Minggu, 21 Agustus 2016

Refleksi Tiga Tahun Bundaran Institute

Ada sebuah pesan dari Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, M.Si (alm) ketika menerima sebuah buku karangan Tim Bundaran Institute Ternate di panggung Legu Gam 2015 yang berkata bahwa banyak sekali yang harus ditulis dari Maluku Utara yang luas ini.
"Maluku Utara ini luar sekali, dan banyak sekali yang harus ditulis oleh para penulis muda," kurang lebih begitu ucapan beliau.
Kalimat tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi Tim Bundaran Institute untuk melahirkan karya.
Tadi malam (18/08) di sebuah kafe di Jln. Mononutu berlangsung pertemuan Tim Bundaran Institute yang dihadiri oleh 6 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Maulana Ibrahim, Hasbullah, Syaiful Bahri, Darmawijaya, dan Direktur Bundaran Institute Sukarno M. Adam.
Bundaran Institute didirikan pada 22 Agustus 2013 lalu di Kafe Jarod, Ternate dengan Direktur Eksekutif pertama dijabat oleh Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun Yanuardi Syukur. Di masa Yanuardi, Bundaran Institute menerbitkan buku "Pasir, Batu, dan Etos Budaya: Catatan dari Maluku Utara" yang dibedah oleh Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim dan dihadiahkan kepada Sultan Ternate dan Prof. Nils Bubant, antropolog dari Aarhus University, Denmark.
Dalam diskusi ini dibahas beberapa isu seperti dunia kepenulisan di Ternate. Maulana Ibrahim, kandidat doktor dari Osaka University Jepang bercerita bahwa ketika menyusun bahan disertasinya ia mendapatkan banyak sekali sumber salah satunya dari Universiteit Leiden, Belanda.
"Di meja supervisor, ada sebuah meja panjang yang di situ tiap bab saya diminta letakkan seluruh referensi yang ada," kata Maulana yang juga aktif di Ternate Heritage Society.
Hasil penelusuran beliau tentang lanskap kota Ternate dari Soa-Sio hingga Falajawa juga mendapatkan skripsi yang pernah ditulis di UI tentang Sultan Hamzah. "Tidak banyak yang tahu tentang ini, padahal di UI sana ada yang pernah menulis tentang Sultan Hamzah," lanjut Maulana lagi.
Ia juga bercerita bahwa disertasi Fraassen tentang Ternate tebalnya hanya beberapa ratus, akan tetapi lampirannya yang lebih panjang dari isi disertasi.
Darmawijaya juga bercerita bahwa dalam waktu dekat bukunya tentang Sultan-Sultan Legendaris Maluku Utara akan terbit yang ditulisnya bersama rekannya di Prodi Ilmu Sejarah Unkhair, Jainul Yusup. Darma yang juga Lektor Kepala di Unkhair adalah salah seorang penulis produktif dari Unkhair terutama buku-buku sejarah. Salah satu bukunya tentang Kesultanan Islam di Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.
Syaiful Bahry yang kini menjabat Ketua salah satu Program Studi di UMMU bercerita pengalamannya ketika mengikuti program dosen magang di Kota Kembang Bandung. "Saya dapat banyak inspirasi ketika bertemu dengan rekan-rekan di Bandung, terutama dalam hal menulis tema-tema spesifik di Ternate," katanya.
Sedangkan Hasbullah yang juga salah satu Ketua Program Studi di Unkhair juga bercerita tentang aktivitasnya dalam menulis. Hasbullah aktif membentangkan paper-nya dalam international conference di dalam dan luar negeri.
Sedangkan Sukarno M. Adam sebagai Direktur Eksekutif Bundaran Institute bercerita bahwa tahun-tahun lalu ia aktif sekali menulis artikel di koran, bahkan pernah menerbitkan buku bareng koleganya di GP Ansor Maluku Utara. Dalam waktu dekat, kata Sukarno, ia akan mengurus legalisasi LSM Bundaran Institute agar lembaga ini dapat terus berkiprah dalam riset dan kajian terkait Indonesia khususnya Maluku Utara. Lulusan master dari Sosiologi UGM tersebut juga menambahkan bahwa Bundaran Institute akan membuat website agar ide-ide cerdas dari tanah Maluku Utara dapat terpublikasi secara luas. *

Tiga Lelaki dari Bibinoi

Bandara Sultan Babullah. Saat sedang duduk menunggu istriku yang lagi ngobrol dengan dua ummahat teman liqo'-nya. Seseorang mendekati saya dan berkata, "Pak, saya titip teman-teman yang mau ke Jakarta." Lelaki yang baru saya kenal itu kemudian berkata kepada ketiga lelaki yang lebih muda, "Nanti ikut sama bapak ini walaupun cuma sampai di Makassar."
Saya kemudian bercerita dengan tiga teman baru tersebut. Mereka berasal dari Bibinoi, sebuah daerah di Kabupaten Halmahera Selatan yang berencana melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu kampus di Jakarta Timur.
Ini adalah kali pertama mereka menginjak kota Ternate, dan pertama kali juga naik pesawat dan menginjak ibukota negara.
Sebagai lelaki yang pernah berada pada posisi yang sama, saya merasakan betul bagaimana status sebagai orang yang pertama kali ke kota Ternate, dan naik pesawat. Kadang, kita merasa kayak betul-betul orang kampung ketika melihat orang-orang di kota begitu cerdas, lincah, dan wah. Sementara, kita kadang membandingkan dengan diri sendiri yang: hanya orang kampung, pengetahuan tak banyak, teman juga terbatas, dan tidak bisa berbicara narasi-narasi besar.
Pada tahun 1993, setelah tamat SD saya pernah merasakan itu: naik kapal dari Pelabuhan Tobelo ke Daruba Morotai; muntah-muntah di kapal Ternate Star, kemudian dari Daruba ke Ternate dan menunggu semingguan datangnya Kapal Umsini yang akan mengantar kita sekitar 5 atau 6 hari hingga tiba di Tanjung Priok.
Ketika tiba di Jakarta, kita melihat orang-orang begitu hebat, wah, dan berbicara tentang modernitas dan narasi besar. Sedangkan saya tidak bisa. Tapi setelah melewati itu saya pun mengerti bahwa semua orang pada dasarnya sama: ada sisi kuat ada sisi lemah, ada sisi PD ada sisi tidak PD. Ya, semua orang merasakan itu, hatta mereka yang saat ini berada pada level tertinggi dalam kacamata awam kita.
Sebagai orang kampung kadang kita merasakan perasaan-perasaan rendah. Konon, sikap rendah diri ini juga sesungguhnya di-create oleh penjajah dalam bahasa kita seperti kata 'saya' yang berarti 'sahaya' sehingga ketika kita mengatakan saya sesungguhnya itu merujuk pada status kita yang hanya hamba sahaya di hadapan majikan yang kaya.
"Jangan pulang sebelum sarjana!" pesan saya kepada mereka. Ketika kita sudah tiba di ibukota, kita harus serap banyak hal dari orang-orang di sana. Jangan malas, dan jangan gengsi. Jangan ragu untuk bertanya kalau memang tidak tahu. Berusahalah dan jaga hubungan baik dengan sesama. Pesan-pesan ini walaupun disampaikan kepada teman-teman baruku tapi sesungguhnya itu untukku. *

Tirai Kedermawanan


Dari sekian banyak syair yang dibuat oleh Imam Syafi'i, ada salah satu petikan yang sangat menarik terkait aib dan kedermawanan.
Beliau menulis sebagai berikut:
وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ
“Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.”
تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ
“Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.”
Jika direnungkan, tiap orang pasti punya aib, kesalahan, dan apa yang disebut sebagai 'masa lalu'. Riwayat mengatakan "manusia tempat salah dan lupa" dan ungkapan populer berkata "tak ada manusia yang sempurna."
Lantas, bagaimana cara menutupi aib atau dosa?
Kata Imam Syafi'i, "...maka tutupilah dengan tirai kedermawanan" yang akan menutupi berbagai aib. Dalam praktiknya, memang begitu juga. Orang yang pernah bersalah tapi kemudian ia move on dan memperbanyak laku kederwananan maka orang akan lebih mengingat masa-masa dermawannya ketimbang yang lalu-lalu.
Bukankah buku sejarah juga sudah menulis bagaimana orang-orang yang dulunya jahat, berprilaku buruk yang kemudian mereka berubah dan sejarah menempatkan nama mereka pada level yang terbaik? Itu tentu saja karena kedermawanan.
Kita bisa berderma dengan apa saja: uang, waktu, tenaga, bahkan apresiasi. Sederhana itu untuk menutupi berbagai khilaf kita yang saban hari terus menumpuk. *

YANG BAIK: NUN URNOTO

Tadi malam saya menerima kiriman novel karangan temanku yang baik, Nun Urnoto El-Banbary. Novelis muda asal Pulau Giliraja, Sumenep Madura tersebut beberapa waktu yang lalu menerbitkan bukunya berjudul "Anak-anak Pangaro" yang diterbitkan oleh Metamind, sebuah creative imprint dari Penerbit Tiga Serangkai, Solo.
Seawam daya tangkap saya terhadap tulisan fiksi, novel ini bercerita tentang anak-anak muda yang berjuang memperbaiki lingkungannya dengan semangat keberislaman.
Pada kaver depan, Arafat Nur, novelis muda asal Aceh yang menulis novel "Lampuki", memberikan endorsement-nya sebagai berikut, "Novel inspiratif yang sarat kandungan pesan moral dan nasihat bijak. Perjuangan sekelompok anak sekolah yang berupaya melakukan perubahan, didukung oleh guru-guru mereka yang senantiasa memberikan dorongan semangat."
Sementara di kaver belakang, saya diberikan kesempatan baik untuk turut membaca buku ini dan memberikan endorsement sebagai berikut, "Islam yang diterapkan dengan baik oleh anak-anak muda dengan daya juang tinggi memperbaiki lingkungan sekitar seperti halnya dalam novel ini penting bagi tumbuh kembang semangat keberislaman, pengingat, sekaligus inspirasi perbaikan bagi lingkungan sekitar."
Terbitnya buku ini membuktikan bahwa orang-orang dari pulau--dimanapun pulau itu--sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk menorehkan karyanya dalam bentuk tulisan. Jika tak bisa fiksi, mereka bisa memilih non-fiksi. Jika tak bisa menulis mereka bisa memilih melukis. Atau, jika tak hobi melukis, mereka bisa mengembangkan berbagai kecakapan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan pada diri tiap orang.
Selamat untuk Mas Nun Urnoto!

