and hit enter

author photo
By On
Lokasi tempat lahir Nabi Muhammad yang menjadi perpustakaan (foto: islamiclandmarks.com)
Pada tahun 1978, astrofisikawan Michael H. Hart menerbitkan buku The 100 yang memasukkan nama Nabi Muhammad saw sebagai orang nomor satu paling berpengaruh di dunia.

Tidak hanya berpengaruh, akan tetapi dalam konteks integrasi masyarakat, mengutip pengajar sosiologi dari Rice University, Dr. Craig Considine (2018: 9), menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah tokoh teladan (role model) anti-rasisme "yang ajaran-ajarannya menangkis kefanatikan dan tindakan-tindakannya mencontohkan kemampuan untuk hidup berdampingan."

Sebagai seorang Nabi dan Rasul, semua muslim sejak abad ke-7 hingga 21 ini diajarkan untuk mempelajari, bahkan mengingat sejarah perihidup beliau, termasuk oleh sebagian kalangan yang mengadakan acara kelahiran Nabi (Maulid Nabi). Salah satu bentuk perayaan kelahiran Nabi misalnya, ditunjukkan pada tradisi maudu' lompoa--yang berarti "maulid besar"--yang dilakukan oleh warga Desa Cikoang, Takalar dengan mengarak replika perahu phinisi yang dihias dengan beragam kain sarung di tepi sungai Cikoang.

Terkait dengan ritual ini, dalam bukunya yang diterbitkan oleh ANU Press (2016), Dr. Muhammad Adlin Sila, menafsirkan ritual tersebut dalam judul bukunya Maudu' dengan sub-judul "sebuah jalan untuk menyatu dengan Tuhan" (a way of union with God). Artinya, ritual sinkretis tersebut tidak terlepas dari upaya untuk selamat (salvation) lewat ritual pendekatan diri kepada Tuhan.

Mengingat Kembali Kelahiran Nabi

Ulama masyhur dari Suriah, Dr. Said Ramadhan Al Buthy, dalam bukunya Fiqh Sirah--yang diterjemahkan oleh Penerbit Noura menjadi The Great Episodes of Muhammad saw (2017)--menulis bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang Nabi yang lahir dari garis "suku yang bersih dan keturunan yang paling suci dan utama", yaitu Quraisy.

Genealogi beliau dari ayahnya, Abdullah dan kakeknya, Abdul Muthalib tersambung hingga Nabi Ismail--putra Nabi Ibrahim as. Dalam bahasa Al Buthy, "tidak ada sedikit pun karat jahiliyah terkandung dalam nasabnya."

Beliau dilahirkan di tahun gajah ('amul fil), yaitu tahun ketika seorang pembesar dari Yaman bernama Abrahah Al Asyram dengan pasukannya gajahnya hendak menghancurkan Kakbah. Tapi, usaha mereka sia-sia. Mereka diserang oleh pasukan burung ababil, bahkan Abrahah dalam riwayat dikatakan "menderita penyakit/kuman yang menghancurkan tubuhnya sedikit demi sedikit." Dalam surat ke-105, yaitu surat Al Fil, lima ayat tersebut mendokumentasikan kisah penyerangan raja tersebut dan nasib yang harus dia terima, yaitu menjadi seperti "daun-daun yang dimakan ulat."

Sejak kecil, Nabi Muhammad melewati berbagai fase kesedihan, yaitu ditinggal ayahnya saat ia dalam kandungan ibunya (Aminah), kemudian ditinggal oleh ibunya, diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib) hingga diasuh oleh pamannya (Abu Thalib) yang kendati setuju dengan dakwah akan tetapi tidak konversi keyakinan menjadi Islam dan tetap memegang agama jahiliyah.

Ketika disusui oleh Halimah binti Abu Dzu'ab, seorang perempuan dari Bani Sa'ad bin Bakr, ada fenomena yang ajaib terjadi. Sebelumnya, perkampungan tersebut dilanda kemarau panjang yang merusak pertanian dan peternakan mereka. Akan tetapi, ketika Nabi hadir di sana, tanaman-tanaman pun menjadi subur, dan kambing-kambing pulang ke kandangnya dengan perut kenyang dan sarat dengan air susu. Percaya atau tidak percaya, tapi sejarah Islam mencatat perihal itu yang dapat dilihat sebagai bagian dari tanda-tanda kenabian.

