Silaturahmi dengan Kapolsek Turikale

Foto bersama BEP Darul Istiqamah dengan Kapolsek, Camat, dan Lurah
Di era yang sangat kompleks ini setiap orang butuh sinergi dengan orang lain. Tiap instansi juga perlu memiliki kemitraan yang terjaga dengan lembaga lain.

Menyadari hal itu, maka Polsek Turikale Maros yang telah lama ingin bersilaturahmi dengan Pesantren Darul Istiqamah, akhirnya bertemu di Warkop Clove di kota Maros, Jumat 1 April 2016.

Hadir dalam kesempatan ini, Polsek Turikale dan jajarannya, Camat Turikale, Lurah Taroada, dan staf Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah, dan Yayasan Darul Istiqamah Ust Muthahhir Arif. 

Beberapa hal yang dibicarakan pada kesempatan ini adalah sebagai berikut.

Pertama, tentang keamanan. Tugas polisi adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jika ada ada gangguan Kamtibmas, maka polisi memiliki posisi yang strategis untuk menyelesaikannya. Jika masalah tersebut berada dalam internal komunitas, maka tiap komunitas perlu menyelesaikannya secara internal. Namun jika ada gangguan yang Kamtibnas, maka polisi perlu mengambil peran. 

Kedua, tentang radikalisme. Beberapa waktu lalu ada isu yang beredar bahwa ada anggota Densus 88 yang menyisir Pesantren Darul Istiqamah. Isu ini sampai ke Polda Sulsel, kemudian Polda cek langsung ke Polsek. Ternyata, Polsek sendiri tidak mengetahui itu, dan pada faktanya tidak ada fakta tersebut. Ini berarti bahwa ada yang salah menyampaikan informasi kepada Polda. Kalaupun Densus 88 hendak menyisir ke suatu tempat, kata Pak Polsek, maka aturannya tetap perlu ada laporan kepada aparat setempat. 

Soal radikalisme ini memang lagi hangat, apalagi Sulsel berdekatan dengan Poso (Sulteng) dimana kelompok Santoso yang bernama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) berada. Kabarnya, cerita Pak Kapolsek, Muh Idris, beberapa waktu lalu ada kelompok Santoso yang hendak mengurus tanahnya di Tanralili, Maros, kemudian hendak meminta perlindungan di pesantren. Informasi ini entah betul atau tidak, tapi sebagai warga Darul Istiqamah, tidak terdengar hal-hal seperti itu. 

Pada kesempatan kali ini, masing-masing yang hadir bersepakat bahwa stigma pesantren dekat dengan terorisme adalah tidak benar. Darul Istiqamah sebagai sebuah pesantren yang bervisi menciptakan Kota Ilmu dan Peradaban tentu saja tidak setuju dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh beberapa kelompok umat Islam. Kata Ust Muzayyin Arif, pimpinan Darul Istiqamah, dakwah kita dakwah yang membangun, dan tidak bertentangan dengan hukum positif di negeri ini. 

Ketiga, isu narkoba. Saat ini narkoba bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali mereka yang di pesantren. Maka dari itu, Polsek menawarkan agar diadakan sosialisasi tentang narkoba, atau radikalisme kepada santri dan warga yang dengan demikian kita bisa memproteksi dini terhadap hal-hal yang destruktif tersebut.

Pertemuan kali ini berlangsung dengan sangat kekeluargaan, santai, dan baik. Setelah foto, Pimpinan Darul Istiqamah menyerahkan masing-masing yang hadir dari Polsek dan Camat sebuah Al Quran yang diberi nama Mushaf Istiqamah. Mushaf ini memiliki keunikan, salah satunya adanya ayat-ayat keyakinan yang dihafal dan diajarkan di pesantren yang berdiri sejak 1970 ini. *

Komentar