Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Refleksi Tiga Tahun Bundaran Institute

Gambar
Ada sebuah pesan dari Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, M.Si (alm) ketika menerima sebuah buku karangan Tim Bundaran Institute Ternate di panggung Legu Gam 2015 yang berkata bahwa banyak sekali yang harus ditulis dari Maluku Utara yang luas ini. "Maluku Utara ini luar sekali, dan banyak sekali yang harus ditulis oleh para penulis muda," kurang lebih begitu ucapan beliau. Kalimat tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi Tim Bundaran Institute untuk melahirkan karya. Tadi malam (18/08) di sebuah kafe di Jln. Mononutu berlangsung pertemuan Tim Bundaran Institute yang dihadiri oleh 6 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Maulana Ibrahim, Hasbullah, Syaiful Bahri, Darmawijaya, dan Direktur Bundaran Institute Sukarno M. Adam. Bundaran Institute didirikan pada 22 Agustus 2013 lalu di Kafe Jarod, Ternate dengan Direktur Eksekutif pertama dijabat oleh Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun Yanuardi Syukur. Di masa Yanuardi, Bundaran Institute menerbitkan buku "Pasir, Batu, …

Tiga Lelaki dari Bibinoi

Gambar
Bandara Sultan Babullah. Saat sedang duduk menunggu istriku yang lagi ngobrol dengan dua ummahat teman liqo'-nya. Seseorang mendekati saya dan berkata, "Pak, saya titip teman-teman yang mau ke Jakarta." Lelaki yang baru saya kenal itu kemudian berkata kepada ketiga lelaki yang lebih muda, "Nanti ikut sama bapak ini walaupun cuma sampai di Makassar." Saya kemudian bercerita dengan tiga teman baru tersebut. Mereka berasal dari Bibinoi, sebuah daerah di Kabupaten Halmahera Selatan yang berencana melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu kampus di Jakarta Timur. Ini adalah kali pertama mereka menginjak kota Ternate, dan pertama kali juga naik pesawat dan menginjak ibukota negara. Sebagai lelaki yang pernah berada pada posisi yang sama, saya merasakan betul bagaimana status sebagai orang yang pertama kali ke kota Ternate, dan naik pesawat. Kadang, kita merasa kayak betul-betul orang kampung ketika melihat orang-orang di kota begitu cerdas, lincah, dan wah. Sementa…

Tirai Kedermawanan

Gambar
Dari sekian banyak syair yang dibuat oleh Imam Syafi'i, ada salah satu petikan yang sangat menarik terkait aib dan kedermawanan. Beliau menulis sebagai berikut: وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ “Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.” تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ “Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.” Jika direnungkan, tiap orang pasti punya aib, kesalahan, dan apa yang disebut sebagai 'masa lalu'. Riwayat mengatakan "manusia tempat salah dan lupa" dan ungkapan populer berkata "tak ada manusia yang sempurna." Lantas, bagaimana cara menutupi aib atau dosa? Kata Imam Syafi'i, "...maka tutupilah dengan tirai kedermawanan" yang akan menutupi berbagai aib. Dalam praktiknya, memang begitu juga. Orang yang perna…

YANG BAIK: NUN URNOTO

Gambar
Tadi malam saya menerima kiriman novel karangan temanku yang baik, Nun Urnoto El-Banbary. Novelis muda asal Pulau Giliraja, Sumenep Madura tersebut beberapa waktu yang lalu menerbitkan bukunya berjudul "Anak-anak Pangaro" yang diterbitkan oleh Metamind, sebuah creative imprint dari Penerbit Tiga Serangkai, Solo. Seawam daya tangkap saya terhadap tulisan fiksi, novel ini bercerita tentang anak-anak muda yang berjuang memperbaiki lingkungannya dengan semangat keberislaman. Pada kaver depan, Arafat Nur, novelis muda asal Aceh yang menulis novel "Lampuki", memberikan endorsement-nya sebagai berikut, "Novel inspiratif yang sarat kandungan pesan moral dan nasihat bijak. Perjuangan sekelompok anak sekolah yang berupaya melakukan perubahan, didukung oleh guru-guru mereka yang senantiasa memberikan dorongan semangat." Sementara di kaver belakang, saya diberikan kesempatan baik untuk turut membaca buku ini dan memberikan endorsement sebagai berikut, "Islam yan…

Dari Seminar Parenting oleh Fauzil Adhim

Gambar
Penulis buku parenting Mohammad Fauzil Adhim diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Seminar Parenting yang diadakan oleh Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) Maccopa Kab. Maros, Ahad (21/08). Penulis yang menetap di Jogja tersebut dipandu oleh Staf Khusus Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqamah yang juga aktif di Agupena, Yanuardi Syukur. Dalam materinya, Fauzil Adhim menjelaskan bahwa tiap kita perlu mempelajari kitah anak Nabi Nuh dan anak Nabi Luth. Kedua nabi tersebut adalah manusia pilihan Allah akan tetapi kenapa anaknya tidak taat kepada ajaran yang dibawa ayah mereka? "Masalahnya ada pada istrinya," kata Fauzil Adhim. Menurutnya, peran seorang istri sangatlah penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Walaupun ayahnya seorang pendakwah ulung tapi kalau tidak didukung oleh ibu yang bervisi sama maka sang anak bisa saja memilih jalan yang berbeda dengan ajaran ayahnya. Menurut Fauzil yang juga aktif mengisi berbagai pengajian tersebut, inspirasi dari Al-Qur…

Dari Seminar 90 Tahun Gontor

Gambar
Seminar Kebangsaan kerjasama Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Pimpinan MPR-RI di Gedung Nusantara V, Senayan Jakarta. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan 90 tahun Pondok Modern Gontor, Senin (8/8). Menurut Ketua Panitia, kegiatan ini membuktikan bahwa Gontor bisa bekerjasama dengan lembaga mana saja termasuk MPR-RI. Dalam sambutannya Wakil Ketua MPR RI Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA mengatakan bahwa Gontor adalah sebuah realita yang sangat penting. Di MPR sudah ada 2 alumni Gontor yang pernah jadi ketua. Pertama adalah KH. Idham Chalid dan Dr. Hidayat Nur Wahid. Sejak dari awal Gontor adalah bagian dari perjuangan bangsa Indonesia. Gontor bahkan pernah menjadi korban PKI. Dan, Gontor juga bagian dari elemen bangsa yang mengisi kemerdekaan, kata Hidayat Nur Wahid lagi. Motto kegiatan ini yaitu "Mengestafetkan nilai-nilai perjuangan Gontor untuk generasi selanjutnya" memiliki relevansi dengan sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang perlu diestafetkan kepada generasi s…

Kesempatan

Gambar
Di hadapan ribuan alumni UI, Professor B.J. Habibie bercerita tentang 'iri hati'-nya kepada teman sekelasnya bernama Ainun yg dalam berbagai mata pelajaran dapat nilai rata-rata bagus, sementara dia sendiri hanya unggul di bidang eksakta. Dengan konsistensi, sekarang kita kenal Habibie sebagai pakar pesawat terbang dgn berbagai cerita keteladanannya. Tiap orang diberkahi keunggulan masing-masing. Tapi yang  kemauan dan kesempatan.
membuat keunggulan itu bisa terpancar adalah karena adanya Kata Habibie, "Mulailah pada akhir, dan berakhir pada awal." Maksudnya, mulailah sesuatu dgn membuat tujuan akhir. Kemudian kejar tujuan tersebut tanpa harus berkecil hati dgn apa yang ada. Berakhir pada awal berarti, pada puluhan tahun yg akan datang, kita (atau orang setelah kita) dapat melihat hasil dari apa yg telah kita perjuangkan. Untuk itu, maka kita harus mencari dan memanfaatkan kesempatan. Jangan berpikir bahwa kesempatan itu harus yang besar-besar, dan cenderung bersifat…

Yang Fana dan Yang Baka

Gambar
Sejak Presiden Jokowi me-reshuffle kabinet baru-baru ini ramai orang memperbincangkan, kenapa si A dilengserkan tapi si B tetap bertahan, dan kenapa si C masuk kabinet bukan si D yang mumpuni di bidang tersebut. Perbincangan tentang ini mungkin bisa kita lihat sedikit dari perspektif mana yang fana (sementara) dan mana yang baka (abadi). Sambil berdiri di kereta, saya sempatkan baca tulisan seorang profesor yang menceritakan bahwa kendati ia diamanahkan pada jabatan tinggi di luar kampus--sebutlah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden--tetaplah jabatan itu akan berakhir di lima tahun. Sementara, profesinya sebagai dosen adalah sesuatu yang ia sandang seumur hidupnya. Maka ia terus mengajar. Di titik ini kita melihat bahwa soal jabatan itu tidaklah kekal. Ada masanya, ada waktunya dimana jabatan itu akan ditanggalkan dan berganti orang lain. Akan tetapi, profesi yang kita geluti dengan sepenuh hati--apapun profesi itu--tetaplah akan lebih lama masa kerjanya ketimbang jabatan yang…

Ke Depok Aku Kembali

Gambar
Dalam salah satu syairnya yang legendaris berjudul 'Kembali ke Jakarta', Koes Plus bersenandung: "Ke Jakarta aku kan kembali Walaupun apa yang kan terjadi."
Maka, tak seberapa jauh dari Balairung dan Rektorat, saya duduk termenung, memandang sebuah danau sambil menikmati desir sepoi angin yang mengingatkanku pada hembusan angin dari Pulau Kumo dan Tolonuo yang mengusap-usap kulitku saat tidur di rumah papan di atas pantai T obelo di masa lalu.
Setelah setahun lebih mencari-cari, berusaha-usaha, bertanya kiri dan kanan, terbang ketemu ini dan itu, meminta masukan dari satu dan dua orang, mempertimbangkan pertimbangan dari ibuku, yang dilanjutkan dengan doa yang tak putus, "Ya Tuhanku, berikanlah untukku tempat belajar yang baik dan berkah, karena sesungguhnya Engkaulah pemberi tempat yang paling terbaik." Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan kuliah di UI (lagi). Tes pertama tidak lulus. Tapi, ayahku mengajarkanku untuk berbaik sangka, sembari te…

Bersama Dua Raja Muda

Gambar
Sepulang dari mengedit naskah buku Hamka Mahmud terkait aktivitasnya sebagai Da'i Kamtibmas, saya bertanya pada Ismail Nurdin, kapan menikah. "Sementara diurus sekarang, Ustad. Mudah-mudahan dekat-dekat ini," katanya. Kini, Ismail telah sukses menjadi suami yang resepsinya telah dilaksanakan tadi siang di Aula Masjid Jami' Pesantren Darul Istiqamah Pusat Maccopa, Kab. Maros. Setelah makan siang, walimatul 'ursy tersebut juga dibarengi dengan launching Program Tahfizh Anak Usia Dini (TAUD) oleh Professor FKM Unhas lulusan Universitas Cornell, Prof Veny Hadju, yang memiliki target anak-anak telah hafal 30 juz saat masuk kelas 1 SD. Kemudian, acara siang tadi juga diisi dengan ceramah dari Presiden Nusantara Foundation yang juga Imam di Islamic Center New York, Imam Shamsi Ali. Pasangan pengantin yang kedua adalah Firmansyah. Sebelum naik foto-foto, seseorang bercerita kepadaku bahwa Firmansyah adalah anak yatim piatu sejak kecil yang punya semangat tinggi untuk suk…

OM RAIS

Gambar
Malam itu ia hendak ke kamarnya di rumah yang disanggah oleh beberapa tiang di atas pantai Tobelo. Tak seberapa jauh lokasi rumahnya dari Tanjung Pilawang, sebuah tanjung yang di masa kecil biasa kuhabiskan hari-hari untuk menangkap ikan pakai jubi-jubi, udang dan kuda laut sambil menghindar dari sengatan duri babi yang sangat menyakitkan. Tiba di kamarnya, tak seberapa lama kemudian nafasnya pun tiba di titik penghabisan. Waktunya telah habis. Umur pun telah usai. "Ana urid, wa anta turid, wallahu yaf'alu ma yurid," kata orang Arab. Saya mau, kamu juga mau, tapi Allah berhendak atas apa yang Dia mau. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Nama aslinya Raisuddin Sidi Umar. Saya memanggilnya Om Rais. Salah seorang anaknya adalah teman sekelas saya di SDN 1 Tobelo yang juga teman di TPQ Al-Badru yang saat itu (1993) diasuh oleh Husen Tjan atau yang biasa disapa Ko Uceng di Jalan TT. Marhaban. Kalau ingat Om Rais, saya ingat beberapa hal. Pertama, kakek beliau (Idris Sidi Umar…

IVAN AHDA

Gambar
Ivan Ahda (31 tahun) adalah salah satu kandidat Ketua Umum ILUNI UI yang pemilihan via internet-nya baru saja berlalu dan dimenangkan oleh Arief Budhi Hardono dari Fakultas Teknik. Dalam Pemira ILUNI lalu, Ivan dan Faldo Maldini adalah dua nama yang paling muda dibanding calon lainnya, yaitu Fahri Hamzah (mengundurkan diri), Jenderal Moeldoko (mengundurkan diri), dan Chandra M. Hamzah (Mantan Komisioner KPK). Waktu penyampaian visi misi di Pusat Studi Jepang, dari kursi paling atas tengah saya melihat bagaimana beberapa kandidat ketua ILUNI menyampaikan pemikirannya menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa penanya seperti Julian Aldrin Pasha (Mantan Jubir Presiden SBY), Effendi Ghazali (Pakar Komunikasi Politik), dan beberapa lainnya. Secara umum tiap kandidat menjawab pertanyaan dengan ringkas, yang beberapa hal di antaranya tentang 'saat apa masyarakat Indonesia mengingat ILUNI UI' yang dilontarkan oleh Effendi Ghazali. Kemarin (Sabtu, 6 Agustus 2016), dari belakang saya m…