Type something and hit enter

author photo
By On
Foto bersama di Gramedia Matraman
Pada Rabu, 11 November 2015, saya bertemu dua orang hebat: Professor Jimly Asshiddiqie dan Ustad Muzayyin Arif.

Pertemuan bertiga ini mengingatkan saya empat tahun yang lalu saat menjadi staf Prof Jimly. Ceritanya, waktu itu saya lagi potong rambut di salah satu barbershop di kampung saya, Tobelo (Halmahera Utara), dan Ustad Muzayyin menelepon. Tak lama, dari Tobelo saya ke Ternate, dari Ternate ke Jakarta.

Waktu itu, saya dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Jimly School of Law and Government (JSLG) yg dipimpin oleh Dr. Komaruddin, dan sekaligus membantu Institut Peradaban yang dipimpin Professor Salim Said yang berkantor di ruangan yang pernah ditempati Professor BJ. Habibie. Tugas saya waktu itu (untuk Institut Peradaban) adalah membuat format lembaga yang pas untuk IP dengan mempelajari lembaga yang ada dengan berpatokan pada pemikiran Prof Salim Said sebagai chairman.

Dalam waktu yang tidak berapa lama itu, saya belajar banyak dari para tamu dan undangan yang hadir dalam rapat-rapat, serta diskusi yang digelar baik atas nama Jimly School atau Institut Peradaban.

Sebagai juru catat yang baik, saya belajar dari diskusi-diskusi kebangsaan yang dihadiri oleh Prof Jimly Asshiddiqie, Prof Salim Said, Prof Rusadi Kantaprawira, Christianto Wibisono, Dr. Donny Gahral Adian, Dr. Burhanuddin Abdullah, KH. Masdar F. Mas'udi, Marsekal TNI AU Chappy Hakim, Teddi P. Rachmat, Amran Nasution, dan banyak nama lainnya.

Ternyata, turut serta bersama orang-orang pintar itu menyenangkan. Membuka mata, wawasan, dan juga relasi. Mungkin, inilah makna sesungguhnya dari silaturahmi sebagaimana hadis dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (kebaikannya), maka bersilaturahmilah (HR. Bukhari)." *

Click to comment