Selasa, 14 Juni 2016

2 + 1 Unsur Penting dalam Mencetak Pemimpin dan Ulama Besar


Pada hari ke-10 Ramadhan, Pesantren Darul Istiqamah kedatangan tamu dari Saudi Arabia, Syekh Ali Awadh Al-Muthairi. Pada pengajian subuh (15/06), Al-Muthairi membawakan materi 'Bagaimana Menyiapkan Generasi Islam Produktif' yang diterjemahkan oleh Ust Mujawwid Arif, Lc. Dalam paparannya, Syekh Al-Muthairi menjelaskan bahwa ada tiga unsur penting dalam membentuk generasi muslim produktif, yaitu keluarga, sekolah, dan guru. Keluarga yang saleh harus memperhatikan pendidikan. Anak-anak diajarkan untuk mengenal Allah swt, dan mencintai ilmu. Allah swt meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat. Syekh mencontohkan profil Imam Ahmad bin Hanbal yang didik oleh ibunya dengan sungguh-sungguh sejak kecil dan ketika besarnya menjadi seorang ulama besar. Sekolah juga memainkan peranan penting dalam mendidik generasi produktif. Anak-anak harus dididik dengan akhlak yang mulia, ilmu syariah, dan berbagai keterampilan hidup (life skills) agar mereka dapat terjun di masyarakat. "Indonesia saat ini butuh pemimpin-pemimpin besar dan ulama-ulama besar," kata ulama lulusan Jami'ah Imam, Riyadh tersebut. Peran guru (pendidik) juga sangat penting dalam melahirkan para pemimpin dan lama. Seorang guru perlu mencintai anak-anak didiknya. Jika dokter mengobati fisik seseorang dan insinyur membangun bangunan, maka dokter lebih dari itu: mencetak jiwa-jiwa yang kuat. Untuk itu, maka seorang guru harus menjadi teladan dan memiliki komunikasi yang baik dengan murid-muridnya. [Yanuardi Syukur]

Rabu, 08 Juni 2016

3 Adab Bersosial Media


Ilustrasi dari blog.sribu.com
Dalam sebuah tulisannya berjudul Social Networking and Human Relations (Wall Street International, 30 Januari 2015), Jurnalis Spanyol Carmela Herraiz menulis bahwa jejaring sosial (social network/social media) telah telah mengubah hubungan antar manusia sejak kali pertama ditemukan. Kata dia, banyak pengguna sosmed seperti Facebook, Twitter, Google Groups yang telah mengubah gaya hidupnya sehari-hari terkait pertukaran informasi dengan keluarga, teman, kolega, atau juga dengan pimpinan di tempat kerja.

Pada tahun 2008, saya menerbitkan sebuah buku sederhana berjudul Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka yang diterbitkan Diva Press (Jogja, Indonesia) tahun 2008 dan Al-Hidayah Publisher (Selangor, Malaysia) tahun 2010. Dalam periode 7 tahun setelah buku itu terbit, saya tertarik untuk menulis tiga panduan sederhana dalam bersosmed.

1.    Gunakan bahasa yang santun, sopan, dan cerdas

Sosmed adalah media publik yang bermacam-macam orang hadir di situ. Untuk memiliki teman, tentu saja kita harus menggunakan bahasa yang santun, sopan, bahkan jika harus mengkritik (lewat status atau tweet) pakai bahasa yang cerdas.

Status yang santun bermakna tidak kasar ketika menanggapi status atau berkomentar suatu masalah. Tidak jarang status yang berisi fitnah dipolisikan atau bahkan menjadi masalah tersendiri dalam hubungan antar personal atau kelompok. Maka, pakai bahasa yang sopan, dan bahasa yang cerdas itu lebih baik. Bahasa cerdas berarti bahasa yang mudah dimengerti, tetap sasaran, dan tidak berisi fitnah.

2.    Hati-hati menyebarkan sumber hoax

Kata ‘hoax’ terkenal sekali di sosmed. Maksudnya, informasi atau berita yang tidak benar, atau bahkan bisa berisi fitnah. Maka, ketika kita hendak menyebarkan suatu informasi, usahakan cari sumber yang terpercaya (baik orang, lembaga, atau website). Sumber otoritatif sangat bergantung pada kepakaran atau keterpercayaan sesuatu/seseorang di bidang tersebut. Berita-berita hoax paling banyak terjadi dalam dunia politik dan agama. Persaingan antar satu calon pemimpin, atau partai mengakibatkan banyak orang menghalalkan cara-cara hoax. Ini tidak sehat tentu saja. Olehnya itu, kita juga harus sangat selektif dalam memilih sumber berita. Jika ada hal-hal yang tidak sesuai dalam berita, ada baiknya kita konfirmasi (tabayyun) kepada sumber tersebut baik langsung maupun tidak langsung.

3.    Biasakan berbagi sesuatu yang positif

“Apa yang keluar di status/tweet atau komentar adalah gambaran dari isi pikiran/hati.” Kata orang seperti itu. Ada benarnya, walau tidak sepenuhnya. Akan tetapi, saya memilih untuk kita berfokus pada sosmed yang positif. Sosmed positif artinya kita gunakan fasilitas teknologi ini dengan hal-hal positif. Dalam ajaran agama, semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban pada suatu ketika. Maka menjaga jemari dari mengetik hal-hal yang buruk perlu dikurangi, dihindari, bahkan baik sekali jika bisa ditinggalkan.

Berfokuslah pada aktivitas positif. Karena yang positif itu tentu saja lebih sehat, dan menyehatkan. Hidup ini teramat mahal rasanya jika kita jalani dengan hal-hal positif. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya,” begitu nasihat berharga dalam hadis Nabi saw.

Mungkin ada baiknya kita renungkan sebuah syair lagu berjudul ‘Ketika tangan dan kaki berkata’ karangan Taufiq Ismail yang disenandungkan Chrisye:

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Para jama’ah sekalian. Mari kita bersosial media dengan cara yang menyenangkan tapi lebih positif. *

Rabu, 01 Juni 2016

Saat Menulis Terasa Membosankan



Ilustrasi diambil dari salah satu Kompasianer
Tiap orang pasti pernah merasa bosan beraktivitas, termasuk bosan menulis. Awalnya terasa sangat sangat indah, menguntungkan, serta membahagiakan. Akan tetapi, di waktu yang lain, menulis jadi aktivitas yang membosankan.
Secara pribadi, saya sering mengalami hal seperti itu. Kadang, laptop sudah dibuka, internet sudah tersambung, tapi tidak ada satupun paragraf yang jadi. Walhasil, tulisan yang direncanakan tak kunjung jadi. Sebaliknya, bermain facebook lama-lama dan nonton Youtube pun jadi pengganti menulis.
Saat terasa bosan menulis, saya membiasakan diriku dengan beberapa hal.
Pertama, jalan-jalan ke tempat yang baru. Saat ini sebenarnya saya lagi bosan menulis, tapi ketika jalan-jalan ke UI Depok, saya coba sempatkan main ke salah satu perpustakaan yang belum pernah saya masuki. Warna kursinya yang begitu terang, AC yang cukup dingin, dan bersih membuat saya sedikit terbantu untuk mulai menulis kembali.
Jadi, jalan-jalan ke tempat baru punya sesuatu yang dapat membangkitkan. Untuk penulis puisi, mungkin bisa jadi berbeda. Mereka perlu keheningan tertentu, atau perlu alam terbuka untuk menerawang apa yang ada di balik awan tersebut, kemudian menuliskannya dalam bebait puisi. Atau, penulis cerpen, novel, dan seterusnya mungkin juga punya cara-cara yang berbeda dalam mengatasi rasa bosan dalam menulis.
Kedua, berkompromi dengan diri sendiri. Tiap kita pasti punya banyak rencana dalam satu hari. Bisa berbentuk pekerjaan kantor, tugas kuliah, atau tugas-tugas lainnya yang begitu menguras tenaga. Banyak yang tidak sempat menulis alasannya seperti itu: "terlalu sibuk", "pulang terlalu malam", "tidak ada waktu" dan seterusnya. Padahal, jika mau diseriusi, tiap kita pasti bisa menulis bahkan saat kita lagi tidak mood.
Kalau lagi banyak urusan dan saya ingin menulis, maka yang perlu saya lakukan adalah menunda sementara pekerjaan lain yang bisa ditunda, untuk memulai tulisan tentang apa saja yang saya senangi. Jika kita menulis sesuatu yang kita senangi, biasanya segalanya akan berjalan lebih cepat dan lebih lancar mengalir.
Tidak ada beban. Tidak ada rasa berat. Semuanya terasa menyenangkan.
Ketiga, mencoba melihat sesuatu dengan tidak mainstream. Banyak motivator memotivasi kita agar dalam menulis kita jangan menulis yang biasa-biasa saja. Kita pun diminta menangkap apa hal-hal unik dari sebuah peristiwa yang tampak sepele tapi bisa dijabarkan secara elegan.
Yang paling mudah adalah kata 'pintu'. Ketika melihat pintu, umumnya orang berpikir bahwa pintu itu bentuknya persegi panjang, tempat masuk/keluar, ada gagangnya, dst. Di sela-sela diskusi informal di Benteng Fort Rotterdam, Makassar beberapa waktu lalu, beberapa orang menjawab seperti itu. Pintu dilihat sebagai benda yang sangat biasa.
Padahal, pintu bisa ditafsirkan lebih dalam lagi. Pintu bisa diartikan gerbang, sebuah gerbang menuju keabadian. Siapa yang ingin menuju surga, maka ia harus rela memasuki sebuah pintu yang bernama kematian. Kendati kematian adalah tema yang sangat berat untuk dibahas, akan tetapi kematian adalah pintu yang sesungguhnya sebelum memasuki dunia kubur.
Ketika kita bosan, cobalah kita melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda. Lihatlah orang-orang yang tidak berdaya di pinggir jalan, peminta-minta, orang yang kakinya rusak, orang yang memiliki kecacatan dalam tubuhnya. Kita melihat itu dengan kacamata kesyukuran. Ah, walaupun saya banyak beban, tapi saya yakin Allah pasti punya rencana untukku. Lihatlah segalanya dengan pendekatan positif, dengan tidak menghakimi orang lain, tidak menyebarkan berita bohong, hoax, dan mendekati manusia dengan rasa kasih dan rasa sayang.
Soal menulis adalah soal kemanusiaan. Kita tidak akan bisa menulis dengan baik jika tak punya rasa kemanusiaan. Tulisan yang baik adalah yang menjaga, merawat, dan memperbaiki, bukan melalaikan, menghancurkan, dan merusak.
Mari coba menulis, terus menulis. Lawan bosan dengan jalan-jalan, kuasai diri sendiri, dan lihat sesuatu dengan kacamata yang berbeda.
UI Depok, 2 Juni 2016