Dari Seminar Parenting oleh Fauzil Adhim

Penulis buku parenting Mohammad Fauzil Adhim diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Seminar Parenting yang diadakan oleh Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) Maccopa Kab. Maros, Ahad (21/08). Penulis yang menetap di Jogja tersebut dipandu oleh Staf Khusus Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqamah yang juga aktif di Agupena, Yanuardi Syukur. Dalam materinya, Fauzil Adhim menjelaskan bahwa tiap kita perlu mempelajari kitah anak Nabi Nuh dan anak Nabi Luth. Kedua nabi tersebut adalah manusia pilihan Allah akan tetapi kenapa anaknya tidak taat kepada ajaran yang dibawa ayah mereka? "Masalahnya ada pada istrinya," kata Fauzil Adhim. Menurutnya, peran seorang istri sangatlah penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Walaupun ayahnya seorang pendakwah ulung tapi kalau tidak didukung oleh ibu yang bervisi sama maka sang anak bisa saja memilih jalan yang berbeda dengan ajaran ayahnya. Menurut Fauzil yang juga aktif mengisi berbagai pengajian tersebut, inspirasi dari Al-Qur'an tersebut sangat penting dalam konteks bagaimana mendidik anak terutama dalam pendekatan Islam. Dalam proses mendidik anak tiap orang tua perlu membedakan yang namanya keinginan dan kebutuhan. Keinginan bisa jadi banyak sekali akan tetapi belum tentu itu juga kebutuhan. Apa yang diinginkan anak tidak semuanya harus diturutkan. Yang diturutkan adalah yang sesuai dengan kebutuhan. Fauzil juga mewanti-wanti agar para orang tua tidak berpikir sekedar yang matematis dalam mendidik anak. Seorang bapak yang hanya berfungsi mencari uang dan memberikan uang tak ubahnya sebagai bapak yang 'penyandang dana', sementara itu ibunya yang bertugas menyimpan uang saja bisa dinamakan dengan bendahara. Kata Fauzil, jangan sampai asuhan orangtua hanya di uang saja. Sebaliknya orangtua harus memberikan pendidikan keteladanan kepada anak-anaknya. Konsultan anak tersebut juga menjelaskan bahwa tiap anak harus ditumbuhkan semangat untuk menuntut ilmu. "Kemauan pada ilmu jauh lebih penting daripada berapa banyak ilmu yang didapatkan," kata beliau. Artinya, jika seorang anak punya semangat belajar tinggi, itu sudah bagus sekali. Soal pertambahan ilmu itu bisa bertahap seiring dengan waktu. Pentingnya pendidikan ini juga disampaikan oleh Yanuardi Syukur yang mengutip kalimat bijaksana dari Tiongkok, "Jika anda berencana untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika anda berencana selama 10 tahun tanamlah pohon. Jika anda berencana selama 100 tahun didiklah manusia." Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan anak. Selain itu, pendidikan juga perlu dibarengi dengan akhlak mulia yang dihadirkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Seminar ini diikuti oleh ratusan peserta dari santri dan orangtua santri. Dua orang penanya mendapatkan buku karangan Mohammad Fauzil Adhim. *

