Type something and hit enter

author photo
By On
Fikri Arief dengan kaos "stop wars"
Pagi tadi (15 Oktober 2018) saya kaget saat membaca status Facebook dari seorang kawan, Husnul Khitam, yang mengatakan bahwa Ahmad Fikri Arief telah meninggal. Segera, saya japri kawan tersebut, dan bertanya, "Bro, Fikri Arief sakit apa?"

Jawab Husnul, "Kabarnya tidak sakit. Tiba-tiba tadi pagi pusing waktu nyiram tanaman langsung meninggal." Kejadian itu, lanjut Husnul terjadi di rumah mertua Fikri Arief di Perumnas Klender.

"Dia sahabat ane sejak dulu," kata Husnul yang sejak di Pesantren Darunnajah telah dekat dengan Fikri Arief.

***

Saya mengenal Fikri Arief sejak di Darunnajah (dia angkatan 23, saya 22), akan tetapi lebih dekat lagi saat saya telah kuliah. Ayah beliau, Ustad M. Habib Chirzin adalah seorang aktivis Muhammadiyah yang juga waktu itu membina di Darunnajah--pesantren dimana saya menghabiskan 6 tahun digembeleng mulai dari Man Jadda Wajada hingga syair Sayyid Quthb yang sangat familiar, yang petikannya begini, "lan tastahi'a hishara fikri sa'atan au na'za imani wa nuru yaqini--kalian tidak akan pernah bisa mengekang pemikiranku walau sesaat atau menanggalkan imanku dan cahaya yang saya yakini..."

Pada sebuah siang, saya menghadiri pengajian yang dibawakan oleh Dr. Imaduddin Abdulrahim, seorang dosen sekaligus aktivis Islam, di Masjid Al-A'raf Kwitang, Jakarta Pusat. Saat diberikan kesempatan bertanya, saya mengajukan diri. Saya bertanya ke Bang Imad, soal "islamisasi sains" dalam kehidupan kita yang sekular sekarang sekarang. Saya juga mengabarkan kepada beliau perihal ketertarikan saya soal topik tersebut.

Bang Imad memberikan jawaban yang dikembalikan kepada tauhid. Inti dari pemikiran keislaman adalah pada tauhid. Beliau kemudian memberikan arahan kepada saya agar suatu saat bertemu Dr. M. Dawam Raharjo yang saat itu memimpin sebuah lembaga "islamisasi sains" yang didirikan oleh Professor Ismail Raji Al-Faruqi di Amerika, International Institute of Islamic Thought (IIIT). Tidak sempat bertemu Prof Dawam, saya kemudian bertemu dengan Ustad Habib Chirzin. Rupanya Ust Habib adalah salah seorang pimpinan juga di lembaga IIIT tersebut dan berkawan dekat dengan Prof Dawam.

Pertemuan dengan Ustad Habib terjadi di Baitul Arqam Darunnajah, rumah yang ditempati oleh Drs. KH. Mahrus Amin, kiyai saya. Sebelum bertemu beliau, saya sempat bertemu Fikri Arief di depan. "Fik, bapak ente ada nggak?"

"Oh, ada," jawabnya.

"Boleh ketemu nggak?" tanya saya.

"Boleh banget." Akhirnya, saya bertemu Ust Habib. Pertemuan dengan Ust Habib tidak hanya sekali di Baitul Arqam. Pada kali lainnya, saya juga bertemu dengan Fikri Arief saat ada acara Darunnajah. Ust Habib bisa jadi lupa, saking banyaknya orang yang bertemu beliau.

Akan tetapi, waktu saya bertemu Ust Habib beberapa waktu lalu di World Peace Forum di Hotel Sultan, saya tidak sempat bertanya tentang Fikri Arief. Biasanya, antara Fikri Arief dan ayahnya selalu saya gandengkan. Dalam pikiran saya, aktivitas Fikri yang sibuk di berbagai kegiatan perdamaian dan kepemudaan tidak terlepas dari upaya dia untuk melanjutkan jejak intelektual dan aktivisme ayahnya.

Prof Sudarnoto Hakim, Mas Hajriyanto Y. Thohari, Ustad Habib Chirzin, dan saya

Saya sempat berfoto dengan Ust Habib Chirzin saat itu bersama seorang kolega saya sesama alumni Muslim Exchange Program, Profesor Sudarnoto Hakim, dan Mas Hajriyanto Y. Thohari, senior saya di S3 Antropologi UI (saya masih berharap Mas Hajri bisa menyelesaikan disertasinya) yang juga mantan Wakil Ketua MPR RI. Foto itu tidak sempat juga saya perlihatkan kepada Fikri Arief. Harusnya ketika itu langsung saya japri ke Fikri. "Fik, ane ketemu sama bapak ente nih."

***

Fikri Arief menurut saya adalah tipikal lelaki yang tidak banyak bicara akan tetapi senang beraktivitas. Saya menyebutnya tidak banyak bicara karena perkawanan saya dengannya memang tidak memperlihatkan ia sebagai orang yang banyak bicara. Saya cuma melihat berbagai aktivitasnya saja dalam dunia perdamaian. Dia sepertinya senang dengan kegiatan kolaboratif yang selain menambah pertemanan juga memperkuat jejaring masyarakat sipil untuk menciptakan perdamaian dunia di komunitas masing-masing.

Foto terakhir yang saya lihat di Facebooknya adalah foto Fikri Arief bersama Arif Supam Wijaya, kawan kos saya di Jalan Bung, Tamalanrea Makassar yang menamatkan S2-nya di Australia. Waktu lihat foto mereka ketemuan, saya berpikir, wah penting sekali itu bisa bertemu antara dua aktivis perdamaian dan kepemudaan tersebut.

Arif Supam Wijaya dan Ahmad Fikri Arief
Kini, lelaki lulusan Universitas Indonesia tersebut telah tiada. Saya yakin, apa yang telah ia lakukan selama hidup adalah kebaikan. Dia banyak menginisiasi kegiatan perdamaian berarti dia banyak melakukan amal-amal saleh dan keselamatan untuk banyak orang. Itu amal yang baik. Saya yakin, jika kita bisa mendengarkan doa dari tumbuh-tumbuhan kedamaian yang disiram Fikri Arief tadi pagi, maka pastilah mereka berdoa yang terbaik bagi Fikri yang telah memberikan air bagi kehidupan mereka.

Komunikasi online saya yang terakhir dengan Fikri adalah pada Juli tahun 2017 ketika saya menyapa, "Assalamu Alaikum, Ustad." Dia jawab, "Waalaikumsalam, Prof." Kata 'prof' tentu saja tidak sebenarnya, hanya ungkapan doa agar semoga kelak bisa tiba di posisi tertinggi dalam dunia akademik, yaitu Professor.

Saya berdoa semoga almarhum Ahmad Fikri Arief (36 tahun) mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt dan keluarganya diberikan kekuatan untuk menjalani takdir tersebut. Bagi kita semua, mari kita terus bergiat memberikan yang terbaik untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan untuk dunia. Lanjutkan kerja-kerja perdamaian. Kurangi berselisih, perkuat kerjasama! *

Click to comment