Selasa, 10 Mei 2016

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (5): Mengajar Anak Berkebun, Beternak, dan Hafal Al-Qur'an

Monyet-monyet di hutan (ilustrasi)
Ketika memutuskan bergabung dengan gerakan Kahar Muzakkar berlandaskan perjuangan Islam, Ustad Ahmad Marzuki Hasan juga membawa serta keluarganya. Salah seorang anaknya bernama M. Arif Marzuki masuk ke hutan di usia 13 tahun.
“Di hutan saya juga mengajar, ikut latihan-latihan dakwah,” kenang KH. M. Arif Marzuki yang juga turut berkebun dan beternak di hutan Mala-Mala, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.
Aktivitas ayahnya sebagai salah seorang menteri membuatnya harus siap jika ayahnya tiba-tiba pergi mengemban tugas.
Ketika masuk hutan, Ustad Marzuki Hasan meminta Arif kecil agar rajin-rajin membaca dan menghafal Al Quran secara otodidak, sendiri. Ketika hafalannya telah sampai 13 juz, Arif kecil senantiasa ikut ayahnya.
“Di umur-umur begini, anak tidak bisa dilepas,” kata Ustad Marzuki.
Di masa-masa puber itu, Arif kecil dibimbing ayahnya secara langsung maupun tidak langsung hingga di usia 18 tahun Arif menyelesaikan hafalannya di hutan.
Bayangan seramnya hutan tidaklah demikian adanya. Selama di hutan, cerita M. Arif Marzuki, ia bertemu dengan berbagai binatang buas seperti ular, anoang, rusa, dan lain sebagainya, akan tetapi ia merasa tidak terlalu takut.
“Di dekat saya juga banyak monyet bermain-main,” kenang Arif lagi.
Kenapa Ustad Marzuki Hasan mewanti-wanti kepada anaknya, salah satunya Arif Marzuki muda agar menghafal Al Quran?
Selain agar Al-Qur’an menjadi pedoman hidup, hafalan Al-Qur’an juga sangat membantu dalam berdakwah kepada masyarakat. Hingga saat ini, di Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa Maros, pengajian tafsir masih dibawakan langsung oleh Ustad Arif Marzuki dengan bahasa yang ringan disertai contoh-contoh faktual.
Selama di hutan, selain bertani, beternak dan menghafal Al-Qur’an, Ustad M. Arif Marzuki juga tidak kehilangan jiwa muda, salah satunya dalam berpenampilan.
“Waktu itu rambut saya panjang sebahu. Ketika ke Jakarta, saya pakaikan ikat kepala.”
[Abu Fikri Ihsani]

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (4): Menjadi Penengah, Mendirikan Universitas

Kahar Muzakkar
Dalam buku ‘Melawan Takdir’, Prof. Dr. Hamdan Juhannis (2015: 87-88) menulis bahwa suatu ketika di hutan terjadi perbedaan pendapat antara Kahar Muzakkar dengan KH. Muhammad Rapi Sulaiman , seorang ulama besar kharismatik yang pernah tinggal 15 tahun di Mekkah dan juga pembina di Masjid Mujahidin Bone.
Perselisihan Pak Kahar dengan Petta Kalie (biasa dipanggil ‘Tuan Qadhi’ karena pernah menjadi Qadhi/hakim Pengadilan Agama di Bone) disebabkan pakaian Petta Kalie yang berjubah Arab.
Menurut Pak Kahar, orang Islam tidak harus berpakaian Arab karena Islam tidak identik dengan Arab.
“Menjadi pejuang juga tidak selalu bermakna pakaian loreng,” balas Petta Kalie.
Saat itu, Pak Kahar terbiasa menggunakan pakaian loreng ala tentara karena sebelumnya ia pernah terlibat aktif dalam perang gerilya dan menjadi tentara Indonesia.
Dalam perdebatan masalah pakaian ini, akhirnya ditengahi oleh Ustad Marzuki Hasan dengan membujuk Petta Kalie untuk mengganti sementara pakaian Arab-nya. “Perdebatan-perdebatan panas seperti ini jika tidak ditengahi bisa mengakibatkan rusaknya kebersamaan,” demikian tulis Prof. Hamdan Juhannis, Guru Besar Sosiologi UIN Alauddin Makassar.
Selain menjadi penengah, kiprah Ustad Marzuki Hasan juga tidak dilepaskan dalam dunia pendidikan. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuatnya mendirikan universitas. Berbeda dengan universitas saat ini yang memiliki lokasi tetap, universitas di hutan lokasinya berpindah-pindah dengan segala keterbatasan yang ada.
Ketika wilayah mereka diketahui pemerintah, mereka memindahkan lagi kampusnya ke tempat yang lebih aman. Akan tetapi, walau berpindah-pindah, ada proses belajar-mengajar yang intens di situ. Untuk meningkatkan kapasitas tenaga pengajar, saat itu beberapa orang dalam kabinet Kahar Muzakkar juga disekolahkan ke luar negeri.
[Abu Fikri Ihsani]

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (3): Masuk Hutan Memperjuangkan Islam

Dr. Mohammad Natsir
Untuk menyelamatkan nasib para mantan pejuang gerilya di Sulsel, maka pada tahun 1950-an, mantan pengawal Presiden Sukarno kelahiran tanah Luwu, Kahar Muzakkar, berencana melakukan perlawanan terhadap Pemerintah yang waktu itu dekat dengan Komunis.
Seorang kurir pun dikirim Pak Kahar kepada Ustad Marzuki.
“Ustad diminta Pak Kahar untuk bergabung,” kata sang kurir.
Sebelumnya, seorang kurir pernah datang ke Ustad Marzuki, akan tetapi beliau tidak setuju masuk ke hutan jika perjuangannya bukan untuk memperjuangkan Islam.
“Jika bukan memperjuangkan Islam, saya tidak akan masuk hutan!” kata Ustad Marzuki pada sang kurir.
Tak lama setelah itu, Kahar Muzakkar mengubah strategi perjuangannya berdasarkan Islam. Kurir selanjutnya pun datang mengabarkan bahwa Pak Kahar akan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan. Ustad Marzuki akhirnya setuju, dan sebelum bergabung di hutan beliau berpamitan pada Mantan Perdana Menteri Indonesia ke-5 (1950-1951) dari Partai Masyumi, Dr. Mohammad Natsir yang juga pernah berselisih paham dengan Presiden Soekarno karena tidak akomodatif terhadap umat Islam. Pada 10 November 2008, Natsir diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Dari Makassar, Ustad Marzuki melanjutkan perjalanannya ke Sinjai. Antara Sinjai dan Bulukumba (di sebuah daerah yang bernama Tanete) Ustad Marzuki Hasan dijemput untuk bergabung di hutan Sulsel bersama pasukan Kahar Muzakkar.
Perjalanan dari Sinjai ke Pusat Pemerintahan Darul Islam di Palopo memakan waktu yang tidak cepat. “Lima hari perjalanan dari Tanete waktu itu,” cerita Ustad Marzuki.
Tiba di Palopo, di sana telah bergabung berbagai unsur masyarakat. Mayoritas beragama Islam. “Ada juga yang Kristen dan pengikut ideologi Komunis.”
Selama di hutan, beliau ikut berjuang bersama Pak Kahar kurang lebih 15 tahun (1950-1965). Suka duka mereka lalui bersama. Sebagai pejuang, mereka harus bertahan hidup dengan memakan apa adanya di hutan. Dalam masalah keagamaan, Ustad Marzuki kerap menjadi rujukan ketika ditemukan masalah keagamaan di seantero hutan Sulsel dan Sultra tersebut.
Dalam kehidupan yang sulit dan terbatas di hutan, salah satu yang sangat menarik dari Ustad Marzuki Hasan adalah beliau tetap menjaga hafalan Al Quran, bahkan salah seorang anaknya, M. Arif Marzuki (lebih dikenal dengan KH. M. Arif Marzuki), menamatkan hafalan Al Quran di hutan pada usia 18 tahun. Salat malam (qiyamullail) senantiasa ia dirikan untuk menguatkan hati dan fisik dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dalam sehari-hari, Ustad Marzuki dikenal lembut dalam ucapan, namun tegas dalam perjuangan. Tak heran, karena memiliki ilmu dan ketegasan itulah maka Pak Kahar pernah memberikannya amanah selain sebagai Dewan Fatwa (dibentuk tahun 1954 menurut Prof. Hamdan Juhannis dalam disertasi PhD-nya ‘The Struggle for Formalist Islam in South Sulawesi: from DI to KPPSI’ di ANU, Australia), juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, dan Menteri Dalam Negeri—dua jabatan strategis dalam informasi dan manajemen pemerintahan dalam negeri.
Posisi penting Ustad Marzuki juga terlihat dalam ucapan Kahar Muzakkar sebagai pemimpin tertinggi, “Perjuangan ini saya fisiknya dan Ustad Marzuki ruhnya.” (bersambung)
[Abu Fikri Ihsani]

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (2): Menolak Perjudian pada Perayaan Penyerahan Kedaulatan

Momentum penyerahan kedaulatan Indonesia dari Kerajaan Belanda lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 dirayakan di banyak tempat, termasuk di Sinjai. Dalam bukunya "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" (1980), M. Zein Hassan, Lc. Lt menulis bahwa lewat diplomasi Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim ke berbagai organisasi di Timur Tengah, salah satunya pertemuan dengan Pemimpin Ikhwanul Muslimin Hasan Al-Banna, akhirnya kedaulatan Indonesia pun diakui oleh dunia.
Di Sinjai, perayaan tersebut diadakan dalam bentuk pasar malam. Namun yang disayangkan dalam pasar malam itu adalah adanya perjudian. Sebagai aktivis Masyumi dan Wakil Ketua Muhammadiyah Sinjai, Ustad Marzuki Hasan tidak setuju dengan model perayaan seperti itu karena berpatokan pada hadis Nabi, “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).
Bersama beberapa koleganya, beliau pun menyampaikan ketidaksetujuannya kepada pemerintah setempat yang disampaikan pula kepada beberapa qadhi (hakim) di Sinjai dan kakaknya, Abdullah Hasan. Resolusi ketidaksetujuan itu dikirimkan juga ke Badan Tinggi Negara Indonesia Timur (NIT), akan tetapi tidak ditanggapi secara serius. Bahkan, ada kesan pemerintah menyetujui pasar malam dengan adanya perjudian itu yang menurut Ustad Marzuki, tidak sesuai dengan kaidah Islam.
Karena merasa kepentingannya terganggu, maka kelompok yang merasa terganggu pun marah, termasuk juga tentara. “Tentara sekarang sudah marah sekali. Ustad tidak bisa menerima unsur pengampunan,” demikian kata seseorang sebagaimana yang diceritakan oleh Ustad Marzuki Hasan kepada cucunya Ustad Mudzakkir Arif.
Beliau menghadap ketua Masyumi Sulsel yang saat itu menjabat Wakil Walikota Makassar untuk meminta masukan dan pertimbangan. Akhirnya, Ustad Marzuki diminta untuk hijrah ke Jakarta dengan segera. Di Jakarta, beliau bertemu Ketua Masyumi Dr. Mohammad Natsir di sebuah kantor di Jalan Kramat Raya. (bersambung)
[Abu Fikri Ihsani]

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (1): Jejak Pendidikan

KH. Ahmad Marzuki Hasan
Pendiri Pesantren Darul Istiqamah KH. Ahmad Marzuki Hasan dilahirkan pada 31 Januari 1917 di kota Sinjai, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Kyai Hasan, seorang Qadhi (hakim) di Sinjai Timur, sedangkan ibunya bernama Syarifah Aminah.
Beliau adalah figur yang sejak muda aktif menimba ilmu dari berbagai tokoh dan ulama. Tercatat beliau pernah belajar di Pesantren As'adiyah Sengkang Wajo, kemudian mengaji kitab pada Prof Darwis Zakaria, seorang guru asal Sumatera Barat yang mengajar di Perguruan Datumuseng Makassar.
Bersama Prof Darwis, Ustad Marzuki mempelajari kitab Fathul Qadir karangan Imam Asy-Syaukani, seorang ulama, imam, mufti dan syaikhul Islam yang keluasan ilmunya digambarkan dalam kalimat “ilmunya seperti lautan dan pemahamannya seperti matahari” (Fathul Qadir, jilid 1: 4).
Setelah belajar dari Prof Darwis, Ustad Marzuki kembali ke kampung halamannya di Sinjai. Di sana, beliau mulai mengajar dan menggiatkan dakwah.
Menurut beliau, ada dua aktivitas yang sangat mulia di dunia ini, yaitu mengajar dan berdakwah. Kecintaannya pada dua aktivitas mulia tersebut tercermin dari ucapan beliau suatu ketika, “...saya ingin sekali mati saat mengajar atau berdakwah.” (Bersambung)
[Abu Fikri Ihsani]

Mantan Dubes RI untuk Rusia Berkunjung ke SPIDI


Maros - Mantan Dubes RI untuk Federasi Rusia yang juga Mantan Menteri Hukum dan HAM RI Prof. Dr. H. Hamid Awaludin, SH, LLM, berkunjung ke Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) pada Selasa, 10 Mei 2016.
Ditemani Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Dr. H. Aswar Hasan, M.Si, Hamid menyatakan apresiasinya kepada SPIDI.
"Ini sekolah yang sangat modern dan sangat memperhatikan lingkungan," kata Hamid kepada Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif yang juga ditemani Ketua Yayasan Pendidikan Darul Istiqamah Ust Muthahhir Arif dan staf Badan Eksekutif Pesantren.
Menurut doktor lulusan American University tahun 1998 tersebut, lingkungan kampus SPIDI sangat baik jika ditanami dengan pohon anggrek dan juga pohon cemara di sekitar danau.
Beliau juga akan memberikan satu paket bantuan untuk menciptakan ruang kelas yang lebih modern, dan cocok untuk mengembangkan kapasitas santri SPIDI.
Di sela-sela kunjungannya, Mantan Anggota KPU kelahiran Pare-Pare 5 Oktober 1960 tersebut juga memberikan nasihat kepada para santri.
"80 persen orang sukses di dunia ini bukan karena harta warisan, akan tetapi karena usaha; 5 persennya adalah keberuntungan; dan 15 persennya adalah gabungan dari berbagai hal seperti warisan," ujarnya.
[Abu Fikri Ihsani]

Kamis, 05 Mei 2016

Ibn Hazm

Perangko Ibn Hazm (sumbera: ballandalus.wordpress.com)
Ibn Hazm Al Andalusi (994-1064) menulis sekitar 400 buku atau sekitar 80.000 halaman yang jika dirata-ratakan tiap buku sebanyak 200 halaman. Ditulis tangan, tentu saja. Namun yg tersisa hingga saat ini hanya 40 judul karena kerusuhan/peperangan yg melanda negerinya.
Jika bisa disebut sebagai keberuntungan, maka keberuntungan beliau adalah karena dibesarkan dalam lingkungan elite (kakeknya pernah jadi menteri, beliau juga pernah jadi menteri).
Akan tetapi, bukunya lebih banyak jadi pasca ia memutuskan mundur dari politik dan memilih mencari ilmu dan ketenangan hidup di beberapa tempat.
Sejarah Ibn Hazm, penulis prolifik dari Spanyol ini baik untuk jadi teladan bagi mereka yg ingin menulis, tentu saja selain Ibnu Jarir At Tabari yg sangat produktif pula dalam menghasilkan karya.
Saat ini kita sangat terbantu dengan kemudahan akses pada guru atau tokoh/pakar via internet. Juga banyak sekali sumber buku di internet yg dapat diakses untuk menulis buku.
Kita tidak perlu tinta untuk menulis, seperti Ibn Hazm dulu. Tak perlu harus dipenjara dulu seperti Ibn Taimiyyah, agar bisa menulis. Lewat laptop dan berbagai perangkat elektronik lainnya, seharusnya bisa memudahkan para peminat penulisan buku untuk menuntaskan bukunya tanpa harus berpikir apakah buku ini akan diterima penerbit atau tidak, best seller atau tidak.
Menulis sebaik-baiknya adalah penting.
Karena tiap buku memiliki takdirnya masing-masing.
Selama kita menulis untuk menyebarkan kebaikan, itu tentu saja sudah membuat hati gembira. Karena telah bisa meneruskan karunia yang Tuhan titipkan kepada kita untuk dibagikan kepada orang lain.*

Rabu, 04 Mei 2016

Bersama MASIKA ICMI Sulsel

Peserta Pelatihan
Setelah mengikuti pelatihan menulis jurnal di UMI yang dibawakan oleh Dr Ismail Suardi Wekke, saya menikmati traktiran makan malam yang lezat dari Dekan Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI, Pak Sakir Sabara. Bersama teman-teman MASIKA ICMI Sulsel lainnya (saya kebetulan hanya sebagai peserta pelatihan), saya menikmati masakan yang lezat tersebut di Hotel Clarion.

Setelah makan di Clarion
Sakir Sabara adalah salah satu dekan yang kreatif di UMI. Ke depan, sepertinya ia bisa menjadi Rektor UMI dan menyulap kampus UMI semakin baik dan berkualitas internasional.

Memiliki banyak teman adalah baik. Kehadiran saya di kegiatan MASIKA tidak sengaja. Diajak oleh Ismawan Amir untuk jadi peserta. Saya pun menyiapkan tulisan jurnal untuk dibedah di acara, akan tetapi tidak sempat dikritik oleh Dr Ismail. Ke depan, saya tertarik untuk menulis lebih banyak artikel jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Terimakasih kepada MASIKA ICMI Sulsel, Dr. Ismail Suardi Wekke, dan Dekan FTI UMI.

Menghadiri Launching Batik Girl

Suasana Launching
Lusia Efriani, salah seorang alumni MEP memiliki program pemberdayaan wanita penghuni Lapas untuk membuat batik. 

Pada Jumat, 29 April 2016 saya menghadiri kegiatannya yang dihadiri juga oleh Ibu Alison Purnell (Perwakilan Australia-Indonesia Institute, Kedutaan Australia) dan Mas Sulis Indiarto dari Bidang Kebudayaan Kedubes Australia. 

Di Facebook saya menulis sebagai berikut:

"Launching 1000 Batik Girl for Indonesia di Kampus STIE YPUP, Jln Andi Tonro 17, Makassar. Sebuah program yg diinisiasi oleh Lusia Efriani Kiroyan (Alumni MEP 2012) memberdayakan para penghuni Lapas Wanita untuk membuat boneka cinderella. Lusia menetap di Batam, tapi aktif tdk hanya di beberapa kota di Indonesia tapi juga di luar negeri."

Anak saya, Anisah dan Afifah juga dapat boneka ini, gratis dari Lusia Efriani. Terimakasih Lusia atas kebaikannya. Semoga sukses kegiatannya. 

Ngopi Diskusi bersama Dr Hidayat Nahwi Rasul

Berfoto di sela diskusi

Pada 27 April 2016 saya berdiskusi dengan pakar telekomunikasi Dr Hidayat Nahwi Rasul di Excelso, Mal Panakkukang, Makassar.

Lewat status facebook, Dr Hidayat menulis, 

"Diskusi ringan berusaha menemukan Wisdom untuk masadepan atas kemajuan ICT sbg backbone peradaban. Apakah akumulasi saving sosial dg keberadaan ICT membantu memperbaiki peradaban manusia Makassar 50 tahun akan datang?"

Hasil dari pertemuan ini adalah terbentuknya sebuah wadah Makassar Wisdom Institute (MWI) yang berencana akan menerbitkan buku berisi sejarah kota Makassar dulu, kini, dan rencana 50 tahun yang akan datang.

Alumni Australia dan Buku Alumni MEP

Peserta Acara AII 
Dua hari ini saya mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk terus belajar dan menyerap berbagai kebaikan dari orang lain. Tadi malam (Kamis, 28/04) saya menghadiri undangan Konjen Australia di Makassar Mr Richard Mathews dalam pertemuan alumni Australia dengan Australia-Indonesia Institute (AII) di Hotel Four Points, Jln Landak Baru, Makassar.
Hadir dalam kegiatan ini Konjen Australia, Prof. Tim Lindsey, dan Prof. Greg Fealy dan beberapa anggota dewan AII lainnya, perwakilan dari Kedubes Australia di Jakarta dan Konjen Makassar, serta para alumni berbagai program Australia seperti ADS, IAYEP, dan MEP.
Secara umum, ada sekitar 300-an alumni Australia di Makassar, dan seratusan di antaranya adalah dosen di Unhas.
Pertemuan tadi malam juga semakin baik ketika saya bertemu beberapa senior yg unggul seperti Dr Irfan Syamsuddin, Dr Abdullah Sanusi, IbuNuvida Raf, dan juga kawanku sesama kos di Pondok Toris Jln Bung, Tamalanrea, Arif Supam Wijaya.
Foto bersama setelah breakfast
Pagi ini (Sabtu, 29/04), secara khusus saya bertemu dengan Prof. Tim Lindsey, Prof. Greg Fealy, Ibu Alison Purnell, Mas Sulis, dan Dr Novi untuk membicarakan ter
kait buku alumni Program Pertukaran Tokoh Muda Australia-Indonesia (Muslim Exchange Program, MEP) yang draft awalnya telah selesai.
Puluhan alumni MEP Indonesia telah ambil bagian dari menuliskan pengalamannya, dan sementara ini saya menunggu kiriman tulisan lainnya dari rekan-rekan MEP Australia yang dikoordinir oleh Mr Rowan Gould dan Mrs Brynna Rafferty-Brown. Beberapa tulisan MEP Indonesia dikoordinir oleh Ibu Rita Pranawati, Sekretaris KPAI.
Listen to me, kata Dr Irfan Syamsuddin
Beberapa rekan yang tulisannya telah ada di saya adalah sebagai berikut: Cucu Surahman, Lisa Noor Humaidah, Fauza Masyhudi, Sari NarulitaAbdul Hakim WahidSiti Rohmanatin FitrianiErna Wati AzizLenny LestariSari Wulandari, Mohammad Hasan Basri, Rohman Al BantaniRidwan Al-Makassary, Farinia Fianto, Said Muniruddin, Ahmad Saifulloh, Choiril Chairil Anwar ZmSukron Ma'munFeby Indirani, Abdul Mu'ti, Rita Pranawati, Lusia Efriani Kiroyan, Nihayatul Wafiroh, Hilman Latief, Lily Ardas, Fajar Riza Ul Haq, Bernando J. Sujibto, Hyder Gulam, Zacky Umam, Anisia Kumala, Subhan Setowara, Julia Novrita, Ahmad Imam Mujadid Rais, Deni Wahyudi Kurniawan, Lanny Octavia, dan Elis Setyawan. Saat ini, saya juga masih menunggu tulisan dari alumni MEP lainnya, baik Indonesia maupun Australia. *

Profil Saya di Laman Agupena

Crop tulisan Ibu Roswita
Saya termasuk baru di organisasi Agupena. Maka, saya terus belajar dari banyak orang, termasuk dari pengurus Agupena. 

Pada tahun 2016 ini saya dipercayakan sebagai Sekretaris Munas Agupena yang diselenggarakan di Tangerang Selatan akhir Juli. Begitu hasil rapat Agupena yang diadakan setelah pertemuan dengan Kementerian PPPA di Hotel Morrissey Jakarta Pusat. 

Gambar yang ada di tulisan ini merupakan sebuah crop yang ditag oleh Ibu Roswita Aboe di facebook. Untuk mendokumentasikan, saya coba posting di sini. 

Berikut adalah status Ibu Roswita yang juga pengajar di Universitas Khairun, sekaligus komentar saya di bawahnya.

"Para guru dan tenaga pengajar yang punya minat menulis dapat mengirimkan tulisannya ke website AGUPENA - Asosiasi Guru Penulis Indonesia yang telah berkiprah secara nasional. Agupena memiliki beberapa cabang sampai ke daerah termasuk Maluku Utara. Silahkan cek www.agupena.org lebih lanjut."
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
Komentar
Yanuardi Syukur Terimakasih banyak atas tautan tulisan Ibu Roswita Aboe. Agupena adalah salah satu media untuk belajar. Di sini, bertemu banyak peminat literasi (baca-tulis) yg saling berbagi dan support untuk sama-sama maju.

Bersama Kawan Baik di ToWR FLP

Sesi materi saya
Pada Sabtu, 30 April 2016 saya diminta membawakan materi cara menulis non-fiksi. Materinya telah saya kirimkan ke panitia, dan dibagikan, maka saat presentasi saya bercerita pengalaman saja. 

Saya merasa beruntung bergabung dengan FLP karena di lembaga inilah saya mulai belajar menulis dan menerbitkan buku. Kepada seniorku yang banyak berjasa di masa awal FLP Makassar, saya mengucapkan terimakasih.

Foto bersama
Setelah membawakan materi, saya berfoto bareng dengan kawanku yang baik sesama pemateri: S Gegge Mappangewa, Hamran Sunu, dan Fakhruddin Ahmad. Foto bersama Ketua Panitia Training Perekrutan FLP Makassar Fadhel. Adapun foto tersebut diambil oleh peserta ToWR Riskawati Khadijah. 

Untuk bisa menulis, menurutku ada dua kuncinya. Pertama, usaha yang tekun untuk menulis. Kedua, berteman dengan sesama menulis. Sampai sekarang saya tetap mempertahankan dua hal penting ini. 



Mengenal Lebih Dekat Fakhruddin Ahmad (Ketua FLP Sulsel 2016-2018)


Fakhruddin Ahmad
Fakhruddin Ahmad (38 tahun), terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulsel periode 2016-2018 dalam Musyawarah Wilayah yang digelar pada Ahad, 1 Mei 2016 di Wisma Bhayangkara, Bantimurung Maros, menggantikan Ketua sebelumnya, Dikpa Lathifah.

Fakhruddin yang biasa disapa Ustad Fahrul atau Daeng Silele menjadi ketua FLP Sulsel yang ke-8 meneruskan kepemimpinan ketua-ketua sebelumnya, yaitu Rahmawati Latief (2001-2004), Yanuardi Syukur (2004-2006), S. Gegge Mappangewa (2006-2008), Sultan Sulaiman (2008-2010), Fitrawan Umar (2010-2012), Supriadi Herman (2012-2014), dan Dikpa Lathifah (2014-2016).

Fakhruddin Ahmad lahir pada 6 Agustus 1978. Awalnya ia aktif di FLP Cabang Maros yang diketuai oleh Abdul Asis Aji, kemudian aktif menjadi pengurus FLP Sulsel sebagai Koordinator Kaderisasi. Setamat dari Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, ia menjadi guru dan staf khusus Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros.

Bergabungnya Fakhruddin di FLP Sulsel menjadi kekuatan tersendiri bagi FLP. Paling tidak ia memberikan pendekatan yang berbeda dengan training-training kepenulisan yang pernah diadakan sebelumnya. Training kepenulisan FLP kemudian disusun tidak dengan berfokus pada materi dan latihan-latihan menulis, tapi juga diselingi dengan berbagai permainan (games) yang menarik dan inspiratif.

Fakhruddin juga hingga saat ini masih aktif sebagai anggota Divisi Rumah Cahaya Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP periode 2013-2017 di bawah kepemimpinan Sinta Yudisia. Kecintaannya pada dunia baca-tulis membuatnya begitu aktif tidak hanya pernah menjadi pebisnis buku, tapi juga sebagai pelatih dan motivator kepenulisan.

Selain di FLP, Fakhruddin juga pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pramuka, Persatuan Aksi Mahasiswa Makassar Indonesia (PAMMI), dan Pemuda Muhammadiyah. Selain itu, ia juga mendirikan lembaga Smart Indonesia, sebuah lembaga training SDM. 

Pada 27 Maret 2006, Fakhruddin pernah menulis sebuah opini menarik berjudul “Membangun Peradaban Menulis” di harian Fajar (JPPN group). “Peradaban manusia banyak dipengaruhi oleh tulisan. Jutaan kitab, artikel, karya tulis, karya sastra, diktat, jurnal ilmu pengetahuan, silih berganti mengisi sejarah manusia, masa ke masa. Seyogiyanya, menulis pun menjadi budaya, gerakan massal, kebiasaan generasi kini dan esok, hobi para akademik, kesukaan berbagai lembaga profesi dan individu. Selaiknya, menulis menjadi peradaban,” demikian tulisnya.

Selanjutnya, masih dalam tulisan yang sama, ia menukik pada potret dunia kepenulisan di Sulsel yang masih jauh dari menggembirakan. Salah satu faktornya, katanya, “karena budaya menulis belum membumi di semua level pendidikan dan profesi.” Ia mencontohkan, bahwa guru bahasa Indonesia di kelas-kelas belum mampu menjadi motivator bagi siswamnya. Kalaupun ada, kata dia lagi, tugas menulis tersebut hanya berputar pada tugas-tugas dari buku pegangan atau text-book, lomba-lomba karya tulis ilmiah, atau penelitian yang berkaitan dengan kurikulum.

Selain pernah menulis di Fajar, Fakhruddin juga pernah mendirikan Buletin Platonik (FLP Maros), dan aktif sebagai Pemimpin Redaksi Suara Istiqamah, sebuah media Pesantren Darul Istiqamah yang didirikan pada masa kepemimpinan Ustad Mudzakkir Arif, MA. Ia juga pernah menerbitkan buku seperti Membaca Semesta (buku motivasi), Cinta Bahasa Jiwa (buku panduan), Cinta Platonik (antologi puisi), dan Gelas Retak (antologi cerpen).

Saat ini, amanah kepemimpinan FLP Sulsel berada di tangan Fakhruddin Ahmad. Bagaimana mengaktifkan berbagai cabang dan ranting FLP, menjaga kualitas karya tiap anggota, serta menghasilkan para penulis Sulsel berada di tangan Daeng Silele.

Paling tidak, hingga tahun ke-16 ini FLP Sulsel memiliki berbagai sumber daya potensial seperti Rahmawati Latief yang seorang dosen Creative Writing pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin, S. Gegge Mappangewa yang juara 1 lomba novel Republika (penulis Lontara Rindu), Hamran Sunu (cerpenis, kritikus film/emerging Writer Makassar International Writers Festival 2011), Fitrawan Umar (penulis novel Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan) yang jebolan Ubud Writers and Readers Festival (2013), sang juara nasional guru berprestasi Baharuddin Iskandar (penulis Atonia Uteri) dan berbagai nama lainnya yang lebih muda seperti Muhammad Nursam, Aida Radar, Andi Batara Al Isra, Jumrang, Azure Azalea, Isma Ariyani Iskandar, Bulqiah Mas’ud, Muhammad Hidayat, Muhammad Asriady, dan seterusnya.

Di tahun ke-16 ini, FLP Sulsel sebagai lembaga kepenulisan termasuk aktif mencetak para penulis dengan berbagai karya, baik tulisan satu orang atau beberapa orang (antologi). Kemitraan yang terjalin juga tidak hanya satu-dua lembaga, tapi telah berjalan lebih luas dengan bekerjasama dengan kampus-kampus, korporat, dan media massa cetak maupun elektronik. Bahkan penulis nasional yang juga Direktur Sekolah Athirah Makassar Edi Sutarto turut aktif sebagai Pembina FLP Cabang Makassar. 

Kita berharap, FLP Sulsel di bawah kepemimpinan Fakhruddin Ahmad aka Daeng Silele bisa melejitkan lembaga ini, sekaligus melahirkan banyak penulis sekaligus karya bernas yang lahir dari tanah Sulawesi Selatan. * Yanuardi Syukur

              

Fitrawan Umar: Perencana Kota yang Mencoba Mengerti Perempuan

Fitrawan dan salah satu bukunya

“Perempuan sulit dimengerti?
Ah… nggak juga. Justru lelaki yang membingungkan.

“Yang sulit dimengerti adalah perempuan. Tapi yang susah ditebak maunya apa, adalah lelaki.

Begitu dua komentar untuk buku Fitrawan Umar yang diposting di laman Kompasiana.
Minggu 13 Desember 2015 adalah salah satu hari yang bersejarah bagi FLP Sulsel. Salah seorang aktivisnya, Fitrawan Umar meluncurkan novelnya “Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” (YSDAP), di Lantai Dasar Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar. Fahruddin Ahmad dan Azure Azalea menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.
Sebelumnya, Fitrawan telah menerbitkan buku berjudul “Roman Semesta”, kumpulan syair yang telah dimusikalisasi oleh seorang penyanyi di Kota Pelajar Jogja, “Catatan Mahasiswa Biasa”, “Sepotong Cokelat dan Cerita-Cerita yang lain” (bersama Rasdianah nd dan Supriadi Herman), dan beberapa tulisan lainnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Fitrawan adalah salah seorang penulis muda berbakat asal Pinrang. Selain pernah memimpin FLP Sulsel (2010-2012), ia juga aktif menulis di berbagai media massa cetak maupun elektronik, selain menulis buku. Ia juga menghidupkan Majalah Sastra Salo Saddang, yang diperuntukkan untuk pelajar dan generasi muda di Kabupaten Pinrang (Tribun-timur.com, 11/12/2015).
Pada tahun 2013, Fitrawan Umar terpilih sebagai penulis undangan di Festival Sastra Internasional Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).
Fitrawan menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota pada Fakultas Teknik Unhas, kemudian menyelesaikan S2 Ilmu Lingkungan UGM.
Paling tidak, tulisan-tulisan Fitrawan Umar berkisar pada beberapa tema seperti: perencanaan kota, lingkungan hidup, literasi, mahasiswa, dan cinta. Dalam salah satu tulisannya berjudul “Surat Cinta untuk DIA”, Fitrawan memberikan kritikan sekaligus masukan kepada pasangan pemenang Pilkada Kota Makassar: Danny Pomanto-Syamsu Rizal (DIA).
Fitrawan Umar menulis:
“Pengkaji Urban Studies sudah sangat sering membincangkan soal hubungan “mesra” perencana dan politik. Penguasa kota membutuhkan peran perencana dalam merancang kota sebagaimana kapabilitas yang melekat padanya. Perencana (arsitek) kota telah melalui suatu kualifikasi ilmiah tertentu untuk mengetahui arah perkembangan dan pengembangan kota yang lebih baik di masa mendatang.
Sebaliknya, para perencana juga membutuhkan suatu kekuatan politik atau dukungan penguasa kota agar pikiran dan hasil-hasil kajiannya dapat bermanfaat dan dioperasionalkan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah kota. Kajian riset para perencana yang tidak disokong oleh penentu kebijakan perkotaan hanya akan menjadi lembar-lembar dokumen yang dibiarkan menumpuk tidak berguna. 
Kemenangan Bapak di Pilwakot Makassar mempunyai arti bahwa Anda telah menempati posisi di mana perencana dan politik telah menyatu-padu.
Menjabat Walikota Makassar nanti, Bapak sudah harus meninggalkan pola pikir dan kerja arsitek bangunan. Tugas Bapak adalah arsitek peradaban!(Kompasiana.com, 24 Juni 2015)
Dalam sebuah sajaknya, Fitrawan Umar juga menulis tentang kesepian, atau mungkin kesedihan atas kehilangan. Dalam “Kenangan Pada Jendela” ia menulis sebagai berikut:
Banyak nama yang kita tulis
pada jendela usai hujan turun
titik-titik air yang terhapus
berganti nama-nama yang muncul dalam ingatan
yang terpendam dalam kenangan
Selepas itu, titik-titik air berpindah ke mata
(Kompasiana.com, 24 Juni 2015)
Fitrawan Umar adalah ketua panitia Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015 yang menghadirkan Sastrawan Taufiq Ismail, Novelis Helvy Tiana Rosa, Novelis Habiburrahman El Shirazy, Ustad yang juga penulis buku-buku keislaman Salim A. Fillah, Ketua FLP Pusat Sinta Yudisia, jurnalis Maimon Herawati, Ustad Ahmad Al-Habsy, penulis yang juga traveler Rahmadiyanti Rusdi, Kepala Sekolah Athirah Makassar Edi Sutarto dan Pemenang Lomba Novel Republika S. Gegge Mappangewa. Kegiatan berskala nasional diadakan di kampus Unhas, UNM, dan UIM.
Sebagai salah seorang penulis muda Sulsel, kita berharap Fitrawan Umar dapat terus menghasilkan karya-karya bernas berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan dalam bahasa ibu, yaitu bahasa Bugis yang sangat berguna sebagai pewarisan peradaban luhur orang Bugis-Makassar.
Setelah mengikuti event kelas internasional Ubud Writers di Bali, Fitrawan tentu saja memiliki kesempatan yang lebih untuk mengikuti event-event kelas internasional lainnya seperti International Writing Program yang diadakan di University of Iowa, Amerika, setelah sebelumnya Asma Nadia dari FLP menjadi satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang pada program tersebut. * Yanuardi Syukur 

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...