Type something and hit enter

author photo
By On
Professor Afid adalah salah seorang pengajar yang senang membuat handout. Tiap kuliah, mahasiswa mendapatkan handout itu sebagai bahan dalam perkuliahan.

Professor Afid sedang mengajar dengan handout metode seminar (Sumber: FB Tantri Widiyanarti)

Tahun-tahun terakhir sebelum wafatnya, Prof Afid mengasuh mata kuliah Antropologi Sosial Budaya. Biasanya sebelum menjelaskan materinya beliau membagikan sebuah handout terlebih dulu sebagai “pengantar” yang singkat namun mencakup hal-hal penting dalam subjek tersebut. Diskusi sebelum materi juga bagian yang menarik karena tiap orang dapat menyampaikan hal-hal yang menurutnya kurang jelas dari materi atau fenomena keseharian yang sedang hangat diperbincangkan. Pada semester lalu, pembahasan soal Aksi Bela Islam (ABI) termasuk cukup sering dibahas oleh teman-teman peserta mata kuliah.

Setiap selasa dalam satu semester yang lalu saya mengikuti mata kuliah Antropologi Sosial Budaya yang diasuh oleh Prof. Afid. Kendati dulu kita pernah belajar (bahkan mengajar) Pengantar Antropologi, tapi mengulang kembali isu-isu dalam disiplin ini sangatlah penting.

“Para mahasiswa Pascasarjana diajak untuk menanggapi secara kritis suatu gejala sosial-budaya, menganalisanya berdasarkan suatu perangkat konsep dan mengembangkannya ke dalam asumsi-asumsi potensil bagi penelitian antropologi,” begitu kata beliau.

Prof Afid bersama mahasiswa UI

Beberapa isu yang dibahas dalam mata kuliah ini dimulai dengan berkenalan kembali dengan antropologi; evolusi; munculnya homo sapiens dan kebudayaannya; asal-usul produksi makanan dan kehidupan menetap; kebudayaan; ekonomi dan stratifikasi sosial; keturunan dan kekerabatan; masyarakat kompleks dan kelompok kepentingan; konflik dan resolusi konflik; psikologi dan kebudayaan; religi dan ilmu gaib; perubahan dan politik kebudayaan; dan menerapkan Antropologi.

Perkuliahan dibawakan dalam bentuk semi-seminar: dosen menjelaskan, kemudian ada tanya-jawab. Hal menarik dari perkuliahan Prof Afid adalah soal kebebasan. Beliau membebaskan tiap orang untuk merujuk pada buku standar dalam Antropologi seperti Ember dan Ember, Keesing, atau Kottak. Para mahasiswa kemudian diminta untuk mempelajari buku tersebut, dan tidak hanya bergantung pada penjelasan dosen.

Singkatnya, di kelas tiap orang telah memiliki pertanyaan atau sesuatu yang menarik untuk dibahas bersama dosen dan teman-teman. Beliau juga meminta agar tiap minggu ada laporan progress dari tiap orang terkait bidang kajian yang hendak diteliti nantinya dalam tesis atau disertasi. Selain itu, beliau juga menyampaikan agar mata kuliah ini tidak dianggap sebagai kredit point dalam kuliah. “Anggaplah ini proyek yang anggarannya adalah pengetahuan,” kata beliau. Karena ini ‘proyek’, maka tiap orang harus betul-betul serius mengerjakan proyek rencana risetnya nanti.

Masukan Teoritis

Setiap yang memberikan progress, ada masukan dari Prof Afid secara teoritis. Nanti di akhir semester, tiap mahasiswa diminta untuk melaporkan progress rencana risetnya secara komprehensif yang harus kuat secara teori. Jika basis teori tersebut telah ada, maka kelak akan bermanfaat sebagai ‘cicilan’ untuk buat tesis atau disertasi. “Ini zaman cicilan,” kata beliau, “maka tiap orang harus mencicil rencana penelitiannya sejak sekarang.” Dalam mengkaji Antropologi, kata beliau mahasiswa diminta untuk melihat sebuah objek dalam kaitan dengan orang. Jika melihat gedung tinggi, bukan gedungnya yang dikaji, tapi bagaimana orang memikirkan tentang gedung tersebut, berinteraksi dengan orang lain, dan hal-hal terkait orang, bukan gedung secara fisik.

Jika berbicara tentang teror atau radikalisme, maka oranglah yang menjadi objek kajiannya: kenapa ada yang berpikir harus meneror, bagaimana mereka membangun jaringannya, dst. Antropologi berbicara tentang orang/manusia. Olehnya itu semua objek kajian ‘diorangkan’, lanjut beliau. Kata Prof Afid, “Penelitian Antropologi ingin menemukan teka-teki sosial.” Apa yang masih menjadi teka-teki, masih kabur, mencoba dibawa pada posisi terang oleh para antropolog lewat etnografinya.

