Jumat, 27 Oktober 2017

Setelah Lama Tidak Menulis


Buku pertamaku yang kutulis enam hari di sebuah rental di Tamalanrea

Sudah lama saya tidak buka laman ini. Entah kenapa. Mungkin karena saya sedang sibuk kuliah, sedang malas, atau mungkin saya hendak berhenti sejenak dari dunia publikasi. Tapi jika melihat facebook-ku yang selalu up to date, itu berarti bahwa saya belum akan berhenti dalam dunia kepenulisan dan publikasi.

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Tapi malam ini saya coba menulis. Ya, menulis apa saja yang hendak keluar dari kepala. Tidak ada konsep, tidak ada cari data. Hanya mengalir, dan mengalir begitu saja.

Selama beberapa tahun terakhir saya merasakan banyak progressivitas dalam diriku. Saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan mendapatkan berbagai pengalaman penting yang berguna untuk hidupku. Tapi saya juga kadang merasa ada yang kurang dalam hidupku. Mungkin saya kurang bersyukur dan terlalu banyak target dalam hidup.

Ketika menulis esai--kalau bisa dibilang esai ya--ini saya sementara juga mendengarkan beberapa lagu lama saat saya mulai menulis di Tamalanrea, Makassar. Waktu itu belum ada naskah bukuku yang terbit. Bahkan, waktu itu empat naskah ditolak. Tapi kini naskahnya selalu terbit. Ini progressivitas yang luar biasa saya rasakan.

Mungkin tiap orang juga akan dilanda berbagai rasa kosong. Imam Al-Ghazali saja yang hujjatul Islam itu pernah merasakan kekosongan itu, dan kemudian dia merenung, menyepi, dan menemukan kembali dirinya.

Saya pernah baca juga, katanya Ibnu Khaldun juga pernah merasakan hal yang sama. Ketika ia lama bergelut dalam kekuasaan, lama-lama kelamaan ia merasa ada yang kurang dan menyepi. Saat menyepi itulah ia menulis buku Ibar yang pengantarnya menjadi sangat terkenal berjudul Muqaddimah.

Saya tidak ingin bilang bahwa diriku sama dengan kedua tokoh itu, tapi sebagai manusia yang juga dibekali akal pikiran, keinginan, dan karunia, saya merasakan bahwa tiap manusia itu khas dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Artinya, kita tidak bisa menjatuhkan dirinya atas orang lain, atau tidak bisa kita melebih-lebihkan diri dari orang lain.

Ketika melihat orang lain kita haruslah belajar. Jangan menjadikan orang lain sebagai saingan. Karena saingan akan membuatmu tertutup dalam mencari ilmu. Jadikanlah semua orang sebagai guru dimana engkau bisa mengambil intisari penting untuk kebaikan hidupmu.

Malam ini semakin larut. Tetanggaku juga sudah pada tidur. Termasuk keluargaku. Sudah pada terlelap. Tapi saya memang kadang merasa ada inspirasi di malam-malam seperti ini. Malam yang rada dingin, hening, sambil mendengarkan musik-musik ringan yang dapat membuatku teringat masa lalu, semakin insaf, dan tumbuh rasa ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...