Kamis, 08 November 2018

GARBI: Gerakan Intelektual atau Proto-Parpol?

Logo GARBI
Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) saat ini banyak dibincangkan orang, terutama di kalangan mereka yang sedang (atau pernah) bersentuhan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menurut Mahfudz Siddiq, salah seorang loyalis Anis Matta, "Garbi adalah kumpulan orang yang mengorganisir diri dan aktivitasnya yang setuju, sependapat dengan ide tentang arah baru Indonesia, dan berupaya untuk memperjuangkan ide-ide melalui satu wadah yang namanya Garbi." (Tempo.co, 17/10/2018)

Lebih lanjut, kata Siddiq lagi, ide Arah Baru Indonesia (ABI) sebenarnya sudah ada sejak pemilu 2014 ketika Anis Matta masih sebagai Presiden PKS. Mereka yang terlibat dalam pembentukan ABI di antaranya adalah: Anis Matta, Mahfudz Siddiq, Fahri Hamzah, Jazuli Juwaini, Sukamnta, Taufik Ridho (alm), dan Mahfudz Abdurrahman. Rencana waktu itu adalah, gagasan ABI ini akan menjadi semacam "agenda nasional" PKS--yang waktu itu sedang naik-naiknya--untuk jadi partai papan atas, bukan papan tengah dalam politik Indonesia.

Post-PKS

Dalam berbagai organisasi yang namanya konflik dan integrasi pasti ada. Dalam literatur ilmu sosial, pembahasan soal konflik dan integrasi merupakan satu kesatuan, yang berarti bahwa dalam sebuah organisasi selalu ada hal-hal yang dapat menyatukan sekaligus hal-hal yang dapat memisahkan. Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti umumnya membagi konflik dalam tubuh PKS dalam dua kelompok: pro-keadilan, dan pro-kesejahteraan.

Jika dibawa dalam konteks sekarang, pro-keadilan itu kelompoknya M. Sohibul Iman, sedangkan pro-kesejahteraan itu kelompoknya M. Anis Matta. Dua kubu tersebut dikenal juga sebagai kelompok "Simatupang" (DPP PKS) dan kelompok "Patra" (Anis Matta cs). Atau, lebih populer dengan nama "Osin" (Orang Sini/DPP PKS) dan "Osan" (Orang Sana/Anis Matta cs). Besar kemungkinan "Osin dan Osan" itu pertama kali lahir dari DPP PKS untuk membuat separasi antara: kita dan mereka.

Konflik dalam tubuh PKS yang terus berlarut-larut memberikan berbagai konsekuensi, seperti pemecatan loyalis Anis Matta, mundurnya berbagai caleg PKS, serta lahirnya resistensi internal dari tubuh kader-kader PKS yang tidak setuju dengan apa yang mereka sebut sebagai "kepemimpinan otoriter" yang dikomandani oleh Sohibul Iman.

Pemecatan Fahri Hamzah misalnya, sampai sekarang masih tetap hangat. Fahri, lelaki kelahiran Sumbawa yang telah terbina di PKS sejak mahasiswa adalah seorang politisi paling vokal dan paling viral dewasa ini, tidak hanya di PKS tapi juga di parlemen. Dia terus terang mengeritik Presiden Jokowi--yang dia berikan kartu merah--sekaligus membela hak-hak konstitusinya sebagai warga negara dan pejabat negara.

Singkat kata, konflik antara "oknum PKS"--Fahri menyebutnya seperti itu--dengan Fahri pada akhirnya dimenangkan oleh Fahri di persidangan, dan para "oknum tersebut"--mengutip Fahri lagi, diwajibkan untuk membayar ganti rugi sebanyak 30 miliar kepada Fahri, sebuah angka yang tidak kecil, tentu saja. Mereka yang wajib membayar ganti rugi tersebut adalah Presiden PKS M. Sohibul Iman, Wakil Ketua Majelis Tahkim Hidayat Nur Wahid, Ketua Dewan Syariah Surahman Hidayat, Anggota Majelis Tahkim Abdi Sumaithi, dan Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Abdul Muiz Sa'adih.

Fahri sendiri kerap ditanya, "sekarang di partai mana?" Banyak yang tawarkan dia bergabung sebagai pengurus inti. Tapi dia tidak mau. Dia tetap ingin sebagai kader PKS. Kata Fahri, "Saya tidak kemana-mana." Dia tetap di PKS, cuma mungkin tidak kelihatan. "Sebagaimana aku menerimamu, terimalah juga aku apa adanya," kurang lebih itu kata Fahri Hamzah, suatu ketika dengan suara yang pelan.

Pasca kemenangan Fahri di persidangan tersebut, gagasan untuk lahirnya organ baru, pasca-PKS pun bermunculan. Beberapa waktu lalu, Anis Matta memang sempat "menghilang" dari radar berita, dan banyak orang bertanya, "kemana Anis Matta?" Tapi, kemudian dia muncul kembali di acara KA-KAMMI di salah satu hotel di Jakarta Selatan yang bercerita soal korelasi kalimat pertama yang diucapkan seorang pemimpin dengan debut kepemimpinannya, serta cara pemilih peran dan bagaimana memainkan peran secara efektif. "Saya rindu dengan taushiyah-taushiyah Ust Anis Matta," kata salah seorang kawan Facebook saya ketika membaca transkrip pidato Anis Matta yang sempat saya bagikan di medsos.

Artinya, ketidakhadiran Anis Matta dalam public life adalah bagian dari kehilangan itu sendiri. Lelaki yang bertahun-tahun jadi Sekjen partai dakwah tersebut menjadi sangat dirindukan tidak saja karena dia dekat dengan binaannya, akan tetapi juga dia memiliki visi yang global, sekaligus dapat menjelaskan Islam dalam bahasa yang ringan dan dianggap relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Maka, lahirlah satu-satu persatu organisasi GARBI, yang mengutip Cohen (1974) sebagai strategi adaptif (adaptive strategy) dari konflik yang terjadi di internal PKS. Sebenarnya, dalam sebuah acara KA-KAMMI di Kuningan, Jakarta Selatan (2/2/2018), Anis Matta juga sempat membahas soal "Indonesia perlu lompatan besar" agar dapat menjadi kekuatan kelima di dunia.

Saat itu, dia berbicara soal periodisasi keindonesian kita yang telah melewati tiga tahap, yaitu menjadi Indonesia, menuju dunia modern, dan menuju kekuatan ekonomi global. Dalam tahapan ketiga ini, kata Anis, kita diperhadapkan satu masalah, yaitu "langit terlalu tinggi dan kita terbang rendah." Maksud dia, kita punya kapasitas besar, tapi anehnya daya dorong kita lemah. Kelahiran ormas GARBI, yang diinisiasi oleh Anis Matta cs adalah bagian dari upaya untuk terbang tinggi di langit yang tinggi.

Gerakan Intelektual atau Proto-Parpol?


Nasib GARBI sesungguhnya sangat bergantung pada dua hal. Pertama, posisi Anis Matta di tubuh PKS. Jika Anis Matta dapat kembali menjadi presiden partai, maka ide-ide ABI itu akan dapat di-drive menuju apa yang dia cita-citakan dengan berasas pada Islam, nasionalisme, demokrasi, dan kemakmuran.

Secara internal, empat hal itu bisa diterapkan di PKS--walaupun tidak mudah--karena dialektika Islam dan demokrasi saat ini masih terus terjadi. Lelaki kelahiran Welado, Bone, Sulawesi Selatan 1968 tersebut berpandangan bahwa dialektika atau konfrontasi itu harus diakhiri. Maka, "menikmati demokrasi" dengan mengikuti aturan demokrasi harus menjadi pilihan jika ingin tiba pada kepemimpinan nasional di Indonesia yang multietnis ini.

Artinya, jika Anis Matta kembali jadi presiden partai, maka ormas GARBI akan berjalan sebagaimana adanya, menjadi "gerakan intelektual"--meminjam bahasa Mahfudz Siddiq. Praktis, GARBI tidak akan menjadi partai politik yang akan berkontestasi pada pemilu yang akan datang.

Tapi, jika posisi Anis Matta tetap status quo seperti sekarang yang tidak dapat apa-apa dan tidak bisa buat apa-apa, maka hal kedua yang cukup penting adalah: pada akhirnya nanti GARBI akan bertansformasi menjadi partai politik. Tak salah jika kita sebut saat ini GARBI adalah proto-parpol, yaitu "calon parpol" yang akan berkontestasi pada post-Jokowi versus Prabowo.

Banyak orang masih berharap agar konflik dalam tubuh partai dakwah yang lahir di reformasi tersebut bisa mereda, dan melahirkan integrasi. Para aktornya juga diharapkan bersatu, dan menemukan apa yang disebut sebagai kalimatun sawa, serta: ishlah. Akan tetapi, sepertinya harapan ini cukup berat karena secara internal, kelompok GARBI telah dianggap "duri dalam daging", dan mereka yang terafiliasi dengan GARBI pun diminta untuk keluar.

Mengutip Tifatul Sembiring, "...kalau sudah di GARBI silakan keluar dari PKS. Jangan sampai ada gerakan politik di dalam partai politik. Itu kan tidak sehat." (Tribun-Medan.com, 4/11/2018). Atau, dalam bahasa Presiden PKS Sohibul Iman bahwa "kalau sudah tidak bahagia di PKS" maka jangan membuat kegaduhan, apalagi memaksa. Ia mempersilakan kader yang "tidak bahagia" tersebut untuk hengkang dari partai.

Saya melihat, kemungkinan yang paling relevan adalah transformasi GARBI menjadi partai politik. Akan tetapi, tidak mudah untuk itu. Selama ini, mereka yang terafiliasi dengan PKS masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, terutama seiring dengan kontestasi wacana "Islam transnasional" yang dianggap dapat merusak "Islam Indonesia", "Islam pribumi", atau "Islam lokal."

Maksudnya, PKS yang banyak terinspirasi dan dianggap kepanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dianggap masih mendua dalam gerakannya. Ketika Dr. Muhammad Mursi, petinggi Ikhwan yang tentu saja memiliki kedekatan emosional dengan PKS, terpilih sebagai presiden Mesir misalnya, gerakan untuk menjatuhkannya pun lahir, dan disokong oleh negara-negara barat untuk itu. Akhirnya, Mursi jatuh, dan dipenjara. Bayangkan, warga negara yang secara konstitusi menjadi presiden tapi dijatuhkan oleh demonstrasi besar.

Pada titik ini, ada satu hal yang disadari oleh aktivis PKS--atau yang terafiliasi dengan PKS dan pejuang politik Islam--bahwa kendati mereka memperjuangkan isu-isu nasionalis, tetap ada saja kalangan yang masih ragu dan menganggap bahwa ada visi islamisme yang tengah dibawa oleh aktivis dakwah tersebut. Tentu saja, ini menjadi tantangan tersendiri bagi aktivis partai dakwah soal bagaimana memperjuangkan kepentingan nasional tanpa harus dianggap memiliki misi terselubung misalnya "islamisasi"--suatu istilah yang masih jadi phobia terutama di kalangan yang lahir dan dibesarkan dalam kehidupan sekuler.

Tantangan GARBI jika jadi Parpol

Kita anggap saja GARBI menjadi partai politik. Apa saja tantangannya? Pertama, mereka akan diperhadapkan pada stereotype di masyarakat--terutama dari kalangan politisi, intelektual, dan aktivis "sekular"--yang melihat bahwa GARBI adalah kumpulan orang-orang dengan misi islamisasi. Entah kenapa, di masyarakat Islam ini islamisasi menjadi sesuatu yang dikhawatirkan. Setidaknya, sejak persoalan beberapa kata dalam Piagam Jakarta yang dihapus itulah kita melihat adanya dua faksi dalam tubuh politik kita, yaitu: nasionalis dan Islam.

Anis Matta hendak menggabungkan nasionalisme Islam itu dengan narasi yang lebih up to date. Dia sepertinya hendak keluar dari mainstream gerakan Islam yang lebih banyak melihat ke dalam ke gerakan sosial yang melihat ke luar. Artinya, Islam sebagai keyakinan personal haruslah dapat menjawab berbagai tantangan masyarakat. Di sini memang ada deviasi dari pemikiran Anis Matta yang dulu, sebutlah sangat islamis menjadi cenderung nasionalis.

Bisa dikatakan bahwa transformasi pemikiran Anis Matta yang dulunya, sebutlah terlihat sangat "berorientasi syariah" (syariah-oriented) kini berubah menjadi "berorientasi bangsa" (nation-oriented). Maksudnya, bukan berarti dia tinggalkan perjuangan untuk penerapan syariah (tathbiqus syariah), akan tetapi dia membuat interpretasi baru bahwa perjuangan syariah dalam negeri yang majemuk ini sejatinya adalah perjuangan untuk kesejahteraan rakyat banyak--yang notabene juga mayoritas Islam.

Tantangan kedua bagi parpol GARBI adalah, bagaimana menjahit ide-ide Islam, nasionalisme, demokrasi, dan kemakmuran dalam bentuk aksi nyata. Misalnya, bagaimana model demokrasi yang dihendaki GARBI? Demokrasi yang berarti keterbukaan, keadilan, dan persamaan hak harus menjadi diskusi yang serius. Kepada kelompok minoritas seperti sekte Lia Aminuddin, Syiah, atau "agama lokal"--dan semacamnya--atau kelompok LGBT yang juga menuntut hak-haknya sebagai warga negara, bagaimana GARBI melihat itu? Termasuk, soal bagaimana sistem kaderisasi yang efektif bagi Gen-GARBI alias kader GARBI? Apakah lewat liqo'at, pertemuan mingguan antara murobbi dan mutarobbi yang disertai dengan evaluasi terhadap sifat-sifat muslim (muwashafat) terhadap para kader, atau seperti apa?

Belum lagi soal kerjasama dengan negara-negara besar yang saat ini hendak berdagang pengaruh seperti Amerika, Cina, dan Rusia. Kita mau ikut kemana? Atau, jika ingin menjadi poros baru, kita bersama siapa? Tentu, aktivis GARBI harus memiliki kapasitas pengetahuan yang cukup untuk melihat masalah-masalah bangsa dalam konteks kebangsaan yang lebih luas dengan tetap mempertimbangkan faktor kepentingan nasional (national interest).

Tantangan Produksi Pemikiran Alternatif

Aktivis GARBI tentu saja tidak bisa hanya berkutat pada pemikiran Anis Matta atau quotes-quotes darinya. Buku Gelombang Ketiga Indonesia (2014) karya Anis Matta dapat menjadi kajian menarik untuk diturunkan dalam sub kajian yang lebih spesifik. Buku itu, menurut Anis Matta, adalah hasil dari diskusi-diskusi yang dilakukannya bersama kolega-koleganya terutama di The Future Institute yang berkantor di Patra Kuningan.

Buku-bukunya yang lain mulai dari Model Manusia Muslim Pesona Abad ke-21 (2002), Menikmati Demokrasi (2002), Membentuk Karakter Cara Islam (2003), Mencari Pahlawan Indonesia (2004), Dari Gerakan Menuju Negara (2006), Integrasi Partai dan Politik (2007), dan Momentum Kebangkitan (kumpulan pidato sebagai Presiden PKS) (2014) adalah bagian dari trajektori sekaligus transformasi pemikiran Anis Matta. "Anis yang dulu, bukan lagi Anis yang sekarang," mungkin begitu yang tersirat. Tapi, bentar: apakah Anis Matta yang berubah atau DPP PKS yang tidak peka dengan perkembangan zaman?

Terkait dengan ini, cukup penting melihat pemikiran Anis yang pernah dia pidatokan di Rakernas KA-KAMMI tahun 2017 (lengkapnya ada di laman saya: yanuardisyukur.com/2017/01). Anis menjelaskan bahwa ekspansi Islam yang sangat luas membuat Islam bertemu dengan banyak budaya multikultur. Untuk itu maka secara intelektual, orang akan mengalami kesulitan dalam memahami teks-teks Al-Qur’an dan sunnah dalam melihat fenomena real di lapangan. Begitu banyaknya budaya baru yang bergabung dengan horizon Islam menjadi sangat besar peluang multi tafsir. Maka mereka-mereka bersepakat menyelesaikan masalah ini.

Abu Hanifah misalnya, belajar di tengah jalan, karena ia pedagang. Ketika bertemu seorang ulama, ia ditanya kenapa tidak ke masjid ilmu? Ia berkata bahwa ia lebih sering ke pasar daripada ke ulama. Tapi kata ulama tersebut, kamu punya kecerdasan dan energi. Abu Hanifah memikirkan kalimat tadi dan sejak itulah ia mengubah jalan hidupnya.

Lanjut Anis, "Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Mekkah dan Madinah, keliling ke Irak dan Mesir. Umur 7 tahun hafal Al-Qur’an, 10 tahun hafal kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik. Beliau adalah imam para ahlul ra’i sedangkan Imam Malik adalah imam ahlul hadits. Beliau berkeliling ke seluruh negeri-negeri utama di jazirah tersebut."

Hasilnya kemudian menemukan bahwa diperlukan suatu metodologi baru untuk memahami teks-teks Islam yang diturunkan dalam konteks lapangan, dan lahirlah ushul fiqh. Di luar dari Khulafaur Rasyidin, 4 imam tersebut yang paling dikenal. Cara kita beragama didefinisikan oleh 4 imam mazhab tersebut. Di Teluk, Syam adalah Hanabilah. Di Afrika Utama dan hampir seluruh Afrika adalah Imam Malik. Mesir dan Asia Tenggara adalah Imam Syafi’i. Sejak awal mereka mengerti sejarah yang harus mereka lakukan. Mereka memilih perannya.

Dia berkata lagi, "Ketika Tartar menyerbu seluruh dunia dan dunia Islam, ada satu orang yang mengalahkan Tartar, berdoa dan berpikir untuk itu. Ia merupakan orang Afghanistan, pernah menjadi budak dan jadi tentara. Sultan Muzaffar Qutuz, sang pahlawan tersebut berhasil mendefinisikan perannya secara tepat sesuai dengan tuntutan sejarah."

Hingga saat ini, pemikiran GARBI memang belum banyak diproduksi atau melahirkan "metodologi baru untuk memahami teks-teks Islam yang diturunkan dalam konteks lapangan." Mungkin karena baru, dan sebutlah ABI University--salah satu media kaderisasi pemikiran Gen-GARBI--baru lahir, atau mungkin juga karena belum membudayanya perdebatan serius di kalangan internal GARBI. Publik sama tahu bahwa di internal PKS--afiliasi mayoritas mereka sebelumnya--tidak terbiasa dengan perdebatan. Lebih banyak sami'na wa atha'na. GARBI idealnya dapat menjadi "industri ide" bagi bangsa kita.

Jika aktivis GARBI hanya puas dengan kelas sami'na wa atha'na tanpa melahirkan ide-ide serius, mendalam, kreatif, dan konstruktif, maka bisa jadi mereka akan terjebak pada kejumudan dan sikap "apa kata Ust Anis ajalah." Konsep "the future of Harokah" yang pernah didesiminasikan oleh Fahri Hamzah, menarik untuk ditelusuri lebih jauh, terutama soal persebaran kekuasaan (power)--agak Foucaldian--pada level opinion leader, media, bisnis (business owner dan networking), dan volunteer (social movement leader).

Ada harapan jangan sampai "gerakan intelektual" GARBI sekedar pemanis bibir saja dari keinginan untuk mendirikan partai dengan cikal-bakal perluasan jaringan di berbagai daerah. Kemudian, ketika partai sudah jadi, berlalu pula gerakan intelektual itu. Tapi entah kenapa saya agak yakin GARBI ini akan jadi partai jika Anis Matta tidak mendapatkan posisi kunci di PKS dalam beberapa waktu ke depan. Karena, sangat sulit untuk memajukan Indonesia tanpa perahu partai politik. 

Menulis Karya Etnografi

Cover buku Anthropology and Literature
Antropologi itu ilmu yang senang dengan yang jelas-jelas atau yang ada fakta dan datanya. Kendati ada yang "tidak jelas" (unvisible), antropolog berusaha untuk memperjelas itu sejelas-jelasnya. Setelah mendapatkan berbagai fakta dan data, seorang antropolog harus membawa temuan itu dalam bingkai kajian yang lebih luas. Maka, penguasaan terhadap literatur terkait sangat penting untuk itu.

Pada tahun 1993 (waktu saya baru masuk kelas 1 SMP), University of Illinois Press (Urbana dan Chicago) menerbitkan sebuah buku bagus berjudul Anthropology and Literature yang diedit oleh  Paul Benson. Buku yang tebalnya 320 halaman tersebut diberi kata pengantar oleh Edward M. Bruner.

Buku ini ditulis secara berjama'ah oleh beberapa antropolog sebagai berikut: Edith Turner, Robin Ridington, Michael V. Angrosino, Susan Rodgers, Robin Fox, Bruce T. Grindal, William H. Sephard, William L. Rodman, Dan Rose, Frances E. Mascia-Lees, Patricia Sharpe, Colleen Ballerino Cohen, dan Ivan Brady. Para jema'ah antropolog tersebut telah bahu-membahu sehingga buku ini bisa terbit. Dilihat dari nama-namanya, tidak semuanya terkenal di Indonesia. Padahal buku yang lahir dari special issue dari Journal of the Steward Anthropological Society itu sudah terbit sejak 1993. Seharusnya nama-nama dan buku-buku mereka banyak dikaji juga di kita. Apa mungkin karena kita tertinggal dalam hal referensi?

Buku ini bercerita soal penulisan etnografi (ethnographic writing). Secara umum, para penulis buku ini menjelaskan soal refleksivitas dalam penulisan antropologi. Bagaimana pengetahuan dan pengalaman penelitian dan penulisan mereka, ditulis dalam buku ini. Karya etnografi biasanya didesain untuk mempresentasikan data terkait kebudayaan lain dimana memoir--catatan lapangan (fieldnotes)--menjadi sangat penting untuk itu.

Mengutip dari Edith Turner, kesulitan dalam penulisan etnografi berada pada bagaimana informasi serius dari lapangan terkait kebudayaan setempat diperoleh serta bagaimana data itu diinterpretasi. Mau pakai strukturalisme, prosesual, dan lain sebagainya tidak masalah selama itu relevan untuk membaca data penelitian yang ada. Sebaiknya, dalam interpretasi data kita pakai kacamata yang kira-kira relevan untuk itu. Jangan terlalu dipaksakan untuk melihat konteks yang ada dengan kacamata yang tidak relevan.

Michael V. Angrosino membahas soal puisi sebagai bentuk-bentuk ekspresif dari masyarakat Indian Barat. Kata dia, bentuk-bentuk ekspresif dari orang Indian Barat itu terlihat dari adanya puisi, fiksi, drama, musim, dan sejarah lisan (oral history)--atau bisa juga dimasukkan tradisi lisan. Kesemua bentuk-bentuk ekspresif itu rupanya sering dapat menjadi alat mobilisasi untuk meningkatkan kesadaran etnik atau kesadaran nasional mereka. Angrosino menyebut bentuk-bentuk ekspresi itu sebagai symbolic affirmation of identity yang telah hadir dalam 20 tahun terakhir (sekitar 1970-an sampai 1980-an) yang berkaitan sekali dengan kecepatan migrasi dari pulau-pulau besar ke pulau kecil/teritorial dan dari Karibia ke Eropa dan Amerika Utara (p. 73).

Terkait dengan penulisan etnografi, Angrosino mengutip dari Goody (1968) yang mengatakan bahwa menulis itu tidak sederhana soal nyaman atau tidak nyaman, akan tetapi menulis itu berkaitan dengan media baru komunikasi untuk mendapatkan objektivitas dan menjaga ucapan dari masyarkat dalam bentuk tanda-tanda yang terlihat (visible signs). Menuliskan etnografi tidak hanya menuliskan apa ucapan para informan, akan tetapi juga merekam seluruh tradisi kultural yang terkait dengan informan tersebut.

Dalam menulis etnografi seorang penulis harus bisa menempatkan dirinya dalam konteks emik dan etik. Ketika menulis karyanya, dia harus bersifat emik terlebih dahulu, kemudian membacanya lagi berdasarkan etik. Memang, itu susah-sudah gampang. Misalnya, saat menulis soal Baduy, seorang etnografer harus bisa "menjadi Baduy" (dalam segala hal, termasuk pemikiran). Ketika dia menuliskan laporan penelitiannya, maka dia harus bisa memposisikan dirinya sebagai orang luar yang mencoba untuk membaca, mempelajari, serta menginterpretasi apa konteks sosial-budaya yang ada di masyarakat tersebut berdasarkan teori dan tradisi antropologi. 

(Review ini belum tuntas, karena hari sudah sore. Saya harus balik. Bukunya ditinggalin di perpus)

Berguru pada Professor Antropologi

Sebagai ilmu yang mempelajari segala hal terkait manusia, antropologi bisa disebut sebagai ilmu yang paling holistik/komprehensif, bahkan kaffah dalam urusan manusia. Untuk bisa mempelajari antropologi, maka salah satu cara terbaiknya adalah dengan belajar dari pemikiran para professor antropologi.

Sampai kini saya termasuk yang senang mendokumentasikan kegiatan--bahkan berfoto dengan para professor--dengan tujuan untuk mendapatkan inspirasi pemikiran dari mereka. Kadang, yang ada hanya sekedar foto, tapi foto itu sesungguhnya dapat menjadi "pengikat" bagi bacaan selanjutnya.

Bersama Professor James J. Fox

Ketika berfoto dengan Professor James J. Fox (ANU) setelah nonton bareng (nobar) film etnografi terkait kebudayaan Jawa dan Rote di FISIP UI, saya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa doktoral yang sedang meneliti tentang radikalisme-moderat--sebuah judul sementara untuk disertasi saya. Prof Fox bertanya, "apakah radikalisme ini terkait dengan organisasi seperti Hizbut Tahrir, atau bagaimana?" Saya jawab, "saya mencoba meneliti soal aktivisme Islam kelompok INSISTS di Indonesia yang memiliki jejaring di berbagai kota di Indonesia, bahkan luar negeri.

Terminologi "radikal" yang saya pakai--untuk sementara--merujuk para pemikiran yang menghendaki perubahan secara mendasar (fundamental reform). Dalam konteks INSISTS, saya melihat bahwa mereka melakukan fundamental reform dalam bentuk gerakan pemikiran dengan melahirkan berbagai jejaring kerjasama untuk itu.

Selama ini, kalau orang bicara radikal selalu konotasinya buruk. Padahal, radikal itu tidak selalu buruk. Radikalisme pemikiran itu bahkan bisa baik. Sejarah ilmu pengetahuan juga telah membuktikan bagaimana para ilmuwan melakukan penelitian yang radikal yang kemudian mengubah jagad pengetahuan. Tapi memang, "radikalisme pemikiran" tersebut terkadang tidak mendapatkan penerimaan dengan kekuasaan. Yang terjadi, kadang radikalisme tanpa kekerasan itu mendapatkan penentan yang signifikan dari penguasa. Konflik antara ilmuwan dengan gereja di masa lalu menjadi bukti bahwa ilmu bisa berhadapan vis a vis dengan power. Parahnya lagi, power acapkali menipulasi segala sesuatu untuk melanggengkan kekuasaan yang mereka pegang erat. 

"Radikalisme moderat", sebuah konsep yang bersama supervisor disertasi saya, Professor Achmad Fedyani Saifuddin kita rumuskan hendak melihat bahwa dalam konteks Indonesia ini, kelompok yang dianggap radikal dan moderat sangat tergantung pada kekuasaan. Siapa yang berkuasa, dia yang akan menentukan mana kiri mana kanan, mana benar mana salah. Salah satu contoh sederhana, Hizbut Tahrir Indonesia di masa Presiden Yudhoyono tidak dianggap radikal--bahkan mereka diterima secara legal--tapi di masa Presiden Jokowi mereka dibubarkan karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara. Ini berarti bahwa terminologi itu sangat berkaitan dengan power, dan power itu sangat ditentukan oleh penguasa.

Saya teringat saat bertemu professor antropologi lainnya, yaitu Professor Robert W. Hefner (Boston University) dalam pertemuan World Peace Forum di Jakarta. Ketika itu, saya mengatakan bahwa saya hendak meneliti soal radikalisme. Prof Hefner mengomentari bahwa dia tidak begitu suka menggunakan kata "radikalisme". Bisa jadi karena kata tersebut memang cenderung untuk melihat orang lain dengan perspektif yang negatif, seperti di masa lalu ketika para etnografer melihat orang di luar Eropa sebagai makhluk yang liar, barbar, bahkan "setengah setan."

Bersama Professor Robert W. Hefner
Anggapan bahwa orang "di luar kita" itu buruk dulu pernah hadir dalam sejarah lahirnya antropologi. Dalam surat yang ditulis oleh Margaret Mead juga ia masih menggunakan bahasa primitif untuk masyarakat yang ditelitinya. Tapi mungkin begitulah perjalanannya. Belakangan ini di antropologi kita diajarkan untuk menggunakan perspektif etik dan emik. Etik itu perspektif yang berasal dari diri peneliti, sedangkan emik itu perspektif yang berasal dari pemilik kebudayaan. Keduanya harus dipakai dalam proses penelitian.

Mungkin, penolakan Prof Hefner untuk menggunakan kata "radikalisme" tersebut sangat berkaitan dengan upaya untuk menghindar dari sifat prejudice kepada orang lain. Artinya, semangat keberislaman di Indonesia yang terlihat dari berbagai simbol-simbol keislaman mungkin bisa dilihat sebagai fakta keberagamaan (religiosity) yang merupakan kelanjutan dari masuknya Islam ke negeri yang multietnis dan golongan ini. Kasus Aksi Bela Islam 212--dan turunan gerakannya, misalnya--tidak bisa dengan mudah dicap sebagai radikal, akan tetapi itu bagian dari semangat keberislaman yang tidak ingin adanya penodaan terhadap agama. Cuma memang, karena aksi itu berbarengan dengan gerakan yang menginginkan "Gubernur Muslim untuk Jakarta" sekaligus penolakan terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, maka aksinya pun jadi semakin besar.

Ketika berfoto dengan Prof Hefner, saya memang belum banyak mengenal pemikirannya. Namun, saya jadi bersemangat untuk membaca kembali beberapa tulisannya yang sudah saya unduh dari internet. Termasuk, membeli bukunya Civil Islam yang menyoroti relasi antara umat Islam dengan demokrasi di Indonesia. Islam Sipil itu berarti Islam yang mengakomodasi demokrasi sebagai sarana untuk menciptakan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi masyarakat banyak.

Saat ini, bagaimana potret Islam Sipil tersebut? Kalau dilihat di lapangan, sesungguhnya saat ini sedang terjadi gelombong keberislaman yang lebih massif dari tahun-tahun sebelumnya dan bersifat moderat. Moderat dalam artian menerima Pancasila, anti-kekerasan, serta berupaya untuk membuat sintesa atas berbagai pengetahuan keislaman (dan juga lokalitas) dengan konsep-konsep dari barat seperti nasionalisme, demokrasi, keterbukaan, korupsi, dan lain sebagainya. Konsep-konsep barat itu saat ini mengalami "pribumisasi" dalam artian disesuaikan dengan konteks Indonesia.

(Pada kesempatan lain, saya akan coba menjelaskan lebih lanjut tentang pemikiran professor-professor yang pernah saya temui. Tulisan ini sekedar sebagai pemantik semangat untuk menulis saja).

Selasa, 06 November 2018

Pengantar Antropologi Post-Koentjaraningrat


Ketika memasuki sebuah rumah pastinya kita melewati pintu. Pintu itu mengantarkan kita untuk memasuki ruangan-ruangan yang ada dalam rumah tersebut. Dalam ilmu pengetahuan, pintu untuk mengantarkan pelajar dimulai dengan mata pelajaran/mata kuliah pengantar, tak terkecuali dengan "Pengantar Antropologi."

Ada banyak buku Pengantar Antropologi. Beberapa diantaranya adalah Cultural Anthropology: Applied Perspective (Gary Ferraro), Anthropology (Carol R. Ember dan Melvin Ember), dan Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity (C.P. Kottak). Dalam bahasa Indonesia ada buku Pengantar Antropologi (Koentjaraningrat), Pengantar Antropologi (Harsojo), dan juga beberapa buku post-Koentjaraningrat, seperti Pengantar Antropologi: Memahami Realitas Sosial Budaya (Sugeng Pujileksono), Pengantar Antropologi (Beni Ahmad Saebani), Pengantar Antropologi (Intan Permata Sari), Pengantar Antropologi (Resa Dandirwalu), Pengantar Antropologi (Sapardi), Pengantar Antropologi (Ruddy Agusyanto, dkk), dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak buku pengantar tersebut, nyaris tidak ada yang betul-betul disepakati di Indonesia soal buku standard terutama pasca Pengantar Antropologi karya Prof Koentjaraningrat, mahaguru utama Antropologi Indonesia. Waktu yang terus berputar membuat sebuah buku patut untuk direvisi, dikembangkan, bahkan di-repackaging dengan gaya terbaru yang pas untuk konsumsi pembaca pada zamannya. Hingga saat ini, buku Koentjaraningrat tersebut memang belum ada versi revisinya--tentu saja oleh para muridnya atau pakar yang layak untuk itu. Buku tebal Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya Prof Junus Melalatoa saja saat ini sementara direvisi (kebetulan saya termasuk salah seorang yang ikut merevisi untuk kebudayaan Maluku dan Maluku Utara). Artinya, jika buku Melalatoa yang tebal saja bisa direvisi, maka buku Koentjaraningrat juga sangat mungkin direvisi agar terus up to date. Tapi, mungkin opsi lain seperti menulis buku pengantar yang versi baru juga cukup menantang bagi pengajar antropologi.

Terlepas dari beberapa buku pengantar yang ditulis selain Koentjaraningrat, di Departemen Antropologi FISIP UI menggunakan buku Cultural Anthropology karya C.P. Kottak sebagai rujukan. Pada tahun 2017, saya kebetulan mendapatkan amanah untuk mengasuh satu kelas untuk mahasiswa program sarjana selama satu semester. Menurut saya, buku Kottak ini baik dan penting sebagai pengantar dalam belajar antropologi. Hingga edisi ke-16--yang waktu itu kami pakai--buku tersebut saya lihat relevan dengan kondisi zaman kita sekarang ini.

Lantas, apa sajakah isi dari buku Kottak tersebut? Ada 15 bab di dalamnya. Saya mencoba terjemahkan dalam bahasa Indonesia bab-bab dan beberapa konsep inti yang dijelaskan Kottak dalam buku tersebut.

Bab 1 Apa itu Antropologi?
Bab 2 Kebudayaan Manusia
Bab 3 Teori dan Metode dalam Antropologi
Bab 4 Penerapan Studi Antropologi
Bab 5 Etnisitas dan Ras
Bab 6 Bahasa dan Komunikasi
Bab 7 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Bab 8 Sistem Politik
Bab 9 Gender dalam Antropologi
Bab 10 Keluarga, Kekerabatan dan Kelompok Berdasarkan Garis Keturunan
Bab 11 Perkawinan
Bab 12 Agama
Bab 13 Seni, Media, dan Olahraga
Bab 14 Sistem Dunia dan Kolonialisme
Bab 15 Peran Antropologi dalam Globalisasi Dunia


Bab 1
Apa itu Antropologi?


- Apa yang membedakan antropologi dengan ilmu lain yang juga mempelajari manusia?
- Bagaimana antropolog mempelajari keberagaman manusia dalam ruang dan waktu?
- Kenapa antropologi berada di antara ilmu saintifik dan humanis?

Keragaman Manusia
Adaptasi, Variasi, dan Perubahan

Subdisiplin Antropologi
Antropologi Budaya
Antropologi Arkeologi
Biologi, Fisik, dan Antropologi
Antropologi Linguistik

Antropologi dan Ilmu Lainnya
Antropologi Budaya dan Sosiologi
Antropologi dan Psikologi

Antropologi Terapan

Metode Santifik
Teori, Asosiasi, dan Eksplanasi
Memprediksi Variabel-variabel


Bab 2
Kebudayaan Manusia

- Apa itu kebudayaan dan mengapa kita mempelajarinya?
- Apa hubungan antara kebudayaan dengan individu?
- Bagaimana kebudayaan berubah—secara khusus terkait globalisasi?

Apa itu Kebudayaan?
Budaya itu dipelajari
Budaya bersifat simbolik
Budaya itu dibagi
Budaya dan alam
Budaya mencakup semua
Budaya bersifat terintegrasi
Budaya bersifat instrumental, adaptif, dan maladaptif

Basis Evolusi Kebudayaan

Universalitas, Generalitas, dan Partikularitas
Universal dan Generalis
Parikularitas: Pola-pola kebudayaan

Budaya dan Individu: Agensi dan Praktis
Level-level budaya
Etnosentrisme, Relativisme Budaya, dan Hak Asasi Manusia

Mekanisme Perubahan Kebudayaan

Globalisasi: Arti dan tabiatnya


Bab 3
Teori dan Metode dalam Antropologi

- Dimana dan bagaimana antropolog melakukan penelitian lapangan?
- Apa saja jalan-jalan untuk mempelajari masyarakat modern?
- Apa saja teori-teori yang memandu antropolog selama bertahun-tahun?

Etnografi: Strategi Distingtif Antropologi

Teknik-teknik Etnografi
Observasi dan Observasi Partisipasi
Dialog, Wawancara, dan Jadwal Wawancara
Metode Genealogis
Konsultan Budaya Kunci
Sejarah Hidup
Problem-Oriented Ethnography
Penelitian Longitudinal
Tim Penelitian

Perspektif Etnografi
Emik dan Etik
Ekspansi dalam Skala Analisis
Online Ethnography

Penelitian Survei

Kode Etik Antropologi

Teori Antropologi Sepanjang Masa
Evolusionisme Unilinear
Partikularisme Historis
Fungsionalisme
Konfigurasionalisme
Neoevolusionisme
Materialisme Budaya
Sains dan Determinisme
Budaya versus Individu
Antropologi Simbolik dan Interpretif
Strukturalisme
Pendekatan Prosesual
Teori Sistem Dunia dan Ekonomi Politik
Budaya, Sejarah, dan Kekuasaan

Antropologi Hari ini


Bab 4
Penerapan Studi Antropologi

- Apakah perubahan bisa menjadi buruk?
- Bagaimana antropologi diaplikasikan pada kesehatan, pendidikan, dan bisnis?
- Bagaimana kajian antropologi relevan dalam karier seseorang?

Peran Antropolog Terapan
Antropologi Akademik dan Terapan
Antropologi Terapan hari ini

Antropologi Pembangunan

Strategi-strategi Inovasi
Overinovasi
Di bawah Diferensiasi
Model-model Indigenous

Antropologi dan Pendidikan

Antropologi Perkotaan

Antropologi Medis

Antropologi dan Bisnis

Masyarakat dan Antropologi Terapan

Karier dan Antropologi


Bab 5
Etnisitas dan Ras

- Mengapa antropolog menolak konsep ras?
- Bagaimana ras dan etnisitas dikonstruksi secara sosial dalam banyak masyarakat?
- Apa aspek positif dan negatif dari etnisitas?

Grup Etnik dan Etnisitas

Perbedaan Biologi Manusia dan Konsep Ras
Ras tidak berbeda secara biologis
Penjelasan warna kulit

Ras dan Etnisitas
Konstruksi Sosial Ras

Grup Etnik, Bangsa, dan Kebangsaan
Kebangsaan dan Imagined Communities

Toleransi Etnik dan Akomodasi
Asimilasi
Masyarakat Plural
Multikulturalisme
Perubahan Demografis

Akar-akar Konflik Etnis
Prasangka dan Diskriminasi
Chips in the Mozaic
Setelah Penindasan


Bab 6
Bahasa dan Komunikasi

- Apa yang membuat bahasa berbeda dari komunikasi?
- Bagaimana antropolog mempelajari bahasa umum dan bahasa spesifik?
- Bagaimana bahasa mengubah dalam periode singkat dan panjang?


Apa itu bahasa?

Komunikasi Primat non-Manusia

Komunikasi non-Verbal

Struktur Bahasa

Bahasa, Pemikiran, dan Budaya
Hipotesis Sapir-Whorf
Kosakata Fokal
Makna

Sosiolinguistik

Linguistik Historis


Bab 7
Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian

- Bagaimana cara mencari penghidupan pada berbagai masyarakat?
- Apakah yang dimaksud dengan ekonomi dan sikap ekonomisasi?
- Apa prinsip-prinsip yang mengatur pertukaran barang dan jasa dalam berbagai masyarakat?

Strategi-strategi Adaptif

Mencari Makanan

Strategi-strategi Adaptif Berbasis Produksi Makana
Hortikultura
Agrikultur
Kultivasi Kontinum
Intensifikasi
Pastoralisme

Mode-mode Produksi
Produksi dalam Masyarakat Non-Industri
Alat-alat Produksi
Alienasi dalam Ekonomi Industri

Ekonomisasi dan Maksimisasi

Distribusi, Pertukaran

Potlatch

Bab 8
Sistem Politik

- Apa bentuk sistem politik yang telah eksis di seluruh dunia dan apa korelasi sosial dan ekonomi di antara sistem politik tersebut?
- Bagaimana negara berbeda dari bentuk-bentuk organisasi politik?
- Apa kontrol sosial dan bagaimana ia menjadi mapan dan dirawat dalam berbagai masyarakat?

Apa itu Politik?

Tipe dan Tren

Kelompok dan Suku
Kelompok Pencari Makanan
Petani Tribal
Kepala Suku
The Big Man
Sodalitas Pantribal
Politik Nomadik

Chiefdoms
Sistem Politik dan Ekonomi
Sistem-sistem Status
Kemunculan Stratifikasi

State Systems
Kontrol Populasi
Pengadilan
Pelaksanaan
Bantuan Fiskal

Kontrol Sosial
Hegemoni dan Resistensi
Weapons of the Weak
Malu dan Gosip
Perang Perempuan Igbo
Resistensi lewat Media Sosial


Bab 9
Gender dalam Antropologi

- Bagaimana biologi dan budaya terekspresikan dalam sistem gender?
- Bagaimana gender, aturan gender, dan stratifikasi gender berkorelasi dengan variabel sosial, ekonomi, dan politik?
- Apakah yang dimaksud dengan orientasi seksual, dan bagaimana praktik seksual berbeda lintas budaya?


Seks dan Gender

Pola-pola Gender yang Berulang

Peran Gender dan Stratifikasi Gender

Gender dalam Masyarakat Industri

Di Balik Laki-Laki dan Perempuan

Orientasi Seksual


Bab 10
Keluarga, Kekerabatan dan Keturunan

- Mengapa dan bagaimana antropolog mempelajari kekerabatan?
- Bagaimana keluarga dan kelompok keturunan berbeda, dan apa korelasi sosial mereka?
- Bagaimana kekerabatan dihitung, dan bagaimana keluarga diklasifikasikan dalam berbagai masyarakat?


Keluarga
Keluarga Inti dan Keluarga Luas
Industrialisme dan Organisasi Keluarga
Keluarga di antara Pencari Makanan

Keturunan
Kelompok Keturunan
Garis Keturunan, Klan, dan Peraturan di Tempat Tinggal
Keturunan Ambilineal
Keluarga versus Keturunan

Perhitungan Kekerabatan


Terminologi Kekerabatan
Terminologi Lineal
Terminologi Penggabungan Bifurcate
Terminologi Generasional
Terminologi Penggabungan Collateral


Bab 11
Perkawinan

- Bagaimana perkawinan didefinisikan dan diatur?
- Apa peran yang dimainkan oleh perwakinan dalam menjaga aliansi kelompok?
- Apa bentuk-bentuk perwakinan yang eksis secara lintas budaya, dan apa korelasi antara satu dan lainnya?

Apa itu Perkawinan?

Incest dan Eksogami

Endogami

Perkawinan Sejenis

Perkawinan sebagai Aliansi Kelompok

Perceraian

Perkawinan Plural
Poligini
Poliandri

Pasar Perkawinan Online



Bab 12
Agama

- Apakah yang dimaksud dengan agama, apa variasi-variasi bentuk, korelasi sosial, dan fungsinya?
- Apakah yang dimaksud dengan ritual, dan apa variasi-variasi bentuk dan ekspresinya?
- Apa peran yang dimainkan oleh agama dalam penjagaan dan perubahan masyarakat?

Apa itu Agama?

Ekspresi-ekspresi Agama
Makhluk Spiritual
Kekuasaan dan Kekuatan
Sihir dan Agama
Ketidakpastian, Kesendirian, dan Penghiburan
Ritual
Rites of passage
Totemisme

Agama dan Ekologi Budaya

Kontrol Sosial


Bentuk-bentuk Agama

Agama Dunia

Agama dan Perubahan
Cargo Cults
Gerakan Keagamaan Baru dan Alternatif

Agama dan Globalisasi Budaya
Evangelis
Protestanisme dan Pantekostalisme
Homogenisasi, Indigenisasi, atau Hibridisasi?
Anti Modernisme dan Fundamentalisme
Persebaran Islam

Ritual-ritual Sekular


Bab 13
Seni, Media, dan Olahraga

- Apa itu seni, dan bagaimana seni berbeda secara historis dan lintas budaya?
- Bagaimana budaya berpengaruh pada media, dan sebaliknya?
- Bagaimana budaya dan kontras budaya terekspresikan dalam olahraga?

Apa itu Seni?
Seni dan Agama
Menemukan Seni
Seni dan Individualitas
Pekerjaan Seni

Seni, Masyarakat, dan Budaya
Etnomusikologi
Representasi Seni dan Budaya
Seni dan Komunikasi
Seni dan Politik
Transmisi Budaya pada Seni
Kontinuitas dan Perubahan

Media dan Budaya
Penggunaan Media
Efek Televisi
Jaringan Sosial Online dan Offline

Olahraga dan Budaya


Bab 14
Sistem Dunia dan Kolonialisme

- Kapan dan mengapa sistem dunia terbentuk, serta bagaimana terlihat saat ini?
- Kapan dan bagaimana kolonialisme Eropa terbentuk, dan bagaimana peninggalannya terekspresi dalam kajian postkolonial?
- Bagaimana kolonialisme, neoliberalisme, pembangunan, dan industrialisasi memberikan contoh pada filosofi intervensi?

Sistem Dunia

Industrialisasi

Efek Sosioekonomi Industrialisasi

Kolonialisme
Kolonialisme Inggris
Kolonialisme Perancis
Kolonialisme dan Identitas
Postcolonial Studies

Pembangunan

Perang Dunia Kedua

Sistem Dunia hari ini


Bab 15
Peran Antropologi dalam Globalisasi Dunia

- Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim global dan bagaimana antropolog mempelajarinya bersama dengan ancaman lingkungan lainnya?
- Apa yang dimaksud dengan imperialisme kultural, dan apa kekuatan yang bekerja untuk kebaikan melawan hal tersebut?
- Apa yang dimaksud dengan indigenous people, bagaimana dan mengapa mereka penting diangkat dalam beberapa tahun terakhir?

Konsumsi Energi dan Degradasi Industri

Perubahan Iklim Global

Antropologi Lingkungan
Serangan Global dalam Otonomi Lokal
Deforestasi
Meningkatnya Penyakit

Kontak Interetnik
Imperialisme Kultural dan Indigenisasi
Citra Sistem Global
Budaya Konsumsi Global

People in Motion

Indigenous Peoples

Pelajaran bagi Antropologi

Dari 15 bab di atas, kita bisa melihat bagaimana buku Pengantar Antropologi di Amerika disusun untuk menjawab tantangan zaman. Isu-isu global seperti soal terorisme, deforestasi, konsumerisme, climate change, migrasi, dan lain sebagainya disentuh sebagai langkah awal untuk melihat beberapa topik itu dari kacamata antropologi.

Di Indonesia, sudah saatnya kita membuat buku pengantar yang relevan dengan isu-isu keindonesiaan. Tentu saja tema-tema utama dalam antropologi seperti kebudayaan, agama, keluarga, dan lain sebagainya tidak boleh hilang, akan tetapi kita bisa tambahkan sub-sub tema yang relevan dengan kondisi kita. Misalnya, ketika membahas soal terorisme, kita bisa membahas tentang "terorisme satu keluarga" yang dilakukan di Surabaya--yang nyaris tidak semua negara memiliki kasus seperti ini. Atau, topik lainnya yang dikontekskan dengan pranata-pranata budaya yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Kajian tentang media sosial juga menarik untuk dibahas dalam pengantar. Saat ini kita tahu bahwa orang Indonesia adalah pengguna terbanyak dalam media sosial Facebook. Hal itu tentu saja berpengaruh dalam cara pikir, cara pandang, dan cara kita memaknai kehidupan. Banyak juga masalah yang timbul di media sosial yang berimplikasi serius pada tatatan sosial. Jadi, nampak betul ada korelasi yang erat antara dunia offline dan dunia online. Hal ini sangat penting juga untuk jadi sub-bab dalam buku Pengantar Antropologi.

Bisa jadi, sudah ada yang menulis buku Pengantar Antropologi yang sangat baik untuk konteks Indonesia. Akan tetapi, sebagai pembaca buku Antropologi, saya melihat bahwa buku tersebut nyaris belum ada. Sudah saatnya mungkin, bagi para antropolog untuk menyusun buku pengantar yang komplit seperti buku C.P. Kottak untuk mahasiswa dan pembaca Indonesia yang tetap menampilkan isu-isu pokok serta dilengkapi dengan studi-studi kasus yang sangat Indonesia.

Be Lazy, Go Crazy: Mengenal Margaret Mead

Margaret Mead

Margaret Mead (1901-1978) adalah salah seorang ahli antropologi yang masyhur namanya sampai sekarang. Pernah waktu saya memperkenalkan diri sebagai PhD student dalam antropologi, seorang kolega dari Australia menyebut nama: Margaret Mead.

Boleh dikata, nyaris tidak ada antropolog yang buku-bukunya laris seperti buku Margaret Mead. C.P. Kottak dalam tulisannya "Presenting Anthropology to Diverse Audiences" yang dimuat dalam buku Handbook of Methods in Cultural Anthropology (H. Russell Barnard, ed.) menulis, "No cultural anthropologist has dominated the trade market as did Mead." Satu alasannya, lanjut Kottak, karena Mead menggunakan berbagai media untuk mentransformasikan pengetahuan antropologinya seperti lewat buku, artikel, majalah, dan saluran televisi, radio, dan kuliah umum (p. 738-739).

Pagi ini saya membaca buku biografi Mead yang ditulis oleh Jane Howard. Judulnya Margaret Mead: A Life. Diterbitkan oleh Ballantine Books tahun 1984. Buku ini ditulis model novel yang mengalir dengan bab-bab dengan judul yang menarik. Beberapa diantaranya adalah di part 1: "like a family of refugees", "be lazy go crazy"; part 2: "climbing at forty thousand feet", "in the center of the planning"; part 3: "you only saw a fragment of the iceberg", "Bishops may not, but Anthropologist do"; dan part 4: "elder statescreature", dan "but this is different."

Sekilas, jika belum baca isinya kita jadi bertanya-tanya, apa maksud dari judul bab tersebut. Sebagai sebuah karya populer, buku ini memang berusaha untuk "melintasi zaman dan waktu" dengan cara menyajikan hal-hal menarik, individual, dan khas dari seorang Margaret Mead.

Mead dilahirkan dari keluarga yang rasional, dan sekular-agnostik, yaitu tidak percaya agama yang juga sekular--memisahkan antara agama dan negara/dunia dan akhirat. Walaupun tidak beragama, keluarga mereka punya satu motto--berasal dari kakek Mead--yang bunyinya seperti ini: "do good because it is right to do good." Kerjakanlah yang baik, karena sebuah kebaikan jika bisa mengerjakan yang baik. Bapaknya adalah seorang professor, sedangkan ibunya seorang aktivis sosial.

Ketika besar dan aktif sebagai antropolog, dia berkawan dekat dengan seniornya bernama Ruth Fulton Benedict (biasa disingkat Ruth Benedict). Untuk Benedict, Mead menulis buku An Anthropologist at Work, semacam persembahan kepada seorang kawannya yang telah menjadi instruktur dalam antropologi selama lima belas tahun.

Salah satu penelitian Mead yang terkenal adalah penelitiannya di Samoa, salah satu kepulauan milik Amerika. Perjalanan sejauh 9000 mile itu ditempuh Mead dengan tujuan agar "menambah informasi etnologis terkait dengan kebudayaan perempuan primitif." Tidak banyak antropolog perempuan yang dapat melakukan itu. Akan tetapi Mead melakukan penelitian secara serius soal "reaksi perempuan dan partisipasi mereka dalam kebudayaan setempat."

Buku berjudul Coming of Age in Samoa karangan Mead adalah buku rujukan dalam mata kuliah etnografi. "Menjadi Dewasa di Samoa", begitu terjemahannya. Di UI misalnya, kita mempelajari buku ini bersama dengan buku-buku klasik lainnya seperti The Nuer karya Evans-Pritchard, Patterns of Culture karya Ruth Benedict, Religion of Java karya Geertz, dan lain sebagainya.

Keterkenalan Mead sampai saat ini--seperti yang ditulis C.P. Kottak dalam salah satu tulisannya--rupanya pernah juga diungkapkan oleh Ruth Benedict. "Sebenarnya," kata Benedict, "Mead tidak berencana untuk menjadi the best anthropologist, akan tetapi dia berencana untuk menjadi orang yang terkenal." Proses untuk "to be the most famous" tidak terlepas dari minat Mead terhadap antropologi, dan bagaimana dia memanfaatkan--dalam bahasa kita sekarang "mengkapitalisasi"--segenap resources yang ada untuk keterkenalan tersebut.

Dalam buku biografi ini, banyak sekali hal-hal baru dan personal yang ditulis oleh Jane Howard, sarjana lulusan University of Michigan tersebut. Kalau selama ini kita membaca Mead hanya dari teorinya soal perempuan Samoa, maka buku ini menawarkan suatu pendekatan yang lebih intim bersama Mead. Kita jadi tahu siapa dia, dari mana dia berasal, apa yang melatarbelakangi dia melakukan sesuatu, dan bagaimana seorang antropolog dituliskan kisah hidupnya.

Sebagai "antropolog perintis", Mead telah menghasilkan banyak publikasi penting. Selain Coming of Age in Samoa (1928), dia juga menulis Growing Up in New Guinea (1930), The Changing Culture of an Indian Tribe (1932), Sex and Temperament in Three Primitive Societies (1935), Male and Female (1949), New Lives for Old: Cultural Transformation in Manus (1956), People and Places (1959), Continuities in Cultural Evolution (1964), Culture and Commitment (1970) dan sebuah biografi tentang masa mudanya berjudul Blackberry Winter (1972). Dari beberapa buku itu, yang paling dibahas di Indonesia setidaknya dua buku, yaitu Coming of Age in Samoa dan buku Sex and Temperament in Three Primitive Societies. Di Pascaarjana Antropologi UI, buku "Sex and Temperament" dibahas oleh Prof. Meutia Hatta.


Biografi Mead karya Jane Howard

Lantas, apa temuan Mead selama di Samoa?

Selama penelitiannya, Mead hendak melihat gangguan-gangguan yang dialami remaja di Samoa dan korelasinya dengan kebudayaan setempat. Dia peneliti sekitar 68 orang perempuan berusia 9 hingga 20 tahun dan menyimpulkan bahwa masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa--saya menyebutnya "dewasa muda"--tidak ditandai dengan adanya keresahan emosional maupun psikologis seperti rasa cemas dan kebingungan seperti yang dialami remaja di Amerika Serikat.

Hal yang cukup mengagetkan adalah temuan Mead bahwa perempuan muda Samoa menunda pernikahannya selama bertahun-tahun--sementara di saat yang sama melakukan hubungan seksual--kemudian menikah, dan mengasuh anaknya sendirian.

Temuan Mead ini mengundang perdebatan selanjutnya. Setidaknya, pada tahun 1982 (lima tahun setelah Mead wafat), Derek Freeman mengeritik penelitian Mead dalam sebuah tulisannya Margaret Mead and Samoa: The Making and Unmaking of an Anthropological Myth. Dalam buku itu dia menguliti abis data-data Mead, yang salah satunya adalah pengakuan perempuan Samoa bahwa pada masa muda mereka tidak pernah terlibat dalam seks-bebas. Informan perempuan itu juga mengaku bahwa mereka telah berbohong kepada Mead. Nah, lho!

Jadi, yang benarnya mana?

Saya kira perlu ada penelitian lanjutan. Bagi mereka yang hendak meneruskan legacy Mead dan Freeman, mungkin bisa ke Samoa untuk itu. Tapi, seperti antropolog tahun 1980-an juga sepertinya ada yang telah melanjutkan kajian "peralihan usia" di perempuan Samoa tersebut.

Satu hal yang cukup penting kita pelajari dari etos kerja Margaret Mead adalah motto yang dia pegang sehingga dengan motto itu dia selalu menampilkan yang terbaik. Siapa malas, maka dia akan gila. Be lazy, go crazy. Mungkin ada semacam "sebab-akibat" di situ. Siapa yang malas-malasan maka dia tidak akan bahagia, tidak akan dapat apa yang dia mau, dan secara umum itu berarti: gila. Komparasi dengan motto dalam bahasa Arab, akibat dari malas adalah menyesal, seperti yang kita ambil maknanya dari mahfuzhat, "ijhad wa la taksal wa la takun ghafilan, fanadamatul 'uqba liman yatakasal." Artinya, bersungguh-sungguhnya, dan jangan malas karena penyesalan adalah akibat dari bermalas-malasan. So, jangan malas, karena malas dapat membuatmu menyesal; malas dapat membuatmu jadi gila!

Senin, 05 November 2018

Antropolog (seharusnya) Menulis

Buku C.P. Kottak yang jadi rujukan pada perkuliahan di Antropologi UI
Tidak semua sarjana antropologi dapat menulis buku antropologi. Bahkan, pengajar antropologi di perguruan tinggi juga tidak semuanya dapat menuliskannya. Buktinya, banyak akademisi yang hanya bisa mengajar dengan buku-buku teks yang tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun.

Hari ini saya membaca sebuah buku tebal berjudul Handbook of Methods in Cultural Anthropology (Altamira Press, 1998). Buku yang dieditori oleh H. Russel Bernard tersusun dari sekian banyak makalah dengan total 816 halaman. Salah satu tulisan yang menarik bagi saya adalah tulisannya Conrad Phillip Kottak berjudul "Presenting Anthropology to Diverse Audiences" (737-761).

Secara umum, tulisan ini membahas soal bagaimana caranya mempresentasikan pengetahuan antropologi kepada beragam audies, baik itu audiens yang spesifik (seperti kalangan akademik) atau audiens yang umum (masyarakat non-antropologi). Prinsipnya, tulis Kottak, "..seorang etnolog diharapkan menulis buku dan juga artikel."

***

Setidaknya, ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh antropolog (atau etnolog) dalam mempresentasikan pengetahuan antropologisnya, yaitu lewat : (1) buku dengan orientasi pasar (trade books), (2) buku teks (textbooks), (3) buku profesional-akademik (professional [academic] books), dan (4) artikel (articles).

Dari sekian banyak antropolog, menurut Kottak, "tak ada antropolog budaya yang paling dominan dalam menulis trade books daripada Margared Mead." Mead tidak hanya menulis buku dan artikel, tapi juga aktif berbagi pengetahuannya dalam saluran populer seperti televisi.

Untuk menulis buku teks, itu juga tidak semua orang bisa. Diperlukan sistematika yang matang dalam menuliskannya. Buku Kottak berjudul Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity, adalah buku yang lahir dari sekian tahun pengajar pengantar antropologi yang diasuh Kottak di Universitas Michigan. Ada semacam trial and error dalam bukunya. Dikritik, dibela, dikritik, dibela. Yang penting lagi: direvisi. Karena, tulisan kalau tidak direvisi--asal masukan dari kolega lainnya--maka tulisan itu akan biasa-biasa saja (pelajaran paling bagus untuk ini adalah ketika seseorang menulis di jurnal).

Sedangkan buku professional-akademik (dalam bahasa saya), ini lebih khas dan spesifik lagi. Tidak semua orang bisa menulis ke jurnal, khususnya yang terindeks SCOPUS. Di Indonesia saat ini sedang ramai dosen-dosen menulis artikel SCOPUS. Demikian juga dengan persyaratan ujian doktor yang mewajibkan untuk itu. Angkatan 2016 di S3 Antropologi UI--angkatan saya--termasuk yang diwajibkan menulis artikel jurnal terindeks SCOPUS sebelum ujian akhir.

Selanjutnya, menulis artikel populer juga cukup menarik. Tapi sekali lagi, tidak semua orang bisa dan mampu. Banyak yang mampu menulis makalah tapi gagal ketika menulis artikel populer. Untuk itu, menulis di koran atau media-media populer adalah cara terbaik dalam upaya untuk melatih keterampilan menulis.

Sabtu, 03 November 2018

Setelah Professor Afid Pergi

Semingguan yang lalu supervisor saya, Professor Achmad Fedyani Saifuddin berpulang ke rahmatullah.

Tak lama setelah mendengar berita itu, saya segera meluncur ke RS Puri Cinere. Saya mendoakan beliau, dan mengontak Al Chaidar serta Adri Febrianto untuk turut hadir di rumah sakit.

Di ambulans, depan jenazah ada Fikri (anak ketiga Prof Afid), saya, dan Pak Adri. Sampai di rumah, jenazah berada di ruang tengah. Ada buku Yasin. Saya membacakannya.

*

Penguburan telah selesai. Hari pun telah berganti. Kini, saya harus menunggu supervisor baru. Siapakah yang akan menjadi supervisor saya? Masih belum tahu. Tapi senin nanti rencana ada pertemuan dengan Program Pascasarjana.

Semoga ada informasi terkait supervisor baru saya. Saya ingin lebih serius menuntaskan disertasi saya lewat penelitian yang baik, berkualitas, dan menghasilkan novelty yang berguna bagi ilmu pengetahuan.  

Minggu, 21 Oktober 2018

Belajar di Keramaian


Saya kadang buat tugas di kafe. Kafe itu ramai. Dulunya, saya nggak bisa belajar saat ramai, tapi beberapa tahun terakhir saya biasa.

Bahkan, banyak buku yang terbit sebagai hasil dari "kompromi keramaian" tersebut. Maksudnya, saya yang dulunya nggak suka ramai dan kini harus suka dengan keramaian itu dapat menghasilkan buku.

Dulunya saya kalau belajar itu harus sendiri atau menyendiri. Tapi kini di keramaian saya biasa. Cuma mungkin itu terkait sekali dengan jaringan internet yang cepat dan segelas kopi. Dulunya juga saya nggak terlalu suka kopi, tapi sejak ramai orang ngopi ria, saya juga jadi senang.

Di keramaian ini orang mikir diri sendiri. Misalnya, di sudut Javaroma di lantai dasar Perpustakaan UI ini, seseorang memakai headset sibuk dengan laptopnya. Di sudut-sudut lainnya juga sama. Beberapa mahasiswa bahkan ketawa-ketiwi di meja. Mungkin begitu cara belajar orang kota.

Hingga siang ini saya lihat masih banyak yang di kafe ini. Memang sih enak berlama-lama di sini, akan tetapi waktu berjalan nggak terasa. Waktu cepat sekali bergerak dan sepertinya meninggalkan kita.

Saya lihat mereka yang bekerja di kafe--maksudnya bikin tugas--rata-rata serius dengan pekerjaannya. Mungkin mereka berpikir, gue sudah keluarin duit ke sini masak nggak selesai? Yah, bisa jadi begitu. Setidaknya, saya juga berpikiran kayak gitu ketika masuk kafe.

Senin, 15 Oktober 2018

Mengenang Jumahir Jamulia

Jumahir Jamulia

Pada sekitar tahun 2011, saya diundang oleh Cecep, pengelola Nation Building Corner Library (NBCL) yang bertempat di selatan kota Ternate. Waktu itu kalau tidak salah ingat saya diminta berbicara soal budaya baca-tulis bersama Jumahir Jamulia, seorang dosen dari IAIN Ternate (dulu STAIN Ternate) di perpustakaan yang didirikan oleh Dr. Imam B. Prasodjo pasca kerusuhan di Maluku Utara.

Perkenalan tersebut tidak panjang, akan tetapi selanjutnya saya bertemu di media sosial Facebook. Waktu itu ia sedang melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Hasanuddin.

Suatu ketika, istrinya sedang sakit. Saya yang sedang di Maros berencana untuk menjenguk istrinya di BTP. Tapi entah kenapa kelewatan. Setelah lewat BTP baru saya sadar bahwa saya rencana ke BTP. Saya meminta maaf kepada Pak Jumahir atas hal tersebut.

Di waktu yang lain, ketika saya mendirikan Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Maluku Utara, saya mengajak Pak Jumahir untuk turut serta sebagai pengurus. Waktu itu ia sebagai anggota di Divisi Jurnal Ilmiah yang dikoordinatori oleh dosen Ilmu Sejarah Universitas Khairun, Irfan Ahmad.

Pada kepengurusan setelah saya yang diketuai oleh Ibu Roswita Aboe, Pak Jumahir diamanahkan sebagai Ketua Divisi Jurnal Ilmiah. Posisi yang tepat sekali untuk beliau.

***

Pertemuan pertama di perpustakaan depan kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) tersebut, saya mendengar kabar bahwa Pak Jumahir pernah menulis buku yang diterbitkan di luar negeri. Di Jerman. Belakangan saya googling, dan dapat info bahwa bukunya itu diterbitkan oleh Lambert Academic Publishing, sebuah penerbitan buku-buku akademik yang berbasis di Jerman. Bukunya berjudul Learning Style and Strategy in ELF Context.

Karya Jumahir Jamulia 

Di beberapa tulisan saya dapatkan bahwa Penerbit Lambert itu semacam "penerbit indie" di Indonesia yang menerbitkan buku tapi tidak melewati peer review yang ketat. Artinya, orang yang punya naskah buku berbahasa Inggris bisa menerbitkan di Lambert. Kira-kira begitu simpulan yang saya dapatkan dari beberapa review tentang Lambert. Tapi, terlepas dari apakah Lambert itu "penerbit indie" (dalam bahasa kita di sini), ataukah penerbit bereputasi, adalah semangat Pak Jumahir untuk publikasi patut dijadikan teladan.

Di Google juga saya menemukan beberapa tulisannya. Di Spillwords.com misalnya, ada puisi karya Jumahir yang menarik berjudul "At the time when the time goes home" yang dipublikasikan pada 3 Mei 2017. Saya kutip saja isi puisinya itu sebagai berikut:

AT THE TIME WHEN THE SUN GOES HOME

written by: JUMAHIR JAMULIA
@JumahirJamulia

At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow swam over my drink.
At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow
painted me a smile.
At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow whispered me a word.
At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow
led me to a way.
At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow hugged me tight.
At the time the sun goes home
At the place I used to sit
At my glasses, a red V-t-shirt shadow
laid me down wet.

***

Kini, Jumahir Jamulia telah tiada. Saya dapat kabar dari Facebook. Berlalu waktu yang membuatnya bolak-balik ke rumah sakit. Kini, sudah tak ada lagi sakit. Kita berharap semoga segala kebaikan Pak Jumahir menjadi pemberat bagi timbangan amal di akhirat. 

Suatu ketika, ia tag saya foto di Facebook. Katanya, ia sedang ke toko buku dan menemukan buku saya tentang ayah. Buku itu ia beli dan diberikannya kepada anaknya yang perempuan. Kemudian, ia meminta saya mengirimkan kata-kata mutiara untuk anaknya tersebut. Saya lupa waktu itu mengirimkan kata mutiara via media apa--Whatsapp, atau Facebook?

Pada kesempatan lain, saya sempat membentuk grup menulis yang namanya Kopi Pagi. Grup ini mewajibkan tiap orang untuk menulis tiap pagi hari. Tidak banyak yang bisa konsistensi tentu saja. Mungkin karena berat untuk melakukan itu, apalagi tidak ada paksaan. Beberapa kali, Pak Jumahir meminta agar diajarkan bagaimana cara menulis. Mungkin maksudnya, "bagaimana cara lebih produktif menulis?" Karena tulisannya banyak dan telah dimuat dimana-mana, baik di blog, Malut Post, buku, jurnal, dan publikasi berbahasa Inggris di luar negeri.

***

Kalau dipikir-pikir, tak lama lagi Pak Jumahir bisa mengurus Guru Besar. Ya, karena dia sudah doktor. Publikasi juga dia bisa kejar. Bahasa Inggris bukan masalah bagi dia. Tinggal menulis di jurnal internasional. Paling tidak, kendala bahasa sudah dia lewati. Soal jurnal? Dia bisa melewatinya, karena toh beberapa tulisan sebelumnya juga sudah dimuat di jurnal internasional.

Tapi, takdir berkata lain. Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Kita ingin itu, tapi Tuhan punya keinginan yang lain. Manusia hanya makhluk, tunduk pada kehendak Tuhan. Kita semua berasal dari Tuhan, dan kembali juga kepada Tuhan.

Mulialah Pak Jumahir Jamulia, kawan baik meski tidak banyak bersua di dunia nyata...

Doa Kedamaian untuk Aktivis Fikri Arief

Fikri Arief dengan kaos "stop wars"
Pagi tadi (15 Oktober 2018) saya kaget saat membaca status Facebook dari seorang kawan, Husnul Khitam, yang mengatakan bahwa Ahmad Fikri Arief telah meninggal. Segera, saya japri kawan tersebut, dan bertanya, "Bro, Fikri Arief sakit apa?"

Jawab Husnul, "Kabarnya tidak sakit. Tiba-tiba tadi pagi pusing waktu nyiram tanaman langsung meninggal." Kejadian itu, lanjut Husnul terjadi di rumah mertua Fikri Arief di Perumnas Klender.

"Dia sahabat ane sejak dulu," kata Husnul yang sejak di Pesantren Darunnajah telah dekat dengan Fikri Arief.

***

Saya mengenal Fikri Arief sejak di Darunnajah (dia angkatan 23, saya 22), akan tetapi lebih dekat lagi saat saya telah kuliah. Ayah beliau, Ustad M. Habib Chirzin adalah seorang aktivis Muhammadiyah yang juga waktu itu membina di Darunnajah--pesantren dimana saya menghabiskan 6 tahun digembeleng mulai dari Man Jadda Wajada hingga syair Sayyid Quthb yang sangat familiar, yang petikannya begini, "lan tastahi'a hishara fikri sa'atan au na'za imani wa nuru yaqini--kalian tidak akan pernah bisa mengekang pemikiranku walau sesaat atau menanggalkan imanku dan cahaya yang saya yakini..."

Pada sebuah siang, saya menghadiri pengajian yang dibawakan oleh Dr. Imaduddin Abdulrahim, seorang dosen sekaligus aktivis Islam, di Masjid Al-A'raf Kwitang, Jakarta Pusat. Saat diberikan kesempatan bertanya, saya mengajukan diri. Saya bertanya ke Bang Imad, soal "islamisasi sains" dalam kehidupan kita yang sekular sekarang sekarang. Saya juga mengabarkan kepada beliau perihal ketertarikan saya soal topik tersebut.

Bang Imad memberikan jawaban yang dikembalikan kepada tauhid. Inti dari pemikiran keislaman adalah pada tauhid. Beliau kemudian memberikan arahan kepada saya agar suatu saat bertemu Dr. M. Dawam Raharjo yang saat itu memimpin sebuah lembaga "islamisasi sains" yang didirikan oleh Professor Ismail Raji Al-Faruqi di Amerika, International Institute of Islamic Thought (IIIT). Tidak sempat bertemu Prof Dawam, saya kemudian bertemu dengan Ustad Habib Chirzin. Rupanya Ust Habib adalah salah seorang pimpinan juga di lembaga IIIT tersebut dan berkawan dekat dengan Prof Dawam.

Pertemuan dengan Ustad Habib terjadi di Baitul Arqam Darunnajah, rumah yang ditempati oleh Drs. KH. Mahrus Amin, kiyai saya. Sebelum bertemu beliau, saya sempat bertemu Fikri Arief di depan. "Fik, bapak ente ada nggak?"

"Oh, ada," jawabnya.

"Boleh ketemu nggak?" tanya saya.

"Boleh banget." Akhirnya, saya bertemu Ust Habib. Pertemuan dengan Ust Habib tidak hanya sekali di Baitul Arqam. Pada kali lainnya, saya juga bertemu dengan Fikri Arief saat ada acara Darunnajah. Ust Habib bisa jadi lupa, saking banyaknya orang yang bertemu beliau.

Akan tetapi, waktu saya bertemu Ust Habib beberapa waktu lalu di World Peace Forum di Hotel Sultan, saya tidak sempat bertanya tentang Fikri Arief. Biasanya, antara Fikri Arief dan ayahnya selalu saya gandengkan. Dalam pikiran saya, aktivitas Fikri yang sibuk di berbagai kegiatan perdamaian dan kepemudaan tidak terlepas dari upaya dia untuk melanjutkan jejak intelektual dan aktivisme ayahnya.