Dalam proses membawa objek kajian dari ‘gelap menuju terang’ tersebut, seorang antropolog dalam melihat simbol-simbol yang melekat pada aktivitas manusia. Ia memberikan contoh panjat pinang yang sekilas terlihat aktivitas biasa-biasa saja, akan tetapi di dalamnya mengandung banyak hal terkait konsep budaya, relasi, dan konflik. Pun demikian dengan tradisi sabung ayam di Bali. Kata beliau, tradisi ini terlihat sepele tapi di dalamnya terkandung simbol maskulinitas (kebanggaan sebagai laki-laki), dan ritual. Darah ayam yang menetes dianggap sebagai bagian dari ritual menjelang hari raya Nyepi. Kendati dalam ‘ritul’ tersebut ada perjudian, tradisi itu terus bertahan sampai saat ini.

Riset Antropolog Amerika Clifford Geertz tentang sabung ayam di Bali adalah rujukan penting tentang objek tersebut. Saat giliran menyampaikan rencana penelitian, saya terpikir untuk menulis antara tiga hal: Pertama, melanjutkan tesis saya yang dulu tentang gerakan terorisme di Indonesia; Kedua, kehidupan pasca-konflik (koeksistensi) antara Islam-Kristen di Tobelo Halmahera, atau yang ketiga tentang Legu Gam dalam tradisi Kesultanan Ternate. Belakangan, setelah kelas usai, saya meminta masukan lagi dari Prof Afid, dan beliau mengusulkan agar saya menulis tentang ilmu gaib, agama, dan kekuasaan dalam pemilihan Sultan Ternate. Topik ini masih jarang dibahas oleh peneliti lainnya.

Untuk itu, maka saya diminta untuk membaca buku klasik karangan Malinowski (1948): Magic, Science, and Religion. Beliau juga menganjurkan akan saya membaca tulisan-tulisan Antropolog Aarhus University (Denmark) Prof Nils Bubandt tentang Indonesian politics, democracy, and spirits. Dalam salah satu paragrafnya, Bubandt menulis bahwa ada pesantren di Jawa Timur yang semua santrinya adalah jin. “Ada ribuan di sana,” cerita Prof Afid.

Dalam fakta ini, Antropolog mencoba melihat bagaimana pikiran manusia tentang makhluk halus dan pengetahuan tentang hal-hal gaib. Kajian Bubandt di Maluku Utara termasuk menarik untuk dibahas. Saya teringat waktu memandu seminar yang dibawakan oleh Bubandt, beliau menampilkan sebuah lukisan makhluk halus--atau yang disebut di Malut sebagai ‘suanggi’. Di Malut, konsep setan juga tidaklah satu macam, ada macam-macam jenisnya, salah satunya adalah suanggi.

Presentasi Adri Febrianto dan Pongky Purnama di kelas Professor Afid
Selanjutnya, Prof Afid menjelaskan pula kajian tentang rezeki. Dalam Antropologi, kita bisa mengkaji fenomena korupsi dengan konsep rezeki. Misalnya, ada seorang pejabat yang mendapatkan uang dari rekanan kerjanya awalnya akan menolak uang tersebut jika diberikan dalam konteks pekerjaan. Tapi, jika diberikan secara pribadi, maka ada yang mengambilnya dan mengatakan, “ini rezeki.” Mungkin, faktor kalimat ‘rezeki jangan ditolak’ itulah yang membuat mengapa korupsi susah dihapuskan. Fenomena ini terlihat sederhana tapi bersifat inti. Kata Prof Afid, “Ada banyak hal yang kelihatan sederhana, tapi sangat sentral.” Nah, ‘kesederhanaan yang sangat sentral’ itulah yang dapat dikaji oleh seorang peneliti Antropologi.

Bagaimana kalimat-kalimat atau kejadian sederhana berpengaruh pada hal-hal besar dalam pembahasan korupsi. Cerita tentang Nyi Roro Kidul juga dibahas dalam pertemuan ini. Bagi masyarakat Jawa, Roro Kidul adalah bagian dari kebudayaan mereka. Cerita-cerita tersebut dapat dioperasionalisasikan di lapangan oleh siapa saja. Artinya, mitos, legenda, dan cerita horor pada titik tertentu dapat dipakai secara operasional untuk tujuan tertentu. Misalnya, dengan adanya cerita Roro Kidul, orang-orang jadi tidak merusak laut.

“Manusia memiliki pengetahuan dan dapat menggunakan pengetahuannya,” sambung Prof Afid lagi. Cyber-culture atau budaya siber juga dapat dikaji oleh Antropologi. Antropologi tidak melihat siber sebagai teknologi informasi saja, akan tetapi sebagai sebuah instrumen yang dipakai manusia untuk berkomunikasi satu sama lainnya.

