Tiga Dosen Universitas Khairun Jadi Pembicara Konferensi Internasional Asia-Pasifik

Mustafa Mansur, Abd Rahman dan Yanuardi Syukur

Jakarta – Tiga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Ternate, terpilih sebagai pembicara pada The 3rd Asia-Pacific Research in Social Sciences and Humanities (APRiSH) 2018 yang digelar oleh Universitas Indonesia, bertempat di JS. Luwansa Hotel, Jakarta (13-15/08).

Yanuardi Syukur, dosen Antropologi Sosial akan memaparkan hasil risetnya berjudul “Moderate-Radicalism: A Sociocultural Account of The Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Islamic Activism in Indonesia” yang ditulis bersama Profesor Achmad Fedyani Saifuddin pada hari kedua (14/08). 

“Saya akan menyampaikan sebuah konsep baru terkait moderate-radicalism yang mungkin bisa menjadi jalan tengah dalam melihat perkembangan aktivisme Islam yang tidak harus terpengaruh dengan predikat radikal dan tidak-radikal,” kata Yanuardi Syukur.

“Di satu sisi, aktivis Islam yang dilabeli sebagai radikal mendapatkan penentangan dari negara karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara, sementara di sisi lain aktivis Islam yang dilabeli sebagai tidak-radikal mendapatkan apresiasi oleh negara karena dianggap mendukung ideologi negara,” lanjut Yanuardi. 

Pembagian dikotomis ini, kata dia, cenderung mengembangkan potensi konflik dua pihak yang membahayakan kelangsungan kehidupan bangsa. Padahal, negara sebagai entitas yang terdiri dari berbagai suku-bangsa, agama, latar belakang, dan golongan meniscayakan terjadinya perbedaan pandangan. 

Dalam tulisannya, Yanuardi menjelaskan terkait profil INSISTS yang dapat disebut sebagai organisasi aktivis Islam dengan representasi aktor yang beragam, penggunaan platform yang konservatif modern, serta pengaruh kekuatan kultural yang majemuk bagi eksistensi INSISTS di Indonesia.

“Secara praktis proses integrasi dalam organisasi aktivisme Islam INSISTS yang anggotanya beragam sangat penting dalam merajut kembali dikotomi gagasan soal radikal dan tidak-radikal dalam aktivisme Islam di Indonesia. Dalam konteks makro, apabila fenomena ini berkembang jauh lebih besar, akan sangat penting bagi menjaga kelangsungan integrasi nasional,” kata Yanuardi lagi. 

Sementara itu, Abd Rahman, dosen Ilmu Sejarah, dan Mustafa Mansur, dosen Usaha Perjalanan Wisata akan memaparkan hasil riset mereka bersama Dr. Tommy Christomy berjudul “Finding Hero & Being Indonesia in Loloda North Maluku” pada hari kedua.

“Kami akan membahas soal bagaimana menemukan kembali nilai-nilai kepahlawanan di Loloda dan dampaknya bagi pengembangan otonomi daerah di Maluku Utara,” kata Abd Rahman yang juga kandidat doktor Ilmu Sejarah FIB UI. 

Kata Abd Rahman lagi, dalam makalahnya, mereka akan membahas mengenai reartikulasi memori kolektif perjuangan masyarakat Loloda pada masa pergerakan nasional awal abad ke-20 dalam hubungan dengan nasionalisme Indonesia. 

“Nasionalisme dalam konteks ini ingin menempatkan posisi Loloda pada ruang kultural dan politik bahwa keberadaan Loloda saat ini merupakan suatu identitas yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya, yang secara kebangsaan telah menjalani satu kesatuan riwayat melalui pergerakan nasional pada awal abad ke-20,” kata Mustafa.  

“Bisa dikatakan bahwa ini adalah upaya membangun dan menemukan ke-Loloda-an dalam ke-Indonesia-an,” kata Mustafa Mansur yang juga Sekretaris Besar (Tuli Lamo) Kerajaan Loloda tersebut. *

Komentar