Prof Sudarnoto Hakim, Mas Hajriyanto Y. Thohari, Ustad Habib Chirzin, dan saya

Saya sempat berfoto dengan Ust Habib Chirzin saat itu bersama seorang kolega saya sesama alumni Muslim Exchange Program, Profesor Sudarnoto Hakim, dan Mas Hajriyanto Y. Thohari, senior saya di S3 Antropologi UI (saya masih berharap Mas Hajri bisa menyelesaikan disertasinya) yang juga mantan Wakil Ketua MPR RI. Foto itu tidak sempat juga saya perlihatkan kepada Fikri Arief. Harusnya ketika itu langsung saya japri ke Fikri. "Fik, ane ketemu sama bapak ente nih."

***

Fikri Arief menurut saya adalah tipikal lelaki yang tidak banyak bicara akan tetapi senang beraktivitas. Saya menyebutnya tidak banyak bicara karena perkawanan saya dengannya memang tidak memperlihatkan ia sebagai orang yang banyak bicara. Saya cuma melihat berbagai aktivitasnya saja dalam dunia perdamaian. Dia sepertinya senang dengan kegiatan kolaboratif yang selain menambah pertemanan juga memperkuat jejaring masyarakat sipil untuk menciptakan perdamaian dunia di komunitas masing-masing.

Foto terakhir yang saya lihat di Facebooknya adalah foto Fikri Arief bersama Arif Supam Wijaya, kawan kos saya di Jalan Bung, Tamalanrea Makassar yang menamatkan S2-nya di Australia. Waktu lihat foto mereka ketemuan, saya berpikir, wah penting sekali itu bisa bertemu antara dua aktivis perdamaian dan kepemudaan tersebut.

Arif Supam Wijaya dan Ahmad Fikri Arief
Kini, lelaki lulusan Universitas Indonesia tersebut telah tiada. Saya yakin, apa yang telah ia lakukan selama hidup adalah kebaikan. Dia banyak menginisiasi kegiatan perdamaian berarti dia banyak melakukan amal-amal saleh dan keselamatan untuk banyak orang. Itu amal yang baik. Saya yakin, jika kita bisa mendengarkan doa dari tumbuh-tumbuhan kedamaian yang disiram Fikri Arief tadi pagi, maka pastilah mereka berdoa yang terbaik bagi Fikri yang telah memberikan air bagi kehidupan mereka.

Komunikasi online saya yang terakhir dengan Fikri adalah pada Juli tahun 2017 ketika saya menyapa, "Assalamu Alaikum, Ustad." Dia jawab, "Waalaikumsalam, Prof." Kata 'prof' tentu saja tidak sebenarnya, hanya ungkapan doa agar semoga kelak bisa tiba di posisi tertinggi dalam dunia akademik, yaitu Professor.

Saya berdoa semoga almarhum Ahmad Fikri Arief (36 tahun) mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt dan keluarganya diberikan kekuatan untuk menjalani takdir tersebut. Bagi kita semua, mari kita terus bergiat memberikan yang terbaik untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan untuk dunia. Lanjutkan kerja-kerja perdamaian. Kurangi berselisih, perkuat kerjasama! *

Sabtu, 13 Oktober 2018

Literasi Gempa dan Tsunami bagi Anak-Anak

Gambar tsunami di Lisboa, Spanyol (sumber: Youtube)

Anak saya nomor tiga, Fikri Ihsani (kelas 2 SD) sering bertanya ke saya soal-soal sederhana tapi berat. Seperti, "Abi, abad pertama itu tahun berapa?" Saya coba menjawab. Abad pertama kan berarti 100 tahun pertama dalam kalender masehi yang dihitung dari kelahiran Nabi Isa. Berarti abad pertama adalah seratus tahun pertama kelahiran Nabi Isa. Bener, nggak?

Nah, terkait dengan gempa, Fikri sering membaca juga. Misalkan, ada Majalah Tempo yang saya bawa. Dia baca tentang gempa dan tsunami. Ketika saya baca buku lainnya--yang agak tebal--dan ada fakta tentang gempa di San Andreas, Amerika, dia langsung bilang, "tunggu." Dia kemudian ambil Tempo dan perlihatkan bahwa dia juga dapat kata "San Andreas" di situ yang jadi judul film.

"Abi udah nonton filmnya, pemerannya itu aktor Hollywood, namanya Dwayne Johnson." Tapi, harus dilihat lagi sih apakah film itu untuk dewasa atau bisa buat anak-anak. Yah, namanya juga film kan ada plus ada minesnya. Saya biasa bilang gitu ke anak-anak masalah film. Artinya, harus dipertimbangkan baik-baik buat anak-anak mana film yang bisa mereka konsumsi dan mana yang tidak.

Salah satu scene "San Andreas", gempa-tsunami yang menghancurkan "Jembatan Emas" di San Francisco

Literasi gempa dan tsunami saya ajarkan ke anak-anak saya lewat cerita. Misalnya, pas saya jelaskan beberapa ayat dalam juz 30 soal hari kiamat. Pada hari itu gunung-gunung beterbangan, bintang-bintang pun berjatuhan (salah satu bintang itu adalah bumi), dan manusia lari meninggalkan "unta bunting" (simbol barang berharga). Saya kemudian mengaitkan dengan kejadian di Palu. Di sana saya perlihatkan gambar adanya mobil yang rusak dan dibiarkan begitu saja.

Dalam kondisi "kiamat kecil" kayak di Palu, orang-orang pasti ingin menyelamatkan dirinya ketimbang hartanya. Harta bisa dicari, tapi nyawa cuma satu. Dan, semua orang tahu yang namanya nyawa itu ngga dijual di pasar atau di swalayan. Cuma satu ini dan harus dijaga.

Perumnas Balaroa yang hancur akibat tsunami di Palu (Sumber: Liputan6)

Kejadian di Palu itu bisa diibaratkan "kiamat kecil" karena efek kehancurannya. Di beberapa tempat bahkan katanya ada ribuan orang tertimbun. Saya lihat video penggalian dan evakuasi mayat itu. Sedih melihatnya. Manusia dengan mudah sekali dilumat oleh bencana. Tapi, begitulah yang namanya hidup, nggak ada yang tahu persisnya ke depan. Kecuali yang maha perkasa, Allah swt saja.

Di Tempo juga ada tulisan Goenawan Mohamad soal "bencana." Saya baca dan tandai beberapa hal penting. Fikri juga baca. Rupanya pada abad ke-18, di Lisabon (Spanyol) itu pernah terjadi gempa dan tsunami juga. Sebanyak 50ribu orang tewas. Itu hampir sepertiga warga kota. Selain dua bencana itu, kota mereka juga terbakar pada 1755. Dahsyat sekali.

Dari map ini terlihat bahwa efek gempa-tsunami di Lisboa waktu itu terasa sampai di Amerika Utara dan Amerika Selatan

Kehancuran kota Lisboa

Saya dan Fikri kemudian googling dimana Lisboa (Lisabon) berada. Di dinding rumahku juga ada peta Indonesia dan peta dunia. Biasanya Fikri langsung cari dimana Lisboa berada. Dia cari dan dapat. Lokasinya di Spanyol.

"Coba abang lihat, lokasinya di pinggir pantai dari laut lepas." Kata saya. Tsunami memang sering melanda pantai. Ya emang kayak gitu karena namanya air laut pasti berasal dari laut dan kalau dia menerjang ke darat maka dia akan lewatin pantai dulu.

Saya membayangkan segitu banyak orang tewas akibat musibah. Nggak ada orang yang bisa membayangkan itu. Baru saja orang bercengkerama, ngobrol-ngobrol, kemudian tiba-tiba musibah menghancurkan semuanya.

Jika bukan karena iman, maka orang bisa stress, bahkan gila. Dan, itu yang "disyukuri" oleh Goenawan Mohamad dalam tulisan dia di Tempo. Kata dia, di tengah berbagai musibah itu, kita tidak gila. "Tidak gila" berarti kita masih bisa tabah karena bisa saling mendoakan, menguatkan, dan seterusnya. Tapi, itu juga juga karena agama. Nggak mungkin orang bisa begitu kuat kalau nggak ada keyakinan kepada yang maha tinggi dan keyakinan soal tujuan akhir (ultimate goal) dari kehidupan manusia alias akhirat.

Kepada anak-anak, saya ajarkan soal gempa itu juga dengan cerita. Misalnya, pernah saya ikut kegiatan di gedung Tempo. Tiba-tiba ada "tanah goyang". Dari lantai atas orang-orang pada turun. Milih lift atau tangga biasa? Nah, dalam kondisi begini kita harus pilih tangga biasa. Walaupun tinggi dan capek turunnya tapi itu bagus, ketimbang turun pake lift dan di tengah-tengah lift-nya macet. Bahaya kan?

Tangga darurat di mall (Foto: Mi Community)

Saya pun turun. Ramai orang pada turun. Saya sempat merekam, cuma lupa dimana rekaman itu berada. Sampai di bawah saya rekam juga bagaimana ekspresi orang-orang yang turun hingga lantai bawah. Itu turunnya dari lantai yang nggak seberapa tinggi, yah kira-kira 8 lantailah.

Nah, yang repot ini kalau lantainya tinggi. Tapi, bagaimanapun yang terjadi, kita harus turun pakai tangga darurat jika terjadi gempa.

Waktu nginap di salah satu hotel di Depok, saya juga jelaskan ke anak-anak. Kalau hotel kayak gini pasti ada tangga daruratnya. Saya perlihatkan. Nah, kalau ada gempa maka semua orang harus lewat situ. Jangan lewat lift.


Selain itu, saya juga melatih anak-anak untuk berdonasi bagi korban gempa--selain mengajarkan anak-anak untuk selalu berdoa saat keluar rumah agar kehidupan kita itu dijaga oleh Allah. Berdoa itu penting banget, tapi berdoa aja nggak cukup, harus berderma.

Untuk gempa di Sulteng saya minta mereka berdonasi berapapun yang ada. Akhirnya terkumpul semuanya (anak-anak, saya dan istri saya). Tidak seberapa banyak sih, tapi itu bisa jadi semangat yang bagus untuk mereka berderma. Setelah transfer uang itu saya juga beri tahukan ke mereka bahwa uang donasi kita telah terkirim. Berderma itu cara paling mudahnya adalah dengan membiasakan diri untuk traktir teman. Atau, ya berbagi inspirasi lewat medsos.

Pun demikian saat organisasi yang saya aktif di dalamnya--Forum Dosen Indonesia--mengirimkan bantuan ke Sulteng. Saya perlihatkan foto-foto barang yang akan dikirim dari Makassar ke Palu. Dengan melihat gambar itu, maka anak-anak jadi tahu bahwa uang mereka--sekecil apapun itu--telah disalurkan. *

GARBI: Gerakan Intelektual atau Proto-Parpol?

Logo GARBI Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) saat ini banyak dibincangkan orang, terutama di kalangan mereka yang sedang (atau pernah)...