Selasa, 29 Maret 2016

Selamat Datang Esais KAMMI

Pemenang Lomba Esai KAMMI Makassar
Semingguan lalu saya dihubungi oleh salah seorang pengurus KAMMI Daerah Makassar untuk menjadi juri sebuah lomba esai yang diadakan dalam rangka Milad KAMMI ke-18. Tidak banyak tulisan yang masuk, akan tetapi dari beberapa itu saya menentukan seluruh tulisannya secara berurutan. Tiga di antara yang terbaik itu menjadi juara 1, 2, dan 3: Faizal, Viyani, dan Wisnu.

Tradisi menulis di kalangan aktivis KAMMI termasuk kurang, dan tidak berkembang. Sejak lama KAMMI dikenal sebagai aktivis pengajian dan aktivis jalanan yang suka demonstrasi. Sebagai anak pengajian, anak KAMMI memang sudah lahir dari rahim tersebut. Nyaris masih sulit dibedakan antara aktivis KAMMI dengan aktivis LDK. Tapi, karena pengajian adalah sesuatu inheren dalam dunia KAMMI, maka pengaruh sebagai anak pengajian tetaplah dominan dalam diri para aktivisnya. 

Untuk urusan demo, KAMMI memang sudah tidak diragukan. Nyaris dalam tiap momen penting negeri ini KAMMI tidak ketinggalan. Pada reformasi 1998, KAMMI merupakan salah satu elemen aktif yang menumbangkan rezim Orde Baru bersama tokoh reformasi M. Amien Rais. Beberapa aktivis KAMMI pun selanjutnya menunjukkan kiprahnya sebagai anggota legislatif seperti Fahri Hamzah, Andi Rahmat, atau Akbar Zulfakar. 

Namun, harus diakui bahwa tradisi menulis masih begitu lemah di KAMMI. Maka, apa yang dilakukan oleh aktivis KAMMI Makassar ini patut untuk diacungi jempol empat. Walau tidak hanya pengurus komisariat se-Makassar yang kirim tulisan, akan tetapi ini merupakan cikal-bakal yang sangat baik untuk menciptakan apa yang disebut oleh aktivis KAMMI sebagai Muslim Negarawan plus seorang penulis. 

Finally, saya ingin mengucapkan kepada tiga esais terbaik dari KAMMI Makassar. Tentu saja, ini langkah pertama untuk terus belajar dan meningkatkan diri.Jangan cepat puas. Perbanyak bacaan, perluas perspektif. Kelak jangan lupa untuk menuliskan ide-ide cerdasnya di buku yang akan sangat pasti sangat berguna untuk membangun tradisi ilmiah di negeri ini. Kepada yang belum jadi pemenang, jangan berhenti menulis. Sebaliknya, terus menulis, dan memberikan perspektif bagi bangsa ini. Indonesia butuh banyak penulis. *

Setahun Kinerja Pimpinan Darul Istiqamah

Saya dengan Ust Mubassyir
Pada Ahad 27 Maret 2016 saya menjadi pembaca acara bersama Ust Mubassyir di kegiatan Setahun Kinerja Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah. Ini kali kedua saya menjadi pembawa acara bersama beliau. Sebelumnya waktu Reuni Akbar Darul Istiqamah tahun 2007.

Sekedar informasi, satu tahun yang lalu kepemimpinan Pesantren Darul Istiqamah telah diamanatkan kepada Ust Muzayyin Arif dari Ust M Arif Marzuki. Dengan demikian, kepemimpinan Darul Istiqamah telah berpindah dari Ust Marzuki Hasan ke Ust M Arif Marzuki, kemudian ke Ust Mudzakkir Arif dan kembali lagi ke Ust M Arif Marzuki, dan saat ini di tangan Ust Muzayyin Arif.

Setelah menjadi pimpinan, Ust Muzayyin segera membuat berbagai terobosan untuk memajukan pesantren ini dengan berbagai cara. Sebelum menjadi pimpinan, kiprah Ust Muzayyin memang telah terlihat paling tidak dari pengelolaan manajemen baru Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan kurikulum yang lebih up to date, penambahan fasilitas, dan manajemen yang lebih modern. 

Kemudian, di masa kepemimpinannya, visi untuk menciptakan kawasan Darul Istiqamah yang totalnya sekitar 60 hektare sebagai "Kota Ilmu dan Peradaban" benar-benar ingin diwujudkannya. Saat ini, pembangunan perumahan yang dikelola oleh Relife Greenville tengah berjalan. Perumahan ini dimaksudkan sebagai bagian dari modernisasi kawasan sekaligus untuk meningkatkan level hidup penghuni kawasan ke tingkat yang lebih baik. 

Dalam masterplan, Ust Muzayyin ingin menyediakan kawasan yang terpadu meliputi sekolah, pasar, perguruan tinggi, arena wisata, dan berbagai fasilitas sebagaimana sebuah kawasan modern. 

Ide ini ia sebut dengan nama Transformasi Pesantren Darul Istiqamah. Jika dulu di gerbang pesantren ada nama Pesantren, ini telah ditransformasi dengan nama yang lebih luas yaitu City of Darul Istiqamah dengan harapan bahwa dalam kawasan City ini tergabung di dalamnya pesantren, pasar, dan berbagai fasilitas modern tapi tetap Islami. 
Foto bersama Ust M Arif Marzuki, Ust Muzayyin Arif, beberapa staf BEP, dan beberapa pejabat di Maros dan Sulsel

Momen refleksi 1 tahun ini merupakan tradisi baru yang menarik. Salah satu yang tengah berjalan saat ini adalah, Darul Istiqamah akan mengirim dua orang kadernya yang hafizh 30 juz untuk menjadi imam dan berdakwah di Amerika Serikat bekerjasama dengan Ust Shamsi Ali di New York. Ust Baharuddin (pembina Tahfizh) dan Azizul Hakim Mansyur (Chechnya, anak alm Dr. Mansyur Semma) yang mendapatkan kesempatan untuk ke Amerika tahun 2016 ini. 

Diharapkan pengiriman dai ke Amerika merupakan salah satu upaya untuk menyebarkan Islam ke tingkat yang tidak hanya lokal Sulsel dan Indonesia, tapi juga di luar negeri. Karena, sejatinya Islam adalah ajaran yang dapat menjadi rahmat bagi alam semesta. *

Tautan Makassar-Australia di Wisma Kalla

Selamat atas Peresmian Konjen Australia (foto: Arif Supam Wijaya)
Pada Selasa 22 Maret, Konsulat Jenderal Australia di Makassar diresmikan oleh Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop. Bertempat di Wisma Kalla, Konjen ini akan menjadi salah satu misi diplomatik Australia di Makassar sebagai pintu gerbang masuk ke kawasan Indonesia Timur. 

Sebelum masuknya imigran asal Eropa dan Timur Tengah, orang Makassar sesungguhnya telah menjalin kontak dengan suku Asli Australia, yaitu Aborigin. Ketika itu, pelaut-pelaut Makassar ke sana dalam misi perdagangan mencari teripang. Dalam interaksi itu, terjadi berbagai pertukaran barang, dan juga terjadi pertukaran keyakinan dengan masuknya orang Aborigin menjadi muslim. 

Setelah itu, masuk imigran dari Eropa dan Timur Tengah. Corak Islam yang ada di Australia pun belakangan banyak terwarnai dengan pengaruh Turki, dan Lebanon. Di beberapa kota, masjid-masjid yang didirikan juga tidak lepas dari pengaruh daerah asal mereka. 

Dengan dibukanya Konjen di Makassar, paling tidak menjadi kebaikan dari beberapa sisi. 

Pertama, terjalinnya kembali interaksi antara orang Makassar dengan Australia. Jika dulu interaksinya lewat perdagangan teripang, kini dalam bentuk yang lebih luas. Kesempatan ini tentu saja dapat dimanfaatkan oleh para pedagang Indonesia untuk mengekspor produk atau jasa ke Australia. 

Kedua, peresmian Konjen ini dapat dimanfaatkan oleh para pelajar asal Makassar atau Indonesia Timur secara umum untuk belajar dari Australia. Tidak dimungkiri bahwa banyak kelebihan pendidikan Australia yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar kita untuk selanjutnya ketika balik ke kampung halaman, mereka bangun daerahnya masing-masing. 

Beberapa ucapan selamat untuk Konjen Australia (foto: Muhammad Yunus)
Ketiga, tindak lanjut dari kuliah umum Menlu Julie Bishop di Rektorat Unhas pada sore hari itu juga adalah perlu segera dilanjutkan dengan kemitraan antara kampus-kampus di Makassar atau Indonesia Timur dengan kampus-kampus Australia. Adapun kemitraan yang telah ada dapat terus ditingkatkan pada tingkatan yang lebih bermakna.

Atas nama pribadi, saya mengucapkan selamat atas peresmian Konjen Australia di Makassar. Semoga kemitraan antara Indonesia-Australia dapat terus terjaga, dan meningkat demi kebaikan dua negara. *

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...