Senin, 08 Agustus 2016

Dari Seminar 90 Tahun Gontor

Seminar Kebangsaan kerjasama Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Pimpinan MPR-RI di Gedung Nusantara V, Senayan Jakarta. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan 90 tahun Pondok Modern Gontor, Senin (8/8).
Menurut Ketua Panitia, kegiatan ini membuktikan bahwa Gontor bisa bekerjasama dengan lembaga mana saja termasuk MPR-RI.
Dalam sambutannya Wakil Ketua MPR RI Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA mengatakan bahwa Gontor adalah sebuah realita yang sangat penting. Di MPR sudah ada 2 alumni Gontor yang pernah jadi ketua. Pertama adalah KH. Idham Chalid dan Dr. Hidayat Nur Wahid.
Sejak dari awal Gontor adalah bagian dari perjuangan bangsa Indonesia. Gontor bahkan pernah menjadi korban PKI. Dan, Gontor juga bagian dari elemen bangsa yang mengisi kemerdekaan, kata Hidayat Nur Wahid lagi.
Motto kegiatan ini yaitu "Mengestafetkan nilai-nilai perjuangan Gontor untuk generasi selanjutnya" memiliki relevansi dengan sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang perlu diestafetkan kepada generasi selanjutnya.
Narasumber dalam kegiatan ini adalah Ketua DKPP RI Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie dan Pemikir Kebangsaan Dr. Yudi Latif.
Dari Integrasi Pendidikan ke Integrasi Hukum
Prof. Jimly mengatakan bahwa ia bersekolah tsanawiyah dan aliyah. Saya dari lulusan madrasah yang tidak terdaftar bisa jadi guru besar UI. Waktu tes UI 1976. Lulusan madrasah tidak kalah dengan tamatan lainnya.
Gontor adalah salah satu pelopor pesantren modern. Sukses untuk sukses, sukses untuk Indonesia. Setelah sukses mengintegrasikan pendidikan Islam dgn umum, kita perlu integrasikan hukum dengan syariat.
Ke depan, kita harus mengintegrasikan hukum karena hukum kita dualis (agama dan negara). Ini harus didudukkan. Awalnya hukum adalah hukum hingga datang Belanda dan terjadilah dualisme hukum.
Hukum tertinggi adalah konstitusi yang berisi perjanjian bersama. Imam Syafii menyebut ada Darul Islam, Darul Harb dan Darul Ahdi, tapi lebih tepat dalam konteks internasional. Dalam konteks hukum domestik, Darul Ahdi bisa dipahami sebagai hukum negara kesepakatan yang mengikat bersama.
Piagam Madinah adalah konstitusi tertulis pertama. Di situ ada perjanjian bersama. Piagam Madinah diteken oleh 13 kepala suku. Semua tunduk pada Piagam Madinah.
Perjanjian Hudaibiyah. Ketika materinya selesai, mau diteken. Ternyata ada tokoh Yahudi yang protes karena ada kata bismillahirrahmanirrahim. Dilaporkan ke Nabi. Akhirnya dicoret. Dikomplen lagi karena ada tulisan Muhammad Rasulullah, diganti Rasulullah bin Abdullah. Sama dengan Piagam Jakarta. Intinya kita harus taat pada perjanjian yang ada.
Semua aturan adalah penjabaran dari konstitusi. Maka, kita butuh banyak wakil agar materi UU tidak keluar dari pesan-pesan Ilahiyah atau Nubuwat. "Masing-masing kita harus saling toleran," kata Jimly.
95 persen negara seluruh dunia punya naskah konstitusi. Inilah yang jadi dasar penjabaran peraturan perundang-undangan. Kesadaran kita tentang syariat agama dan perundang-undangan jangan dipisahkan.
Prof Jimly pernah mengusulkan agar di OKI agar ada forum kerjasama hukum dan perundang-undangan. Semua negara OKi ada masalah hubungan agama dengan negara.
Kegiatan ini diharapkan jadi inspirasi untuk semua anak bangsa sebagai bagian dari aktor membangun peradaban masa depan.
Peradaban Berbasis Spiritualitas
Dalam paparannya, Dr. Yudi Latif mengatakan bahwa pertemuan ini istimewa karena merupakan titik singgung karena peringatan 71 tahun Indonesia dengan 90 tahun Gontor. Karena Gontor lebih tua dari republik maka sudah semestinya membimbing yang muda dan yang muda tidak lupa jasa-jasa yang muda.
"Kita jangan mengembangkan mentalitas luar pagar seakan-akan orang Islam tamu di negeri ini," kata Yudi.
Nasionalisme ada tiga tahap di Indonesia: purba, tua, dan modern.
Dulunya perlawanan terhadap kolonialisme dilakukan oleh pesantren. Kemudian, Awal abad ke 20, bangkit intelegensia baru yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan barat. Sekolah guru, dokter jawa, Abntenaar, dst. Lahirlah Sarikat Dagang Islam, Budi Oetomo, dst. Ini namanya proto-nasionalisme (nasionalisme tua). Identitasnya masih tersegmentasi dalam agama atau kelompok tertentu. Budi Oetomo misalnya semangatnya kejawaan. Sekar Rukun di Sunda dll.
Dalag Literatur barat tidak ada kaitan tokoh-tokoh pergerakan ini dengan sumber keagamaan. Darimana bibit-bibit egalitarianisme itu datang? Dr Soetomo ternyata keturunan Sunan Giri. Cokroaminoto masih keluarga pendiri Gontor. Agus Salim adalah pengurus Al-Munir. Cipto bapaknya seorang haji. Tirtoadisuryo, penggerak koran Medan Priyayi, keturunan Raden Mas Syahid (Pangeran Samber Nyawa). Para penggerak ini walau lulusan pendidikan modern punya akar-akar religiositas yang kuat.
Pada 1920 dengan munculnya sekolah tinggi di Indonesia, muncul satu kesadaran baru yang bisa menyatukan semuanya berbasis kesamaan cita-cita. Dimulai dari Perhimpunan Indonesia di Belanda. Dasar PI adalah persatuan, kemandirian, non kooperasi, dan solidaritas. Ini merupakan usaha untuk mensintesiskan keragamaan Indonesia.
Di Bandung juga kelompok Sukarno Algemene Studi Club. Ia menulis tahun 1926, nasionalisme, marxisme, dan Islamisme. Ketiganya perlu bersatu untuk melawan kolonialisme. Adonan Pancasila mulai terlihat di sini. Baca Sukarno harus banyak bukunya. Ia pernah bilang, memikirkan Pancasila di umur 17 tahun, dari Penjara, atau di bawah pohon sukun di Ende.
Pancasila tidak sekali jadi. Ini merupakan aksi-reaksi lintas agama.
Yudi juga menjelaskan bahwa kita jangan merasa menjadi tamu di republik ini. Sebaliknya kita memberikan roh dan gizi bagi bangsa. Spiritualitas punya peran yang luar biasa bagi bangsa. Riset Toynbee mengatakan bahwa peradaban yang bertahan adalah yang masih mempertahankan spiritualitasnya. Jika tidak, negara tsb akan karam.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kesempatan

Di hadapan ribuan alumni UI, Professor B.J. Habibie bercerita tentang 'iri hati'-nya kepada teman sekelasnya bernama Ainun yg dalam berbagai mata pelajaran dapat nilai rata-rata bagus, sementara dia sendiri hanya unggul di bidang eksakta. Dengan konsistensi, sekarang kita kenal Habibie sebagai pakar pesawat terbang dgn berbagai cerita keteladanannya.
Tiap orang diberkahi keunggulan masing-masing. Tapi yang  kemauan dan kesempatan.
membuat keunggulan itu bisa terpancar adalah karena adanya
Kata Habibie, "Mulailah pada akhir, dan berakhir pada awal." Maksudnya, mulailah sesuatu dgn membuat tujuan akhir. Kemudian kejar tujuan tersebut tanpa harus berkecil hati dgn apa yang ada. Berakhir pada awal berarti, pada puluhan tahun yg akan datang, kita (atau orang setelah kita) dapat melihat hasil dari apa yg telah kita perjuangkan.
Untuk itu, maka kita harus mencari dan memanfaatkan kesempatan. Jangan berpikir bahwa kesempatan itu harus yang besar-besar, dan cenderung bersifat heroik. Bukan. Kesempatan sesungguhnya milik kita semua--dimanapun, dan dalam kondisi apapun.
Kehidupan yg kita jalani sekarang sejatinya adalah waktu yg paling mahal yg teramat sayang jika harus diisi dgn keluhan, tidak percaya diri, selalu menyalahkan diri sendiri, ingin menang sendiri, dan ingin dapat kesempatan sendiri. *

Yang Fana dan Yang Baka

Sejak Presiden Jokowi me-reshuffle kabinet baru-baru ini ramai orang memperbincangkan, kenapa si A dilengserkan tapi si B tetap bertahan, dan kenapa si C masuk kabinet bukan si D yang mumpuni di bidang tersebut.
Perbincangan tentang ini mungkin bisa kita lihat sedikit dari perspektif mana yang fana (sementara) dan mana yang baka (abadi).
Sambil berdiri di kereta, saya sempatkan baca tulisan seorang profesor yang menceritakan bahwa kendati ia diamanahkan pada jabatan tinggi di luar kampus--sebutlah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden--tetaplah jabatan itu akan berakhir di lima tahun. Sementara, profesinya sebagai dosen adalah sesuatu yang ia sandang seumur hidupnya. Maka ia terus mengajar.
Di titik ini kita melihat bahwa soal jabatan itu tidaklah kekal. Ada masanya, ada waktunya dimana jabatan itu akan ditanggalkan dan berganti orang lain. Akan tetapi, profesi yang kita geluti dengan sepenuh hati--apapun profesi itu--tetaplah akan lebih lama masa kerjanya ketimbang jabatan yang berdurasi hanya beberapa tahun.
Pada sebuah kesempatan saya bertemu dengan seorang Mantan Dubes negara tetangga yang pembawaannya terbuka, dan melayani berbagai pertanyaan secara tulus. Bertanyalah saya, sebagai orang yang pernah jadi Dubes, kok bapak tidak kelihatan sangat wah seperti ketika Dubes dulu? Jawab dia, jabatan itu hanya sementara, dan ketika jabatan itu selesai, saya kembali jadi warga biasa seperti sekarang. Ketika saya tanya lagi, kenapa profil bapak tidak dibuat biografi saja karena bapak punya pengalaman banyak di beberapa negara? Dia menjawab, "tidak ada yang menarik dari saya." Saya jadi kagum dan sedikit tertawa bersamanya, dan berkata, "Nah, di situlah sisi paling menariknya, pak." Kemudian, kami berpisah.
Jama'ah sekalian. Jabatan, seperti yang kita tahu bersama, adalah amanah. Cepat atau lambat, apapun jabatan yang kita sandang akan berakhir, dan berpindah kepada orang lain. Maka, jabatan perlulah dimaknai bukan sebagai sesuatu yang hakiki, yang abadi. Itu sifatnya fana, hanya sementara.
Jika jabatan terlalu diharap-harapkan dan tidak rela jika harus berpindah tangan maka yang ada bukanlah bahagia, tapi derita. Persis seperti kata kutipan sebuah tulisan: menderita karena melekat. Siapa yang terlalu melekatkan dirinya pada jabatan yang fana, maka dia pasti menderita, eksplisit atau implisit. *

Ke Depok Aku Kembali

Dalam salah satu syairnya yang legendaris berjudul 'Kembali ke Jakarta', Koes Plus bersenandung:
"Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi."

Maka, tak seberapa jauh dari Balairung dan Rektorat, saya duduk termenung, memandang sebuah danau sambil menikmati desir sepoi angin yang mengingatkanku pada hembusan angin dari Pulau Kumo dan Tolonuo yang mengusap-usap kulitku saat tidur di rumah papan di atas pantai T
obelo di masa lalu.
Setelah setahun lebih mencari-cari, berusaha-usaha, bertanya kiri dan kanan, terbang ketemu ini dan itu, meminta masukan dari satu dan dua orang, mempertimbangkan pertimbangan dari ibuku, yang dilanjutkan dengan doa yang tak putus, "Ya Tuhanku, berikanlah untukku tempat belajar yang baik dan berkah, karena sesungguhnya Engkaulah pemberi tempat yang paling terbaik."
Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan kuliah di UI (lagi). Tes pertama tidak lulus. Tapi, ayahku mengajarkanku untuk berbaik sangka, sembari terus berusaha sebagaimana dirinya, ayahnya, dan tetua-tetua kami yang memberikan inspirasi akan pentingnya berusaha dan bertawakkal.
Teman-teman yang baik, mohon doanya. Semoga saya bisa belajar dengan sebaik-baiknya, menyerap pengetahuan dan kearifan dengan seluas-luasnya, dan dapat memberi makna kepada sesama sampai seterus-terusnya. *

Bersama Dua Raja Muda

Sepulang dari mengedit naskah buku Hamka Mahmud terkait aktivitasnya sebagai Da'i Kamtibmas, saya bertanya pada Ismail Nurdin, kapan menikah. "Sementara diurus sekarang, Ustad. Mudah-mudahan dekat-dekat ini," katanya.
Kini, Ismail telah sukses menjadi suami yang resepsinya telah dilaksanakan tadi siang di Aula Masjid Jami' Pesantren Darul Istiqamah Pusat Maccopa, Kab. Maros. Setelah makan siang, walimatul 'ursy tersebut juga dibarengi dengan launching Program Tahfizh Anak Usia Dini (TAUD) oleh Professor FKM Unhas lulusan Universitas Cornell, Prof Veny Hadju, yang memiliki target anak-anak telah hafal 30 juz saat masuk kelas 1 SD. Kemudian, acara siang tadi juga diisi dengan ceramah dari Presiden Nusantara Foundation yang juga Imam di Islamic Center New York, Imam Shamsi Ali.
Pasangan pengantin yang kedua adalah Firmansyah. Sebelum naik foto-foto, seseorang bercerita kepadaku bahwa Firmansyah adalah anak yatim piatu sejak kecil yang punya semangat tinggi untuk sukses. Firman menamatkan sarjana di dua kampus di Makassar, dan master dari salah satu kampus di Jogja. Kini, ia mengajar di Universitas Muhammadiyah Pare-Pare (Umpar) setelah sebelumnya mengajar di Sinjai dan Palopo. "Tahun depan saya rencana daftar S3 di UI," katanya.
Berbicara tentang perkawinan saya jadi teringat sebuah ungkapan yang pernah kutulis di kumpulan tulisanku saat kuliah di Pascasarjana UI dulu. Konon, ada tiga hal yang kerap kita rayakan (atau dibuatkan acara khusus dalam bentuk resepsi atau sekedar doa) dalam hidup, yaitu: kelahiran, perkawinan, dan kematian. Setiap yang lahir dirayakan dengan rasa senang, pun demikian dengan perkawinan. Tapi, berbeda dengan keduanya, kematian 'dirayakan' dalam bentuk yang sangat berbeda.
Saya jadi teringat anak tetangga kami. Ia adalah salah seorang peserta i'tikaf 10 malam terakhir Ramadhan. Pada H minus 3, ia diare dan akhirnya dibawa ke rumah. Tak lama, ia merasakan sesuatu yang berbeda dan berkata, bahwa ia akan segera pergi. Beberapa jam menjelang salat Idul Fitri, saat ayahnya salat berjama'ah di masjid, lelaki muda tersebut pun pergi untuk selamanya. Hal itu diketahui oleh sang ayah dan ibunya yang hanya bertiga di rumah. Mereka pun salat Idul Fitri berjama'ah dan memilih tidak mengabarkan tentang kematian anaknya, kecuali setelah salat Idul Fitri selesai.
Ah, sampai pada titik ini saya kerap teringat dengan tiga kegiatan yang sangat penting dalam hidup, yaitu: lahir, kawin, dan mati. Setiap hari ada yang lahir, dan di saat yang sama ada yang mati. Setiap hari pula ada yang bersatu dan di saat yang sama ada yang memilih mengakhiri hubungan dengan pasangannya.
Adapun agama mengajarkan kita agar kita mendoakan keberkahan kepada pasangan pengantin. Berkah punya makna yang sangat luas. Tadi malam di pesawat, saya nonton sebuah film tentang seorang doktor yang ia dan keluarganya ingin sekali punya anak tapi belum juga bisa, bahkan istrinya berkali-kali keguguran. Soal rezeki, kelahiran anak, dan berbagai hal dalam pernikahan adalah misteri Ilahi. Namun, sesulit apapun hidup kita harus mengutamakan berkah. Ya, berkah.
Wal akhir, kepada masing-masing raja muda yg udah punya kerajaan kecilnya saya ingin mengucapkan, "Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair." Semoga keberkahan tercurah kepadamu, dan kepada kalian berdua, dan Allah kumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. *

