Senin, 30 Juli 2018

Melihat Jakarta dari Pedalaman

Perjalanan ke Pedalaman

Tidak semua punya kemewahan untuk menginjak ibukota Jakarta. Tak terkecuali orang SAD. Hidup mereka yang siklusnya tidak jauh-jauh dari hutan dan perkampungan telah jadi kebahagiaan tersendiri yang membuat mereka tidak menuntut untuk harus jadi orang kota. Hidup bagi mereka, adalah "bisa makan, bisa punya rumah, dan bisa membesarkan anak."

Bisa makan adalah hak asasi tiap orang, bahkan tiap makhluk. Problem makanan ini sebenarnya sudah klasik banget. Sejak dulu orang jadi berkonflik gara-gara makanan. Jika ditarik lebih luas, gara-gara sumber daya.

Ada sumber daya di suatu tempat. Maka berlari-larilah orang untuk mendapatkan itu. Tak peduli apakah merusak alam atau tidak, manusia berusaha untuk itu. Lihatlah bagaimana kerusakan hutan dan terjadinya perubahan ekosistem yang membuat alam kita jadi rusak. Itu tak lain dan tak bukan karena kerakusan untuk mendapatkan sumber-sumber alam. Selain buat perut, itu juga buat kekuasaan dalam arti seluas-luasnya.

Orang-orang Eropa yang dulu capek-capek berlayar ke timur juga mencarinya itu. Cari makanan juga. Makanan itu rupanya berdaya tawar tinggi di sana. Namanya rempah-rempah. "Itu makanan para dewa," katanya. Saking susahnya mendapatkan rempah-rempah, mitos "makanan para dewa" itu pun menjelma. Mancung-mancung hidung dari Portugis dan Spanyol pun buat kesepakatan mencari dunia timur yang kaya. Tersesat, karam, dan karam. Akhirnya, sampai jugalah mereka ke Malaka. Kemudian, dari situ mereka tembus satu tahun sesudahnya hingga ke Maluku.

Jauh-jauh mereka tiba di Malaka hingga Maluku tujuannya cuma satu: biar bisa makan. Ya, makanan yang enak salah satunya harus ada cengkehnya, atau pala-nya. Itu dua komoditas yang mahal banget di zaman old tersebut. Kalau di zaman sekarang, dua komoditas itu kelihatannya tidak begitu dicari-cari. Tapi, orang mencari-cari sumber daya lainnnya seperti minyak, gas, emas, tembaga---dan sejenisnya. Termasuk, mencari dan menguasai jalur-jalur tertentu agar bisa menguasai dunia.

Lihatlah perseteruan di Laut Cina Selatan. Itu bukan hanya seteru soal potensi alamnya tapi juga potensi geografis yang strategis untuk kekuatan geopolitik. "Siapa yang menguasai jalur, dia bisa menguasai dunia," mungkin begitu. Maka, berlomba-lombalah tetangga kita untuk menguasai LCS itu. Soal jalur juga terlihat di berbagai tempat, misalnya di Timur Tengah. Jalur minyak tetap harus diamankan, karena itu berkaitan erat dengan resources masa depan bagi negara-negara besar.

Suatu ketika, saya ngobrol dengan seorang kawan sekaligus "murid alifbata" saya di Makassar yang berprofesi sebagai penerbang. Ia bercerita, bahwa sebenarnya Amerika Serikat juga punya potensi minyak yang besar, akan tetapi mereka hendak menguasai dulu potensi-potensi di luar negaranya. Ini semacam politik sumberdaya. Kuasai sumberdaya di luar kita, dan jika mereka sudah habis, kita masih punya. Sampai sekarang saya belum banyak pelajari soal itu, akan tetapi di beberapa sumber sederhana, kita bisa melihat bahwa negara besar sekelas Amerika juga sebenarnya potensi alamnya juga besar. Cuma mungkin eksplorasinya lebih fokus ke luar agar mendapatkan hasil yang lebih besar dari negara lain.

Di Jakarta juga begitu. Banyak orang yang punya sumberdaya. Sudah kaya, tapi masih mau tetap kaya. Akhirnya, jadi kaya raya. Memang sih, menjadi itu hak asasi, dan tidak dosa. Akan tetapi, menjadi kaya dan bisa membantu masyarakat sekitar itu yang kita butuhkan. Bukan menjadi kaya tapi memiskinkan orang lain. Jangan sampai kayak gitulah. Tidak Pancasilais-lah kalau kayak gitu.*

Harga Sawit (boleh) Jatuh, Harga Diri Jangan

Salah seorang warga Suku Anak Dalam, pekerja sawit

Harga sawit belakangan ini sangat jelek. Lagi jatuh!

Suatu ketika, saya bertanya ke warga.
"Pak, berapa harga sawit sekarang?"
"Sekarang ini, per kilo cuma Rp600 rupiah," katanya.

Harga yang super murah itu pastinya berdampak buruk bagi kantong masyarakat, khususnya SAD. Mereka terlihat agak mengeluh atas kondisi seperti itu, tapi tidak begitu ditampakkan rasa keluhan itu. Sebaliknya, mereka tetap memanen sawit-sawitnya.

"Harga lagi jatuh begini, terus sawitnya diapain pak?" tanya saya.
"Kami tetap kerja." Maksudnya, tetap mereka petik sawit, dan panen. Kendati untungnya tidak seberapa.

Etos yang hendak ditampakkan dari sini adalah etos bertahan hidup ala orang SAD. Mereka sedang didera kesusahan, akan tetapi mereka tetap berjuang. Sekecil apapun potensi yang mereka punya, tetap mereka pakai untuk mencari hidup.

Jika mereka membiarkan sawitnya begitu saja, maka tak ada juga untung yang mereka dapat. Harga sudah jatuh, tapi mental kita jangan sampai jatuh.

Walau dapat untung cuma sedikit, tapi itu bisa menjadi pembuka rezeki lainnya.

Selain bersawit, mereka juga membuat arang. Biasanya di kebun-kebun mereka buat arang. Arang berguna buat bakar ikan, bakar sate, dan sebagainya. Bulan-bulan kayak sekarang ini, kata seorang informan saya, Ibu Butet, adalah bulan masyarakat membuat arang--karena jatuhnya harga sawit.

Hidup di pedalaman memang tidak menguntungkan--bagi orang kota. Ya, kayak gitu-gitu itu: kerja sawit tapi harganya jatuh. Tapi sebenarnya sama aja sih ya: hidup di kota juga ada masa-masa harga bagus dan ada masa-masa harga jatuh.

Artinya, soal fluktuasi harga itu sudah sunnatullah dalam ekonomi manusia. Gara-gara harga jatuh itu banyaklah orang diputus hubungan kerja--terutama di kota-kota. Mereka menganggur. Padahal mereka sarjana. Masa' sih sarjana harus menganggur? Harusnya nggak boleh. Malu sama orang SAD. Orang SAD yang nggak bisa baca-tulis aja tetap berusaha mencukupi hidupnya. Tidak menganggur.

Sawit jatuh, arang pun dilakoni.

Itu semacam siklus kerja. Maksudnya, dalam dunia pekerjaan kita tidak bisa mengandalkan satu jenis pekerjaan untuk menopang hidup. Praktik ini sesungguhnya dijalankan juga oleh para pengusaha Tionghoa.

Suatu ketika, setelah menghadiri undangan diskusi di Yayasan Nabil--yang didirikan oleh Eddie Lembong, seorang pengusaha kaya Tionghoa yang sangat merah-putih--saya bertanya kepada istrinya.

"Bu, bagaimana cara orang Tionghoa bekerja?"

"Orang Tionghoa itu bekerjanya tidak hanya satu macam. Mereka kerja bermacam-macam. Jika satu pekerjaan sedang tidak bagus, mereka akan bekerja pekerjaan lainnya. Dan, semua jenis pekerjaannya itu akhir menopang satu dan lainnya."

Saya lihat rata-rata orang kaya juga pada begitu. Mereka tidak hanya cukup satu jenis usaha. Bukannya mau maruk sih, tapi itu bagian dari mekanisme untuk bertahan hidup atas kemungkinan datangnya angin yang dapat menjatuhkan satu jenis usaha.

Persis seperti etos kerja orang SAD. Mereka tidak menggantungkan usaha pada sawit aja, atau pada arang saja. Atau, pada jualan hewan buruan.

"Di sekitar sini juga ada warung yang memasak babi-hutan," kata seorang informan saya.
"Biasanya, babi-hutannya dijual dari orang SAD."

Jadi, semua jenis pekerjaan dilakukan. Semata-mata untuk mempertahankan hidup. Agar bisa makan. Agar bisa bikin rumah yang lebih layak. Dan, agar muka bisa tetap tegak. *

Tengah Juli di Pedalaman Jambi

Berfoto dengan warga belajar Suku Anak Dalam 

Entah kapan, rasanya saya pernah berkhayal: suatu saat saya akan bepergian ke Suku Anak Dalam. Ya, saya ingat! Kayaknya itu sepulang dari undangan menjadi pembicara di kampus STAI Al-Ma'arif di Kota Jambi.

"Dari Jambi ke Suku Anak Dalam, jauh tidak, Pak Sumarto?" tanya saya.
"Agak jauh, Pak Yan," jawab Dr. Sumarto. "Bisa 4 sampe 5 jam perjalanan."

Saat itu, memang tidak memungkinkan. Waktu saya di Jambi hanya sedikit.

Suatu ketika, saya dapat tugas dari kantor, Lantai Delapan Kemdikbud. Awalnya, rencana saya ditugaskan untuk pergi ke Suku Togutil alias Tobelo Dalam (O Hana Manyawa), akan tetapi tidak jadi--karena faktor anggaran yang terbatas. Akhirnya, saya diberi tugas ke Jambi, ke Suku Anak Dalam. Yes! Ini jadi doa, dari apa yang pernah saya imajinasikan--waktu itu.

PERJALANAN ke Jambi tidak sampai satu jam. Dari bandara, kami ke Muara Bulian sekitar empat jam. Setelah itu, lanjut ke Desa Bungku, Kabupaten Batanghari. Desa ini termasuk terpencil. Jauh dari kota. Sesiapa yang senang online rasanya tidak akan betah berlama-lama di sini. Signalnya macet-macet. Berat bagi orang kota, apalagi yang senang jawaban up to date.

Tapi, saya menikmati itu.

Di sana, saya bertemu dengan saudara-saudara kita dari SAD. Mereka ada yang sudah menamatkan pendidikan SMA, tapi banyak juga yang masih buta huruf latin. Kalau kita di kota sudah melek aksara, mereka belum. Abecede saja mereka baru mulai. Pun, satu tambah satu sama dengan dua. Itu juga mereka baru belajar. Menulis juga sama. Masih pelan-pelan mereka ikuti pelajaran yang tersedia.

Sekolah mereka masih sederhana sekali. Dinding sekolahnya beberapa sudah berpapan, tapi beberapa lainnya belum. Lantainya juga begitu: beberapa tidak ada semennya. Dari kejauhan, ini bukan sekolah. Tapi memang sih, ini sekolah nonformal. Jadi, beda banget dengan sekolah-sekolah formal.

Sekolah ini dibuat untuk saudara-saudara kita yang belum bersekolah, atau pernah putus sekolah dan ingin melanjutkan kembali. Pemerintah, lewat Kemdikbud, bersemangat untuk itu. Untuk mengentaskan buta aksara di masyarakat, terutama di pedalaman.

"Saya ingin senang sekali belajar, Pak. Saya ingin Pemerintah lebih peduli lagi kepada kita-kita di sini," kata salah seorang warga belajar.

Seorang lagi berkata, "Saya sekarang tidak ada kerja. Rumah juga tidak ada. Saya tinggal di rumah orang. Tapi saya mau belajar biar bisa pintar." Begitu kata seorang lainnya.

Seorang ibu--tepatnya sih nenek, dipanggil Nyai--juga bercerita soal semangatnya untuk belajar.

Saya tanya, "Nyai tidak merasa malu belajar dengan orang yang lebih muda?"
"Tidak!" Saya tidak merasa malu. Saya ingin bisa seperti orang lain.

Tampak semangat yang besar dari wajah-wajah warga belajar Suku Anak Dalam yang sempat kami temui siang menjelang sore itu.

Di lain waktu, saya dan tim juga bertemu dengan kepala desa setempat. Dia bercerita bahwa di sekitar di ini ada beberapa perusahaan besar, akan tetapi tidak memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

"Jalanan yang berdebu itu adalah salah satu bukti bagaimana perhatian perusahaan kepada masyarakat," kata beliau.

Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang gurita kapitalisme, pemodal, serta kolaborasi antara orang pintar dengan perusahaan yang merugikan masyarakat.

Beberapa tahun terakhir, konflik lahan antar masyarakat SAD dengan perusahaan memang sedemikian besarnya. Lahan-lahan itu merupakan sumber kehidupan bagi orang SAD--baik yang di hutan atau yang sudah bercampur di pemukiman warga.

Penggusuran lahan membuat masyarakat nyaris tidak mendapatkan apa-apa. Semangat pak kades untuk "melawan kapitalisme" itu bisa dilihat sebagai semangat untuk kembali ke desa, peduli ke desa.

Membangun dari desa cukup penting. Karena desa adalah tiang utama dari bangunan kebangsaan kita. Tak ada bangsa tanpa adanya desa. Tak ada pemerintah pusat tanpa adanya pemerintah desa. Dan, tak ada namanya elite politik, pejabat pemerintahan, tanpa adanya warga yang mau diatur. Tapi, hak-hak warga tentu saja harus diperhatikan.

Kehidupan mereka akan berbagai fasilitas dasar salah satunya pendidikan haruslah diperhatikan.

Bertemu dengan SAD merupakan salah satu berkah bagi saya. Karena, saya bisa belajar dari dekat bagaimana orang Indonesia di pedalaman berpikir. Berbeda sekali dengan orang kita yang penuh kompetisi, mereka di desa hidup dengan harmoni. Memang, mereka terlambat dibanding kita, akan tetapi mereka mempertahankan kebersamaan, dan boleh dikata: kebersahajaan.

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak kepada teman-teman sekalian untuk mari kita lihat Indonesia ini tidak hanya dari kota. Akan tetapi dari desa-desa. Dari orang-orang pedalaman, dari orang-orang pinggiran, perbatasan, dan dari orang-orang marginal. Indonesia ini milik kita, kita semua. Maka, harus kita juga yang perjuangkan nasib warga masyarakat kita. Jangan tunggu orang lain. *

Senin, 23 Juli 2018

Tren Hijrah dan Halal Muslim Milenial


Tren Hijrah dan Halal Muslim Milenial
Oleh Yanuardi Syukur

Hijrah dan halal adalah dua pembahasan yang lekat dalam keseharian Muslim Milenial (1982-2004). Salah satu cara untuk menangkap fenomena ini adalah dengan memperhatikan lalu-lalang percakapan, dialog, bahkan konflik yang ada di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Kata “hijrah” secara umum dimaknai dalam beberapa hal, seperti: perubahan pemikiran, perubahan penampilan, menjadi muallaf (yang sebelumnya non-muslim), mengagumi ulama, menghadiri pengajian (online dan offline), mengikuti komunitas, hadir dalam gathering, dan ikut dalam solidaritas keislaman. Berbeda dengan tren hijrah generasi sebelumnya yang cenderung tertutup, generasi milenial memperlihatkan keterbukaan ketika memilih berhijrah yang terlihat dari aktivis media sosial mereka.

Tren Hijrah

Bagi public figure, hijrah memiliki tiga kemungkinan. Pertama, mendapatkan ketenangan spiritual dan semacam kepastian hidup; kedua, mendapatkan komunitas baru, dan ketiga, membuka peluang kapitalisasi hijrah itu untuk kepentingan finansial.

Pertama, kehidupan masyarakat urban memang kurang sisi spiritual. Tak jarang orang kota yang menjadi pecandu narkoba, pergaulan bebas, dan tidak bahagia. Salah satu cara untuk bahagia adalah dengan mereguk air spiritualitas. Kedua, mendapatkan komunitas baru adalah salah satu kebaikan bagi mereka yang berhijrah karena dengan begitu mereka tidak merasa sendirian dalam kehidupannya. Dan ketiga, tak jarang orang yang berhijrah kemudian menjadi fashion icon (atau jadi desainer), tampil di fashion week, membuka toko/resto/travel Islami, dan pada akhirnya mendapatkan uang.

Bagi orang biasa (selain public figure, maksudnya), hijrah juga sama—mendapatkan ketenangan dan kepastian hidup. Nyaris tidak ada sesuatu yang dapat membuat orang jadi tenang, mantap, dan pasti selain agama. Karena, agama dapat memberikan penjelasan yang meyakinkan terkait tiga pernyataan substansial manusia: (1) darimana kita berasal? (2) dimana kita sekarang? dan (3) mau kemana kita nanti?

Jadi, urusan profan (dunia) dan sakral (spiritual) —mengutip Emile Durkheim, sudah ada paket komplit dalam agama. Dalam penjelasan lain, kata Guru Besar Antropologi Universitas Michigan C.P. Kottak, agama itu dapat menjelaskan soal manusia sebagai makhluk spiritual (spiritual beings), kekuasaan dan kekuatan (powers and forces), ritus-ritus peralihan (rites of passage), hingga penjelasan soal ketidakpastian (uncertainty), kegelisahan (anxiety), dan penghiburan (solace).

Tampak di sini bahwa kesadaran spiritual generasi milenial semakin meningkat. Mereka sharing video pengajian, membuat video, bahkan mereka membuat berbagai event yang berkaitan dengan agama. Ada semacam kerinduan untuk menjadi religius di masyarakat urban, terutama.

Niat dan Akhlak

Hijrah tidak bisa dilepaskan dengan niat. Itulah kenapa dalam hadis populer disebutkan bahwa “segala amal tergantung pada niat.” Selanjutnya, disebutkan bahwa “…siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-nya maka dia akan mendapatkan Allah dan Rasulnya.” Pun demikian sebaliknya jika hijrahnya mengejar dunia, dia dapat juga dunia itu.

Berarti, niat sangat penting bagi mereka yang berhijrah. Setelah niat, mereka melanjutkan dengan akhlak mulia. Maka, banyak anak-anak milenial yang mulai membatasi komentarnya, memosting video pengajian, atau menggunakan kosakata Islam (dan Arab) sebagai tanda identitas mereka.

Tentu saja yang tak terlupakan adalah dalam pakaian. Akhlak mulia diperlihatkan dalam pemilihan pakaian. Di antara yang pakai hijab kecil, senang, bahkan ada yang pakai cadar. Kelompok yang bercadar bahwa membuat berbagai komunitas dan gathering untuk saling menguatkan dalam berislam.

Jika dulu orang bercadar agak malu menampakkan dirinya, kini sudah berubah. Milienialis yang bercadar tidak ragu untuk berfoto, tampil modis, dan menampakkan fotonya di media sosial. Tubuh bercadar bertransformasi dari sesuatu yang ketat menuju “otonomi tubuh”, yaitu tubuh yang dapat ditampilkan lewat media foto, video, dan lain sebagainya. Singkatnya, cadar bukan alasan untuk tidak modis, bahkan kini tak jarang yang turun ke jalan dalam demonstrasi—sesuatu yang dulu jarang sekali kita lihat (setidaknya bagi saya).

Tren Halal
Soal halal juga menjadi perhatian generasi milenial. Secara umum, ini semacam kebutuhan akan kepastian produk/komoditas atau aktivitas yang diridhai Allah. Mereka ingin produk yang mereka konsumsi atau pergaulan yang mereka jalani berada dalam ridha-Nya.

