Type something and hit enter

author photo
By On
Dr. Mohammad Natsir
Untuk menyelamatkan nasib para mantan pejuang gerilya di Sulsel, maka pada tahun 1950-an, mantan pengawal Presiden Sukarno kelahiran tanah Luwu, Kahar Muzakkar, berencana melakukan perlawanan terhadap Pemerintah yang waktu itu dekat dengan Komunis.
Seorang kurir pun dikirim Pak Kahar kepada Ustad Marzuki.
“Ustad diminta Pak Kahar untuk bergabung,” kata sang kurir.
Sebelumnya, seorang kurir pernah datang ke Ustad Marzuki, akan tetapi beliau tidak setuju masuk ke hutan jika perjuangannya bukan untuk memperjuangkan Islam.
“Jika bukan memperjuangkan Islam, saya tidak akan masuk hutan!” kata Ustad Marzuki pada sang kurir.
Tak lama setelah itu, Kahar Muzakkar mengubah strategi perjuangannya berdasarkan Islam. Kurir selanjutnya pun datang mengabarkan bahwa Pak Kahar akan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan. Ustad Marzuki akhirnya setuju, dan sebelum bergabung di hutan beliau berpamitan pada Mantan Perdana Menteri Indonesia ke-5 (1950-1951) dari Partai Masyumi, Dr. Mohammad Natsir yang juga pernah berselisih paham dengan Presiden Soekarno karena tidak akomodatif terhadap umat Islam. Pada 10 November 2008, Natsir diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Dari Makassar, Ustad Marzuki melanjutkan perjalanannya ke Sinjai. Antara Sinjai dan Bulukumba (di sebuah daerah yang bernama Tanete) Ustad Marzuki Hasan dijemput untuk bergabung di hutan Sulsel bersama pasukan Kahar Muzakkar.
Perjalanan dari Sinjai ke Pusat Pemerintahan Darul Islam di Palopo memakan waktu yang tidak cepat. “Lima hari perjalanan dari Tanete waktu itu,” cerita Ustad Marzuki.
Tiba di Palopo, di sana telah bergabung berbagai unsur masyarakat. Mayoritas beragama Islam. “Ada juga yang Kristen dan pengikut ideologi Komunis.”
Selama di hutan, beliau ikut berjuang bersama Pak Kahar kurang lebih 15 tahun (1950-1965). Suka duka mereka lalui bersama. Sebagai pejuang, mereka harus bertahan hidup dengan memakan apa adanya di hutan. Dalam masalah keagamaan, Ustad Marzuki kerap menjadi rujukan ketika ditemukan masalah keagamaan di seantero hutan Sulsel dan Sultra tersebut.
Dalam kehidupan yang sulit dan terbatas di hutan, salah satu yang sangat menarik dari Ustad Marzuki Hasan adalah beliau tetap menjaga hafalan Al Quran, bahkan salah seorang anaknya, M. Arif Marzuki (lebih dikenal dengan KH. M. Arif Marzuki), menamatkan hafalan Al Quran di hutan pada usia 18 tahun. Salat malam (qiyamullail) senantiasa ia dirikan untuk menguatkan hati dan fisik dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dalam sehari-hari, Ustad Marzuki dikenal lembut dalam ucapan, namun tegas dalam perjuangan. Tak heran, karena memiliki ilmu dan ketegasan itulah maka Pak Kahar pernah memberikannya amanah selain sebagai Dewan Fatwa (dibentuk tahun 1954 menurut Prof. Hamdan Juhannis dalam disertasi PhD-nya ‘The Struggle for Formalist Islam in South Sulawesi: from DI to KPPSI’ di ANU, Australia), juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, dan Menteri Dalam Negeri—dua jabatan strategis dalam informasi dan manajemen pemerintahan dalam negeri.
Posisi penting Ustad Marzuki juga terlihat dalam ucapan Kahar Muzakkar sebagai pemimpin tertinggi, “Perjuangan ini saya fisiknya dan Ustad Marzuki ruhnya.” (bersambung)
[Abu Fikri Ihsani]

Click to comment