OM RAIS

Malam itu ia hendak ke kamarnya di rumah yang disanggah oleh beberapa tiang di atas pantai Tobelo. Tak seberapa jauh lokasi rumahnya dari Tanjung Pilawang, sebuah tanjung yang di masa kecil biasa kuhabiskan hari-hari untuk menangkap ikan pakai jubi-jubi, udang dan kuda laut sambil menghindar dari sengatan duri babi yang sangat menyakitkan.
Tiba di kamarnya, tak seberapa lama kemudian nafasnya pun tiba di titik penghabisan. Waktunya telah habis. Umur pun telah usai. "Ana urid, wa anta turid, wallahu yaf'alu ma yurid," kata orang Arab. Saya mau, kamu juga mau, tapi Allah berhendak atas apa yang Dia mau.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Nama aslinya Raisuddin Sidi Umar. Saya memanggilnya Om Rais. Salah seorang anaknya adalah teman sekelas saya di SDN 1 Tobelo yang juga teman di TPQ Al-Badru yang saat itu (1993) diasuh oleh Husen Tjan atau yang biasa disapa Ko Uceng di Jalan TT. Marhaban.
Kalau ingat Om Rais, saya ingat beberapa hal. Pertama, kakek beliau (Idris Sidi Umar) bisa disebut sebagai 'assabiqunal awwalun' (orang-orang pertama) dari keturunan Andung Penai di Desa Panyinggahan Maninjau, yang menginjakkan kaki di Ternate sekitar 1905 atau 1908.
Melihat ada potensi usaha yang bagus di Maluku Utara, maka Idris Sidi Umar membawa beberapa keluarganya, termasuk kakek saya (Abdullah Syukur) untuk merantau dari Sumatera Barat ke Maluku Utara. Rantau telah lama jadi etos budaya orang Minang yang diamalkan sampai saat ini. Manfaatnya banyak sekali, salah satunya seperti yang disyairkan oleh Imam Syafi'i, "Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti apa-apa yang telah engkau tinggalkan."
Konon, menurut cerita ayahku dan juga cerita dari penulis buku Kepulauan Rempah-Rempah M. Adnan Amal saat saya wawancara guna penerbitan buku "50 tahun Universitas Khairun" (2014), kakekku adalah salah seorang penyebar Islam yang berani berdakwah sampai di pelosok Galela, yang saat itu belum punya agama.
Kembali ke Om Rais. Beliau adalah anak Bahauddin Sidi Umar dari istri pertama. Om Darlan yang menikah dengan bibi (ete') saya (Mama Ila) adalah anak dari istri kedua. Sedangkan salah seorang anak dari istri ketiganya adalah Drs. H. Zainul Bahri Sidi Umar, MM atau yang biasa disapa Papa Sen yang pernah menjadi Asisten II Pemerintah Kota Ternate.
Pertemuanku dengan Om Rais paling terakhir sekitar setahun yang lalu sebelum bertolak ke Kota Kembang, Bandung. Di malam Idul Fitri itu saya bersama ibu, istri dan anak-anakku seperti biasa bersilaturahim ke rumah keluarga, termasuk ke rumah Om Rais. Sejak lama keluargaku menyadari bahwa silaturahim keluarga itu sangatlah penting, karena bisa menyadarkan dari silsilah mana kita berasal, dan siapa saja keluarga-keluarga terdekat kita.
Kemarin sebenarnya saya dan keponakanku (Rausyan Fikri) yang transit sekolah 2 bulan di Pesantren Darul Istiqamah, akan terbang ke Ternate guna pengurusan berkas lanjut studi, tapi karena Gunung Gamalama 'batuk' kembali, maka penerbangan pun dibatalkan.
Tapi, walau tidak sempat hadir di pemakaman Om Rais, dari jauh saya dan keluarga berdoa semoga Allah swt mengampuni dosa-dosa almarhum. Beliau adalah orang baik, dan sepanjang hidupnya aktif mengabdikan diri sebagai pengurus Masjid Jami' Kampung Cina, Tobelo. Dan, semoga anak-anak almarhum juga menjadi amal jariyah untuknya di alam kubur, sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Jika mati anak cucu Adam maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya." *
Foto dicrop dari akun facebook Yuniati Kajo.

IVAN AHDA

Ivan Ahda (31 tahun) adalah salah satu kandidat Ketua Umum ILUNI UI yang pemilihan via internet-nya baru saja berlalu dan dimenangkan oleh Arief Budhi Hardono dari Fakultas Teknik. Dalam Pemira ILUNI lalu, Ivan dan Faldo Maldini adalah dua nama yang paling muda dibanding calon lainnya, yaitu Fahri Hamzah (mengundurkan diri), Jenderal Moeldoko (mengundurkan diri), dan Chandra M. Hamzah (Mantan Komisioner KPK).
Waktu penyampaian visi misi di Pusat Studi Jepang, dari kursi paling atas tengah saya melihat bagaimana beberapa kandidat ketua ILUNI menyampaikan pemikirannya menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa penanya seperti Julian Aldrin Pasha (Mantan Jubir Presiden SBY), Effendi Ghazali (Pakar Komunikasi Politik), dan beberapa lainnya. Secara umum tiap kandidat menjawab pertanyaan dengan ringkas, yang beberapa hal di antaranya tentang 'saat apa masyarakat Indonesia mengingat ILUNI UI' yang dilontarkan oleh Effendi Ghazali.
Kemarin (Sabtu, 6 Agustus 2016), dari belakang saya menyimak sharing session yang disampaikan oleh Ivan Ahda tentang leadership dalam kegiatan Gathering Alumni Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa di salah satu aula Kompleks P4TK Parung, Bogor. Ivan adalah penerima Beastudi Etos 2003 waktu kuliah di UI. Kegiatan silaturahim alumni sangat baik artinya karena alumni Beastudi saling tahu dan terkoneksi antara satu dan lainnya. Menurut Hassan Afif, staf Dompet Dhuafa saat ngobrol sebelum acara, saat ini mereka yang menerima manfaat Dompet Dhuafa dalam pendidikan (Beastudi Etos, Best of the Best, Beasiswa Aktivis, dst) kurang lebih sekitar 2000 orang. Beberapa di antaranya adalah pengamat politik Hanta Yudha, dan penulis Tere Liye.
Kembali ke Ivan. Menurut Ivan, sebelum memutuskan kita mau jadi apa, kita harus cari tahu dulu kekuatan kita dimana. Kemudian, pilihlah pekerjaan yang memiliki probabilitas untuk sukses. Lelaki yang selama 3 tahun bekerja dengan Professor Rhenald Kasali tersebut mencontohkan sebuah video dari Jack Ma yang mengatakan bahwa pada umur 20-30 tahun seseorang perlu mengasah skils-nya dengan sebaik-baiknya. Di umur 30-40 tahun ia haruslah punya pekerjaan yang tetap dan berkontribusi di situ alias tidak pindah-pindah lagi. Dan, di umur 40 ke atas, seseorang telah mendapatkan kebijaksaan dalam pekerjaannya.
Ivan juga menjelaskan bahwa untuk sukses kita harus mencari lingkungan yang dapat mengasah kompetensi global kita. Terkadang memang kita akan bekerja pada pekerjaan yang tidak kita sukai, tapi itu adalah tangga yang harus kita lalui. "Orang akan belajar dari hal-hal yang tidak ideal," jelasnya.
Salah satu masalah dalam meniti karier kata dia lagi adalah membandingkan diri kita dengan orang lain. Kata Ivan, kita jangan sampai terjebak dalam men-compare pengalaman kita dengan orang lain. Karena hal itu bisa bikin kita tidak bersyukur dengan capaian yang telah kita raih, dan juga bisa bikin frustasi. Jika si A dapat sesuatu kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Itu tidak produktif, dan harus dihindari, kata dia lagi.
Dan, yang cukup penting juga kata Ivan Ahda adal soal bagaimana cara mengejar ketertinggalan? Kata dia, ketertinggalan hanya bisa dikejar dengan langkah-langkah strategis. Olehnya itu maka tiap orang harus bisa mencari apa langkah-langkah strategis yang bisa ia lakukan.
Dalam mencari rezeki contohnya, jangan hanya mengandalkan satu tempat. "Jangan pernah mengandalkan satu dapur," kata dia. Maka dari itu, berjejaring dan memiliki kelompok pemikir atau kelompok diskusi (mastermind) sangatlah penting untuk menggapai sukses.
Sukses untuk Ivan Ahda!*

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...