Refleksi Tiga Tahun Bundaran Institute

Ada sebuah pesan dari Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, M.Si (alm) ketika menerima sebuah buku karangan Tim Bundaran Institute Ternate di panggung Legu Gam 2015 yang berkata bahwa banyak sekali yang harus ditulis dari Maluku Utara yang luas ini.
"Maluku Utara ini luar sekali, dan banyak sekali yang harus ditulis oleh para penulis muda," kurang lebih begitu ucapan beliau.
Kalimat tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi Tim Bundaran Institute untuk melahirkan karya.
Tadi malam (18/08) di sebuah kafe di Jln. Mononutu berlangsung pertemuan Tim Bundaran Institute yang dihadiri oleh 6 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Maulana Ibrahim, Hasbullah, Syaiful Bahri, Darmawijaya, dan Direktur Bundaran Institute Sukarno M. Adam.
Bundaran Institute didirikan pada 22 Agustus 2013 lalu di Kafe Jarod, Ternate dengan Direktur Eksekutif pertama dijabat oleh Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun Yanuardi Syukur. Di masa Yanuardi, Bundaran Institute menerbitkan buku "Pasir, Batu, dan Etos Budaya: Catatan dari Maluku Utara" yang dibedah oleh Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim dan dihadiahkan kepada Sultan Ternate dan Prof. Nils Bubant, antropolog dari Aarhus University, Denmark.
Dalam diskusi ini dibahas beberapa isu seperti dunia kepenulisan di Ternate. Maulana Ibrahim, kandidat doktor dari Osaka University Jepang bercerita bahwa ketika menyusun bahan disertasinya ia mendapatkan banyak sekali sumber salah satunya dari Universiteit Leiden, Belanda.
"Di meja supervisor, ada sebuah meja panjang yang di situ tiap bab saya diminta letakkan seluruh referensi yang ada," kata Maulana yang juga aktif di Ternate Heritage Society.
Hasil penelusuran beliau tentang lanskap kota Ternate dari Soa-Sio hingga Falajawa juga mendapatkan skripsi yang pernah ditulis di UI tentang Sultan Hamzah. "Tidak banyak yang tahu tentang ini, padahal di UI sana ada yang pernah menulis tentang Sultan Hamzah," lanjut Maulana lagi.
Ia juga bercerita bahwa disertasi Fraassen tentang Ternate tebalnya hanya beberapa ratus, akan tetapi lampirannya yang lebih panjang dari isi disertasi.
Darmawijaya juga bercerita bahwa dalam waktu dekat bukunya tentang Sultan-Sultan Legendaris Maluku Utara akan terbit yang ditulisnya bersama rekannya di Prodi Ilmu Sejarah Unkhair, Jainul Yusup. Darma yang juga Lektor Kepala di Unkhair adalah salah seorang penulis produktif dari Unkhair terutama buku-buku sejarah. Salah satu bukunya tentang Kesultanan Islam di Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.
Syaiful Bahry yang kini menjabat Ketua salah satu Program Studi di UMMU bercerita pengalamannya ketika mengikuti program dosen magang di Kota Kembang Bandung. "Saya dapat banyak inspirasi ketika bertemu dengan rekan-rekan di Bandung, terutama dalam hal menulis tema-tema spesifik di Ternate," katanya.
Sedangkan Hasbullah yang juga salah satu Ketua Program Studi di Unkhair juga bercerita tentang aktivitasnya dalam menulis. Hasbullah aktif membentangkan paper-nya dalam international conference di dalam dan luar negeri.
Sedangkan Sukarno M. Adam sebagai Direktur Eksekutif Bundaran Institute bercerita bahwa tahun-tahun lalu ia aktif sekali menulis artikel di koran, bahkan pernah menerbitkan buku bareng koleganya di GP Ansor Maluku Utara. Dalam waktu dekat, kata Sukarno, ia akan mengurus legalisasi LSM Bundaran Institute agar lembaga ini dapat terus berkiprah dalam riset dan kajian terkait Indonesia khususnya Maluku Utara. Lulusan master dari Sosiologi UGM tersebut juga menambahkan bahwa Bundaran Institute akan membuat website agar ide-ide cerdas dari tanah Maluku Utara dapat terpublikasi secara luas. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Ma'rifat Danarto

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan