Yang Fana dan Yang Baka

Sejak Presiden Jokowi me-reshuffle kabinet baru-baru ini ramai orang memperbincangkan, kenapa si A dilengserkan tapi si B tetap bertahan, dan kenapa si C masuk kabinet bukan si D yang mumpuni di bidang tersebut.
Perbincangan tentang ini mungkin bisa kita lihat sedikit dari perspektif mana yang fana (sementara) dan mana yang baka (abadi).
Sambil berdiri di kereta, saya sempatkan baca tulisan seorang profesor yang menceritakan bahwa kendati ia diamanahkan pada jabatan tinggi di luar kampus--sebutlah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden--tetaplah jabatan itu akan berakhir di lima tahun. Sementara, profesinya sebagai dosen adalah sesuatu yang ia sandang seumur hidupnya. Maka ia terus mengajar.
Di titik ini kita melihat bahwa soal jabatan itu tidaklah kekal. Ada masanya, ada waktunya dimana jabatan itu akan ditanggalkan dan berganti orang lain. Akan tetapi, profesi yang kita geluti dengan sepenuh hati--apapun profesi itu--tetaplah akan lebih lama masa kerjanya ketimbang jabatan yang berdurasi hanya beberapa tahun.
Pada sebuah kesempatan saya bertemu dengan seorang Mantan Dubes negara tetangga yang pembawaannya terbuka, dan melayani berbagai pertanyaan secara tulus. Bertanyalah saya, sebagai orang yang pernah jadi Dubes, kok bapak tidak kelihatan sangat wah seperti ketika Dubes dulu? Jawab dia, jabatan itu hanya sementara, dan ketika jabatan itu selesai, saya kembali jadi warga biasa seperti sekarang. Ketika saya tanya lagi, kenapa profil bapak tidak dibuat biografi saja karena bapak punya pengalaman banyak di beberapa negara? Dia menjawab, "tidak ada yang menarik dari saya." Saya jadi kagum dan sedikit tertawa bersamanya, dan berkata, "Nah, di situlah sisi paling menariknya, pak." Kemudian, kami berpisah.
Jama'ah sekalian. Jabatan, seperti yang kita tahu bersama, adalah amanah. Cepat atau lambat, apapun jabatan yang kita sandang akan berakhir, dan berpindah kepada orang lain. Maka, jabatan perlulah dimaknai bukan sebagai sesuatu yang hakiki, yang abadi. Itu sifatnya fana, hanya sementara.
Jika jabatan terlalu diharap-harapkan dan tidak rela jika harus berpindah tangan maka yang ada bukanlah bahagia, tapi derita. Persis seperti kata kutipan sebuah tulisan: menderita karena melekat. Siapa yang terlalu melekatkan dirinya pada jabatan yang fana, maka dia pasti menderita, eksplisit atau implisit. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Ma'rifat Danarto

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan