Kamis, 08 November 2018

Menulis Karya Etnografi

Cover buku Anthropology and Literature
Antropologi itu ilmu yang senang dengan yang jelas-jelas atau yang ada fakta dan datanya. Kendati ada yang "tidak jelas" (unvisible), antropolog berusaha untuk memperjelas itu sejelas-jelasnya. Setelah mendapatkan berbagai fakta dan data, seorang antropolog harus membawa temuan itu dalam bingkai kajian yang lebih luas. Maka, penguasaan terhadap literatur terkait sangat penting untuk itu.

Pada tahun 1993 (waktu saya baru masuk kelas 1 SMP), University of Illinois Press (Urbana dan Chicago) menerbitkan sebuah buku bagus berjudul Anthropology and Literature yang diedit oleh  Paul Benson. Buku yang tebalnya 320 halaman tersebut diberi kata pengantar oleh Edward M. Bruner.

Buku ini ditulis secara berjama'ah oleh beberapa antropolog sebagai berikut: Edith Turner, Robin Ridington, Michael V. Angrosino, Susan Rodgers, Robin Fox, Bruce T. Grindal, William H. Sephard, William L. Rodman, Dan Rose, Frances E. Mascia-Lees, Patricia Sharpe, Colleen Ballerino Cohen, dan Ivan Brady. Para jema'ah antropolog tersebut telah bahu-membahu sehingga buku ini bisa terbit. Dilihat dari nama-namanya, tidak semuanya terkenal di Indonesia. Padahal buku yang lahir dari special issue dari Journal of the Steward Anthropological Society itu sudah terbit sejak 1993. Seharusnya nama-nama dan buku-buku mereka banyak dikaji juga di kita. Apa mungkin karena kita tertinggal dalam hal referensi?

Buku ini bercerita soal penulisan etnografi (ethnographic writing). Secara umum, para penulis buku ini menjelaskan soal refleksivitas dalam penulisan antropologi. Bagaimana pengetahuan dan pengalaman penelitian dan penulisan mereka, ditulis dalam buku ini. Karya etnografi biasanya didesain untuk mempresentasikan data terkait kebudayaan lain dimana memoir--catatan lapangan (fieldnotes)--menjadi sangat penting untuk itu.

Mengutip dari Edith Turner, kesulitan dalam penulisan etnografi berada pada bagaimana informasi serius dari lapangan terkait kebudayaan setempat diperoleh serta bagaimana data itu diinterpretasi. Mau pakai strukturalisme, prosesual, dan lain sebagainya tidak masalah selama itu relevan untuk membaca data penelitian yang ada. Sebaiknya, dalam interpretasi data kita pakai kacamata yang kira-kira relevan untuk itu. Jangan terlalu dipaksakan untuk melihat konteks yang ada dengan kacamata yang tidak relevan.

Michael V. Angrosino membahas soal puisi sebagai bentuk-bentuk ekspresif dari masyarakat Indian Barat. Kata dia, bentuk-bentuk ekspresif dari orang Indian Barat itu terlihat dari adanya puisi, fiksi, drama, musim, dan sejarah lisan (oral history)--atau bisa juga dimasukkan tradisi lisan. Kesemua bentuk-bentuk ekspresif itu rupanya sering dapat menjadi alat mobilisasi untuk meningkatkan kesadaran etnik atau kesadaran nasional mereka. Angrosino menyebut bentuk-bentuk ekspresi itu sebagai symbolic affirmation of identity yang telah hadir dalam 20 tahun terakhir (sekitar 1970-an sampai 1980-an) yang berkaitan sekali dengan kecepatan migrasi dari pulau-pulau besar ke pulau kecil/teritorial dan dari Karibia ke Eropa dan Amerika Utara (p. 73).

Terkait dengan penulisan etnografi, Angrosino mengutip dari Goody (1968) yang mengatakan bahwa menulis itu tidak sederhana soal nyaman atau tidak nyaman, akan tetapi menulis itu berkaitan dengan media baru komunikasi untuk mendapatkan objektivitas dan menjaga ucapan dari masyarkat dalam bentuk tanda-tanda yang terlihat (visible signs). Menuliskan etnografi tidak hanya menuliskan apa ucapan para informan, akan tetapi juga merekam seluruh tradisi kultural yang terkait dengan informan tersebut.

Dalam menulis etnografi seorang penulis harus bisa menempatkan dirinya dalam konteks emik dan etik. Ketika menulis karyanya, dia harus bersifat emik terlebih dahulu, kemudian membacanya lagi berdasarkan etik. Memang, itu susah-sudah gampang. Misalnya, saat menulis soal Baduy, seorang etnografer harus bisa "menjadi Baduy" (dalam segala hal, termasuk pemikiran). Ketika dia menuliskan laporan penelitiannya, maka dia harus bisa memposisikan dirinya sebagai orang luar yang mencoba untuk membaca, mempelajari, serta menginterpretasi apa konteks sosial-budaya yang ada di masyarakat tersebut berdasarkan teori dan tradisi antropologi. 

(Review ini belum tuntas, karena hari sudah sore. Saya harus balik. Bukunya ditinggalin di perpus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GARBI: Gerakan Intelektual atau Proto-Parpol?

Logo GARBI Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) saat ini banyak dibincangkan orang, terutama di kalangan mereka yang sedang (atau pernah)...