Senin, 13 November 2017

Belajar dari Kolega MEP

Foto bersama kolega MEP dengan Malcolm Brailey setelah pertemuan dengan alumni program Women Leaders di Kedubes Australia

Sejak mengikuti program MEP ke Australia saya mendapatkan banyak keberkahan terutama dalam relasi dan perspektif. Selain berteman dengan kolega dari Australia, saya juga terhubung dengan kolega-kolega dari Indonesia yang sampai saat ini hubungannya terus intensif baik di facebook maupun Whatsapp.

Hal menarik dari program yang saya ikuti adalah adanya undangan kegiatan dari Kedubes Australia. Secara berkala ketika ada kegiatan, kami sebagai alumni diundang untuk hadir dalam resepsi, diskusi, atau sekedar makan siang bersama Dubes, menteri, atau pejabat terkait dari Australia.

Mungkin, ini bagian dari upaya Australia untuk merawat hubungan baik dengan Indonesia. Di negara lain, mungkin hal ini juga dilakukan oleh para Dubes Indonesia di luar negeri. Artinya, untuk merawat kerjasama, maka para tokoh perlu diundang secara berkala dalam berbagai kegiatan agar kemitraan yang telah terbangun dapat terus dijaga.

Sejak tahun 2015 ikut MEP, saya memang merasakan banyak hal baik dan menarik terkait dengan relasi. Saya menginisiasi buku MEP yang ditulis--pada akhirnya oleh 77 alumni--yang diterbitkan di Gramedia dengan judul "Hidup Damai di Negeri Multikultur." Buku tebal ini juga yang mengantarkan saya untuk dekat dengan berbagai orang, dan sekaligus menjadikan saya semakin yakin dan percaya bahwa kalau kita ada niat baik yang terus dirawat dan dikembangkan maka berbagai keajaiban akan selalu hadir.

Maksudnya, sejak 2002 hingga 2015 belum ada alumni yang menuliskan buku tentang MEP. Akan tetapi saya memulai dengan niat yang ikhlas, tulus, dan semangat untuk menjaga hubungan baik antara kedua negara lewat buku. Saya menamakannya sebagai diplomasi buku.

Buku pun terbit, diluncurkan, dan dibedah di Jakarta dan Makassar (insya Allah di akhir November 2017). Sejak terbitnya buku ini, hubungan sesama alumni pun makin erat. Kami pun mengesahkan Forum Alumni MEP Australia-Indonesia yang saat ini diketuai oleh saya.

Tentu saja di MEP ini semua orang adalah tokoh hebat di bidangnya. Saya banyak belajar dari teman-teman sekalian lewat diskusi, dan pertemuan dengan teman-teman MEP. Sebagai pribadi pembelajar saya harus terus memosisikan diri sebagai pembelajar yang dapat mengambil berbagai hikmah dari siapa saja. Dan, MEP adalah salah satu sarana pembelajaran yang sangat penting dalam kehidupan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...