Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Ternyata Menulis CV Juga ada Aturannya

Gambar
Setelah mengikuti kegiatan The Habibie Center sampai siang, saya segera beranjak ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta. Hari itu, Senin, 23 November 2015.

Ini kali kedua saya hadir di sini, untuk berkonsultasi terkait  cara membuat CV, Personal Statement, dan Research Proposal, bersama teman-teman Awardee LPDP yang berminat lanjut S2 dan S3 di Amerika. 

Dalam kesempatan ini, seluruh CV dan Personal Statement dikoreksi agar lebih efektif dalam beberapa forum kecil. Saya masuk dalam grup yang dikoreksi oleh Miss Holly. Penjelasan dari Mas Muhammad Iqbal dari Education USA dan Deborah Lynn juga mengingatkan tentang materi yang pernah dibawakannya di @Amerika, Pacific Palace Mall, Jakarta. 

Untuk Research Proposal, saya diberikan sebuah contohnya yang kalau dibaca-baca, lumayan juga. Kira-kira hampir sama dengan bab 1 disertasi. Setelah materi itu, saya jadi tersadar tentang pentingnya menulis CV, personal statement dan juga proposal riset S3 dalam perspekti…

Tiga Faktor Pemersatu Bangsa

Gambar
Pada Senin, 23 November 2015, saya menghadiri kegiatan Second International Conference of the World Forum for Muslim Democrats yang diselenggarakan dalam rangka 16 tahun The Habibie Center, bertempat di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dr. Anies Baswedan, Mendikbud, bertindak sebagai keynote speech, yang dirangkaikan dengan panel diskusi terkait Islamic States: Sectarian Conflict and Islamic Extremism, Human Rights and Refugees (Rohingya and Syria), Islamophobia and Minorities, Social Justice and Rule of Law, and Way Forward.

Dalam materinya, Anies Baswedan membahas tentang beberapa yang yang menyatukan Indonesia. Pertama, satu bahasa. Dalam sumpah pemuda, telah disepakati bangsa yang satu dan bahasa yang satu. Saat ini, ketika ada pertemuan tidak diperlukan lagi penerjemah, kata Anies, karena sama-sama pakai bahasa Indonesia. Kedua, kerajaan-kerajaan di Indonesia menyetujui terbentuknya Indonesia, yang dengan demikian menguatkan rasa kebersamaan sebagai bangsa. Selain itu, para elit bumi…

Bertemu Professor Amri Marzali

Gambar
Pada siang yang baik, Selasa 24 November 2015, saya mendapatkan kesempatan berharga bertemu dengan Professor Amri Marzali, guru besar Antropologi UI, di Pusat Pengkajian Antropologi UI Depok. Selama sekitar dua jam, saya mendapatkan sharing ilmu dan pengalaman dari beliau terkait bagaimana menjalani perkuliahan di tingkat S3 sekaligus dalam arti luas bagaimana menjadi pembelajar yang baik.

Selain itu, beliau juga bercerita masa-masa sulit ketika harus berjualan di pinggir jalan di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Kebaikan hati dan rekomendasi Professor Koentjaraningrat sangat punya arti banyak bagi perkembangan pendidikannya kelak. Dengan pengalaman itu, beliau menyimpulkan bahwa penghormatan kepada guru itu sangatlah penting jika kita ingin berhasil. Mungkin, dalam arti lebih luas, penghormatan kepada semua guru, sekecil apapun orang yang telah berjasa bagi kita yang bisa kita sebut sebagai 'guru', harus dijaga sebaik mungkin.

Lahir pada 1942 di Silungkang (Sawah …

Paris Attack dan Globalisasi ISIS

Gambar
Daniel Byman, Professor dari Geogetown University, menulis artikel berjudul ISIS Big Mistakes di Foreign Affairs (15 November 2015) terkait Paris Attack.

Aksi global ala ISIS itu, menurut Byman memiliki alasan, yang salah satunya adalah alasan ideologis. Maksudnya adalah, ISIS mengklaim bahwa mereka akan menjadi pemenang atas pertarungan dengan musuh-musuh Islam, termasuk kalangan Barat.

Selain itu, mereka motif serangan mereka juga bagian dari meraih kader dari luar negeri. Selama ini, kelompok ISIS mengajak kaum muslim untuk bergabung dengan Islamic State di sana. Di Indonesia misalnya, ada beberapa video di Youtube yang kabarnya dirilis oleh kelompok ISIS yang mengajak kaum muslim untuk itu. Artinya, aksi ini bisa juga ajakan kepada kaum muslim untuk bergabung dengan mereka.

Tambahan lagi, serangan ini menurut Byman dapat meningkatkan self-image dan menarik perhatian para calon anggota ISIS terutama dari kalangan muda. Saat ini, anak muda adalah sasaran perekrutan paling efektif …

Deklarasi Keluarga Alumni KAMMI

Gambar
Pada Sabtu-Ahad, 14 dan 15 November 2015, saya mengikuti Silaturahmi Nasional Alumni KAMMI yang dirangkaikan dengan deklarasi Keluarga Alumni KAMMI di Patra Jasa Bandung Hotel, Jl. Juanda, Bandung. Dalam kesempatan ini, hadir berbagai mantan aktivis KAMMI dari berbagai provinsi dan juga beberapa mantan Ketua KAMMI seperti Fitra Arsil, M. Badaruddin, Akbar Zulfakar, Rahmantoha Budiarto, Fahmi Rusydi, Rijalul Imam, M. Ilyas, dan Andriyana.

Forum sepakat memilih 9 orang presidium nasional KAMMI yang kelak akan bekerja selama lima tahun yang bekerja secara kolektif kolegial. Para presidium nasional adalah: Fitra Arsil, M. Badaruddin, Akbar Zulfakar, Fahri Hamzah, Mukhamad Najib, Fahmi Rusydi, Rahmantoha Budiarto, Johan, dan Eka Suwarna.

Selanjutnya di tiap provinsi akan dibentuk Keluarga Alumni KAMMI dengan berbagai kluster yang ada. Di tingkat nasional juga ada kluster tersebut. Saya bergabung dengan Kluster Pendidikan dan Riset, dimana bergabung pada dosen dan peneliti.

Di sela-sela a…

Sarapan Pagi dengan Dr. Orhan Cicek

Gambar
Pada Kamis 12 November 2015, saya diundang bersama 8 orang lainnya (akademisi dan pengusaha) untuk sarapan pagi dengan Orhan Cicek, aktif di Australian Intercultural Society, yang salah satu kegiatannya adalah mendialogkan ide-ide Fethullah Gulen dari Turki terkait respect and tolerance.

Sarapan diadakan di ruang penasehat Pribadi Bilingual School Bandung. Pada kesempatan ini, sekitar dua jam lebih, kita membicarakan terkait ide-ide Badiuzzaman Said Nursi yang diteruskan oleh Fethullah Gulen dengan mendirikan sekolah di sekitar 175 negara, dan membudayakan dialog dan kerjasama antar umat manusia.

Kepada Dr. Orhan, saya memberikan sebuah buku saya yang agak lama (tahun 2013) tapi sayangnya masih berbahasa Indonesia. Harapannya ke depan, rasanya cukup menarik jika menulis buku dalam bahasa Inggris agar dapat berbagi ide di kalangan masyarakat yang lebih luas. *

Bersama Professor Jimly dan Ustad Muzayyin

Gambar
Pada Rabu, 11 November 2015, saya bertemu dua orang hebat: Professor Jimly Asshiddiqie dan Ustad Muzayyin Arif.

Pertemuan bertiga ini mengingatkan saya empat tahun yang lalu saat menjadi staf Prof Jimly. Ceritanya, waktu itu saya lagi potong rambut di salah satu barbershop di kampung saya, Tobelo (Halmahera Utara), dan Ustad Muzayyin menelepon. Tak lama, dari Tobelo saya ke Ternate, dari Ternate ke Jakarta.

Waktu itu, saya dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Jimly School of Law and Government (JSLG) yg dipimpin oleh Dr. Komaruddin, dan sekaligus membantu Institut Peradaban yang dipimpin Professor Salim Said yang berkantor di ruangan yang pernah ditempati Professor BJ. Habibie. Tugas saya waktu itu (untuk Institut Peradaban) adalah membuat format lembaga yang pas untuk IP dengan mempelajari lembaga yang ada dengan berpatokan pada pemikiran Prof Salim Said sebagai chairman.

Dalam waktu yang tidak berapa lama itu, saya belajar banyak dari para tamu dan undangan yan…

Belajar dari Miss Sofie

Gambar
Pada Kamis 12 November 2015 siang, bersama teman-teman Awardee LPDP, kita bersilaturahmi ke rumah tutor Writing IELTS Pusat Bahasa ITB, Miss Sofie Dewayani, Ph.D.

Miss Sofie adalah seorang penulis produktif di Indonesia, tidak hanya untuk jurnal internasional, tapi juga novel, dan buku-buku anak. Salah satu bukunya "Taman Bermain dalam Lemari", terpilih sebagai Second Prize Winner Samsung Kids Time Author's Award 2015. Juga, karyanya "Cap Go Meh" jadi finalis Singtel Asian Picture Book Award, Singapura.

Tambahan lagi, tulisannya juga dimuat di harian Jakarta Post, Kompas, Republika, Matabaca, dan Media Indonesia. Salah satu tulisannya dapat dibaca di blog Ary Nilandari berikut: https://arynilandari.wordpress.com/…/memahami-buku-dwibaha…/.

Juga yang dimuat di Media Indonesia, link-nya sebagai berikut: http://radiobuku.com/…/sofie-dewayani-literasi-dan-kelisan…/

Di kelas IELTS, untuk urusan writing, Miss Sofie-lah jagonya. Menjawab task 1 atau 2, ia …

Makna 'Peneliti 4%' di Komunitas Academia

Gambar
Pada 3 November 2015, saya menerima email dari website www.academia.edu, situs jejaring sosial untuk komunitas akademik yang diluncurkan sejak September 2008. Situs yang hingga April 2015 beranggota 21 juta akun itu menulis dalam emailnya, "You're now in the top 4% of researchers on Academia.Edu!" Dalam tiga puluh hari, tulis academia lagi, profile saya dilihat oleh 70 orang (profile views), dokumen dilihat 62 orang (document views), dan pengunjung yang unik (mungkin yang dapat dari Google) adalah 70 orang (unique visitors)
Tentu saja mendapatkan email ini saya gembira. Gembira karena dua hal. Pertama, saya baru memulai menggunakan laman Academia sekitar beberapa bulan yang lalu--kalau tak salah ingat--ketika diajak oleh kolega saya yang sementara PhD di Jepang, Maulana Ibrahim. Sejak itu saya mulai memposting tulisan, dan menjalin pertemanan dengan beberapa rekan dosen dan peneliti. Beberapa di antaranya saya bertanya tentang kuliah, antropologi, dan seterusnya. Seba…

Berita Buruk Waktu Menulis

Gambar

Apakah Barat anti-Islam?

Gambar
Walau sudah lebih dari dua dekade, pengaruh teori 'clash of civilizations' masih terasa sampai sekarang. Pertarungan antara kekuatan Barat dan Islam menjadi tema yang dikaji oleh banyak sarjana tidak hanya Islam tapi juga non-Muslim yang tertarik dalam kajian Islam. Efek paling jelas nyata dari 'kebenaran' benturan antar peradaban itu terlihat dari konflik-konflik anti-Barat yang dilancarkan tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di Eropa, Amerika, bahkan di Asia Tenggara.
Fakta meningkatnya gerakan anti-Barat seperti yang terlihat dari kemunculan Taliban di Afghanistan, serangan gerakan Al Qaeda terhadap pos-pos penting Amerika Serikat--seperti yang paling besar di menara kembar WTC--yang disusul juga bom beruntun yang terjadi di Bali, telah semakin menguatkan stigmatisasi akan 'buruknya' Barat di mata umat (atau aktivis pergerakan/haraki) Islam. Fenomena konflik ini tidaklah berdiri sendiri, ada saja faktor internal seperti meningkatnya eksploitasi terhadap …

Kemana Alumni KAMMI (Harus) Berhimpun?

Gambar
Sejak didirikan pada 1998, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah melahirkan banyak kader tidak hanya lokal, tapi juga nasional. Dua nama yang paling umum dikenal sebagai alumni KAMMI adalah Fahri Hamzah dan Andi Rahmat.
Wacana tentang perlunya semacam perhimpunan untuk alumni KAMMI sudah lama beredar. Di beberapa daerah, KAMMI wilayah berinisiatif membuat pertemuan atas nama alumni setempat, namun belum ada payung organisasi alumni yang secara formal didirikan secara nasional. Beberapa bulan lalu, di Facebook sedikit ramai terkait terbentuknya organ alumni KAMMI, namun oleh beberapa kalangan alumni dianggap forum tersebut tidak legitimate, dan yang paling resmi adalah yang akan diadakan pada 13-14 November 2015 di Bandung. Soal resmi dan tidak resmi--atau semacamnya--memang perlu diskusi lebih panjang, karena terkait dengan pranata-pranata yang mengatur para alumni KAMMI.
Namun, terlepas dari perdebatan mana yang paling legitimate atau tidak, hemat saya kekuatan inte…