Jumat, 12 Oktober 2018

Likuifaksi Ratna Sarumpaet

Foto Ratna Sarumpaet yang membuat orang percaya ia dikeroyok (kolase oleh Tempo)

Pada sebuah siang saya baca sebuah broadcast yang berisi ajakan untuk membela Ratna Sarumpaet (69 tahun) yang dikeroyok orang tidak dikenal di dekat Bandara Husein Sastranegara Bandung. Saya tidak langsung mengisinya, karena saya memilih untuk berhati-hati ketika sesuatu itu ada kaitannya dengan politik. Walhasil, saya tidak jadi tulis nama.

Ratna Sarumpaet, perempuan yang juga aktor teater sudah lama kita kenal. Kiprah dan keberanian dia melawan rezim sudah nggak bisa ditandingi oleh anak zaman now. Kalau mau melawan rezim, belajarlah salah satunya dari Ratna. Orang-orang masih tiarap tapi dia berdiri tegak. Tak cuma di Orde Baru, tapi juga di era sekarang ini. Dia tetap kritis, tapi harus kita ingat: dia juga harus dikritisi.

Sehari sebelum keluarga informasi dari polisi mengenai kejanggalan pengakuan Ratna, calon presiden Prabowo Subianto juga sudah berkonferensi pers yang intinya mengutuk tindakan seperti itu apalagi kepada perempuan. Didampingi oleh tim suksesnya, Prabowo menjadi pembela orang-orang yang lemah.

Di media sosial, beberapa politisi juga sudah ramai percaya apa kata Ratna. Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan lain sebagainya. Mereka orang-orang kritis akan tetapi dalam kasus ini mereka terjebak. Mereka terpedaya oleh seorang Ratna Sarumpaet--seorang kawan, seorang perempuan, seorang pejuang senior, dan seorang yang tak ada pretensi politik untuk kepentingan pribadi. Kira-kira begitu.

***

Kita pun melihat "celah" dari kubu Prabowo. Mereka mudah percaya sama orang. Apakah salah? Tentu saja tidak. Dalam kesantunan orang Indonesia, kepercayaan adalah bagian yang inheren dalam tata-laku kita. Artinya, percaya kepada orang dan membantu orang lemah sudah bagian dari hidup kita. Yang problem ketika kita percaya kepada sesuatu yang ternyata salah.

Itu dia masalahnya.

Tapi, di kubu Jokowi juga sama. Kecolongan data soal Archandra Taher yang masih berkartu penduduk Amerika adalah soal. Itu tamparan keras sebenarnya buat presiden. Bayangkan, presiden mengangkat seorang pembantunya--menteri--tapi status dia masih jadi warga negara asing. Itu kecolongan yang besar sebenarnya.

Soal kecolongan, di negeri kita sudah biasa kok. Di awal-awal kemerdekaan, Bung Karno dipuji dimana-mana. Dia berani, dia punya visi, tapi dia belakangan jadi berubah ketika mulai menikmati kekayaan. Dia mulai dekat dengan PKI, dan menjaga jarak dengan gerakan Islam--padahal semangat perlawanan dia awalnya terinspirasi dari HOS Cokroaminoto yang berasaskan Islam.

Ketika Bung Karno dekat dengan PKI, terjadilah pemberontakan. Di mata Kartosuwirjo dan Kahar Muzakkar--keduanya adalah pejuang kemerdekaan--Bung Karno telah berkhianat. Bayangkan: ini sama-sama pejuang. Tapi belakangan jadi nggak akur, bahkan perang satu sama lain.

Mereka pun berontak. Dari buku sejarah yang kita baca menerangkan bahwa awalnya Kartosuwiryo itu hanya ingin mengamankan Jawa Barat dari Belanda. Tapi, belakangan entah kenapa jadi makin keras menjadi pendirian negara. Apa mungkin sejak awal dia ingin mendirikan negara Islam? Saya kira Al Chaidar harus cerita soal ini. Buku dia yang tebal itu saya nggak punya. Nanti kalau ketemu di kampus saya perlu sharing dengannya soal ini.

Di mata Bung Karno, orang-orang kayak Karto atau Kahar adalah orang-orang yang berubah. Telah disepakati Pancasila, bukan negara agama, tapi agama juga yang diperjuangkan. Tapi, kalau melihat sejarah, aspirasi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara agama memang kuat, karena banyaknya kesultanan di negeri ini. Tapi, apakah ada indikasi seperti itu? Saya kira belum tentu juga.

***

Kita balik ke Ratna. Gara-gara Ratna bohong banyak orang kena likuifaksi, sebuah istilah gempa yang membuat tanah bergerak dan merusak segala yang di atas. Pencairan tanah. Soil liquefaction, bahasa Inggrisnya. Pastinya, tim Prabowo merasa malu gara-gara itu. Itu jebakan kecil sebenarnya tapi kok tidak bisa dilalui?

Banyak orang menyayangkan. Urusan "siapa orang yang harus dipercaya" saja belum tuntas, apatah lagi membawa negeri ini menjadi negeri yang adil makmur? Ya, banyak sudah kritikan kepada mereka.

Sebagai orang yang tidak berada di kubu manapun, menurut saya kini saatnya kubu Prabowo lebih berhati-hati dalam mempercayai issu. Lebih banyak mereka fokus pada program. Perbanyak program, bangun jejaring, dan viralkan. Itu lebih konkret. Adapun hal-hal yang kira-kira menggoda, itu harus dipikirkan matang-matang.

Sesuatu yang kuning, kata orang, belum tentu emas. Maka, sebuah kesempatan yang terlihat penting untuk menjatuhkan lawan--misalnya--juga belum tentu jadi kesempatan yang baik. Bisa jadi kesempatan itu malah jadi malapetaka, seperti yang kemaren terjadi gara-gara mudah percaya kepada Ratna Sarumpaet.

Terlepas dari itu semua, saya menaruh salut kepada Ratna atas perjuangannya selama ini untuk demokrasi. Tidak harus seperti Hanum Salsabila Rais yang menyamakan Ratna dengan Cut Nyak Dien, saya cuma mengatakan dia adalah salah seorang pejuang demokrasi Indonesia. Adapun kesalahan dia yang barusan saya kira kita maklumi saja. Dia sudah tua, dan dia ingin tetap terlihat cantik. Problemnya cuma entah "setan mana" yang minta ia mengarang cerita bohong tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar