Type something and hit enter

author photo
By On
Pemenang Lomba Esai KAMMI Makassar
Semingguan lalu saya dihubungi oleh salah seorang pengurus KAMMI Daerah Makassar untuk menjadi juri sebuah lomba esai yang diadakan dalam rangka Milad KAMMI ke-18. Tidak banyak tulisan yang masuk, akan tetapi dari beberapa itu saya menentukan seluruh tulisannya secara berurutan. Tiga di antara yang terbaik itu menjadi juara 1, 2, dan 3: Faizal, Viyani, dan Wisnu.

Tradisi menulis di kalangan aktivis KAMMI termasuk kurang, dan tidak berkembang. Sejak lama KAMMI dikenal sebagai aktivis pengajian dan aktivis jalanan yang suka demonstrasi. Sebagai anak pengajian, anak KAMMI memang sudah lahir dari rahim tersebut. Nyaris masih sulit dibedakan antara aktivis KAMMI dengan aktivis LDK. Tapi, karena pengajian adalah sesuatu inheren dalam dunia KAMMI, maka pengaruh sebagai anak pengajian tetaplah dominan dalam diri para aktivisnya. 

Untuk urusan demo, KAMMI memang sudah tidak diragukan. Nyaris dalam tiap momen penting negeri ini KAMMI tidak ketinggalan. Pada reformasi 1998, KAMMI merupakan salah satu elemen aktif yang menumbangkan rezim Orde Baru bersama tokoh reformasi M. Amien Rais. Beberapa aktivis KAMMI pun selanjutnya menunjukkan kiprahnya sebagai anggota legislatif seperti Fahri Hamzah, Andi Rahmat, atau Akbar Zulfakar. 

Namun, harus diakui bahwa tradisi menulis masih begitu lemah di KAMMI. Maka, apa yang dilakukan oleh aktivis KAMMI Makassar ini patut untuk diacungi jempol empat. Walau tidak hanya pengurus komisariat se-Makassar yang kirim tulisan, akan tetapi ini merupakan cikal-bakal yang sangat baik untuk menciptakan apa yang disebut oleh aktivis KAMMI sebagai Muslim Negarawan plus seorang penulis. 

Finally, saya ingin mengucapkan kepada tiga esais terbaik dari KAMMI Makassar. Tentu saja, ini langkah pertama untuk terus belajar dan meningkatkan diri.Jangan cepat puas. Perbanyak bacaan, perluas perspektif. Kelak jangan lupa untuk menuliskan ide-ide cerdasnya di buku yang akan sangat pasti sangat berguna untuk membangun tradisi ilmiah di negeri ini. Kepada yang belum jadi pemenang, jangan berhenti menulis. Sebaliknya, terus menulis, dan memberikan perspektif bagi bangsa ini. Indonesia butuh banyak penulis. *

Click to comment