Jumat, 26 Februari 2016

Titanic, Miskun, dan Bedah Buku

Di Panggung IBF Darunnajah
Pertemananku dengan salah satu kawanku yang baik, Dr. dr. Mohamad Iskandar paling tidak ada dalam tiga ranah menarik ini. 

Pertama, waktu sama-sama nonton film Titanic. Ada bioskop tak jauh dari jalan layang Kebayoran Lama (sekarang sudah tidak ada). Saking menariknya film yang dibintangi Leonardo Dicaprio itu sampai saya sempat menonton dua kali. Ini kali pertama saya ditraktir Iskandar.

Sebagai seorang 'sufi' (suka film), sejak lama saya memang suka menonton. Waktu kecil saya biasa minta dibangunkan oleh ayahku saat ada film bagus di TVRI. 

Kedua, warung Mas Miskun tak jauh dari UI Salemba adalah tempat makan yang enak. Saya suka masakannya. Ikan goreng ditambah dengan variasi sambel membuat rasanya kita mau makan terus. Di dinding-dindingnya menceritakan bahwa sudah banyak orang penting yang datang ke warung tersebut--mereka dari kalangan artis, dan publik figur lainnya. 

Kadang kalau lagi ke Jakarta, saya juga sempatkan makan di sini--bersama atau tidak bersama Iskandar. 

Ketiga, bedah buku. Pada tahun 2015 lalu saya diminta oleh panitia Islamic Book Fair Pesantren Darunnajah (Ust Agus Suhendi) untuk membedah buku saya. Pesertanya santri putra. Saya ajak Iskandar untuk itu membedah. Walhasil, buku Ternyata Sayap Lalat Mengandung Obat saya bahas beberapa bagian dan ditambahkan oleh Iskandar beberapa bagian lainnya. Di saat yang sama, untuk santriwati, materi dibawakan oleh novelis Ahmad Fuadi.

Sebagai kawan, saya berharap dan berdoa semoga kawanku dokter Iskandar mendapatkan kebaikan dalam hidupnya. Segera menemukan tambatan hatinya, dan mendapatkan berkah dan bahagia. *

Merawat Harta Karun Bangsa

Bawa materi bersama beberapa pakar di Makassar
Jika ditanya apa harta karun yang ada di bangsa ini, maka saya akan menjawab, "persatuan dan kesatuan." Ya, persatuan dan kesatuan adalah barang mahal yang dipertahankan sejak lama oleh para pendiri bangsa ini. 

Tentu saja dari dua ratusan juta rakyat Indonesia tidak semuanya satu pikiran. Tiap kita punya variasi-variasi pemikiran, afiliasi, dan cara pandang yang lokal spasial. Akan tetapi sebagai bangsa kita menyakui persatuan sebagai sesuatu yang lebih penting. 

Kenapa persatuan penting? Karena persatuan inilah yang menjadi ruh bagi kerjasama untuk mempertahankan bangsa yang majemuk ini. Tanpa bersatu, sulitlah bangsa ini bisa melaju sampai sekarang. Ya, tentu kita maklumi banyak sekali retak kiri-kanan yang ada di bahtera bangsa, akan tetapi itu bukanlah alasan untuk terus-terusan mengutuk rezim apalagi tanpa pemikiran yang lebih konstruktif. 

Ibaratnya seperti rumah tangga. Jika sepasang suami-istri bersepakat untuk bersatu, maka kebaikan pasti mereka raih. Ada kerjasama, ada saling pengertian, saling menghargai, dan juga cinta yang mengalir di bawah atap rumah mereka. Pun demikian dengan rumah bangsa ini. Jika kita menjaga sikap saling mengerti, saling menghargai, sekaligus saling cinta satu sama lain, maka tentu banyak kebaikan akan kita dapat, dan banyak kemajuan akan terlihat. *

Berbagi Lebih Berarti

Di antara berbagai hal baik yang saya sukai adalah berbagi. Sejak kecil saya diajarkan oleh ayahku untuk berbagi kepada mereka yang butuh, dan jangan berpikir untuk menerima imbalan dari sikap tersebut. Jika sudah rezeki, pasti tidak akan kemana-mana. 

Termasuk yang saya sukai adalah berbagi pengalaman dan pengalaman (walau belum seberapa). Pengalaman menulis termasuk yang saya cintai karena berangkat dari tidak bisa menulis, akhirnya lama-lama tulisanku ada yang diterima di media, dan jadi buku (walau tentu saja, belum bagus-bagus amat). 

