Tiga Lelaki dari Bibinoi

Bandara Sultan Babullah. Saat sedang duduk menunggu istriku yang lagi ngobrol dengan dua ummahat teman liqo'-nya. Seseorang mendekati saya dan berkata, "Pak, saya titip teman-teman yang mau ke Jakarta." Lelaki yang baru saya kenal itu kemudian berkata kepada ketiga lelaki yang lebih muda, "Nanti ikut sama bapak ini walaupun cuma sampai di Makassar."
Saya kemudian bercerita dengan tiga teman baru tersebut. Mereka berasal dari Bibinoi, sebuah daerah di Kabupaten Halmahera Selatan yang berencana melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu kampus di Jakarta Timur.
Ini adalah kali pertama mereka menginjak kota Ternate, dan pertama kali juga naik pesawat dan menginjak ibukota negara.
Sebagai lelaki yang pernah berada pada posisi yang sama, saya merasakan betul bagaimana status sebagai orang yang pertama kali ke kota Ternate, dan naik pesawat. Kadang, kita merasa kayak betul-betul orang kampung ketika melihat orang-orang di kota begitu cerdas, lincah, dan wah. Sementara, kita kadang membandingkan dengan diri sendiri yang: hanya orang kampung, pengetahuan tak banyak, teman juga terbatas, dan tidak bisa berbicara narasi-narasi besar.
Pada tahun 1993, setelah tamat SD saya pernah merasakan itu: naik kapal dari Pelabuhan Tobelo ke Daruba Morotai; muntah-muntah di kapal Ternate Star, kemudian dari Daruba ke Ternate dan menunggu semingguan datangnya Kapal Umsini yang akan mengantar kita sekitar 5 atau 6 hari hingga tiba di Tanjung Priok.
Ketika tiba di Jakarta, kita melihat orang-orang begitu hebat, wah, dan berbicara tentang modernitas dan narasi besar. Sedangkan saya tidak bisa. Tapi setelah melewati itu saya pun mengerti bahwa semua orang pada dasarnya sama: ada sisi kuat ada sisi lemah, ada sisi PD ada sisi tidak PD. Ya, semua orang merasakan itu, hatta mereka yang saat ini berada pada level tertinggi dalam kacamata awam kita.
Sebagai orang kampung kadang kita merasakan perasaan-perasaan rendah. Konon, sikap rendah diri ini juga sesungguhnya di-create oleh penjajah dalam bahasa kita seperti kata 'saya' yang berarti 'sahaya' sehingga ketika kita mengatakan saya sesungguhnya itu merujuk pada status kita yang hanya hamba sahaya di hadapan majikan yang kaya.
"Jangan pulang sebelum sarjana!" pesan saya kepada mereka. Ketika kita sudah tiba di ibukota, kita harus serap banyak hal dari orang-orang di sana. Jangan malas, dan jangan gengsi. Jangan ragu untuk bertanya kalau memang tidak tahu. Berusahalah dan jaga hubungan baik dengan sesama. Pesan-pesan ini walaupun disampaikan kepada teman-teman baruku tapi sesungguhnya itu untukku. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ma'rifat Danarto

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan