Type something and hit enter

author photo
By On


TEMAN yang baik itu bukanlah yang terus menganggapmu benar walau kenyataannya kamu salah. Teman yang baik adalah yang menasehatimu, mengingatkanmu, mengembalikan kesadaranmu saat kamu berbuat kekhilafan.
Nabi Musa as pernah menganggap dirinya paling pintar. Suatu waktu bertemulah beliau dengan Nabi Khidir as. Khidir pun mengajaknya jalan dan melakukan hal-hal aneh di luar pikiran Nabi Musa as. Nabi Musa kaget atas ulah sahabatnya itu. Di sini perasaan merasa diri hebat pun luluh. Musa tersadar bahwa ada manusia lain yang lebih hebat ketimbang dirinya. Kesalahannya pun telah diperbaiki oleh Nabi Khidir as.
Teman itu ibarat cermin. Pernah bercermin? Pasti pernah! Kita melihat diri kita baik, pantas, gagah, cantik, itu lewat cermin. Seorang teman juga begitu. Kita menganggap kita baik dan pantas. Jika teman kita rajin, pelan tapi pasti kita akan rajin, begitu juga bila teman kita malas Abu Kaslaan (bapaknya pemalas), Ummu Kaslaan (ibunya pemalas) maka kita pun terseret ke dalam jurang kemalasan.
Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama Rumah Seribu Cermin. Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi rumah tersebut. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Mau bahagia? Carilah teman yang baik karena teman itu bisa saja membuat jiwamu mulia, pun demikian membuatmu hina dina. Temanmu adalah masa depanmu. Temanmu adalah wajahmu. []

Click to comment