Sebuah alat dapat dipakai oleh manusia dengan bermacam-macam tujuan. Website misalnya, ada yang pakai untuk pendidikan, politik, atau untuk teror/perang dunia maya. Manusia menggunakan alat-alat itu untuk tujuan hidupnya. Maka, dalam riset tentang budaya siber seorang Antropolog dituntut untuk mengeksplorasi bagaimana pandangan dunia manusia terhadap teknologi tersebut. Pada akhir diskusi, Prof Afid berpesan agar tiap orang: membaca sebanyak-banyaknya. Setelah itu, maka akan muncullah pertanyaan-pertanyaan besar yang akan dibahas dalam berbagai pertemuan.

Manusia Mencipta Keteraturan

“Ada suatu yang universal dalam kebudayaan manusia, yaitu keinginan untuk menciptakan keteraturan (order),” demikian kata Prof Afid, dalam kelas Organisasi Sosial: Struktur dan Proses, Rabu (7/9). Kata Prof Afid lagi, alam pikiran manusia cenderung untuk membuat struktur. Artinya, manusia itu cenderung struktural. Dalam melihat struktur sosial, kita bisa melihat dari masa lalu, sekarang, dan ke depan. Struktur manusia bergeser dari yang statis ke dinamis. Struktur paling purba dalam organisasi manusia adalah terkait kekerabatan (kinship) atau keluarga.

Pada masa berburu-meramu, manusia telah menstrukturkan dirinya dalam kelompok-kelompok kecil yang punya tujuan sama: agar dapat buruan dan agar aman dari gangguan. Organisasi, sekecil apapun apapun, punya dua tujuan tersebut. Di masa lalu, apa yang kita sebut sebagai kesatuan sosial itu dapat ditelusuri batas-batasnya (bounded). Misalnya, kita ingin tahu Suku Badui, cukup datang ke Banten dan dapatlah suku tersebut.

Tapi kini, seiring dengan perubahan zaman, Suku Badui juga sudah terpisah antara Badui dalam dan luar, seperti juga Kajang luar dan Kajang dalam dan tersebar di berbagai lokasi yang berbeda. Kendati saat ini masih ada suku yang sifatnya bounded, tapi dalam hal tertentu roda zaman (mengutip Ebiet G. Ade) menggilas batas-batas geografi menjadi tidak berbatas (less-bounded). Fenomena ini tidak hanya terjadi pada suku-suku kecil yang semakin sulit menentukan batas-batas wilayahnya, akan tetapi melanda pada tingkatan negara ketika batas-batas wilayah menjadi sekedar catatan di atas kertas yang masyarakatnya sangat mobile ke negara-negara lainnya.

Prof Afid bersama para pengajar antropologi di beberapa kampus di Indonesia

Tampaknya, berbicara tentang organisasi sosial tidak bisa dilepaskan dari isu perubahan. Paling tidak, isu perubahan saat ini dapat dilihat dari perspektif: perubahan lokal-global atau lokal, nasional, global. Apa yang terjadi di tingkat global memberikan efek pada perubahan di tingkat lokal. Soal trend misalnya, apa yang lagi hangat di Paris dengan cepat ditransfer lewat media ke Jakarta kemudian tersebar ke seluruh wilayah Indonesia yang terjangkau oleh televisi atau internet. Dalam politik, ketika beberapa lelaki Arab menabrakkan pesawat ke gedung kembar WTC, terjadilah perubahan konstalasi politik yang dimulai dengan serangan AS untuk mencari Osama bin Laden di Afghanistan.

Konon, serangan kamikaze tersebut dikendalikan oleh lelaki berjanggut panjang yang sejak akhir 1970-an aktif dalam membantu para mujahidin melawan tentara beruang merah, Uni Soviet. Kebijakan di tingkat global berubah dalam hal terorisme, yang kemudian terus berpengaruh para tingkal nasional dan lokal. Sebelumnya, di kampung-kampung mungkin biasa saja ketika melihat ada orang berjanggut panjang, tapi ketika konstruksi media menjadikan label Arab, janggut, dan jidat hitam sebagai ciri-ciri sederhana teroris, maka masyarakat pun jadi saling curiga. Tapi belakangan, imej tersebut berubah seiring dengan variasi pelaku teror yang dilakukan oleh lelaki tak berjanggut, terpelajar, bahkan anak-anak remaja. Dalam kajian organisasi sosial, Prof Afid meminta kita untuk melihat bagaimana strategi orang-orang dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Dalam perspektif struktural, apa yang dilakukan manusia tidak lepas dari keinginan untuk menciptakan keteraturan (order) dengan cara-caranya yang khas. Manusia, dalam kaitan ini adalah makhluk yang terus berstrategi dengan berbagai resources, yang salah satunya adalah kekerabatan. Untuk memperkuat kajian literatur, maka kami juga diminta untuk membaca beberapa buku seperti karangan Ira Buchler dan Henry Shelby, R. Murphy, M. Williams, Jellinek, dan R. Belmonte. *

Tulisan ini adalah bagian dari eksplorasi ide penulis sekaligus penghargaan kepada guru kami, yang telah 'membuka jalan' dan memperluas perspektif: almarhum Professor Achmad Fedyani Saifuddin. 

Click to comment