Kemudian, hal ajaib lainnya adalah suatu ketika teman-teman kecil Nabi melihat peristiwa "pembelahan dada" sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika itu, datang Malaikat Jibril yang membedah dada Nabi, mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan dari jantung itu segumpal daging dan berkata, "ini adalah bagian setan darimu."

Jantung itu kemudian dicuci dalam bejana emas dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempat semula (tubuh). Ketika melihat fenomena itu, kawan-kawan kecil Nabi Muhammad berlarian dan memberi tahu ibu susu Nabi (biasa disebut dengan Halimatussa'diyah atau "Halimah dari Bani Sa'ad") sambil berteriak, "Muhammad dibunuh!" Saat itu mereka menemukan bahwa Nabi Muhammad kecil dalam keadaan pucat pasi. 

Mengutip Dr. Al Buthy, peristiwa "pembelahan dada" tersebut bisa dilihat sebagai persiapan bagi Rasulullah untuk menerima kemaksuman dan wahyu sejak kanak-kanak melalui media yang sifatnya materi. Jadi, ini adalah "operasi penyucian rohani yang dilakukan melalui cara yang bersifat jasmani dan terindra, agar pengumuman ilahi mengenai keterpilihan Muhammad dapat dipersepsi manusia" (Al Buthy, 2017: 62).

Dalam pemikiran Al Buthy, pembersihan jiwa itu tidak sepenuhnya berkaitan dengan pengangkatan sebuah kelenjar atau segumpal daging, karena jika orang bisa baik lewat pengangkatan daging, maka "kita bisa mengubah orang jahat menjadi orang baik melalui bedah operasi." (p. 61)

Beberapa kejadian yang berkaitan dengan Nabi Muhammad tersebut seperti penyerangan pasukan Abrahah, wafatnya keluarga inti Nabi (ibu dan bapaknya), suburnya tanah Bani Sa'ad serta pembelahan dada itu memang agak sulit dicerna jika hanya menggunakan akal. Itulah kenapa dalam Islam, iman menjadi hal penting dalam diri seorang muslim--yang kadang tidak bisa ditangkap secara empiris oleh para peneliti sosial karena iman berada dalam inner cycle kesadaran seorang muslim.

Artinya, banyak hal yang dapat dipikirkan oleh akal akan tetapi banyak juga yang hanya bisa dimengerti lewat iman, seperti kisah Isra' dan Mi'raj Nabi dari Mekkah ke Palestina kemudian ke langit ketujuh untuk menerima syari'at salat lima waktu.

Makna Maulid Nabi

Lantas, bagaimana kita membaca kisah kelahiran Nabi Muhammad dengan konteks keislaman kita di Indonesia kontemporer?

Hal pertama yang menarik adalah orang Islam percaya bahwa kepada Nabi Muhammad tidak sekedar percaya kepada manusia biasa, akan tetapi percaya kepada seseorang yang diutus langsung oleh Allah untuk mengajarkan ajaran keselamatan di dunia sekaligus keselamatan (salvation) di akhirat. Mengutip Durkheim, dalam diri Nabi Muhammad terkandung unsur dunia (profane) dan akhirat (sacral). Komplit dua-duanya.

Ketika ada orang/komunitas yang menafsirkan perihidup Nabi Muhammad dengan perspektif yang negatif, maka resistensi dari kalangan Islam pun terjadi. Ambil kasus misalnya, penerbitan karikatur Nabi Muhammad di surat kabar terbesar di Denmark, Jyllands-Posten, pada akhirnya melahirkan kemarahan kaum muslim sedunia. Bahkan, darah kartunis tersebut, Kurt Westergaard, pun dianggap halal untuk ditumpahkan.

Ini menjadi tanda, bahwa kendati kebebasan berbicara itu baik tapi jika menyinggung sendi-sendiri kepercayaan fundamental agama, maka perang--dalam berbagai variannya--akan menjadi solusi yang diambil oleh penganut agama tersebut, jika masalah itu tidak terselesaikan secara bijaksana. Apa yang disebut Karen Armstrong sebagai "Berperang demi Tuhan" menjadi keniscayaan jika penganut agama merasa dihina, atau ajarannya dinodai oleh orang lain.

Beberapa waktu lalu misalnya, ketika terjadi pembakaran terhadap bendera--yang di situ tertulis kalimat tauhid: la ilaha illallah muhammadan rasulullah--tak berapa lama pun terjadi kecaman terhadap Banser. Kendati Banser mengatakan bahwa "yang dibakar adalah bendera HTI" tapi HTI sendiri membantah bahwa itu bukan bendera mereka. Itu adalah bendera Rasulullah, kata mereka.

Pada titik ini, pembakaran bendera berkalimat tauhid itu adalah sikap yang tidak berhati-hati yang ditunjukkan oleh oknum banser tersebut. Pepatah Arab yang mengatakan "berpikirlah sebelum bertindak" (fakkir qabla 'an ta'zhim) patut dipertimbangkan seharusnya--sebelum bakar-bakar. Tidak senang dengan HTI itu merupakan hak warga negara, akan tetapi membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah tindakan ceroboh dan tidak produktif yang harus dihindari di masa datang jika hendak menjaga integrasi bersama-sama berbagai komponen bangsa (dan elemen umat Islam) yang sangat majemuk ini.

Kita kembali kepada Maulid Nabi. Selain itu, peristiwa kelahiran Nabi dalam konteks sosial-budaya menjadi sarana integrasi umat Islam. Hal ini terlihat dari bertemunya berbagai komponen umat Islam untuk duduk bersama dan mempelajari kembali sejarah hidup beliau sekaligus meneladani jejak-jejak hidupnya. Tapi, peringatan Maulid Nabi juga melahirkan konflik--selain integrasi tadi--yaitu adanya keengganan kalangan tertentu yang melihat bahwa acara maulid itu termasuk bi'dah, "sesuatu yang mengada-ada", dan tidak boleh dilakukan. Efeknya kemudian, Maulid Nabi menjadi sesuatu yang disetujui secara hakikat akan tetapi ditolak secara praktis karena diperingati dengan cara-cara kultural yang dianggap sebagian kalangan sebagai sinkretisme Islam.

Saat ini, di Indonesia tumbuh subur berbagai macam aliran dan afiliasi keberislaman. Tidak lagi hanya soal NU dan Muhammadiyah, akan tetapi lahir pula kelompok Wahabi--dengan berbagai variannya--dan kelompok-kelompok baru yang "setengah NU, setengah Muhammadiyah" yang meminjam kata Antropolog Amerika Clifford Geertz sebagai "individu tipe campuran" atau golongan campuran" (Saifuddin, 1986: 95) di tengah-tengah masyarakat. Golongan campuran ini diharapkan bisa menjadi kalangan yang dapat diterima oleh berbagai afiliasi keislaman.

Artinya, jika ada orang yang "tidak NU dan tidak Muhammadiyah" atau "tidak PKS dan tidak Wahabi" atau "tidak radikal kekerasan tapi bersuara kritis" adalah bagian dari dinamika masyarakat kita yang tidak perlu dicurigai. Saya melihat, ada kecenderungan--terutama dalam relasi individu/komunitas dengan negara--untuk curiga bahwa bersikap kritis itu sama dengan radikal, dan semua yang namanya radikal itu negatif, anti NKRI, dan "harus dibersihkan."

Padahal, jika dipelajari lagi, radikalisme itu bisa positif bisa negatif. Yang masalah adalah radikalisme yang negatif yang pro-kekerasan. Jika seseorang mengkaji dan berpikir soal khilafah islamiyah sebenarnya tidak masalah, karena itu bagian dari ilmu pengetahuan selama tidak melakukan tindakan kekerasan di masyarakat.

Dalam konteks HTI, saya kira cara paling baik untuk mengajak kader HTI untuk menerima sistem yang ada sekarang--Pancasila dan demokrasi--adalah dengan dialog. Kalaupun mereka tidak setuju karena bertahan dengan "demokrasi sistem kufur", maka tugas ulama untuk terus memberikan pemahaman dan ajakan untuk berindonesia dengan sistem yang telah disepakati sekarang, yaitu Pancasila.

Lewat momentum Maulid Nabi ini penting bagi kita untuk kembali mempelajari kisah hidup Nabi Muhammad saw, sekaligus meneladani sifat-sifat beliau yang mulia dan kita aplikasi di kehidupan kita baik online maupun offline. Menjadi rahmat dan berkah bagi semua orang--tidak hanya minoritas, tapi juga mayoritas--adalah agenda pribadi tiap orang. Semua orang--di luar diri kita--seharusnya merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan berkah dari kehadiran kita di dunia. Jika itu ada, maka itu adalah bagian dari proses kita untuk meneladani yang mulia Nabi Muhammad saw. * 


Click to comment