Ketika berbagi pengalaman, saya merasakan ada energi positif yang mengalir dalam diri. Saya merasa, itulah sesungguhnya diriku yang sebenarnya. Maka, jika dalam satu minggu saya tidak membawakan materi--apakah offline atau online--saya merasakan ada sesuatu yang hilang.

Sejauh ini materi yang paling sering saya bawakan adalah materi menulis, atau sedikit ceramah di beberapa tempat. Saya benar-benar merasa jiwaku kembali ketika sedang menyampaikan pokok-pokok pikiran kepada orang lain. Apalagi, jika orang lain juga mendapatkan kebaikan dari materi tersebut dengan mendapatkan semangat dan terus berproses jadi lebih baik. 

Berbagi membuat hidup lebih berarti. Ya, paling tidak untuk diriku, saya merasa lebih punya makna, punya tenaga, dan punya gairah hidup. *

Berlari ke Hutan Kata

Terkadang, saat sedang memikirkan sesuatu saya menulis. Dulu saya punya buku diary yang sering kujadikan 'papan' untuk menulis apa saja yang terlintas di hati. Tapi tidak 'apa saja' juga. Saya tetap memilih apa saja yang baik untuk ditulis, yang mungkin suatu saat akan dibaca orang lain. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi intens di buku harian, akan tetapi merambah ke blog, website, koran, dan juga buku.

Lebih dari 15 tahun ini saya terbiasa menulis. Mencurahkan apa saja yang menurutku penting.

Kata orang, menulis bisa jadi terapi jiwa. Kupikir-pikir, ada betulnya juga. Kenapa? Karena saat menulis kita mencurahkan pikiran dan perasaan. Walau tidak sepenuhnya tertumpah, tapi proses menulis sesungguhnya merupakan proses relaksasi dengan melepaskan apa saja yang mengganjal di pikiran dan hati ke dalam sebuah tulisan.

Tiap kita mungkin punya cara yang berbeda dalam menyikapi hidup. Tapi berlari-lari di hutan kata-kata mungkin bisa jadi solusi bagi mereka yang ingin mencurahkan ide dan perasaannya sekaligus untuk melatih keterampilan otak, rasa, dan mengetik dalam suatu waktu. *

Senin, 15 Februari 2016

Mengejar Cita-Cita

Waktu kecil cita-cita sederhana, ingin menjadi guru mengaji. Tinggal di kompleks pelabuhan dimana warga setempat tidak begitu peduli dengan agama membuat saya tersentuh untuk menggapai cita-cita tersebut.

Orang tuaku yang bekerja sebagai pedagang--minyak tanah, dan sembako--memasukkanku ke sebuah tempat mengaji tak jauh dari rumah. Sebenarnya, walaupun masjid ada, dan tempat mengaji ada, warga sekitar tidak begitu aktif menjalankan agama secara baik. Di antara mereka banyak yang gemar minum minuman keras, tidak salat, dan seterusnya.

Ketika dewasa, saya melihat hal-hal berbeda dan peluang-peluang baru dalam hidup yang tidak saya lihat ketika masih di kampung. Ternyata, hidup ini lebih bervariasi. Pilihan karir dan cita-cita menjadi sangat kaya ketika beranjak dewasa muda.

Paling tidak saya mengenal dua dunia, yaitu dunia kepenulisan dan dua pengajaran di perguruan tinggi. Sebagai anak kampung, saya awalnya iri ketika melihat beberapa senior di Unhas rutin sekali menulis di PK Identitas. Lama-lama saya tertantang untuk menulis, dan akhirnya beberapa tulisanku dimuat di koran tersebut. Selanjutnya, animo saya untuk menulis makin berkembang dalam penulisan buku yang telah puluhan judul terbit.

Dalam pengajaran di kampus, saya mulai rasakan setelah tamat S2. Saya mengajar di Universitas Halmahera, kemudian Universitas Khairun. Waktu kecil tentu saja tidak ada bayangan tentang pekerjaan ini, tapi kemudian ketika besar saya mendapatkan sesuatu yang baru. Saya merasa enjoy di dunia ini, tapi memang saya merasa belum begitu maksimal karena beban mengajar yang sangat besar dan animo saya dalam antropologi yang masih dalam 'tahap pencarian'.

Terlepas dari itu semua, kini saya harus mengejar cita-cita untuk lanjut S3. Semoga saja usaha yang baik ini bermanfaat buat diriku, keluargaku, dan buat semua orang. *

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...