Type something and hit enter

author photo
By On
Abelam, seorang big man (Sumber: Richard Scaglion)
Konsep “The Big Man” yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai "orang besar", "orang bijak", "tokoh panutan", "tokoh kharismatik"--atau "ketua dewan pembina partai"--menarik untuk dikaji karena terkait dengan struktur sosial dan politik tidak hanya pada masyarakat sederhana tapi juga pada masyarakat kompleks. Saya mempelajari konsep ini juga di kelas Professor Afid yang kemudian mencoba mengaitkannya dengan politik Indonesia kontemporer.

Secara tradisional, konsep Big Man merupakan konsep khas dari Kebudayaan Melanesia yang melihat bahwa dalam komunitas tertentu ada figur-figur tertentu yang sepuh secara umur dan memiliki tingkat prestis tinggi di masyarakat. Para sepuh tersebut adakalanya berbentuk dewan terbatas yang dapat menentukan hal-hal stategis dalam komunitasnya seperti kapan melakukan upacara, berburu, atau juga dalam hal pernikahan.

Big Man ini tidak selalu harus punya kekuasaan formal. Abelam misalnya. Mengutip Guru Besar Emeritus University of Pittsburgh, menyebut Abelam sebagai "...a political figure who leads by influence but has no formal authority." Dia punya kekuasaan, tapi tidak punya jabatan formal.

Para sepuh Big Man tersebut statusnya semakin meningkat bersamaan dengan pengalaman yang ia miliki. Mereka juga tidak dilihat berdasarkan seberapa pintar mereka dalam hal intelegensia akan tetapi dilihat dari (selain pengalaman) juga berdasarkan genitalnya yaitu seberapa banyak ia memiliki anak (keturunan) dan juga istri. Semakin sepuh, mereka dianggap berkontribusi lebih besar pada masyarakat yang pada akhirnya mereka menjadi panutan, tempat bertanya dan mengadu, dan memiliki peran yang signifikan dalam hal-hal tertentu di masyarakat.

Konsep Big Man ini termasuk penting dalam penelitian antropologi karena beberapa hal.

Pertama, dalam sebuah masyarakat umumnya ada para sepuh atau yang dituakan yang suaranya didengar oleh masyarakat (bahkan tanpa jabatan). Ketika meneliti, seorang antropolog perlu bertemu dengan Big Man untuk mendapatkan data darinya sebagai salah satu sumber otoritatif dari masyarakat tersebut. Kedua, kendati saat ini kita hidup di dunia modern dalam faktanya peranan Big Man memang masih relevan dalam banyak dunia publik seperti partai politik. Para Big Man adakalanya terlihat di panggung, akan tetapi adakalanya memilih untuk di belakang layar dengan pengaruhnya yang kharismatik dan luar biasa.

Dalam konteks masa kini, relevansi kajian terhadap Big Man sangatlah luar biasa. Dalam politik misalnya, ketika meneliti peranan PKS kita tidak bisa hanya melihat bagaimana peranan seorang Presiden Partai mengambil keputusan akan tetapi harus melihat Majelis Syuro yang diisi oleh para sepuh (dan juga perwakilan daerah) yang strategis dalam pengambilan keputusan. Di antara mereka juga ada yang lebih sepuh dan didengarkan kata-katanya seperti Hilmi Aminuddin.

Dalam organisasi Nahdlatul Ulama misalnya, peranan Ketua Lajnah Tanfizhiyah NU berada di bawah dari para ulama sepuh yang dianggap memilih karamah tertentu dan olehnya itu suara mereka didengarkan. Ketika meneliti tentang pesantren juga demikian, yaitu peranan para ulama sepuh sangat menentukan dalam jalannya pesantren tersebut. Pun demikian ketika Gus Dur menjadi Presiden, ia juga mendengarkan para ulama sepuh di tanah Jawa yang dianggap memiliki ilmu yang di atas manusia biasa. Peranan antara organisasi Islam dan politik memang saat ini berkelindan satu sama lain. Politik memasuki pesantren dan pesantren juga mengambil bagian dan perpolitikan Indonesia.

Dalam politik kita juga melihat bagaimana peranan seorang Prabowo Subianto yang sangat powerful di Partai Gerindra. Suara Prabowo menjadi sangat penting dalam menentukan arah partai dan pada titik tertentu juga berpengaruh terhadap bangsa. Sebagai contoh, ketika aksi 411 Presiden Jokowi dikecam karena tidak hadir dalam aksi tersebut, tak lama kemudian Jokowi bertemu dengan Prabowo yang dapat ditafsirkan bahwa Prabowo memiliki magnet tertentu sebagai Big Man tidak hanya bagi Gerindra tapi juga untuk meredam massa aksi 411.

Kemudian, di internal Partai Demokrat, peranan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sangat sentral karena ia sebagai Pendiri, Dewan Pembina, dan saat ini memilih untuk memimpin partai pasca Anas Urbaningrum. SBY merupakan Big Man yang dalam aksi 411 dan 212 disinyalir turut “bermain” ketika umat Islam mengecam Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan secara tersirat akan mengangkap nama anaknya (Agus H. Yudhoyono) yang juga mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI.

Dari sini terlihat bahwa para Big Man dalam politik sampai saat ini memang ada, baik yang tidak memperlihatkan diri (seperti dulu di masa-masa awal Partai Demokrat) maupun memperlihatkan diri di publik sebagai ketua umum. Mereka dianggap sebagai Big Man selain karena memiliki pengalaman sukses dalam karier (militer), juga dalam karier politik.

Tak terkecuali dalam hal ini juga Megawati Sukarnoputri yang dapat dianggap sebagai pemimpin kharismatik (Big Woman) di PDI-Perjuangan. Peranan para Big Man ini sangat menentukan bagaimana arah partai dan secara tidak langsung berpengaruh pada bagaimana sikap yang harus diambil oleh berbagai “petugas partai” apakah di parlemen atau di pemerintahan. *

Tulisan ini adalah bagian dari eksplorasi ide penulis sekaligus penghargaan kepada guru kami, yang telah 'membuka jalan' dan memperluas perspektif: almarhum Professor Achmad Fedyani Saifuddin. 

Click to comment