Type something and hit enter

author photo
By On

Dari sekian banyak syair yang dibuat oleh Imam Syafi'i, ada salah satu petikan yang sangat menarik terkait aib dan kedermawanan.
Beliau menulis sebagai berikut:
وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ
“Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.”
تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ
“Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.”
Jika direnungkan, tiap orang pasti punya aib, kesalahan, dan apa yang disebut sebagai 'masa lalu'. Riwayat mengatakan "manusia tempat salah dan lupa" dan ungkapan populer berkata "tak ada manusia yang sempurna."
Lantas, bagaimana cara menutupi aib atau dosa?
Kata Imam Syafi'i, "...maka tutupilah dengan tirai kedermawanan" yang akan menutupi berbagai aib. Dalam praktiknya, memang begitu juga. Orang yang pernah bersalah tapi kemudian ia move on dan memperbanyak laku kederwananan maka orang akan lebih mengingat masa-masa dermawannya ketimbang yang lalu-lalu.
Bukankah buku sejarah juga sudah menulis bagaimana orang-orang yang dulunya jahat, berprilaku buruk yang kemudian mereka berubah dan sejarah menempatkan nama mereka pada level yang terbaik? Itu tentu saja karena kedermawanan.
Kita bisa berderma dengan apa saja: uang, waktu, tenaga, bahkan apresiasi. Sederhana itu untuk menutupi berbagai khilaf kita yang saban hari terus menumpuk. *

Click to comment