Bertemu Peserta MEP Australia 2016

5 MEP 2016, 2 Alumni Indonesia, 2 Staf Kedubes
Pada Jum'at 27 Mei 2016, saya menghadiri undangan Kedubes Australia untuk makan siang bersama Peserta Muslim Exchange Program (MEP) Australia di Social House Restaurant, Grand Indonesia, Jakarta.
Selain 5 peserta MEP yang ditemani dua staf Kedubes, Mbak Anindita dan Mbak Bethania, dari alumni MEP Indonesia hadir juga Mbak Farinia Fianto (alumni 2005) yg saat ini aktif sebagai Managing Director International Center for Islam and Pluralism (ICIP).
Ini merupakan pertemuan terakhir peserta MEP Australia setelah sekitar 13 hari bertemu berbagai tokoh Indonesia di Jakarta, Bandung, dan Jogja. Besok mereka akan kembali ke Australia.
Lewat program ini, tokoh muda muslim Australia mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan muslim dan budaya Indonesia, pun demikian sebaliknya tokoh Indonesia yang ke Australia, untuk menciptakan kontak antar masyarakat yang lebih erat, dan baik untuk kedua negara. 
Saya rencana ketemu Rowan untuk membahas terkait buku alumni MEP yang sementara saya susun, akan tetapi saya dapat kabar katanya beliau sakit dan sudah kembali ke Melbourne. Teriring doa semoga segera sembuh untuk Mr. Rowan Gould. Syafakallah.

Menghadiri Munas ILUNI UI VII

Pada Sabtu 28 Mei 2016, saya menghadiri Munas VII ILUNI UI 2016 di Gedung I Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok.

Saya hadir mewakili ILUNI UI Wilayah Maluku Utara. Di lembaga baru ini, saya sebagai Wakil Sekjen. 

Pertemuan satu hari ini membahas tentang AD/ART ILUNI UI untuk memperkuat sistem pemilihan e-vote yang akan diselenggarakan pada akhir Juli nanti. 

Pertemuan diadakan dari pagi sampai malam sekitar jam 11.

Dari Depok, saya numpang di mobilnya Mas Guntur Subagja, alumni PSTTI UI, dan lanjut naik taksi ke Kramat Sentiong. 

Endorsement untuk Buku Mukhammad Yusuf

Buku Yusuf
Mukhammad Yusuf, peserta training menulis dan perekrutan FLP Makassar sebulan lalu di Bantimurung, Maros, meminta saya untuk memberikan endorsement bukunya yang berjudul Meniti Langkah Para Mujahid Dakwah. 
Saya merasa senang tentu saja dapat kesempatan untuk terlibat dalam amal saleh seperti ini. Berikut adalah endorsement saya untuk buku Yusuf: 
"Pada tahun 1964, ulama dan penulis masyhur KH.M. Isa Anshary menerbitkan buku "Mudjahid Da'wah" yang salah satu kontennya adalah tentang pentingnya pena dan tinta serta cita dan cinta. Lima puluh dua tahun kemudian (pada tahun 2016), seorang muda dari Makassar, Mukhammad Yusuf, menerbitkan bukunya berjudul "Meniti Langkah Para Mujahid Pena" (MLPMP).
Buku MLPMP ini hemat saya adalah penting tidak hanya dalam konteks perkembangan budaya menulis di kalangan pemuda di Indonesia dan Sulsel, akan tetapi penting karena ditulis oleh seorang muda yang bergiat sebagai aktivis dakwah kampus. Kendati budaya menulis sejatinya telah inheren dalam jejak dakwah pada ulama, tidak semua aktivis dakwah dapat (dan mau) menuliskan ide-idenya dalam tulisan. Di sinilah pentingnya buku Mukhammad Yusuf. Selamat buat Yusuf. Terus menulis, dan tetap jadi pembelajar."
Yanuardi Syukur,
Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate
Divisi Karya Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (FLP)

Untuk Yusuf: Terus belajar, terus menulis. 

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (7): Pengajian Saja Tidaklah Cukup

Ilustrasi Pengajian
Setelah berakhirnya perjuangan syariat Islam di hutan (1965) dan kembali ke masyarakat ramai, Ustad Marzuki Hasan tetap memiliki jama’ah pengajian yang loyal. Tambah hari tambah banyak.
Pada akhir tahun 1968 dan awal 1969, Ustad Marzuki aktif kembali di Persyarikatan Muhammadiyah yang kegiatannya saat itu mengajar dan berdakwah. Beliau pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh dan Ketua Majelis Tarjih di PW Muhammadiyah Sulsel. Sebelumnya pernah menjadi Pimpinan Muhammadiyah Cabang Bontoala yang terletak di belakang Masjid Raya Makassar.
Selain berdakwah di masjid-masjid dan rumah, beliau juga aktif menyampaikan dakwah di Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar.
Saat aktif mengisi pengajian demi pengajian, terpikirkanlah oleh beliau sebuah cita-cita untuk menciptakan kader yang tetap terpelihara lebih lama (tidak sekedar hadir dalam satu-dua pengajian). Pertimbangan agar tidak meminimalisir konfrontasi karena perbedaan pendapat dengan tokoh dan ulama lainnya juga menjadi alasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan khusus untuk itu.
Saat itu, Ustad Marzuki berpikir bahwa perbedaan-perbedaan yang ada haruslah diperkecil, dan hal-hal yang bisa menimbulkan pertikaian haruslah ditinggalkan. Ukhuwah lebih penting ketimbang pertikaian, kebersamaan lebih indah ketimbang perpisahan. Cita-cita ini kemudian bertemu dan menguat ketika pada tahun 1969 ketika diadakan pertemuan antara alim-ulama dengan Pangdam XIV Hasanuddin Brigjen Azis Bustam.
Dalam pertemuan itu, Pangdam menganjurkan agar para ulama mendirikan kembali pendidikan pesantren dengan sistem sebelum perang yang para alumninya kelak bisa mandiri, berakar dan menyatu dengan masyarakat.
“Harapannya kelak pesantren ini menjadi panutan, dan kader-kadernya tersebar di berbagai pelosok,” kata Azis Bustam sebagaimana cerita Ustad Marzuki Hasan kepada Ustad Mudzakkir Arif. Di antara ulama yang hadir ketika, Ustad Marzuki adalah salah seorang yang pertama merealisasikan ide tersebut (Suara Istiqamah, 2004: 6).
Setelah pertemuan dengan Pangdam tersebut akhirnya tercetuslah ide untuk mendirikan pesantren. ”Betul kita sudah beramal, akan tetapi jika tidak ada kader di kemudian hari—karena jama’ah pengajian tidak bisa diharapkan menjadi kader—namun hanya berguna bagi pribadinya, maka perlu adanya pengajian dan pembinaan yang lebih baik lagi,” kata Ustad Marzuki Hasan.
Saat itu, muncul kekhawatiran dalam diri beliau: jangan sampai setelah perjuangan menegakkan Islam di hutan selesai (begitu juga pasca ‘karantina politik’ di Pare-Pare), para jama’ah terpengaruh dengan kehidupan kota.
“Padahal di hutan,” kata beliau, “kita telah menjalankan syariat agama ini.”
Maka bersama dengan jama’ah Masjid Nurul Hidayah Jalan Kapoposang (sekarang: Jalan Andalas) Makassar, tercetuslah ide pendirian pesantren. Badan hukumnya pun dibentuk di rumah Haji Latanrang di Jalan Merpati. Latanrang adalah salah seorang yang berpengaruh ketika itu. “Di rumahnya biasa hadir Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan lain berbagai tokoh lainnya,” kata Ustad Arif Marzuki.
Selain Haji Latanrang, saudaranya yang berprofesi sebagai pengusaha bernama Haji Latunrung juga memiliki sumbangsih dalam penyediaan rumah dan berbagai fasilitas ketika lembaga ini baru saja dibentuk dan masih dalam tahapan mencari lokasi tanah pesantren 0,5 hektar (Suara Istiqamah, 2004: 6).
[Abu Fikri Ihsani]
Foto: Ilustrasi sebuah pengajian

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (6): Produktif Berdakwah Lewat Tulisan

Menulis adalah salah satu tradisi para ulama. Hal ini disadari oleh Ustad Marzuki Hasan, dan olehnya itu ia tidak hanya mencukupkan diri dengan berdakwah lewat lisan. Dakwah lewat tulisan ia lakukan terutama setelah mendirikan Pesantren Darul Istiqamah pada tahun 1970.
Penelusuran Tim Penulisan Biografi KH. Ahmad Marzuki Hasan yang dibentuk oleh Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ustad Mudzakkir Arif, MA (tahun 2006) mendapatkan beberapa informasi terkait buku yang ditulis oleh beliau.
Beberapa di antara karya tulisnya adalah sebagai berikut:
1. Pribadi Muslim
2. Ikhtisar Fiqih Sunnah
3. Man Huwal Mujahid?
4. Tafsir Al Quranul Karim (Bahasa Arab)
5. Miftahud Dakwah (Bahasa Arab, Ikhtisar dari kitab Miftahul Khithabah)
6. Tuntunan Pelaksanaan Shalat (Bahasa Indonesia)
7. Tuntunan Akhlak (Bahasa Indonesia)
8. Akhlakul Karimah (Bahasa Indonesia)
9. Kedudukan Wanita dalam Islam (Bahasa Bugis)
10. Pakaian Wanita dalam Pandangan Islam (Bahasa Bugis)
11. Dasar-Dasar Dinul Islam
12. Sejarah Islam (Bahasa Arab)
13. Tuntunan Khutbah (Bahasa Bugis)
14. Ulumul Quran
15. Kitab Shiyam (Bahasa Bugis)
16. Shalat Malam Sumber Kekuatan Jiwa: Tafsir Tematik QS. Al-Muzzammil (Bahasa Indonesia)
Saat ini buku-buku karangan Ustad Marzuki Hasan telah langka. Beberapa tahun yang lalu, di Maccopa masih ditemukan buku Tuntunan Pelaksanaan Shalat dan Shalat Malam Sumber Kekuatan Jiwa, sebuah buku yang diterbitkan oleh Ustad Muzayyin Arif (kini Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah) berdasarkan transkrip rekaman ceramah pembekalan kursus muballigh yang dibawakan Ustad Marzuki di Sinjai.
Di Darul Istiqamah, ide-ide dan pemikiran keislaman Ust Marzuki masih dipraktikkan sampai sekarang. Sebagai contoh, takbiratul ihram dalam salat Idul Fitri dan Idul Adha yang biasanya dipraktikkan 7 kali pada rakaat pertama, di Darul Istiqamah takbirnya dilakukan hanya satu kali.
Selain itu, dalam akad nikah dan walimah pernikahan pengantin pria dan wanita tidak duduk bersanding di pelaminan. Masing-masing duduk di hadapan undangan pria atau wanita.
[Abu Fikri Ihsani]
Foto: Buku Ustad Marzuki Hasan di antara beberapa buku terbitan Darul Istiqamah Press (DIP) dan Mushaf Istiqamah.

Cara Kita Menghargai Kehidupan

Apakah kehidupan harus dihargai? Jawabannya: ya! Kehidupan harus dihargai.

Sungguh, kehidupan yang kita rasakan saat ini—apapun perasaan itu—adalah anugerah semata dari-Nya. Tak ada yang bisa mematahkan pendapat itu. Atau, dengan kata lain tak ada yang bisa mengatakan bahwa dia lahir ke muka bumi dengan sendirinya; atas usaha sendiri.

Maka, kita harus sadari betul hal ini. Bahwa kita hadir di sini, di bumi yang semakin menua, adalah karena kasih-sayang Tuhan. Lantas, apa yang Tuhan inginkan dari kita?

Para filsuf dari zaman dulu sampai sekarang memikirkan hal ini. Tapi secara umum mereka semua berpendapat bahwa kehidupan ini haruslah dihargai. Kendati di masa lalu tidak semua pendapat para filsuf diterima oleh penguasa, atau dalam kata lain tidak semua pendapat mereka juga mereka praktikkan, tapi pada intinya kita harus menghargai kehidupan. Maka lahirlah berbagai teori seperti demokrasi, yang tidak menafikan pendapat warga. Semua punya pendapat, dan itu semua dihargai.

Lantas, bagaimana cara kita menghargai kehidupan?

Pertama, cintailah sesama. Ini memang agak klise, tapi penting sekali. Mereka yang melakukan penembakan membabi-buta di Paris beberapa bulan lalu, membom gedung-gedung, bahkan rumah ibadat, sejatinya tidak mencintai sesamanya.

Memang, perang adalah mekanisme untuk menciptakan perdamaian. Tapi, perang juga memiliki batas-batas. Artinya, dalam makna fisik, perang sangat terikat dengan tempat dan geografis. Maka tidak dibenarkan membom orang-orang yang berada di negara yang tidak berdosa. Dalam Islam, misalnya, hak hidup seseorang sangatlah dihargai—apapun agama dan kepercayaannya. Karena tujuan perang dalam Islam sejatinya bukan untuk perang, akan tetapi untuk menyebarkan dakwah.

Jadi, mencintai sesama adalah sebuah komitmen untuk menghargai kehidupan.

Kedua, berikanlah sesuatu untuk kemaslahatan. Tuhan tidak meminta kita melakukan banyak hal. Dia Yang Maha Kuasa hanya meminta kita melakukan hal-hal baik saja seperti menyebarkan salam (kesejahteraan), dan tidak berbuat kerusakan. Jika dua poin ini kita amalkan, maka sudah cukup sebenarnya untuk menciptakan hidup yang bahagia. Sebarkan salam, dan jangan berbuat kerusakan.

Sejak lahir tiap kita mungkin tidak tahu kita ini bisa jadi orang maslahat di bidang apa. Bersyukurlah mereka yang bisa sekolah karena paling tidak mereka tahu mata pelajaran apa saja yang mereka unggul. Tapi yang tidak bersekolah tinggi, mereka bisa melihat minat mereka dari aktivitas sehari-hari. Jika minat sudah ada, sudah kuat, maka mereka harus terus maksimalkan minatnya tersebut.

Lama-lama jika kita memanfaatkan minat, kita akan bertemu dengan orang lain yang bervisi sama. Yakinlah bahwa semua kebaikan pasti akan bertemu pada sebuah muara. Seperti juga orang-orang yang senang menulis cepat atau lambat akan bertemu di organisasi atau forum kepenulisan, kehidupan ini juga begitu. Asalkan kita terus berusaha, jangan putus asa, yakinlah selalu ada jalan untuk berkolaborasi dengan orang lain yang bervisi sama.

Dua cara menghargai kehidupan ini sangat asasi. Semua kita bisa melakukannya. Pasti bisa! Ada yang bisa satu kali, dua kali, dan seterusnya. Tapi yang paling penting adalah kita bisa mempertahankan semangat untuk berbagi salam dan tidak melakukan kerusakan. Itu saja sudah cukup untuk menghargai kehidupan yang mulia ini. *


Jakarta, 1 Juni 2016

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...