Kamis, 24 Desember 2015

Menemani Kang Abik di Peluncuran AAC 2

Pada sebuah siang, Rabu, 16 Desember 2015, saya menjadi moderator launching buku Ayat-Ayat Cinta 2 bersama Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa Kang Abik.

Kegiatan bertempat di Aula Universitas Islam Makassar. 

Kang Abik bercerita bahwa "dalam sastra ada sihirnya." Artinya bahwa penulis yg baik benar-benar memperhatikan kalimatnya agar memberi pengaruh bagi pembaca. 
Diskusi ini menarik karena Kang Abik juga memaparkan pengalamannya. Ia memulai karyanya dengan riset sedalam-dalamnya. Waktu menulis Bumi Cinta, ia bertemu dengan orang yang pernah tinggal di Moskow, dan mendengarkan langsung bagaimana suasana di sana. 

Selain itu, ia juga mengkaji lebih dulu agar datanya lebih lengkap. Ketika menulis AAC 1 terlihat Kang Abik lebih leluasa menjelaskan setting kota Mesir, akan tetapi ketika menulis tentang Ediburgh memang agak beda dengan narasi tentang Mesir. Kang Abik sendiri pernah menginap di Ediburgh hanya untuk mendapatkan pengalaman yang akan dimasukkan dalam AAC 2. 
Buku AAC 2 ini ditulis selama 1 thn, berbeda dgn AAC 1 yg hanya 1 bulan. Untuk buku ini, Kang Abik juga berkunjung ke Edinburgh ditemani Mas Ganjar Widhiyoga saat diundang oleh KIBAR di Inggris Raya. Selamat buat Kang Abik! *

Dakwah Imam Shamsi di Amerika


Pada pagi Ahad 20 Desember 2015 tadi, saya dipercaya oleh Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah, Ust Muzayyin Arif, untuk memandu talkshow dalam rangka silaturahmi Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel, bersama dengan Imam Shamsi Ali. Imam Shamsi yang kini menetap di New York, Amerika, adalah seorang pemimpin komunitas Islam (imam) sekaligus Presiden Nusantara Foundation.

Beliau dilahirkan di Bulukumba, Sulsel, yang mondok di Pesantren Darul Arqam, Gombara, Makassar. Kemudian melanjutkan S1 dan S2 di International Islamic University (Islamabad, Pakistan), dan S3 di Southern California University, Amerika. Beberapa bulan lalu, Ust Muzayyin turut diundang ke New York bersama Dahlan Iskan, Aa Gym, dan berbagai tokoh lainnya dalam konfererensi terkait Islam Nusantara.

Nama aslinya adalah Muhammad Utteng Ali. Akan tetapi, waktu mondok di Gombara, nama 'Utteng' di namanya diganti oleh KH. Abdul Jabbar Asyiri, menjadi 'Shamsi' yang berarti matahari dengan harapan suatu saat dapat menyinari hati umat manusia.

Beberapa point yang disampaikan oleh beliau adalah sebagai berikut:

1. Salah satu yang unik dan menarik dari orang Indonesia adalah senyuman. Maka, ketika menetap di Amerika, berdialog dengan berbagai komunitas keagamaan bahkan kepada kalangan yang Islamophobia, ia menebarkan 'senyuman khas Nusantara' yang menurutnya, menawan. Masalah senyuman ini memang penting sekali. Tadi malam, di penutupan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) yang dihadiri oleh Sastrawan Taufiq Ismail di Sekolah Athirah, dipentaskan sebuah drama 'mencari senyuman' karya salah seorang muslimah Indonesia yang termasuk dalam 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia, Helvy Tiana Rosa, yang juga dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Dalam teater tersebut diceritakan bahwa ada seorang kakek tua yang berjalan kemana-mana mencari senyuman, karena katanya di kotanya sudah tidak ada lagi orang yang tersenyum karena sibuk dengan kepentingannya masing-masingnya. Salah satu yang menarik dari kita di Indonesia adalah, kita terbiasa tersenyum kepada orang lain. Terlihat ramah, dan dalam konteks dunia global, sangat membantu untuk menampilkan wajah Islam yang ramah.

2. Pasca peristiwa 9/11, sejumlah kalangan melihat bahwa peristiwa itu menciptakan kerugian bagi umat Islam. Di beberapa negara memang terjadi perang dan mengakibatkan banyak nyawa melayang, akan tetapi di internal orang Amerika, banyak di antara mereka yang pasca 9/11 memilih untuk masuk Islam. Suatu ketika, saat membacakan beberapa ayat Al Quran, seperti ayat tentang 'manusia diciptakan berkabilah-kabilah untuk saling mengenal', 'perintah untuk berlaku adil', dan ayat tentang 'apabila datang pertolongan Allah' dalam surat An Nashr, banyak orang Amerika yang tertarik, dan ketertarikan itu membuahkan berbondong-bondongnya orang Amerika masuk Islam. Tanpa paksaan.

3. Media punya pengaruh yang besar dalam menjadikan wajah Islam sebagai ramah atau keras. Donald Trump adalah salah seorang yang termakan oleh media dan berpikir bahwa Islam itu identik dengan kekerasan. Akan tetapi, setelah bertemu Imam Shamsi, pemikirannya berubah, bahwa ternyata ada juga muslim yang ramah. Setelah pertemuan dengan Imam Shamsi, tidak ada lagi komentar negatifnya kepada Islam, sampai menjelang pencalonannya sebagai Presiden Amerika baru ia berkomentar negatif kembali kepada Islam. Tapi, kata Imam Shamsi, sikap keras Trump kepada Islam ternyata tidak diamini oleh banyak orang Amerika, sebaliknya di beberapa kota ia ditolak untuk masuk.

4. Paling tidak, ada tiga program Shamsi Ali sebagai imam di New York. Pertama, ia menjalin komunikasi dengan pemerintah setempat. Kedua, ia mengadakan dialog antar-keyakinan (interfaith dialogue), dan ketiga membuka kelas khusus untuk non-Muslim yang ingin belajar Islam. 

5. Imam Shamsi mengingatkan tentang pentingnya dakwah lewat media sosial. Medsos seperti twitter, facebook, path, dst, adalah media-media langsung yang cepat sebarannya. Apa yang ditampilkan oleh media mainstream bisa jadi ada yang berat sebelah, tapi kekuatan facebook, sebagai contoh, dapat tersebar begitu cepat dan menjadi salah satu rujukan terpercaya karena diunggah langsung. Imam Shamsi mengajak kepada para pengguna media sosial untuk memanfaatkan media ini dengan sebaik-baiknya dengan menyebarkan banyak-banyak kebaikan.

6. Di dunia global yang penuh dengan kompetisi ini, seorang muslim haruslah bisa memiliki kapasitas yang baik. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk bisa mengerti agama, akan tetapi juga dapat menjelaskan kepada masyarakat dunia. Olehnya itu, maka penguasaan bahasa-bahasa asing sangatlah diperlukan, seperti bahasa Arab, Inggris, Korea, Mandarin, dst. Salah satu program Imam Shamsi yang baru-baru ini adalah 'Telling Islam to the World'. Islam disebarkan ke seluruh dunia. Tentu saja, untuk menyebarkan Islam, dibutuhkan penguasaan bahasa-bahasa asing.

7. Di tengah perubahan zaman, metode dakwah haruslah inovatif. Inovasi dakwah diperlukan agar dakwah dapat diterima oleh berbagai kalangan. Di Amerika sebagai contoh, ketika berkenalan dengan tetangganya, ia mengenalkan diri dan mengatakan bahwa dalam Injil, diajarkan untuk menyayangi manusia, termasuk tetangga. Sengaja Imam Shamsi tidak menjelaskan dengan mengutip Al Quran, karena ini bagian dari dakwah dengan ayat-ayat yang ada dalam kitab Injil. Metode dakwah yang inovatif dapat menarik banyak orang yang mengikuti. Ketika menghadiri salah satu kegiatan kalangan Yahudi, Imam Shamsi melihat bahwa ada '1001 kecurigaan orang Yahudi terhadap Islam', akan tetapi setelah ia jelaskan tentang Islam dengan menampilkan akhlak Islam, banyak di antara kalangan Yahudi yang berubah pikiran kepada Islam. Mereka tidak lagi berprasangka buruk, bahkan mengajak untuk bersama-sama menjaga tradisi Yahudi dan juga Islam.

8. Pesantren Darul Istiqamah saat ini menjalin kerjasama dengan Imam Shamsi dalam rangka pengiriman imam hafizh 30 juz dari Darul Istiqamah untuk menjadi imam bulan Ramadhan di Amerika. Tadi, saat makan siang, video 10 hafizh tersebut yang produksinya dibuat oleh Jurnalis Televisi Abdul Chalid Bibbi Pariwa, diperlihatkan kepada Imam Shamsi Ali. Selain itu, ke depannya akan diupayakan studi banding santri Darul Istiqamah ke Amerika. Dalam setahun terakhir, santri Darul Istiqamah telah mengikuti studi banding ke Jepang, dan yang paling baru adalah ke Malaysia dan Singapura. Di sana, para santri tidak hanya menikmati dunia luar, tapi juga belajar dari budaya dan etos kerja yang dapat menjadi inspirasi positif untuk dibawa ke Indonesia.

Demikian delapan resume saya ketika memandu materi yang dibawakan oleh Imam Shamsi Ali di Pesantren Darul Istiqamah Pusat, Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel. *

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Bapak Pesantren Darul Istiqamah, KH. M. Arif Marzuki, Syeikh Sulaiman, para undangan, tokoh masyarakat, santri putra dan putri Darul Istiqamah, dan warga pesantren.

Terimakasih kepada segenap panitia kegiatan ini yang luar biasa: Ust Muthahhir Arif, Ust Fahruddin Achmad, Ust Mubassyir As'ad, Ust Safwan Saad, Dhiah Ashri, Ust Eyank Vhazollee Biru, Ust Ismawan As, Ust Muslim Majid, Ust Miko Abege, Ustazah Mukhlisah Arif, dll.

Pra Launching Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia

Banner dan Peta Sebaran Suku Bangsa Indonesia
Pada Rabu 23 Desember 2015, saya menghadiri Pra Launching Penyempurnaan Buku Ensiklopedia Suku Bangsa Indonesia, Museum Nasional, Jakarta. Kegiatan ini diadakan oleh Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemdikbud yang penulisannya berlangsung 2014-2015. Buku ini ditulis pertama kali oleh Prof M. Junus Melalatoa 1995.

19 penulis buku ini adalah sebagai berikut: Semiarto Aji Purwanto (UI), Tasrifin Tahara (Universitas Hasanuddin), Kumpiyadi Widen (Universitas Palangkaraya), Setiadi (UGM), Eka Juniawan (Yayasan Lanfang Indonesia), Sumientarsih (BPNB Jogja), Petrus Tekege (Universitas Satya Wiyata Mandala), Enrico Kondolangit (Universitas Cendrawasih), Ruslan (UIN Ar Raniry), Frederick Sokoy (Universitas Cendrawasih), Marselus Mali (Universitas Nusa Cendana), Yanuardi Syukur (Universitas Khairun), Fikarwin Zuska (USU), M. Rawa El Amady (PADI Institute), Alex Ulaen (Universitas Sam Ratulangi), Ira Indrawardana (Universitas Padjadjaran), Purwadi Soeriadireja (Universitas Udayana), M. Thobroni (Universitas Borneo), dan Zainal Arifin (Universitas Andalas).

Paparan buku oleh Dr. Semiarto Aji Purwanto (UI) dan pembahasan buku oleh Prof Heddy Ahimsa Putra (UGM), Prof Achmad Fedyani Saifuddin (UI), dan Dr. Deddy S. Adhuri (LIPI).

Dalam pertemuan ini saya sangat beruntung bisa menimba ilmu dari para senior. Materi dari Prof Heddy, Prof Afid, dan Dr Deddy sangatlah membuka wawasan, kendatipun terlihat sederhana saja yang disampaikan. Mungkin memang betul, semakin cerdas orang semakin sederhana yang diucapkannya.

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...