Type something and hit enter

author photo
By On


SESEORANG berkata kepada saya bahwa ada kawannya yang baru berkata kepadanya bahwa yang ada dalam kepala si kawan itu hanya satu: CERAI. Seseorang ini pun bertanya lebih lanjut, kenapa dia berpikir begitu. Di kawan yang di sana berkata, bahwa dia merasa laki-laki yang dekat dengannya itu (suaminya, maksud saya), sepertinya tidak perhatian lagi padanya. Mereka telah dikurniai dua orang anak, mereka punya usaha, bahkan di kawannya seseorang itu punya mobil pemberian dari orang tuanya. Tapi, dalam kondisi ekonomi yang relatif mapan itu, si kawannya seseorang itu malah ingin cerai.
Belum juga seminggu kawan saya kawin, dia kirim pesan singkat kepada saya yang intinya adalah, "saya merasa tidak puas dengan istri saya, bukan ini yang saya harapkan sebenarnya, saya juga menikah karena pilihan orang tua." Akhirnya, dengan tergesa-gesa, padahal baru menikah beberapa hari, dia bilang, "saya ingin cerai!"
Kepada kawan saya itu, saya hanya katakan seperti ini, "Perkawinan itu proses penyatuan dua hati. Tiap orang, apapun dan bagaimanapun kondisi dirinya, tetap kita punya sisi yang bisa menyatukan antara satu dan lainnya. Kalau kamu menikah dengan orang kurang menurutmu, maka pasti ada sisi tertentu dimana kamu bisa sepakat bersama dia."
Beberapa waktu sebelum saya kawin, juga kawan saya yang sampai saat ini belum kawin-kawin, bilang kepada saya perkataan di atas. Dia menyatakan kepadaku, bahwa tiap kita pasti punya kesamaan. Tinggal kita cari saja dimana persamaan itu, dan bekerjasama dalam hal itu. Perkataan kawan saya yang bijak itu masih teringat di benak saya, suatu sore ketika kami hendak memasak di kamar kost kami.
Perkawinan memang berat, siapa bilang gampang. Berat! Olehnya itu, makanya banyak yang stress berat karena kawin. Tapi, di sisi lain, ternyata ada juga orang yang berhasil meringankan beban berat pernikahan itu. Kita berada dimana? Itu sangat bergantung dari stabilitas emosi dan kebijaksanaan kita.
Banyak yang kawin, cerai. Seorang kawan yang lain, dia sejak awal nggak mau banget menikah. Tapi, dipaksa juga oleh orang tuanya. Akhirnya, dia ngambek. Berat badannya turun drastis. Dia jadi kurus. Beberapa bulan dia kawin, setelah hampir setahun, dia selalu tidak mau, membangkang, dan menurutnya sampai dia cerai, suaminya nggak pernah "berhasil" menaklukkan dirinya. Dia masih tetap seperti semula, sebelum dia kawin.
Di sisi lain, ada juga orang yang dipaksa oleh keluarganya kawin. Awalnya dia terpaksa memang, tapi lama-lama setelah dia jalani, akhirnya dia merasa kerasan juga. Dia merasa enjoy, dan dia bahagia. Punya anak-anak yang lucu, bahkan dia bisa bertahan lama.
Tampaknya, masalah keberhasilan perkawinan bukan hanya disebabkan faktor dipilih atau pilih sendiri, dipaksa atau tidak dipaksa, tapi bergantung dari niat awal dari sang aktor, dia menikah untuk apa. Kalau niat kita menikah untuk menyelamatkan diri kita dari bahaya dosa, maka itu sudah cukup untuk menikah. Karena jaman sekarang ini, pergaulan sosial yang relatif bebas, bahkan kalau kita sudah tahu kebebasan itu rasanya sulit bagi kita untuk keluar dari situ. Kita nggak mau tentunya untuk menjerumuskan diri kita dalam dosa. Kita sadar dosa, walau kita juga jelas pernah melakukan dosa. Tapi, yang paling penting dari kehidupan kita adalah kita berusaha keras untuk tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Kalau dulu pernah berdosa, segera kita tinggalkan itu! Jangan menunggu waktu yang lama untuk taubat, karena kita nggak tahu kapan kita akan mati!
Dalam pernikahan, godaan demi godaan selalu akan datang. Astaga, banyak sekali godaan itu, sungguh. Maka, beruntung sekali kita kalau mendapatkan lingkungan yang baik, orang yang baik dan suka menasehati. Karena itu akan mengingatkan kita untuk selalu kembali ke jalur yang benar kalau kita mulai terseret dalam kejahilan.
Dalam perkawinan, di masa-masa awal, mungkin kita masih tertarik pada faktor biologis dari pasangan kita. Yang laki-laki masih doyan banget dengan kecantikan istrinya. Namun berjalan waktu, doyannya kita pada faktor fisik itu akan berkurang secara jelas. Jika, hanya faktor cantik saja yang membuat kita menikahi perempuan, maka lama-lama kalau istri kita sudah tidak kelihatan cantik kita pun akan berpaling ke lain hati. Begitu juga dengan perempuan yang menikahi laki-laki hanya karena faktor kegantengannya saja. Ganteng itu nggak bertahan lama. David Beckham memang sekarang ganteng, tapi nanti kalau sudah tua nggak ganteng juga dia, bahkan bisa bungkuk kayak aki' aki'. Jadi, jangan menggantungkan cinta kita pada faktor fisik, karena itu relatif menipu.
Lantas, di faktor manakah harus kita gantungkan pilihan kita? Yang pertama, pilihlah dengan niat ibadah. Saya menikah karena saya mau beribadah. Saya mau mengabdi bagi suami saya. Saya menikah karena saya ingin mengikuti sunnah nabi, karena saya ingin masuk ke dalam jannah yang telah disediakan Allah. Ini yang paling penting.
Kemudian nanti kalau kita dapatkan pasangan yang menurut kita nggak pas, bersabar saja. Janganlah terlampau sombong setelah melihat dirimu cukup pintar, atau cantik atau ganteng kemudian menganggap orang lain tidak pas buat kamu. Itu kesombongan yang jelas sangat. Dan itu harus dihindari. Toh banyak juga orang yang sama-sama cantik dan ganteng, tapi malah mahligai cintanya nggak bertahan lama. Lihatlah para artis-artis itu...Kurang apa lagi ganteng dan cantiknya? Kurang apa lagi harta gono-gini-nya?
Dimulai dengan niat ibadah, insya Allah pernikahan akan senantiasa tegak, walau tetap secara manusiawi akan dilanda oleh godaan di kiri kanan. Yang penting, tetap tegar, dan kembali kalau-kalau ada isyarat akan tersesat! []

Click to comment