Tren halal juga terlihat dari kalimat mereka “pengen dihalalin” yang bermakna untuk punya hubungan dengan lawan jenis yang halal alias dalam ikatan pernikahan. Kata “dihalalin” itu cukup tren di media sosial. “Baru semester 4, tapi rasanya pengen dihalalin saja,” kata seorang muslimah milenial. Status ini semacam “sinyal minta dihalalin” yang dapat memancing milenialis lawan jenis untuk sekedar stalking, likes, retweet, love, atau langsung japri.

Berarti, fenomena halal ini terkait dengan kepastian. Manusia butuh kepastian, pun dengan generasi milenial. Kepastian hidup menjadi salah satu idaman bagi mereka. Oppa-opa Korea yang ganteng-ganteng juga jadi imbas dari halal ini. Para muslimah milenial—yang senang film Korea—juga punya imajinasi mendapatkan pasangan hidup yang gantengnya kayak orang Korea. Judul salah satu media online menulis begini: “Gantengnya 10 artis Korea pakai baju koko, bikin wanita ingin dihalalin.”

Jadi, ketika seseorang menggunakan atribut yang diasosiasikan sebagai “pakaian Islam” seperti baju koko—kendati itu dari Cina sebenarnya—muslimah milenial pun ingin mendapatkan laki-laki seperti itu, atau minimal orang Indonesia yang gantengnya kayak gitu. Entah ungkapan “pengen dihalalin” itu serius atau tidak, tapi itu semacam ekspresi keagamaan yang ditampakkan oleh generasi milenial.

Di Twitter misalnya, ketika melihat lelaki ganteng, seorang muslimah—seakan menjadi representasi teman-temannya—menulis begini,” Duh ya, ampun masnya tuh ya…Lama-lama gue minta dihalalin juga nih..” Ada semacam kesan (atau terkesan) dengan kesempurnaan fisik yang terlihat dari wajah para aktor—entah itu Korea atau bukan. Mungkin ini semacam ketakjuban standar perempuan terhadap laki-laki yang dianggap punya “unsur wow” dalam dirinya.

“Provokasi Ekspresif” Yang Sudah Halal

Orang yang sudah halal kadang berlebihan dalam berekspresi di media sosial. Misalnya, sepasang suami-istri muda yang sedang jatuh-cinta menampakkan kemesraan yang ekspresif. Mereka memosting foto dan tulisan yang—pada hal tertentu agak intim. Hal itu punya dampak positif, yaitu kesan bahwa dia merupakan pasangan yang bahagia, bahkan ideal. Akan tetapi, kesan lainnya adalah “provokasi ekspresif” bagi mereka yang kebetulan masih single-merana.

Ekspresi romantisme yang—dianggap berlebihan itu—dapat membuat milenialis lainnya ngebet menikah. Tapi problemnya mereka belum punya ilmu yang memadai, bahkan belum punya kematangan psikologi. Dalam beberapa kasus, ada pasangan muda yang kenalan di media sosial, kemudian saling-suka, menikah, dan tidak lama kemudian bubar.

Beberapa orang yang tidak senang dengan “milenialis ekspresif” itu mengatakan bahwa seharusnya di media sosial kita juga memiliki rasa malu. Tidak semua hal harus dipublikasikan. Atau, tidak semua hal harus orang lain tahu. Mengutip hadis Nabi, “Sesungguhnya sifat malu tidaklah mendatangkan apa-apa kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari).

Produksi Kesenangan

Apa yang terlihat dari fenomena hijrah dan halal adalah satu hal: produksi kesenangan. Orang yang berhijrah dan menampakkan hijrahnya di media sosial sesungguhnya tengah memproduksi kesenangan baik kepada dirinya maupun orang lain. Ada rasa senang ketika orang lain juga mendapatkan hidayah, turut berhijrah, dan mengikuti yang halal-halal.

Produksi kesenangan ini terkait sekali dengan kekuasaan (power). Mengutip filsuf kelahiran Poitiers Perancis, Michel Foucault (1926-1984), “Kekuasaan dapat menjadi instrumen untuk memproduksi kesenangan.” Di tangan kaum milenial, ponsel yang mereka kuasai menjadi alat yang efektif untuk memproduksi kesenangan-kesenangan personal dan komunal.

Saat ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa umumnya milenialis memproduksi kesenangan di akunnya masing-masing. Kesenangan itu bisa berbentuk senang membaca tulisan orang, senang memproduksi konten (artikel, gambar, dan video), dan juga kesenangan ketika dapat men-follow (atau di-follow) oleh orang tertentu (bisa public figure, etc.) dan dapat berkontribusi dalam komentar di akun-akun tokoh/organisasi yang mereka senangi.

Semua itu mereka lakukan untuk mendapatkan kesenangan. *

Tobat Hoax di Bulan Suci


Tobat Hoax di Bulan Suci

Oleh Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate; Alumni Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Secara bahasa, hoax berarti “tipuan lucu/tipuan jahat” (a humorous or malicious deception). Cambridge Dictionary mengartikannya sebagai “rencana untuk menipu seseorang” (a plan to deceive someone), seperti memberi tahu polisi bahwa ada bom di suatu tempat, padahal tidak ada.
Curtis D. MacDougall (1958) dalam bukunya Hoaxes, menjelaskan bahwa hoax adalah “kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran.” Kepalsuan itu berbeda sekali dengan kesalahan observasi, penilaian, rumor, atau legenda. Singkatnya, hoax adalah sebuah kepalsuan yang disengaja.

Perubahan dan Kompleksitas
Terjadinya hoax berkaitan erat dengan masalah perubahan dan kompleksitas. Seiring dengan adanya media sosial hoax menjadi sesuatu yang mudah sekali dibuat lewat berbagai aplikasi gratis dan diviralkan dengan cepat lewat berbagai media. Hoax atau berita bohong belakangan ini menjadi “limbah media sosial” yang mengganggu jalannya interaksi sosial kita yang harmonis antarsesama.
Kemudahan itu menjadi hoax mudah untuk diproduksi. Produksi hoax sesungguhnya berjalan seiring-sejalan dengan dinamika yang berkembang dalam tataran sosial dan politik. Saking beruntunnya produksi hoax kita jadi sulit membedakan mana fakta dan mana opini, mana kebenaran dan mana kepalsuan. Benar dan palsu seolah-olah menjadi menu yang harus kita telan sehari-hari.
Menurut saya, setidaknya hoax diproduksi karena dua faktor. Pertama, bentuk resistensi kepada lawan. Hoax tidak hanya dilakukan oleh satu orang kepada orang lainnya, akan tetapi juga dilakukan secara massif oleh kekuatan terstruktur. Biasanya, hoax itu hadir karena semangat perlawanan kepada kekuatan lain yang dianggap musuh. Ada anggapan bahwa “dalam perang, semua hal menjadi boleh, dan hoax adalah bagian dari perang itu sendiri yang dibolehkan.”
Kedua, minimnya kesadaran literasi yang positif. Masyarakat kita tidak melewati budaya membaca secara serius. Langsung loncat kepada budaya internet. Minimnya budaya membaca membuat pembuat hoax melakukan apa saja yang menurutnya baik. Tidak dipikirkannya apa plus dan minus dari aktivitas tersebut. Asal hoax tersebar—dan berpengaruh, dipercaya orang—itu sudah bagian dari kesenangan mereka.

