Senin, 13 November 2017

Kenapa Menulis buku Buya Hamka?

Tiga pilihan cover buku yang saya upload di Facebook

Jika tak ada aral melintang, insya Allah pada Desember 2017 buku baru saya tentang Buya Hamka akan terbit di Tinta Media, imprint Tiga Serangkai, Solo. Buku ini saya tulis bersama dengan Arlen Ara Guci yang ditulis di Jakarta dan Pekanbaru.

Buku Hamka sudah banyak, kenapa masih mau nulis tentang beliau? Bagi saya, Hamka adalah fenomena dan inspirasi. Pendidikannya rendah akan tetapi karyanya tinggi. Dia seperti kata peribahasa Arab, yang diibaratkan seperti bintang, "...jika dilihat dari atas air, terlihat rendah--padahal dia tinggi."

Buya Hamka bukan orang sempurna, tapi dia melakukan banyak hal secara sempurna. Dia menulis dengan sempurna, di tengah "ketidaksempurnaan" konteks sosial-politik yang ada. Dia dijebloskan ke penjara, tapi pikirannya tidak. Dia seperti Sayyid Qutub yang tidak terkekang oleh terali besi, malahan menulis buku di hotel prodeo tersebut.

Dalam buku ini, saya dan Arlen menjelaskan sosok Buya Hamka dari periode penjara: sebelum dipenjara, saat dipenjara, dan setelah dipenjara. Tiga bagian hidup beliau ini jarang dibahas oleh penulis lain, dan itulah kenapa kami merasa penting untuk menjelaskannya. Tentu saja, tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa Hamka adalah seorang yang buat kesalahan besar sehingga dia di penjara. Hamka dipenjara karena faktor perbedaan politik antara dirinya dengan Bung Karno, kawa dekatnya yang kemudian menjadi lawannya, dan belakangan menjadi orang yang dekat kembali dengannya saat Bung besar memintanya untuk menyalatkan jika Bung Besar wafat.

Kendati Bung Karno punya salah, tapi kata Hamka, Bung Karno tetaplah orang besar karena dia berjasa dalam proklamasi kemerdekaan. Hamka menyadari bahwa tidak mudah menjadi tokoh sekaliber Bung Karno di tengah himpitan dan tekanan dari Jepang dan Sekutu yang mau tetap mengangkangi negeri ini.

Buku Hamka yang saya dan Arlen tuliskan tersebut berupaya untuk mengangkat kembali salah satu figur penting dalam keislaman kita dan juga kepenulisan kita di tanah air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...