Senin, 30 Juli 2018

Harga Sawit (boleh) Jatuh, Harga Diri Jangan

Salah seorang warga Suku Anak Dalam, pekerja sawit

Harga sawit belakangan ini sangat jelek. Lagi jatuh!

Suatu ketika, saya bertanya ke warga.
"Pak, berapa harga sawit sekarang?"
"Sekarang ini, per kilo cuma Rp600 rupiah," katanya.

Harga yang super murah itu pastinya berdampak buruk bagi kantong masyarakat, khususnya SAD. Mereka terlihat agak mengeluh atas kondisi seperti itu, tapi tidak begitu ditampakkan rasa keluhan itu. Sebaliknya, mereka tetap memanen sawit-sawitnya.

"Harga lagi jatuh begini, terus sawitnya diapain pak?" tanya saya.
"Kami tetap kerja." Maksudnya, tetap mereka petik sawit, dan panen. Kendati untungnya tidak seberapa.

Etos yang hendak ditampakkan dari sini adalah etos bertahan hidup ala orang SAD. Mereka sedang didera kesusahan, akan tetapi mereka tetap berjuang. Sekecil apapun potensi yang mereka punya, tetap mereka pakai untuk mencari hidup.

Jika mereka membiarkan sawitnya begitu saja, maka tak ada juga untung yang mereka dapat. Harga sudah jatuh, tapi mental kita jangan sampai jatuh.

Walau dapat untung cuma sedikit, tapi itu bisa menjadi pembuka rezeki lainnya.

Selain bersawit, mereka juga membuat arang. Biasanya di kebun-kebun mereka buat arang. Arang berguna buat bakar ikan, bakar sate, dan sebagainya. Bulan-bulan kayak sekarang ini, kata seorang informan saya, Ibu Butet, adalah bulan masyarakat membuat arang--karena jatuhnya harga sawit.

Hidup di pedalaman memang tidak menguntungkan--bagi orang kota. Ya, kayak gitu-gitu itu: kerja sawit tapi harganya jatuh. Tapi sebenarnya sama aja sih ya: hidup di kota juga ada masa-masa harga bagus dan ada masa-masa harga jatuh.

Artinya, soal fluktuasi harga itu sudah sunnatullah dalam ekonomi manusia. Gara-gara harga jatuh itu banyaklah orang diputus hubungan kerja--terutama di kota-kota. Mereka menganggur. Padahal mereka sarjana. Masa' sih sarjana harus menganggur? Harusnya nggak boleh. Malu sama orang SAD. Orang SAD yang nggak bisa baca-tulis aja tetap berusaha mencukupi hidupnya. Tidak menganggur.

Sawit jatuh, arang pun dilakoni.

Itu semacam siklus kerja. Maksudnya, dalam dunia pekerjaan kita tidak bisa mengandalkan satu jenis pekerjaan untuk menopang hidup. Praktik ini sesungguhnya dijalankan juga oleh para pengusaha Tionghoa.

Suatu ketika, setelah menghadiri undangan diskusi di Yayasan Nabil--yang didirikan oleh Eddie Lembong, seorang pengusaha kaya Tionghoa yang sangat merah-putih--saya bertanya kepada istrinya.

"Bu, bagaimana cara orang Tionghoa bekerja?"

"Orang Tionghoa itu bekerjanya tidak hanya satu macam. Mereka kerja bermacam-macam. Jika satu pekerjaan sedang tidak bagus, mereka akan bekerja pekerjaan lainnya. Dan, semua jenis pekerjaannya itu akhir menopang satu dan lainnya."

Saya lihat rata-rata orang kaya juga pada begitu. Mereka tidak hanya cukup satu jenis usaha. Bukannya mau maruk sih, tapi itu bagian dari mekanisme untuk bertahan hidup atas kemungkinan datangnya angin yang dapat menjatuhkan satu jenis usaha.

Persis seperti etos kerja orang SAD. Mereka tidak menggantungkan usaha pada sawit aja, atau pada arang saja. Atau, pada jualan hewan buruan.

"Di sekitar sini juga ada warung yang memasak babi-hutan," kata seorang informan saya.
"Biasanya, babi-hutannya dijual dari orang SAD."

Jadi, semua jenis pekerjaan dilakukan. Semata-mata untuk mempertahankan hidup. Agar bisa makan. Agar bisa bikin rumah yang lebih layak. Dan, agar muka bisa tetap tegak. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar