Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (5): Mengajar Anak Berkebun, Beternak, dan Hafal Al-Qur'an

Gambar
Ketika memutuskan bergabung dengan gerakan Kahar Muzakkar berlandaskan perjuangan Islam, Ustad Ahmad Marzuki Hasan juga membawa serta keluarganya. Salah seorang anaknya bernama M. Arif Marzuki masuk ke hutan di usia 13 tahun. “Di hutan saya juga mengajar, ikut latihan-latihan dakwah,” kenang KH. M. Arif Marzuki yang juga turut berkebun dan beternak di hutan Mala-Mala, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Aktivitas ayahnya sebagai salah seorang menteri membuatnya harus siap jika ayahnya tiba-tiba pergi mengemban tugas. Ketika masuk hutan, Ustad Marzuki Hasan meminta Arif kecil agar rajin-rajin membaca dan menghafal Al Quran secara otodidak, sendiri. Ketika hafalannya telah sampai 13 juz, Arif kecil senantiasa ikut ayahnya. “Di umur-umur begini, anak tidak bisa dilepas,” kata Ustad Marzuki. Di masa-masa puber itu, Arif kecil dibimbing ayahnya secara langsung maupun tidak langsung hingga di usia 18 tahun Arif menyelesaikan hafalannya di hutan. Bayangan seramnya hutan tidaklah demikian adanya…

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (4): Menjadi Penengah, Mendirikan Universitas

Gambar
Dalam buku ‘Melawan Takdir’, Prof. Dr. Hamdan Juhannis (2015: 87-88) menulis bahwa suatu ketika di hutan terjadi perbedaan pendapat antara Kahar Muzakkar dengan KH. Muhammad Rapi Sulaiman , seorang ulama besar kharismatik yang pernah tinggal 15 tahun di Mekkah dan juga pembina di Masjid Mujahidin Bone. Perselisihan Pak Kahar dengan Petta Kalie (biasa dipanggil ‘Tuan Qadhi’ karena pernah menjadi Qadhi/hakim Pengadilan Agama di Bone) disebabkan pakaian Petta Kalie yang berjubah Arab. Menurut Pak Kahar, orang Islam tidak harus berpakaian Arab karena Islam tidak identik dengan Arab. “Menjadi pejuang juga tidak selalu bermakna pakaian loreng,” balas Petta Kalie. Saat itu, Pak Kahar terbiasa menggunakan pakaian loreng ala tentara karena sebelumnya ia pernah terlibat aktif dalam perang gerilya dan menjadi tentara Indonesia. Dalam perdebatan masalah pakaian ini, akhirnya ditengahi oleh Ustad Marzuki Hasan dengan membujuk Petta Kalie untuk mengganti sementara pakaian Arab-nya. “Perdebatan-perd…

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (3): Masuk Hutan Memperjuangkan Islam

Gambar
Untuk menyelamatkan nasib para mantan pejuang gerilya di Sulsel, maka pada tahun 1950-an, mantan pengawal Presiden Sukarno kelahiran tanah Luwu, Kahar Muzakkar, berencana melakukan perlawanan terhadap Pemerintah yang waktu itu dekat dengan Komunis. Seorang kurir pun dikirim Pak Kahar kepada Ustad Marzuki. “Ustad diminta Pak Kahar untuk bergabung,” kata sang kurir. Sebelumnya, seorang kurir pernah datang ke Ustad Marzuki, akan tetapi beliau tidak setuju masuk ke hutan jika perjuangannya bukan untuk memperjuangkan Islam. “Jika bukan memperjuangkan Islam, saya tidak akan masuk hutan!” kata Ustad Marzuki pada sang kurir. Tak lama setelah itu, Kahar Muzakkar mengubah strategi perjuangannya berdasarkan Islam. Kurir selanjutnya pun datang mengabarkan bahwa Pak Kahar akan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan. Ustad Marzuki akhirnya setuju, dan sebelum bergabung di hutan beliau berpamitan pada Mantan Perdana Menteri Indonesia ke-5 (1950-1951) dari Partai Masyumi, Dr. Mohammad Natsir yang …

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (2): Menolak Perjudian pada Perayaan Penyerahan Kedaulatan

Gambar
Momentum penyerahan kedaulatan Indonesia dari Kerajaan Belanda lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 dirayakan di banyak tempat, termasuk di Sinjai. Dalam bukunya "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" (1980), M. Zein Hassan, Lc. Lt menulis bahwa lewat diplomasi Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim ke berbagai organisasi di Timur Tengah, salah satunya pertemuan dengan Pemimpin Ikhwanul Muslimin Hasan Al-Banna, akhirnya kedaulatan Indonesia pun diakui oleh dunia. Di Sinjai, perayaan tersebut diadakan dalam bentuk pasar malam. Namun yang disayangkan dalam pasar malam itu adalah adanya perjudian. Sebagai aktivis Masyumi dan Wakil Ketua Muhammadiyah Sinjai, Ustad Marzuki Hasan tidak setuju dengan model perayaan seperti itu karena berpatokan pada hadis Nabi, “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian i…

Serial KH. Ahmad Marzuki Hasan (1): Jejak Pendidikan

Gambar
Pendiri Pesantren Darul Istiqamah KH. Ahmad Marzuki Hasan dilahirkan pada 31 Januari 1917 di kota Sinjai, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Kyai Hasan, seorang Qadhi (hakim) di Sinjai Timur, sedangkan ibunya bernama Syarifah Aminah. Beliau adalah figur yang sejak muda aktif menimba ilmu dari berbagai tokoh dan ulama. Tercatat beliau pernah belajar di Pesantren As'adiyah Sengkang Wajo, kemudian mengaji kitab pada Prof Darwis Zakaria, seorang guru asal Sumatera Barat yang mengajar di Perguruan Datumuseng Makassar. Bersama Prof Darwis, Ustad Marzuki mempelajari kitab Fathul Qadir karangan Imam Asy-Syaukani, seorang ulama, imam, mufti dan syaikhul Islam yang keluasan ilmunya digambarkan dalam kalimat “ilmunya seperti lautan dan pemahamannya seperti matahari” (Fathul Qadir, jilid 1: 4). Setelah belajar dari Prof Darwis, Ustad Marzuki kembali ke kampung halamannya di Sinjai. Di sana, beliau mulai mengajar dan menggiatkan dakwah. Menurut beliau, ada dua aktivitas yang sangat mulia di du…

Mantan Dubes RI untuk Rusia Berkunjung ke SPIDI

Gambar
Maros - Mantan Dubes RI untuk Federasi Rusia yang juga Mantan Menteri Hukum dan HAM RI Prof. Dr. H. Hamid Awaludin, SH, LLM, berkunjung ke Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) pada Selasa, 10 Mei 2016. Ditemani Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Dr. H. Aswar Hasan, M.Si, Hamid menyatakan apresiasinya kepada SPIDI. "Ini sekolah yang sangat modern dan sangat memperhatikan lingkungan," kata Hamid kepada Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif yang juga ditemani Ketua Yayasan Pendidikan Darul Istiqamah Ust Muthahhir Arif dan staf Badan Eksekutif Pesantren. Menurut doktor lulusan American University tahun 1998 tersebut, lingkungan kampus SPIDI sangat baik jika ditanami dengan pohon anggrek dan juga pohon cemara di sekitar danau. Beliau juga akan memberikan satu paket bantuan untuk menciptakan ruang kelas yang lebih modern, dan cocok untuk mengembangkan kapasitas santri SPIDI. Di sela-sela kunjungannya, Mantan Anggota KPU kelahiran Pare-Pare 5 Oktober 1960 tersebut juga me…

Ibn Hazm

Gambar
Ibn Hazm Al Andalusi (994-1064) menulis sekitar 400 buku atau sekitar 80.000 halaman yang jika dirata-ratakan tiap buku sebanyak 200 halaman. Ditulis tangan, tentu saja. Namun yg tersisa hingga saat ini hanya 40 judul karena kerusuhan/peperangan yg melanda negerinya. Jika bisa disebut sebagai keberuntungan, maka keberuntungan beliau adalah karena dibesarkan dalam lingkungan elite (kakeknya pernah jadi menteri, beliau juga pernah jadi menteri). Akan tetapi, bukunya lebih banyak jadi pasca ia memutuskan mundur dari politik dan memilih mencari ilmu dan ketenangan hidup di beberapa tempat. Sejarah Ibn Hazm, penulis prolifik dari Spanyol ini baik untuk jadi teladan bagi mereka yg ingin menulis, tentu saja selain Ibnu Jarir At Tabari yg sangat produktif pula dalam menghasilkan karya. Saat ini kita sangat terbantu dengan kemudahan akses pada guru atau tokoh/pakar via internet. Juga banyak sekali sumber buku di internet yg dapat diakses untuk menulis buku. Kita tidak perlu tinta untuk menulis…

Bersama MASIKA ICMI Sulsel

Gambar
Setelah mengikuti pelatihan menulis jurnal di UMI yang dibawakan oleh Dr Ismail Suardi Wekke, saya menikmati traktiran makan malam yang lezat dari Dekan Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI, Pak Sakir Sabara. Bersama teman-teman MASIKA ICMI Sulsel lainnya (saya kebetulan hanya sebagai peserta pelatihan), saya menikmati masakan yang lezat tersebut di Hotel Clarion.

Sakir Sabara adalah salah satu dekan yang kreatif di UMI. Ke depan, sepertinya ia bisa menjadi Rektor UMI dan menyulap kampus UMI semakin baik dan berkualitas internasional.

Memiliki banyak teman adalah baik. Kehadiran saya di kegiatan MASIKA tidak sengaja. Diajak oleh Ismawan Amir untuk jadi peserta. Saya pun menyiapkan tulisan jurnal untuk dibedah di acara, akan tetapi tidak sempat dikritik oleh Dr Ismail. Ke depan, saya tertarik untuk menulis lebih banyak artikel jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Terimakasih kepada MASIKA ICMI Sulsel, Dr. Ismail Suardi Wekke, dan Dekan FTI UMI.

Menghadiri Launching Batik Girl

Gambar
Lusia Efriani, salah seorang alumni MEP memiliki program pemberdayaan wanita penghuni Lapas untuk membuat batik. 

Pada Jumat, 29 April 2016 saya menghadiri kegiatannya yang dihadiri juga oleh Ibu Alison Purnell (Perwakilan Australia-Indonesia Institute, Kedutaan Australia) dan Mas Sulis Indiarto dari Bidang Kebudayaan Kedubes Australia. 

Di Facebook saya menulis sebagai berikut:

"Launching 1000 Batik Girl for Indonesia di Kampus STIE YPUP, Jln Andi Tonro 17, Makassar. Sebuah program yg diinisiasi oleh Lusia Efriani Kiroyan (Alumni MEP 2012) memberdayakan para penghuni Lapas Wanita untuk membuat boneka cinderella. Lusia menetap di Batam, tapi aktif tdk hanya di beberapa kota di Indonesia tapi juga di luar negeri."

Anak saya, Anisah dan Afifah juga dapat boneka ini, gratis dari Lusia Efriani. Terimakasih Lusia atas kebaikannya. Semoga sukses kegiatannya.

Ngopi Diskusi bersama Dr Hidayat Nahwi Rasul

Gambar
Pada 27 April 2016 saya berdiskusi dengan pakar telekomunikasi Dr Hidayat Nahwi Rasul di Excelso, Mal Panakkukang, Makassar.Lewat status facebook, Dr Hidayat menulis, "Diskusi ringan berusaha menemukan Wisdom untuk masadepan atas kemajuan ICT sbg backbone peradaban. Apakah akumulasi saving sosial dg keberadaan ICT membantu memperbaiki peradaban manusia Makassar 50 tahun akan datang?"Hasil dari pertemuan ini adalah terbentuknya sebuah wadah Makassar Wisdom Institute (MWI) yang berencana akan menerbitkan buku berisi sejarah kota Makassar dulu, kini, dan rencana 50 tahun yang akan datang.

Alumni Australia dan Buku Alumni MEP

Gambar
Dua hari ini saya mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk terus belajar dan menyerap berbagai kebaikan dari orang lain. Tadi malam (Kamis, 28/04) saya menghadiri undangan Konjen Australia di Makassar Mr Richard Mathews dalam pertemuan alumni Australia dengan Australia-Indonesia Institute (AII) di Hotel Four Points, Jln Landak Baru, Makassar. Hadir dalam kegiatan ini Konjen Australia, Prof. Tim Lindsey, dan Prof. Greg Fealy dan beberapa anggota dewan AII lainnya, perwakilan dari Kedubes Australia di Jakarta dan Konjen Makassar, serta para alumni berbagai program Australia seperti ADS, IAYEP, dan MEP. Secara umum, ada sekitar 300-an alumni Australia di Makassar, dan seratusan di antaranya adalah dosen di Unhas. Pertemuan tadi malam juga semakin baik ketika saya bertemu beberapa senior yg unggul seperti Dr Irfan Syamsuddin, Dr Abdullah Sanusi, IbuNuvida Raf, dan juga kawanku sesama kos di Pondok Toris Jln Bung, Tamalanrea, Arif Supam Wijaya. Pagi ini (Sabtu, 29/04), secara khusus s…

Profil Saya di Laman Agupena

Gambar
Saya termasuk baru di organisasi Agupena. Maka, saya terus belajar dari banyak orang, termasuk dari pengurus Agupena. 
Pada tahun 2016 ini saya dipercayakan sebagai Sekretaris Munas Agupena yang diselenggarakan di Tangerang Selatan akhir Juli. Begitu hasil rapat Agupena yang diadakan setelah pertemuan dengan Kementerian PPPA di Hotel Morrissey Jakarta Pusat. 
Gambar yang ada di tulisan ini merupakan sebuah crop yang ditag oleh Ibu Roswita Aboe di facebook. Untuk mendokumentasikan, saya coba posting di sini. 
Berikut adalah status Ibu Roswita yang juga pengajar di Universitas Khairun, sekaligus komentar saya di bawahnya.
"Para guru dan tenaga pengajar yang punya minat menulis dapat mengirimkan tulisannya ke website AGUPENA - Asosiasi Guru Penulis Indonesia yang telah berkiprah secara nasional. Agupena memiliki beberapa cabang sampai ke daerah termasuk Maluku Utara. Silahkan cek www.agupena.org lebih lanjut." SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan Komentari

Bersama Kawan Baik di ToWR FLP

Gambar
Pada Sabtu, 30 April 2016 saya diminta membawakan materi cara menulis non-fiksi. Materinya telah saya kirimkan ke panitia, dan dibagikan, maka saat presentasi saya bercerita pengalaman saja. 
Saya merasa beruntung bergabung dengan FLP karena di lembaga inilah saya mulai belajar menulis dan menerbitkan buku. Kepada seniorku yang banyak berjasa di masa awal FLP Makassar, saya mengucapkan terimakasih.
Setelah membawakan materi, saya berfoto bareng dengan kawanku yang baik sesama pemateri: S Gegge Mappangewa, Hamran Sunu, dan Fakhruddin Ahmad. Foto bersama Ketua Panitia Training Perekrutan FLP Makassar Fadhel. Adapun foto tersebut diambil oleh peserta ToWR Riskawati Khadijah. 
Untuk bisa menulis, menurutku ada dua kuncinya. Pertama, usaha yang tekun untuk menulis. Kedua, berteman dengan sesama menulis. Sampai sekarang saya tetap mempertahankan dua hal penting ini. 


Mengenal Lebih Dekat Fakhruddin Ahmad (Ketua FLP Sulsel 2016-2018)

Gambar
Fakhruddin Ahmad (38 tahun), terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulsel periode 2016-2018 dalam Musyawarah Wilayah yang digelar pada Ahad, 1 Mei 2016 di Wisma Bhayangkara, Bantimurung Maros, menggantikan Ketua sebelumnya, Dikpa Lathifah.
Fakhruddin yang biasa disapa Ustad Fahrul atau Daeng Silele menjadi ketua FLP Sulsel yang ke-8 meneruskan kepemimpinan ketua-ketua sebelumnya, yaitu Rahmawati Latief (2001-2004), Yanuardi Syukur (2004-2006), S. Gegge Mappangewa (2006-2008), Sultan Sulaiman (2008-2010), Fitrawan Umar (2010-2012), Supriadi Herman (2012-2014), dan Dikpa Lathifah (2014-2016).
Fakhruddin Ahmad lahir pada 6 Agustus 1978. Awalnya ia aktif di FLP Cabang Maros yang diketuai oleh Abdul Asis Aji, kemudian aktif menjadi pengurus FLP Sulsel sebagai Koordinator Kaderisasi. Setamat dari Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, ia menjadi guru dan staf khusus Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros.
Bergabungnya Fakhruddin…

Fitrawan Umar: Perencana Kota yang Mencoba Mengerti Perempuan

Gambar
“Perempuan sulit dimengerti? Ah… nggak juga. Justru lelaki yang membingungkan.”
“Yang sulit dimengerti adalah perempuan. Tapi yang susah ditebak maunya apa, adalah lelaki.”
Begitu dua komentar untuk buku Fitrawan Umar yang diposting di laman Kompasiana. Minggu 13 Desember 2015 adalah salah satu hari yang bersejarah bagi FLP Sulsel. Salah seorang aktivisnya, Fitrawan Umar meluncurkan novelnya “Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” (YSDAP), di Lantai Dasar Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar. Fahruddin Ahmad dan Azure Azalea menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut. Sebelumnya, Fitrawan telah menerbitkan buku berjudul “Roman Semesta”, kumpulan syair yang telah dimusikalisasi oleh seorang penyanyi di Kota Pelajar Jogja, “Catatan Mahasiswa Biasa”, “Sepotong Cokelat dan Cerita-Cerita yang lain” (bersama Rasdianah nd dan Supriadi Herman), dan beberapa tulisan lainnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Fitrawan adalah salah seorang penulis muda berbakat asal Pinrang. Selain pe…