“Manusia Piltdown”
Kasus “manusia Piltdown” (Eoanthropus Dawsoni) misalnya, adalah kasus hoax akademik yang sempat dipercaya orang—bahwa ada jenis manusia itu—selama 40 tahun (1913 sampai 1953). Padahal, itu hanya hoax. Hoax akademik. Pelakunya adalah Charles Dawson yang mengklaim bahwa dia telah menemukan sebuah tengkorak hominid di daerah Piltdown, dekat Uchfield, Sussex, Inggris.
Menurut Dawson, “manusia Piltdown” adalah kunci hubungan antara kera dan manusia, karena katanya ada cranium (bagian tulang belakang yang membungkus otak) yang rada mirip dengan manusia, serta adanya rahang yang berbentuk seperti rahang kera.
Empat tahun setelah itu, tepatnya 21 November 1953, ternyata ditemukan bahwa “manusia setengah kera dan setengah manusia” itu adalah sebuah penipuan karena pretensi dari Dawson ketika itu adalah untuk memuaskan keinginan orang-orang Eropa bahwa manusia yang awal-awal itu berasal dari Eropa. Semacam kesadaran Eurosentris, bahwa sentral dari semuanya adalah di Eropa.  
Rupanya, skandal “kepalsuan yang disengaja” itu tidak terlepas dari persaingan antar bangsa yang ingin menjadi lebih superior dibanding bangsa lainnya. Maka, ada betulnya juga jika ada disebut bahwa hoax itu dibuat oleh orang/kelompok yang punya kekuatan, kekuasaan atau power. Karena, mereka yang punya kekuatan bisa melakukan berbagai keculasan-keculasan—dalam berbagai tingkatannya—untuk mengelabui orang lain, seperti kasus Dawson dalam konteks “kekuasaan akademik.”

Hoax terhadap Aisyah
Istri Nabi Muhammad saw, Aisyah, juga pernah dijadikan bahan hoax. Aisyah misalnya pernah diisukan berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal. Produsen hoax-nya adalah lelaki bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Padahal, faktanya tidak demikian.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa perilaku orang yang melakukan hoax itu dalam surat An-Nur ayat 11 bahwa berita bohong (ifki/hoax) adalah keburukan. Dan, siapa yang ambil bagian dalam penyiaran berita bohong itu, “maka baginya adzab yang besar.” Artinya, kalau ada berita hoax, segeralah dibuang, dan jangan disebar-sebarkan.
Kasus itu menjadi tanda bahwa orang yang memproduksi hoax itu ada di tiap zaman, mulai dari zaman Nabi Muhammad saw sampai di zaman now ini. Mungkin diperlukan sekali semacam kesadaran keilahian bahwa hoax itu sebuah keculasan yang besar, tidak manusia, dan tidak beradab. Selain dianggap dosa, hoax juga dapat dianggap sebagai rendahnya moralitas manusia.
Sebagai orang beragama, ada baiknya para pembuat hoax itu merenungkan esensi dari keberagamannya. Jangan sampai karena kebencian yang begitu besar kepada orang membuat orang lalai, dan menganggap produksi berita bohong adalah sesuatu yang biasa.

Tobat dari Hoax
Bulan Ramadan adalah bulan perubahan. Bagi mereka yang pernah melakukan hoax—baik produksi maupun menyebarkannya—ada baiknya untuk bertobat dari aktivitas itu. Kesadaran keilahian pada bulan ini seharusnya meningkatkan kesadaran pula pada tindakan yang berhati-hati ketika memproduksi sebuah konten.
Tobat dari hoax penting sekali dilakukan di bulan ini. Mereka yang pernah melakukannya ada baiknya menghadirkan kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa, yang menimbulkan murka dari Tuhan. Tuhan menciptakan manusia tidaklah untuk buat kerusakan, akan tetapi untuk menciptakan perdamaian. Hoax adalah sebentuk kerusakan (mafsadah) yang berbahaya bagi interaksi sosial.
Sudah banyak orang yang interaksinya putus gara-gara hoax. Banyak yang berperang gara-gara hoax. Dan, banyak pula yang harus mendekam di jeruji besi gara-gara hoax. Nyaris tidak manfaat sedikit pun kecuali kerusakan. Dalam ranah apapun—politik, ekonomi, agama, dan akademik—hoax itu merusak.
Bagi mereka yang beragama, baik sekali memanfaatkan bulan mulia ini sebagai momentum untuk berbenah diri dari produksi hoax. Sudah saatnya berubah. Berhijrah dari hoax menuju konten-konten yang lebih positif.
Perbedaan orientasi atau pilihan politik sebaiknya tidak membuat orang menghalal segala cara untuk itu. Resistensi terhadap kelompok lain itu lumrah dalam politik, akan tetapi melakukan keculasan, kecurangan, dan penipuan adalah hal yang tidak manusiawi dan merusak tatanan sosial dan harmoni yang seharusnya dijaga dalam masyarakat. *