Saat Menulis Terasa Membosankan



Ilustrasi diambil dari salah satu Kompasianer
Tiap orang pasti pernah merasa bosan beraktivitas, termasuk bosan menulis. Awalnya terasa sangat sangat indah, menguntungkan, serta membahagiakan. Akan tetapi, di waktu yang lain, menulis jadi aktivitas yang membosankan.
Secara pribadi, saya sering mengalami hal seperti itu. Kadang, laptop sudah dibuka, internet sudah tersambung, tapi tidak ada satupun paragraf yang jadi. Walhasil, tulisan yang direncanakan tak kunjung jadi. Sebaliknya, bermain facebook lama-lama dan nonton Youtube pun jadi pengganti menulis.
Saat terasa bosan menulis, saya membiasakan diriku dengan beberapa hal.
Pertama, jalan-jalan ke tempat yang baru. Saat ini sebenarnya saya lagi bosan menulis, tapi ketika jalan-jalan ke UI Depok, saya coba sempatkan main ke salah satu perpustakaan yang belum pernah saya masuki. Warna kursinya yang begitu terang, AC yang cukup dingin, dan bersih membuat saya sedikit terbantu untuk mulai menulis kembali.
Jadi, jalan-jalan ke tempat baru punya sesuatu yang dapat membangkitkan. Untuk penulis puisi, mungkin bisa jadi berbeda. Mereka perlu keheningan tertentu, atau perlu alam terbuka untuk menerawang apa yang ada di balik awan tersebut, kemudian menuliskannya dalam bebait puisi. Atau, penulis cerpen, novel, dan seterusnya mungkin juga punya cara-cara yang berbeda dalam mengatasi rasa bosan dalam menulis.
Kedua, berkompromi dengan diri sendiri. Tiap kita pasti punya banyak rencana dalam satu hari. Bisa berbentuk pekerjaan kantor, tugas kuliah, atau tugas-tugas lainnya yang begitu menguras tenaga. Banyak yang tidak sempat menulis alasannya seperti itu: "terlalu sibuk", "pulang terlalu malam", "tidak ada waktu" dan seterusnya. Padahal, jika mau diseriusi, tiap kita pasti bisa menulis bahkan saat kita lagi tidak mood.
Kalau lagi banyak urusan dan saya ingin menulis, maka yang perlu saya lakukan adalah menunda sementara pekerjaan lain yang bisa ditunda, untuk memulai tulisan tentang apa saja yang saya senangi. Jika kita menulis sesuatu yang kita senangi, biasanya segalanya akan berjalan lebih cepat dan lebih lancar mengalir.
Tidak ada beban. Tidak ada rasa berat. Semuanya terasa menyenangkan.
Ketiga, mencoba melihat sesuatu dengan tidak mainstream. Banyak motivator memotivasi kita agar dalam menulis kita jangan menulis yang biasa-biasa saja. Kita pun diminta menangkap apa hal-hal unik dari sebuah peristiwa yang tampak sepele tapi bisa dijabarkan secara elegan.
Yang paling mudah adalah kata 'pintu'. Ketika melihat pintu, umumnya orang berpikir bahwa pintu itu bentuknya persegi panjang, tempat masuk/keluar, ada gagangnya, dst. Di sela-sela diskusi informal di Benteng Fort Rotterdam, Makassar beberapa waktu lalu, beberapa orang menjawab seperti itu. Pintu dilihat sebagai benda yang sangat biasa.
Padahal, pintu bisa ditafsirkan lebih dalam lagi. Pintu bisa diartikan gerbang, sebuah gerbang menuju keabadian. Siapa yang ingin menuju surga, maka ia harus rela memasuki sebuah pintu yang bernama kematian. Kendati kematian adalah tema yang sangat berat untuk dibahas, akan tetapi kematian adalah pintu yang sesungguhnya sebelum memasuki dunia kubur.
Ketika kita bosan, cobalah kita melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda. Lihatlah orang-orang yang tidak berdaya di pinggir jalan, peminta-minta, orang yang kakinya rusak, orang yang memiliki kecacatan dalam tubuhnya. Kita melihat itu dengan kacamata kesyukuran. Ah, walaupun saya banyak beban, tapi saya yakin Allah pasti punya rencana untukku. Lihatlah segalanya dengan pendekatan positif, dengan tidak menghakimi orang lain, tidak menyebarkan berita bohong, hoax, dan mendekati manusia dengan rasa kasih dan rasa sayang.
Soal menulis adalah soal kemanusiaan. Kita tidak akan bisa menulis dengan baik jika tak punya rasa kemanusiaan. Tulisan yang baik adalah yang menjaga, merawat, dan memperbaiki, bukan melalaikan, menghancurkan, dan merusak.
Mari coba menulis, terus menulis. Lawan bosan dengan jalan-jalan, kuasai diri sendiri, dan lihat sesuatu dengan kacamata yang berbeda.
UI Depok, 2 Juni 2016

Komentar